KAISAR ES

KAISAR ES
PESERTA MISTERIUS


__ADS_3

Masa kecil itu apa, mereka selalu tertawa dan bersenang-senang. Apa sebegitu mengasyikkannya masa kecil...


Aku tidak tahu...


“Tuan putri... Anda tidak boleh bermain dengan mereka.” Ucap seorang pelayan kerajaan pada gadis bersurai coklat terang.


Gadis yang dipanggil itu pun hanya mampu termurung ditempatnya. Gadis yang lain pun pergi meninggalkan gadis surai coklat terang itu sendirian. Permainan mereka berhenti saat pelayan itu datang, kesenangan yang sempat ada sudah lenyap seketika. Gadis itu pun mengikuti sang pelayan memasuki istana. Saat berjalan masuk gadis kecil itu sempat berbalik dan melihat gadis-gadis yang lain bermain kembali dengan senangnya.


Apa kesenangan itu tidak ada untukku, aku juga ingin merasakannya...


Di lapangan istana kerajaan Eartfil terlihatlah gadis surai cokelat terang tengah melakukan latihan rutinnya bersama sang guru yang merupakan ksatria kerajaan tersebut. Mata hitamnya terlihat begitu serius setiap mengayunkan pedangnya secara vertikal ke bawah berulang-ulang.


“Benar begitu tuan putri, Anda belajar dengan cepat.” Puji sang guru itu dengan cengiran cerahnya.


“Ya...” jawab gadis itu tersenyum cerah yang terkesan imut.


Sejak kecil, aku diajarkan jalan kstaria... jadi aku tidak pernah tahu apa yang dilakukan gadis seumuranku.


Dipusat perkotaan sang tuan putri berjalan bersama dengan ibundanya, sepertinya mereka sedang berbelanja di ikuti beberapa pengawal dan pelayan yang membawakan belanjaan mereka. Sang gadis terhenti saat melihat sebuah boneka beruang yang terpajang di toko mainan yang tertutupi kaca transparan. Boneka itu begitu lucu sehingga sang gadis tertarik ingin memilikinya. Mata hitam yang selalu menampakkan keseriusan itu langsung hilang dan digantikan mata berbinar menatap kearah boneka beruang.


“Putriku, ayo kita pulang.” Panggil sang Ratu saat menyadari kalau putrinya tidak bergerak dan masih memandang boneka itu.


“Baik.” Balas gadis itu dengan nada murung, dia pun mulai berjalan menjauh dari toko mainan itu.


Didalam istana Eartfil, disebuah kamar terlihatlah gadis bersurai cokelat terang tengah meringkuk sedih memikirkan boneka beruang lucu yang dia inginkan.


Sementara di ruang kerja sang Raja, terdapat Ratu yang berbicara pada suaminya mengenai anak mereka. Terlihat kalau pembicaraan mereka begitu serius, bahkan mata sang Ratu terlihat begitu menuntut pada sang Raja.


“Aku ingin putriku hidup seperti gadis pada umumnya.” Tegas sang Ratu.


“Aku mengerti apa yang kau rasakan, aku juga begitu. Tapi para tetua bersikeras kalau putri kita harus mendapatkan pendidikan kerajaan sedini mungkin.” Ucap sang Raja dengan nada sedih.


“Harusnya kita tidak mendengarkan mereka, apa kau tidak menyadari bertapa beratnya itu bagi putri kita. Dia hanyalah gadis lemah, jangan perlakukan dia seperti alat untuk kerajaan. Apa kau mengerti perasaanku ini, aku adalah ibunya. Apa kau benar-benar mengerti... hiks hiks...” Ratu menangis sambil menutupi mulutnya, maka yang terdengar adalah isakan memilukan bahkan sang Raja sendiri hanya mampu memasang wajah sedih yang tidak pernah dia tunjukkan di depan umum.


“Sedikit saja, kita bisa merahasiakannya dari para tetua. Ayo kita manjakan anak kita, hanya kita berdua sebagai orang tua. Aku juga menginginkan kebahagiaan untuk putri kita.” Ucap sang Raja dengan senyuman hangat.


“Iya...” jawab Ratu dengan sedikit isakan.


Mereka pun saling berpelukan untuk menyalurkan rasa hangat. Dari perasaan mereka hanya tertuju pada satu orang, pada gadis surai coklat terang yang selalu terlihat murung, mereka berjanji akan membahagiakannya.


Seperti biasanya setiap paginya sang gadis surai cokelat terang selalu berlatih bersama gurunya. Setelah selesai dia pun kembali ke kamar untuk istirahat. Tapi tanpa disangka olehnya sebuah boneka beruang yang kemarin dia inginkan sudah ada didepan mata. Ekspresinya begitu senang sampai tidak bisa berkata apapun, tanpa menunggu lama dia langsung memeluk boneka beruang besar lucu itu dengan bahagianya.


Ratu dan Raja yang melihat kamar putrinya dari balik pintu yang terbuka sedikit hanya mampu tersenyum kecil. Mereka tidak tahu kalau perbuatan kecil mereka akan sangat berarti untuk putrinya. Air mata kebahagiaan dari kedua orang tua itu mengalir sedikit dari kedua pipinya. Bagi mereka kebahagiaan putrinya merupakan segalanya. Bahkan nyawa mereka rela diberikan untuk senyuman kecil putri cantik mereka.


Aku sejak kecil tidak pernah memiliki teman bermain. Tapi setiap harinya aku selalu mendapatkan kebahagiaan dari seseorang. Keinginanku selalu terkabul setiap selesai latihan berpedang... dan aku tahu siapa yang melakukannya. Secara diam-diam ibu dan ayah selalu mengawasiku dari kejauhan, mereka tersenyum kearahku. Setiap kali aku merasa sedih mereka pasti menghiburku, aku tahu mereka melakukan ini tanpa sepengetahuan para tetua. Oleh karena itu, ini semua menjadi rahasia kecil kami...


‘Mengingat kejadian di masa lalu membuatku terasa aneh. Karena kasih sayang kedua orang tuaku. Aku tidak pernah menolak permintaan mereka, bahkan menyangkut masa depanku sendiri pun. Tapi untuk kali ini, aku meminta sesuatu pada mereka. Dan karena permintaanku itu, aku harus menanggung resikonya.’ Batin sang putri kerajaan Eartfil, Lani Eartfil.


“Pangeran kerajaan Vouleftis memang kuat. Dia mirip sekali dengan ayahnya, bahkan mungkin dia masih bisa melampauinya.” Ucap sang Raja Tenruo yang telah menyaksikan pertarungan yang mendebarkan dari pangeran Rexas.


“Ya, dia benar-benar kuat. Mungkin rumor itu benar, kalau pangeran Rexas berlatih hanya dalam sebulan bisa sampai sekuat ini.” Ucap Leuna menimpali sang Raja.


“Bagaimana menurutmu putriku?” tanya Raja pada putrinya.


“Aku mengakui kekuatannya, dia pasti sudah berlatih sangat keras sampai bisa seperti itu. Tapi masih banyak peserta yang lebih kuat darinya, aku pikir akan ada orang yang bisa melawan pangeran dari kerajaan Vouleftis itu.” Jawab Lani tanpa rasa ragu sedikit pun.


“Sepertinya kita akan melihat lebih banyak lagi hal yang menarik.” Balas Raja Tenruo yang kembali menatap kearah arena.


“Baiklah, bagaimana kalau kita mengacak kembali nama peserta yang akan bertarung selanjutnya.” Ucapan Rud seperti sebuah instruksi bagi papan nama untuk mengundi peserta selanjutnya. Tidak lama pengacakan nama itu mulai berhenti dan menampilkan nama-nama peserta selanjutnya. “Ini dia nama peserta yang akan bertarung selanjutnya, Lugi, Dan, Hebi dan Erda.” Keempat peserta yang di panggil langsung melesat menuju arena kecuali satu orang yang belum muncul.


“Ayahanda, saya akan beristirahat sebentar dikamarku. Aku akan kembali tidak lama.” Ucap Lani yang berdiri dari tempat duduknya dan melenggang pergi meninggalkan Raja dan Ratu.


“Apa putri kita sedang tidak enak badan?” tanya Tenruo pada istrinya.

__ADS_1


“Entahlah, mungkin dia hanya sedikit lelah.” Jawab Leuna.


“Mungkin dengan istirahat sebentar dia akan kembali baikkan.” Ucap Tenruo.


Sementara di arena terlihat ketiga peserta sedang menunggu dengan kesalnya satu peserta yang belum hadir. Wasit yang melihat ke kiri dan kanan hanya bisa terbingung dengan peserta yang satu ini karena belum datang sedari tadi.


“Jika dalam hitungan ke sepuluh peserta Lugi tidak hadir maka akan didiskualifikasi.” Ucap Wasit Rud yang terdengar menggema di seluruh arena.


“Maaf menunggu lama, aku disini.” Ucap sebuah suara yang terdengar dari sudut arena didalam lorong pintu masuk. Langkah kaki orang itu menggema di lorong tersebut, sedikit demi sedikit sosok itu mulai terlihat dan menampakkan seorang berjubah hitam sampai menutupi kepalanya dengan tudung jubah. Wajahnya memakai semacam topeng kucing berwarna hitam. Aura menguar dari nya terasa begitu lembut dan teratur. Semua orang mulai tertuju pada orang misterius itu yang diyakini adalah salah satu peserta yang baru datang.


“Kau adalah...” perkataan wasit terhenti saat peserta terakhir itu berbicara.


“Aku Lugi, peserta kompetisi kerajaan Eartfil.” Ucapnya dengan tenang, jika didengar lagi suaranya terdengar sedikit feminim yang di paksakan agar terdengar laki.


“Karena peserta terakhir sudah datang, mari kita mulai saja pertarungan ketiga ini.” Ucap Rud dengan meriahnya. “Kalian bersiaplah...” instruksi dari Rud membuat ke empat peserta itu mulai bersiaga. “Pertarungan Dimulai.”


Ditempat Yugi, dia sekarang sedang berada di luar gedung arena. Terlihat dia sedang menunggu seseorang. Pandangannya selalu melirik kearah kanan dan kiri, beberapa saat kemudian pandangannya terkunci kearah depan dimana terdapat seorang pemuda bersurai jingga api yang berjalan mengarah ke padanya.


“Lama menunggu?” Tanya pemuda itu pada Yugi.


“Tidak, aku baru saja sampai. Rexas...” tatapan mereka saling bertemu dengan senyuman menantang satu sama lain.


Suasana hening sesaat, atmosfer di sekitar mereka terasa berat. Tapi itu tidak berlangsung lama saat Rexas mengulurkan tangannya.


“Aku senang kita bertemu lagi, Yugi.” Ucap Rexas dengan ramah.


Untuk sesaat Yugi agak sedikit ragu untuk meraih tangan itu. Tapi saat melihat senyuman tulus itu dia pun akhirnya bersalaman dengan Rexas. “Aku juga...” balas Yugi dengan senyuman ramahnya.


“Maaf soal waktu itu, aku pergi tanpa berpamitan denganmu.” Ucap Rexas yang sudah melepaskan salam mereka.


“Seharusnya aku yang minta maaf padamu karena telah membatalkan perjodohanmu dengan putri Elsa.” Ucap Yugi menyesal sambil menunduk sedikit.


“Tidak usah kau pikirkan, lagi pula dia tidak mencintaiku. Aku masih senang kalau Elsa masih menganggapku temannya. Dan juga setelah bertarung denganmu aku menyadari kalau aku ini masihlah lemah. Bukan begitu sang pengguna pedang Dewa Naga.” Ucap Rexas yang dimana di akhir kalimat dia mengucapkannya dengan pelan.


“Sepertinya kita sudah saling mengenal, walau masih belum terlalu jauh.” Rexas bersedekap dada sambil menatap Yugi arogan.


“Aku meragukan hal itu.” Balas Yugi yang tidak mau mengalah.


“Hahahaha...” Rexas tertawa sebentar dan kembali menatap Yugi. “Kau memang hebat, aku tau kau tidak akan membuatku bosan, bagaimana kalau kita pergi ke sebuah restoran atau semacamnya. Supaya kita bisa mengobrol lebih leluasa.” Ajak Rexas.


“Maaf aku tidak bisa menemanimu hari ini, karena ada sesuatu hal yang harus aku lakukan.” jawab Yugi dengan rasa menyesal tidak bisa memenuhi ajakan Rexas.


“Baiklah aku mengerti, mungkin lain kali saja.” Rexas berbalik badan dan berjalan perlahan, tapi sebelum pergi jauh dia sempat mengucapkan kalimat terakhirnya. “Semoga kita bisa bertemu di final, Yugi.”


Mendengar itu Yugi tidak meresponsnya, dia hanya tersenyum menatap kepergian Rexas dari pandangannya. Baginya perkataan Rexas merupakan tantangan tersendiri. Tapi dengan yakin Yugi menerima tentangan tersebut. Karena dia tau cepat atau lambat mereka pasti akan bertemu didalam arena.


Sorak sorai penonton begitu meriah, sekembalinya Yugi di bangku penonton. Dia melihat Vira dan yang lainnya tengah asyik menonton. Saat sudah berada di hadapan mereka, dia langsung ditanyai oleh Vira.


“Guru habis dari mana?” tanya Vira dengan sedikit ekspresi kesal karena sempat ditinggal.


“Ah, aku habis dari toilet tadi. Maaf agak lama.” Bohong Yugi dengan nada canggung.


“Hemph... dasar.” Balas Vira kesal.


“Pemenangnya Lugi.” Teriak sang wasit.


Semua penonton terdiam melihat betapa hebatnya petualang bernama Lugi yang mengenakkan topeng kucing itu. Tempat arena yang semulanya masih bagus kini sudah hancur berantakan dengan beberapa tanah yang mencuat ke atas seperti terjadi pergeseran tanah diakibatkan gempa. Tapi ini merupakan kekuatan milik orang misterius itu. Tidak lama penonton kembali bersorak atas kemenangan orang misterius tersebut.


“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Yugi yang tidak bisa mencerna kejadian didepannya.


“Dia sangat hebat, kekuatannya adalah elemen tanah. Ketiga lawannya itu dia habisi dengan mudahnya. Seolah mereka bukan apa-apa baginya.” Jawab Maruya yang telah menyaksikan pertarungan tersebut.


“Dia melawan tiga orang itu?” tanya Yugi.

__ADS_1


“Sebelumnya mereka melawan satu sama lain. Tapi saat melihat kemampuan milik orang misterius itu ketiga lawannya bekerja sama dan menyerangnya. Dan hasilnya seperti ini...” jawab Maria. “Semenjak pertarungan pertama dan ketiga sepertinya banyak peserta yang meniru lawan kalian sebelumnya untuk mengalahkan lawan yang lebih kuat terlebih dahulu. Tapi ya aku juga mengerti kenapa mereka sampai seperti itu.” Ucap panjang lebar Maria yang membuat Yugi merasa bingung.


‘Aku jadi ragu kalau Maruya ini kakaknya Maria.’ Batin Yugi sambil tersenyum canggung.


“Wah Maria begitu pintar. Aku jadi bingung sebenarnya siapa kakak di sini.” Ucap Vira sambil menatap kearah Maruya.


“J-jangan meledekku.” Ucap Maruya dengan malunya.


“Hahahah...” mereka tertawa senang melihat reaksi dari Maruya.


“Tenang saja, Vira Cuma bercanda.” Ucap Yugi yang selesai tertawa.


“Sebenarnya sikap kakak ini diturunkan oleh ayah. Sementara aku lebih mirip ibuku.” Ucap Maria, walau dia sempat tertawa tadi. Tapi ekspresinya berubah sedikit murung saat mengucapkan nama ibunya.


Yugi yang menyadari hal itu hanya diam saja, karena dia tahu kalau itu adalah sesuatu yang pribadi. Dia lebih memilih melihat kearah orang yang telah memenangkan pertandingan ke empat ini. Orang misterius yang mengenakan jubah hitam sampai menutupi kepalanya dengan tudung ditambah memakai topeng. Yugi tidak bisa merasakan auranya, seperti dia sudah menyembunyikannya dengan baik.


“Lupakan soal tadi, sebentar lagi pertarungan yang ke lima akan dimulai.” Ucap Maruya yang kembali melihat arena pertarungan.


“Pertarungan kelima akan segera di mulai, ini akan jadi pertarungan penutup untuk hari ini. Dimana hari menunjukkan sudah sore. Jadi mari kita nikmati pertarungan ini.” Ucap Rud dengan semangatnya. “Tanpa membuang waktu lagi, ini dia pesertanya.” Papan proyektor sihir terus memutar secara acak nama peserta dan akhirnya terpilihlah empat peserta yang akan maju ke arena. “Waahh... sang pangeran dari kerajaan Boltendra akan bertarung hari ini. Kita sambut, Reiga Boltendra...”


“Woooaaahhhh...”


Semua penonton bersorak ria saat seorang pemuda tampan bersurai kuning jabrik berjalan menuju arena melalui gerbang arena. Pakaiannya serba hitam dengan aksen kuning berlambang petir di setiap sisi jubahnya. Ditambah dahi nya yang memiliki lambang petir kuning menjadi ciri khasnya.


“Pangeran dari kerajaan Boltendra. Bukankah itu...” tebak Maruya.


“Benar, tiga orang yang sebelumnya kulawan berasal dari kerajaan Boltendra.” Ucap Yugi yang mengingat pertarungannya itu.


“Aku penasaran dengan kekuatan pangeran kerajaan Boltendra.” Ucap Vira dengan antusiasnya.


Rud yang sudah melihat pangeran Reiga memasuki arena langsung mengambil instruksi kembali untuk memanggil ketiga peserta selanjutnya.


“Ketiga peserta selanjutnya, Arga, Cerga dan Jogi.”


Ketiga peserta yang dipanggil wasit langsung masuk ke arena. Mereka saling menjaga jarak dua puluh meter dari lawannya. Tatapan tajam mereka saling mewaspadai satu sama lain. Terutama pangeran Reiga, ketiga peserta itu sangat mewaspadai pangeran dari kerajaan Boltendra itu. Karena melihat pangeran dari kerajaan Vouleftis yang memiliki kekuatan yang luar biasa sudah cukup bagi mereka untuk mewaspadai kekuatan pangeran dari kerajaan lain.


‘Semuanya terlihat sangat kuat, terutama pangeran Reiga. Aku merasakan hawa yang tidak mengenakan.’ Batin Jogi yang berkeringat dingin di pelipisnya. Surai hitamnya terlihat rapih kearah kiri, mata hitamnya melihat kearah lawannya dengan waspada. Dia memakai pakaian petualang standar berwarna biru.


“Pangeran kerajaan Boltendra ya.” Ucap Arga dengan nada meremehkan. Pakaiannya berwarna merah dengan corak garis hitam di setiap pinggirnya. Tatapan mata hitamnya hanya melihat kearah pangeran Reiga, rambut merahnya terlihat lurus ke bawah dengan model rambut bob. “Aku akan jadi lawanmu pangeran.” Tantangnya.


“...” sementara pangeran Reiga hanya menatap tajam atas balasan tantangan dari Arga.


Karena merasa di intimidasi membuat Arga sedikit gugup sambil menelan ludahnya secara paksa. Keringat dingin meluncur di pelipisnya. Dia pun mulai berpikir kalau tindakannya tadi sangatlah ceroboh. Tapi semua perspektif Arga mengenai pangeran Reiga runtuh dalam sekejap.


Tidak lama Reiga menjawab tantangan Arga dengan penuh semangat. “Tentu saja, jika kau menantangku maka aku akan menerimanya.”


Semua orang sedikit terbengong akan sikap pangeran yang satu ini. Tidak seperti Rexas yang tenang dan bisa menahan dirinya. Dia berbanding terbalik darinya, dengan penuh antusias dan semangat dia menerima tantangan dari Arga. Rasa takut yang sempat hinggap dari Arga mulai menghilang saat dia tidak merasa terintimidasi lagi. Dengan senyuman percaya diri dia pun kembali membangun keberaniannya.


‘Aku pikir dia pangeran yang pendiam, ternyata berbanding terbalik dari yang kupikirkan. Sungguh berisik, lupakan itu lebih baik aku melawan dia saja.’ Batin Cerga yang menatap kearah Jogi dengan malasnya. Mata hitamnya merasa tidak berminat akan pertarungan ini. Rambut yang diikat ponytail pendek tertiup angin sedikit. Pakaiannya serba abu-abu dengan busur di balik punggungnya.


“Pertarungan kelima sekaligus penutup untuk kompetisi hari ini.”


Mendengar perkataan dari wasit semua peserta mulai merasakan ketegangan. Jantung mereka memompa antara takut, senang, tegang, bersemangat dan lain sebagainya. Perasaan itu saling bercampur saat wasit masih menjeda perkataannya.


“DIMULAI...”


Setiap peserta saling menerjang lawannya satu sama lain dengan kecepatan tinggi dan ekspresi saling ingin mengalahkan.


Pertarungan kelima sekaligus penutup untuk kompetisi hari ini telah dimulai, banyak dari mereka memiliki kekuatan dan kemampuan yang luar biasa...


Tapi sedikit dari mereka yang mengetahui bahwa kebangkitan sang legenda akan segera tiba...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2