KAISAR ES

KAISAR ES
MARUYA VS RUGIA


__ADS_3

Pertarungan kedua sudah selesai, kini wasit sedang mengacak kembali nama yang akan melakukan pertarungan ketiga. Semua peserta melihat layar di atas mereka dengan tegang, begitu pula penonton yang menebak-nebak siapa yang akan bertarung selanjutnya.


“Ini dia peserta yang akan bertarung di putaran ketiga ini. Maruya seorang petualang dari Vouleftis.”


Semua bersorak mendengar sang Dragon Slayer akan bertarung, para penonton benar-benar membeludak saat melihat pemuda petualang sang Dragon Slayer Api memasuki arena. Kemudian wasit melanjutkan perkataannya.


“Dan lawannya adalah... petualang kerajaan Kurosido, Rugia.”


Seorang lelaki berambut abu-abu dengan mata abu-abu yang menatap malas berjalan ke dalam arena dengan langkah pelan. Tatapan matanya seolah dia ingin mati saja dari pada melakukan hal yang merepotkan. Begitu malasnya membuat Maruya menatap kurang senang, seolah dia sedang diremehkan disini.


“Oy bersemangatlah sedikit, aku ingin melawanmu dengan serius.” Teriak Maruya.


Sementara orang yang diberi teriakan itu hanya menatap malas saja. Matanya tertutup sebentar untuk memikirkan balasan atas perkataan Maruya, beberapa menit berlalu baru lah mata itu terbuka kembali dan membalas perkataan Maruya. “Itu merepotkan, kita bermain aman saja.”


“Lambat, dan apa-apaan perkataanmu itu... kau harus melawanku dengan serius.” Teriak nya lagi yang kedua kali, namun Rugia sepertinya agak malas meladeni Maruya yang berisik sekali.


“Aku akan berjuang semampuku saja.” Tidak ada sama sekali motivasi dimatanya, Rugia benar-benar malas.


“Ada apa dengan orang itu, di pertarungannya yang sebelumnya pun seperti ini. Tapi aku benar-benar heran kenapa dia bisa lolos ke babak ini.” Kesal Maria yang melihat peserta yang pemalasnya minta ampun.


“Maria, orang itu...”


Mendengar perkataan Yugi seolah bertanya padanya, Maria menjawab dengan singkat. “Dia adalah Rugia, petualang dari Kurosido. Dalam babak sebelumnya dia berhasil menang dan melaju ke babak sekarang. Kekuatannya sendiri tidak bisa dikatakan normal, itu sesuatu yang jarang dilihat.”


Jawaban yang terkesan masih ambigu itu membuat Yugi agak kesulitan untuk mencernanya, namun dia tahu intinya kalau petualang itu memiliki kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tapi dia akan mengetahuinya disini.


Wasit yang melihat kedua peserta sudah ada didalam arena, langsung saja memulai pertarungan ketiga ini. “Pertarungan ketiga, Maruya melawan Rugia. Dimulai...”


“Lawan aku...” Maruya berlari menuju lawannya dengan api di tangan kanannya. “Fire Dragon Punch.” Pukulan berapi itu diarahkan pada Rugia yang masih diam ditempatnya.


“Berisik sekali.” Kesalnya saat melihat Maruya menerjang padanya dengan berteriak keras.


Duar


Pukulan api itu sukses mendarat di tempat Rugia berdiri. Tapi sayang, serangan itu masih bisa ditahan, semua orang terkejut, ya... mereka melihat kembali kekuatan tidak lazim milik Rugia.


“D-dia menangkis serangan Maruya dengan bayangan.” Yugi terkejut, yang dilihatnya adalah sebuah bayangan yang ada di kaki petualang surai abu-abu itu yang membentuk perisai seperti mangkuk yang melengkung melindungi tuannya.


“Bisakah kau tidak berisik seperti itu.” Kesal Rugia dengan nada malasnya.


Maruya yang tidak berhasil menembus pertahanan milik lawannya langsung saja melompat mundur untuk menjaga jarak. “Kekuatan itu... sebenarnya apa?” Tanya Maruya.


“Aku tidak mungkin bodoh memberitahukan hal itu padamu.”


Bayangan Rugi melesat kearah Maruya seperti tali yang siap menusuk tubuh lawannya. Maruya yang melihat banyaknya tali yang melesat seperti ingin menusuknya, dengan sigap menghindari setiap tusukan itu.


Satu bayangan menusuk kearah kaki kanan Maruya, tapi untungnya dia melompat ke kanan menghindari serangan itu, tidak berhenti disana satu bayangan lagi mencoba mengincar kepala Maruya. Tidak mau sampai kepalanya bolong, Maruya menghindari serangan itu dengan menundukkan kepalanya, kemudian melompat sebagai dorongan dan melesat kearah Rugia dengan kedua tangan dilapisi api. Melihat lawannya melesat dengan kecepatan tinggi kearahnya, Rugia memerintahkan setiap bayangannya untuk menyerang dengan peluru bayangan yang menembak layaknya rudal tanpa henti.


Syut syut syut syut syut...


Semua tembakan bayangan itu berhasil Maruya hindari dengan insting naganya, namun ada beberapa peluru yang menggores pipi, tangan dan pahanya, walau terkena serangan seperti itu tidak membuat daya lesatannya mengurang. Dibantu dengan kaki yang mengeluarkan api layaknya booster sehingga lesatannya lebih cepat, Maruya melakukan ancang-ancang meninju dengan tangan kanannya. “Rasakan ini... Fire Dragon Punch.”


Duuuuuaaaarrrrrrr


Lagi-lagi serangan Maruya dapat di tahan dengan perisai bayangan milik lawannya. Serangan Maruya bahkan tidak mampu membuat celah dari perisai bayangan itu. Begitu padat dan tebal, seolah tidak dapat ditembus oleh apapun.


“Menyerah sajalah, dengan begitu pertarungan ini akan berakhir dengan cepat.” Usul Rugia yang mulai bosan dengan pertarungan yang merepotkan ini baginya.


“Haaaaaaaaaahhh...” Maruya berteriak dengan mengobarkan api di tinjunya dan mendorong pertahanan Rugia. Terlihat pelindung bayangannya mulai terkelupas sedikit dengan panas api milik Maruya.


Rugia terkejut melihat pertahanan bayangannya mulai pecah dan membuka celah. Tidak mau terkena serangan panas itu, bayangan yang menjadi pertahanan itu menyerang balik kearah Maruya dengan berbentuk tinju.

__ADS_1


Buagh


“Uhuk...” tinju tepat bersarang di perut Maruya, dia sedikit terbatuk saat menerima serangan dadakan itu, api yang ada ditangannya padam. Tidak berhenti disana, bayangan itu mulai mengikat tubuh Maruya sehingga dia tidak bisa bergerak lagi. Ikatan bayangan itu terlalu kuat, walau Maruya sudah berusaha memberontak tali bayangan itu malah semakin kuat mengikat.


Rugia berjalan pelan kearah tubuh tergeletak Maruya yang terikat bayangannya. Dia menatap bosan lawannya itu seolah tidak tertarik. “Dragon Slayer... kau pikir sihir itu begitu kuat. Bahkan semua penonton kagum pada sihirmu, memang sehebat itu kah...” dia berjongkok di depan wajah Maruya yang menatap dirinya marah. Tapi Maruya tidak bisa melakukan apapun pada tali bayangan yang mengikatnya. “Jangan terlalu percaya diri pada kekuatanmu itu, kau itu sangat berisik dan menjengkelkan tahu.”


“Diam... kalau berani lawan aku dengan benar.”


Rugia menutup telinganya karena mendengar suara yang melengking dari Maruya. Terkadang dia berpikir kenapa lawannya itu harus pemuda berisik ini. “Kalau kau ingin melawanku, kau harus bisa melepaskan ikatan ini dulu. Itu jika kau mampu melakukannya, lemah...”


Mendengar kata lemah dari lawannya membuat Maruya benar-benar marah. Api meledak hebat di seluruh tubuhnya, Rugia yang kepanasan karena terlalu dekat dengan musuhnya langsung mengambil jarak aman. Tapi bisa dirasakannya api yang panas itu seolah hidup dan melindungi tuannya. Terlihat sekarang Maruya yang seperti memakai zirah api yang mengelilinginya, siapa pun yang mendekatinya pastilah akan merasakan panasnya api yang membakar.


Yugi sedikit merasa janggal akan api yang menyelimuti Maruya, api itu sedikit berbeda dengan sebelumnya. “Ada apa dengan api itu, aku bisa merasakan kekuatannya menyebar di area ini.”


“Jika harus menjawab, itu adalah salah satu teknik api kakakku. Menggunakan elemen apinya untuk menciptakan zirah pelindung yang mampu menghalau serangan. Dia tidak pernah mengeluarkannya kecuali mendapat lawan yang sepadan. Kakak menamakannya... Rage of Fire.” Jelas Maria.


“Rage of Fire...” ulang Yugi, dia terlihat cukup terkejut saat mendengar nama jurus itu. Tidak pernah terbayang olehnya menjadikan elemen sebagai zirah tubuh. ‘Sepertinya itu tidak jauh beda dengan mode milikku.’


Perkataan hati Yugi di bantah oleh Yui dalam pikirannya. [“Tidak, jurus itu berbeda dengan mode Eternal Snow, kekuatan yang dimiliki oleh Dragon Slayer Api itu menggunakan apinya sebagai zirah. Namun jika di singkat lebih jelas, pemuda itu mengeluarkan amarahnya dengan membuat apinya mengamuk. Aku pikir dia hanya marah saja, sehingga terciptalah teknik itu.”]


‘Komentarmu terhadap jurusnya seolah menyebutkan kalau jurus itu hanyalah kekuatan asal yang dikeluarkannya.’ Tanggap Yugi dengan keringat dingin dikepalanya.


“Kakak mendapatkan jurus itu saat melakukan latih tanding. Karena tidak bisa mengalahkan lawannya dia pun mengamuk dan mengeluarkan api secara besar-besaran sehingga terciptalah jurus tersebut. Aku pikir dia hanya marah tidak jelas dan secara kebetulan mendapatkan teknik itu.” Lanjut Maria.


‘Oy oy kau juga memiliki pemikiran yang sama dengan Yui.’ Yugi berpikir kalau dua cewek yang mengomentari jurus Maruya ini seolah menjatuhkan harga diri jurus tersebut.


Kembali ke arena, Rugia sedikit terkejut melihat kobaran api yang semakin kuat itu. Bahkan dijarak 10 meter pun bisa dia rasakan panasnya yang menyengat. Sepertinya lawannya itu sudah mengeluarkan jurus yang merepotkan.


“Lihat, aku berhasil memutuskan talinya. Aku tidak lah lemah...” teriaknya.


“Orang ini mengeluarkan jurus seperti ini hanya ingin membuktikan kalau dia tidak lemah. Ada apa dengannya ini...” kesal Rugia dengan nada malasnya. Tapi dia juga sedikit penasaran dengan jurus lawannya, jika dilihat dari luar api itu seperti membentuk pelindung padat yang menjaga tuannya. “Jurus apa yang kau gunakan?”


Pertanyaan Rugi membuat Maruya tersenyum percaya diri. Dengan menunjuk Rugia dengan telunjuk tangan kanannya, dia pun berteriak. “Inilah teknik api ku yang hebat, Rage of Fire. Kekuatan api ini melindungiku dari berbagai serangan dari lawanku. Dan aku bisa melawan balik secara bersamaan, hebatkan... hahahaha...” kalimatnya diakhiri dengan tawa percaya diri yang terlalu over sehingga terlihat konyol.


“Sekarang giliranku.” (Maruya)


Mendengar perkataan lawannya seolah menginstruksikan dirinya untuk siaga, dimana posisi Maruya sudah siap ingin menyerang kearahnya. Rugia langsung membuat bayangannya mengelilinginya seperti lautan yang berputar layaknya tornado kecil.


“Aku mulai...” Maruya melesat dengan cepat dimana dorongannya membuat tanah yang dipijaknya mencengkung, itu menandakan bertapa kuat cengkramannya pada tanah. Saat sudah berada didekat Rugia, tinju yang berlapis api itu sudah siap dilayangkan.


Tidak semudah itu untuk membuat Rugia terkena serangan, dengan cepat bayangan yang mengelilinginya membuat perisai tebal didepan.


Duar


Perisai bayangan bertemu dengan tinju api amarah membuat sebuah ledakan ditempat bertemunya dua kekuatan tersebut. Tidak berhenti disana, Maruya melompat tinggi dan melakukan gulingan diudara kemudian menendang dengan tumitnya kearah perisai bayangan itu.


Duaaaarrrr


Ledakan kedua terdengar lebih besar dari yang pertama, dan terlihat perisai bayangan itu mulai lenyap saat terkena api panas milik Maruya. Rugia yang berada di belakang perisainya yang hancur juga menerima dampak yang cukup parah saat api itu menyambar dirinya. Karena rasa panas yang dirasakannya, Rugia mengambil jarak cepat dari jangkauan api musuhnya. Namun Maruya tidak membiarkan hal tersebut, dia pun ikut melesat ke tempat Rugia berada. Seolah tidak memberikan dirinya istirahat, Rugia merasa marah dan mengeluarkan semua bayangannya untuk menyerang Maruya.


Semua serangan bayangan yang membentuk anak panah terus menghujani jalur Maruya. Bukannya menghindar dari semua serangan itu, Maruya malah terus melesat lurus tanpa peduli dengan anak panah bayangan yang menghujani dirinya. Saat anak panah itu mengenai tubuh Maruya, semuanya lenyap seketika terbakar api yang ada ditubuhnya. Rugia terkejut melihatnya, kekuatan bayangannya tidak bisa menandingi perisai zirah api milik Maruya.


“Lawan aku.” (Maruya)


Mendengar tantangan yang membuat harga dirinya direndahkan, akhirnya Rugia mengambil tindakan. Wajahnya mulai mengeras, sifat pemalasnya tiba-tiba berganti 180 derajat dari yang sebelumnya. Kini bayangan yang mengelilinginya seolah mengikuti emosi tuannya, marah. Itu yang dirasakan oleh Rugia sekarang, bayangan itu mulai mengikat seperti rajutan dan berkumpul pada tangan kanan Rugia kemudian membentuk bor tangan bayangan. “Akan kuterima.”


Keduanya saling melesat dan memangkas jarak satu sama lain dengan masing-masing jurusnya.


“Shadow Drill.” (Rugia)


Tinju bor bayangan Rugia dan tinju Rage of Fire milik Maruya semakin membesar saat keduanya sudah sangat dekat. Dan ketika kedua jurus itu beradu, sebuah gelombang besar membuat tanah arena hancur lebur dengan ledakan dahsyat.

__ADS_1


Duuuuuuuuuuaaaaaaaaaarrrrrrrrd...


‘Ledakan yang besar sekali.’ Yugi berkeringat dingin melihat ledakan yang besar itu, pertarungan ketiga ini hampir sama dahsyatnya dengan yang kedua. Diluar nalar, dia berpikir Maruya ini penuh akan kejutan setiap dalam pertarungannya, walau dirinya sendiri tidak berhak berkomentar seperti itu.


Sebuah asap membumbung tinggi seperti jamur, ledakan kedua jurus itu membuat tanah di sekitarnya hancur berantakan sehingga debu pun menghalangi pandangan setiap penonton yang ingin melihatnya.


Raja dan Ratu yang melihat pertarungan yang menarik itu tetap fokus pada arena pertarungan, mereka berpikir siapa yang akan bertahan dari ledakan itu. Dua petualang yang sama memiliki kekuatan yang unik, yang satu petualang dengan sihir kuno Dragon Slayer dan satunya memiliki kekuatan memanipulasi bayangan. Sungguh peserta yang penuh kejutan dan tidak pernah membuat bosan semua penonton.


Didalam arena, debu masih mengepul sehingga pandangan pun tidak bisa melihat hasilnya. Tapi dapat mereka dengar ledakan bertubi-tubi didalam debu yang menghalangi itu. Semua orang terheran, apa yang terjadi sebenarnya didalam asap itu.


Yugi juga kebingungan akan ledakan yang bertubi itu. Matanya tidak bisa melihat apa yang terjadi, karena penasaran akhirnya dia mengaktifkan mata observasinya untuk melihat apa yang terjadi dibalik debu itu. “Mereka... saling beradu kekuatan dibalik debu itu.”


Perkataan Yugi tidak dapat didengar oleh Maria maupun Vira yang fokus pada suara keras dari balik debu. Disana mereka melihat seperti kembang api yang menyala merah dan putih yang saling beradu dan meledak saat bertemu. Pertarungan yang tidak bisa mereka lihat pastilah sangat sengit didalam sana.


Duar duar duar


“Petualang dari kerajaanku itu, ternyata kuat juga.” Gumam Rexas, dia tersenyum menyeringai, selaun ingin bertarung dengan Yugi, sepertinya pangeran ini juga mulai tertarik untuk bertarung dengan Maruya.


“Hyaaaa...” teriak Rugia.


“Horrraaa...” teriak Maruya.


Duar


Keduanya beradu tinju di udara sehingga semua orang bisa melihat mereka. Para penonton yang kebanyakan rakyat biasa terkejut melihat mereka yang secara tiba-tiba sudah ada di udara.


“Mati kau...” Rugia mendorong tinju kanannya semakin kuat dimana bayangan yang menyelimutinya semakin membesar mengikuti emosi tuannya.


“Kau saja yang kalah.” Maruya pun tidak mau kalah, tinju kanan berapinya semakin besar ditambah tubuhnya yang semakin membara diselimuti api.


Dua jurus superior ini menjadi besar diudara membentuk bola merah kejinggaan seperti api dan hitam keabu-abuan layaknya malam mencekam. Mereka saling membungkus satu sama lain dan mendominasi siapa yang terkuat.


“Hiiiiyyyaaaaaaa...” (Rugia)


“Hooorrrraaaaaa...” (Maruya)


Teriakan keduanya diikuti oleh bola merah api dan hitam malam saling membungkus dan menyatu di udara. Penonton terkejut, pasalnya kedua petualang itu terbungkus oleh energi mereka sendiri.


Yugi kaget apa yang dia lihat dengan mata observasinya. Dengan panik dia berkata lumayan keras sehingga Maria dan Vira bisa mendengarnya. “Gawat, bola raksasa itu akan meledak diudara.”


“Hah...” kedua gadis yang berada di samping kanan dan kiri Yugi terkejut saat mendengar pernyataan Yugi.


“Tidak mungkin...” Maria melihat kearah arena dengan wajah begitu khawatir terhadap kakaknya. “Kakak...”


Raja yang melihat bola diudara itu merasakan sesuatu yang membuatnya khawatir. Langsung saja dia memerintahkan kepada semua penyihir pembuat penghalang untuk memperkuat penghalangnya. “Kalian para penyihir pelindung, perkuat kubah pertahanan sihir kalian sekarang.”


Mendengar perintah dari rajanya, mereka pun memperkuat perisai kubahnya menjadi lebih tebal dan kokoh dari sebelumnya. Itu dilakukan supaya perlindungan terhadap para penonton terjamin keamanannya.


Tidak lama bola yang berada didalam arena mulai bersinar putih ditengahnya, sampai beberapa retakan terjadi disana. Semakin lama retakan itu semakin menjalar sehingga terlihat seperti mau meledak.


Sriiiiinngggggg


Duuuuuuuuuuuaaaaarrrrrrrrrrrr


Ternyata benar akan firasat Raja, ledakan didalam arena pun terjadi. Gelombang yang kuat itu menyebabkan beberapa retakan di penghalangnya, tapi untungnya gelombang itu tidak mencapai para penonton. Kekokohan perisai dari para penyihir Eartfil berhasil menghalau gelombang kuat itu mengenai para penonton.


Dari udara itu berkumpul asap bekas ledakan, tidak lama ada sesuatu yang jatuh dari sana. Sebuah bayangan dua objek yang jatuh dari langit menuju tanah. Mereka adalah Maruya dan Rugia yang terkena dampak ledakan yang begitu dekat dari mereka. Keduanya terluka cukup parah dimana beberapa darah mengalir ditubuh mereka, dan juga pakaian yang sudah compang camping.


“KAKAAAAAKKKKKKK...” (Maria)


Pertarungan ketiga dipenuhi dengan rasa tegang dan ketakutan... bahkan bagi gadis ini, dia menangis melihat kakaknya yang terluka parah dalam pertarungan. Namun hasilnya belum bisa ditentukan siapa pemenangnya... aku rasa bukan itu yang terpenting, nah sekarang apa kau akan menyerah begitu saja... tidak kan... Maruya...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2