
Istana kerajaan Northern Esla, disebuah ruangan yang gelap terdapat tiga orang wanita tengah berbincang-bincang ditemani satu lilin yang menyala. Wajah mereka tidak terlalu jelas karena cahaya yang kurang terang.
“Jadi, bagaimana perkembangannya?” tanya wanita yang terlihat seperti ibu mereka.
“Kurang bagus ibu, aku masih belum ada kemajuan.” Jawab seorang wanita yang terlihat lebih tua dibanding satu orang lagi yang berada disampingnya.
“Haih... bagaimana denganmu putriku... Elna?” Tanya lagi wanita itu yang ternyata Ratu kerajaan Northern Esla, Raniya.
“Sangat bagus, walau pada awalnya kak Yugi menolak cintaku. Tapi dia mengatakan tidak akan menyerahkanku pada orang lain jika ada yang berani merebutku darinya. Dan juga...” dengan tingkah malu-malunya ditambah wajah yang merona membuat Raniya dan putri tertua nya Elsa penasaran akan sifat Elna yang tidak biasanya. “...aku sudah menciumnya.”
“APAAAAA...” Kaget Elsa yang baru tau tentang kejadian itu.
“Wah wah... putriku Elna sudah dewasa rupanya.” Ucap Raniya dengan wajah senangnya.
“Se-sejak kapan... jangan-jangan pas di pemandian air panas.” Tebak Elsa dengan wajah syoknya.
“Hmm...” Elna hanya mengangguk dengan wajah senang penuh antusias.
Seketika wajah Elsa menjadi putih karena syok atas kejadian yang menimpa adiknya itu. Ditambah dengan kenyataan bahwa adiknya sudah pernah berciuman dengan Yugi.
“Kalau seperti ini kamu akan tertinggal oleh adikmu loh...” ucap Raniya dengan nada jahilnya.
“Tenang saja, aku pasti akan mengalahkanmu adikku.” Tantang Elsa dengan kilatan mata yang sangat serius.
“Aku tidak akan mengalah kak Elsa.” Balas Elna yang tidak kalah seriusnya.
“Ibu akan mendoakan kalian, semoga berhasil...” senyuman Raniya turut menyertai kedua putrinya untuk mendapatkan sang Kaisar dimasa depan.
Sementara disebuah lorong terdapat seorang pemuda bersurai putih tengah berjalan sempoyongan sambil menahan kepalanya yang pusing. Wajahnya memerah dengan mata yang terus saja berputar seperti obat nyamuk.
[“Yugi, apa kamu baik-baik saja?”] tanya Yui didalam dimensi buatan.
“Tidak terlalu baik, aku tidak tau bakal jadi seperti ini. Sepertinya aku salah minum...” jawab Yugi sambil bersender ke tembok.
[“Memang apa yang kamu minum?”] tanya lagi Yui yang khawatir melihat Yugi seperti ini.
“Aku hanya minum minuman yang berwarna kuning agak kekuningan itu, dengan soda diatasnya... hik...” Yugi mulai cegukan dan terduduk lemas dilantai.
[“Jangan-jangan kamu minum bir.”] Tebak Yui saat menyadari tentang minuman itu.
“Entahlah... hik... aku tidak tau... hik... aku dikasih oleh salah satu prajurit... hik...” Yugi mulai merasa tubuhnya tidak kuat lagi untuk berdiri.
Sebelumnya di pesta penyambutan Yugi dan lainnya, untuk sementara semuanya berjalan baik. Sampai dimana sang Ratu Raniya memanggil kedua putrinya untuk ikut bersamanya. Begitu pula Raja Reulad yang pergi untuk rapat dengan para tetua. Tinggal lah Yugi seorang diri yang sedang menikmati pemandangan diluar sambil melihat beberapa tentara yang sedang berpesta sambil meminum sesuatu yang berwarna kuning dengan busa diatasnya. Untuk sesaat Yugi merasa penasaran kenapa mereka bisa menggila begitu.
(N.b [Yugi tidak pernah diberitahu soal minuman keras, alkohol ataupun bir yang biasanya ada disebuah bar. Jadi pengetahuan Yugi akan hal-hal berbau dewasa sangatlah minim, karena kakek angkatnya belum pernah sekali pun mengajarkan hal tersebut.])
“Kenapa mereka begitu senang, apa menyambutku mereka jadi sampai sesenang ini.” Gumam Yugi dengan narsisnya. “Tapi mana mungkin, mereka senang pasti karena pesta dan makanan yang enak itu.” Lanjutnya.
“Woooaahhh... itu dia sang pahlawan kita.” Ucap salah satu prajurit yang mabuk dengan wajah yang sudah memerah.
“Hay pahlawan, kemarilah...” panggil prajurit tersebut.
Yugi yang sangat polos itu hanya menurut dan mendekati para prajurit yang masih asyik berpesta dengan cangkir berukuran besar ditangan mereka. “Ada apa?” tanya Yugi.
“Ayo minumlah bersama kami, ini enak loh...” ucap prajurit itu tanpa sadar menyodorkan cangkir yang berisi bir.
__ADS_1
“Ini apa...” Yugi menerima cangkir itu sambil melihat bir itu secara seksama.
“Itu bir, rasanya enak... kau harus mencobanya.” Ucap prajurit itu sambil berlalu meninggalkan Yugi untuk mengambil cangkir baru.
“Sepertinya terlihat berbahaya, tapi mereka kelihatan begitu senang meminumnya.” Ucap Yugi penasaran akan minuman yang berada ditangan kanannya. “Apa sebaiknya aku coba saja ya...” pikir Yugi.
“Kakek juga pernah bilang jangan menilai buku dari sampulnya. Jadi aku tidak boleh curiga terhadap minuman yang belum pernah aku coba. Baiklah...” dengan keberanian tinggi, Yugi meminum satu gelas penuh bir itu tanpa tersisa sedikit pun.
“Eemmm, rasanya tidak terlalu buruk... dan juga sedikit enak... lumayanlah...” entah kenapa kepala Yugi mulai pusing setelah meminum bir tersebut, ditambah wajahnya yang mulai berubah merah. “Kenapa kepalaku pusing...” Yugi menjatuhkan cangkirnya sambil berjalan sempoyongan. “Mungkin aku hanya mengantuk saja, lebih baik aku kembali kedalam kamar.”
Dan sekarang Yugi sudah tepar duduk dilantai dengan lemasnya. Yui yang melihat Tuannya tidak bisa bergerak lagi dengan cepat keluar dari dimensi buatan dan memapah Yugi kedalam kamar.
“Ternyata benar kamu minum bir... ada juga ya orang yang polosnya minta ampun seperti dirimu.” Yui berjalan perlahan menuju kamar Yugi. Untuk sesaat Yui tersenyum senang bisa sedekat ini dengan Yugi. Tatapannya tidak bisa berhenti untuk terus menatap Yugi. “Kau tau... kau itu laki-laki yang sangat menarik, semua pemilikku sebelumnya hanya mendambakan kekuatan. Tapi kamu terus saja berjuang dengan kemampuanmu sendiri, sampai rela babak belur hanya untuk melindungi orang lain. Kamu sedikit mirip dengannya, walau dia sangat menyebalkan... tapi untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang lain padamu Yugi. Aku berharap bisa terus bersama denganmu selamanya...” Yui tersenyum hangat kearah Yugi yang masih terlelap dalam tidurnya.
Sesampainya mereka dikamar milik Yugi, Yui langsung membaringkan Yugi ke tempat tidur. Saat ingin masuk kedalam dimensi buatannya, tangan kiri Yui dipegang oleh tangan kanan milik Yugi dengan begitu erat. Seolah tidak mau melepaskannya, Yui yang melihat itu hanya tersenyum simpul. Tanpa aba-aba Yugi langsung menarik Yui kedalam dekapannya. Tentu saja Yui sempat terkejut dan memberontak, tapi pelukan Yugi terasa hangat dan Yui mulai menikmatinya.
“Dasar kau ini...” senyuman Yui tidak pernah lepas tatkala menatap wajah damai Yugi yang tertidur pulas. “Selamat tidur, Yugi...” akhirnya Yui pun ikut tertidur sambil membalas pelukan Yugi dengan lembut.
Keesokan harinya, seperti biasa di istana kerajaan Northern Esla berjalan dengan damai. Begitu pula dengan orang-orang yang berlalu lalang melaksanakan tugasnya masing-masing. Disebuah kamar, seorang pemuda bersurai putih yang tidak lain adalah Yugi yang sedang tertidur pulas di kasurnya. Dia tidak tidur sendirian, karena ada seorang wanita yang tertidur bersamanya sambil berpelukan.
“Eemm... aku tidak sanggup makan lagi.” Igau Yugi dalam tidurnya, dia menganggap kalau Yui sebagai bantal guling yang bisa dipeluk sesuka hati.
“A...aeemmm...” Yui membuka matanya secara perlahan dan mendapati dirinya yang masih berpelukan dengan Yugi. Wajahnya mulai merona merah tatkala wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Yugi. Yui yang merasa malu ingin berteriak keras kearah Yugi, tapi karena melihat wajah damai Yugi yang begitu tampan membuat Yui mengurungkan niatnya. “Kamu sangat tampan saat tertidur...” ucap pelan Yui sambil menunjuk pipi Yugi dengan jari telunjuknya.
“Emmm...” Yugi mulai sedikit terganggu karena kegiatan Yui yang terus saja menekan pipinya dengan telunjuk, tapi walau diganggu seperti itu, Yugi tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Tok tok tok
“Yugi kamu masih didalam kan... aku masuk ya.” Pintu kamar Yugi dibuka secara perlahan oleh Elsa. Ketidak sadarannya akan kehadiran Yui yang masih berada diatas kasur Yugi membuatnya bertingkah seperti biasanya. Tapi saat dia sudah berada tepat di hadapan tempat tidur Yugi, disanalah Elsa melihat betapa pamernya Yui dengan memeluk Yugi seolah mengklaim kalau Yugi adalah milik Yui satu-satunya. Elsa hanya tersenyum penuh arti dengan wajah seperti seorang psikopat yang ingin menghabisi musuhnya. Dan kejadian selanjutnya...
Sebuah ledakan terjadi dikamar Yugi membuatnya hancur berantakan tanpa sisa. Disana Yugi sudah tersadar dengan terjungkal tidak elitnya dilantai, sedangkan untuk Yui sendiri dia sudah menghindar dengan cepat dan berdiri berhadapan dengan Elsa di halaman samping istana.
“Apa itu...?”
“Mungkin Tuan Yugi lagi, ini sudah terjadi berkali-kali jadi sudah biasa.”
“Oh ya kau benar, aku lupa kalau Tuan Yugi sudah menyelesaikan latihannya dan kembali kesini. Pantas saja sepagi ini sudah sangat ribut...”
Perbincangan itu terjadi diantara prajurit yang tengah bertugas di pagi hari. Begitu pula para pelayan yang hanya menganggap kejadian tadi angin lalu dan kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
“Apa maksudmu berada dikamar Yugi?” tanya Elsa dengan aura membunuh yang dia arahkan kepada Yui. Dia tidak takut pada Yui walaupun dia sang Dewa Naga.
Sementara Yui hanya tersenyum penuh arti mendengar nada cemburu yang diucapkan oleh Elsa. “Apa salahnya seorang pelayan tidur bersama majikannya, bukankah itu sudah biasa. Atau kau cemburu ya... bukannya kamu juga sudah pernah tidur bareng dengan Yugi.”
Perkataan Yui membuat Elsa terkena skakmat, mau bagaimana pun juga diingatkan akan kejadian waktu itu membuatnya malu plus kesal disaat bersamaan. Tapi sebagai seorang tuan putri terhormat dia harus menjaga imejnya. “Baiklah, hari ini aku melepaskanmu. Tapi jika lain kali, aku tidak akan segan lagi...” ancam Elsa.
“Coba saja kalau bisa...” tantang Yui dengan aura dingin yang sudah menguar dari dalam tubuhnya.
“Ada apa ini, sepagi ini sudah ribut...” seorang wanita dewasa yang sudah berumur 30an dengan rambut hitam pekat dan mata ungu yang begitu indah menatap kedua wanita yang sedang berdebat ini. “Kalian lagi...” ucap Yuko dengan nada malas.
“Dia yang salah...” tunjuk Elsa pada Yui.
“Apa-apaan, kau yang salah karena telah mengganggu kebersamaanku dengan Yugi.” Balas Yui tidak mau kalah.
“Apa kau bilang?” teriak Elsa dengan amarah yang sudah mulai tidak terkendali.
__ADS_1
“Emangnya kenapa...” teriak Yui yang juga sudah meluapkan emosinya.
“Yare yare...” dengan sekali jetikan jari kedua wanita itu beku seketika oleh Yuko. “Kalian dinginkan kepala saja dulu, es itu akan mencair beberapa menit lagi... jadi lebih baik kalian berpikir jernih.” Yuko meninggalkan dua patung es di halaman istana tanpa memperdulikan kalau nanti kena amarah sang raja.
Kembali ke Yugi yang sekarang sedang duduk dilantai dengan sisa puing-puing kamarnya. “Adududuh... kepalaku sakit. Pagi-pagi sudah disuguhkan sebuah ledakan.” Gumam Yugi sambil mengusap kepalanya yang sakit.
Tidak lama Elna datang setelah mendengar ledakan sebelumnya, dan dia pun melihat Yugi yang terduduk di lantai sambil memegangi kepalanya. “Eh kak Yugi tidak apa-apa?” dengan segera Elna langsung menghampiri Yugi dan memeriksa keadaannya.
“Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing...” Yugi berusaha berdiri tapi tubuhnya langsung goyah saat hendak berjalan.
Elna yang berada didekat-Nya tidak tinggal diam, dengan segera Elna memapah Yugi berjalan ke ruang perawatan. “Lebih baik kak Yugi istirahat lebih banyak, sepertinya ada yang tidak beres dengan tubuhmu.”
“Maaf merepotkan Elna...” ucap Yugi pelan sambil tetap tersenyum.
“Bukan apa-apa, lagi pula aku senang bisa membantu kak Yugi.” Ucap Elna dengan senyuman manisnya.
Diruang perawatan, Yugi terbaring diatas kasur ditemani Elna yang berada disamping kanannya. Tidak lama Yuko datang dengan senyuman cantiknya yang begitu muda dan menawan bagi kaum laki-laki, tentu saja Yugi mengakui akan hal itu karena dia juga terpesona oleh wajah Yuko yang cantik.
“Guru Yuko...” Elna memberi hormat pada Yuko sambil tersenyum ramah.
“Hai petualang, sepertinya tubuhmu kurang vit ya...” ucap Yuko dengan sedikit candaan nya.
“Begitulah, setelah ledakan tadi kepalaku terbentur dan juga efek dari minuman yang disebut bir itu masih berasa untukku.” Yugi menghela nafas dengan lelahnya karena paginya dimulai dengan begitu hebohnya.
“Kamu minum bir, ternyata sifatmu nakal juga ya.” Ucap Yuko dengan senyuman mengejeknya.
“Anda salah paham guru Yuko, kak Yugi tidak sengaja meminum bir kemarin malam. Karena kak Yugi tidak tau kalau itu bir, dan sekarang begini jadinya...” jelas Elna.
“Heeee... jadi kau tidak kuat minum ya. Itu masuk akal untuk bocah sepertimu.” Ucap Yuko yang tersirat akan kelegaan kalau Yugi bukanlah remaja nakal yang selalu membuat onar.
“Tenang saja guru, aku selalu diajari oleh kakekku tentang hal-hal yang positif saja. Dan menjauhi sesuatu yang berbahaya... walau masih banyak hal yang harus aku pelajari.” Ucap Yugi panjang lebar.
“Namun sepertinya kakekmu belum mengajari tentang bahayanya dunia orang dewasa ya...” mendengar pernyataan Yuko membuat Yugi mau tidak mau harus mengakuinya. “Aku bisa mengajarimu... sedikit demi sedikiiiittt~~~...” ucap Yuko dengan nada yang begitu menggoda.
Elna yang melihat itu tidak tinggal diam, dia langsung saja mengamankan Yugi dengan cara memeluk lengan kanannya. “Eeeemmmhh...” Elna menatap Yuko bagaikan musuh yang harus diwaspadai.
“Wah wah tuan putri sepertinya marah...” ucap Yuko dengan senyuman jahilnya. “Kalau begitu aku pergi dulu, oh ya Yugi... setelah tubuhmu membaik, nanti sore datanglah ke arena. Bersiap untuk menunjukkan hasil latihanmu selama sebulan itu...” Yuko menghilang ditelan lingkaran sihir berwarna ungu.
“Sepertinya aku tidak bisa istirahat dengan tenang.” Gumam Yugi dengan nada lelah.
Waktu terus berlalu, menurutku setiap jamnya terasa sangat cepat... tubuhku yang lemas sudah mulai membaik.
Dan tanpa sadar hari sudah mulai sore, mengingat perkataan dari Yuko membuatku tergerak turun dari tempat tidur dan berjalan menuju arena...
Sekarang aku akan menunjukkan hasil kerja kerasku selama ini...
Langit jingga yang masih terlihat begitu cerah...
Awan yang tipis menyelimuti langit...
Burung-burung terbang dengan bebasnya...
Di bawah langit ini, di tanah arena ini... aku tersenyum dengan penuh percaya diri...
Menatap ke masa depan yang menanti...
__ADS_1
Bersambung