
Pertarungan yang begitu dahsyat diantara kedua peserta yang saling bersaing ini membuat arena menjadi gurun pasir. Kekuatan tanah yang begitu besar membuat struktur arena menjadi berubah drastis. Sang target dari elemen tanah ini hanya menatap ngeri kekuatan tersebut. Tanah yang memisahkan diri dari satu orang, sehingga terbentuklah satu menara tanah dengan seorang laki-laki diatasnya. Seorang pemuda yang memakai jubah hitam sampai menutupi kepalanya hanya mampu terdiam di tempatnya tanpa bisa bergerak karena semua tanah pijakannya pergi menjauh. Sementara peserta yang satu lagi, selaku pengguna elemen tanah yang telah menggunakan jurusnya pada lawannya itu sekarang sedang bersiap untuk memberikan serangan lanjutan.
“Sebaiknya kau menyerah saja...”
Tawar Lugi yang memasang kuda-kuda menyerang dengan tangan kanan berada di belakang sambil mengumpulkan energi sihir. Sementara Redios yang ditawari hal tersebut hanya menatap diam kearah Lugi, namun jika dibuka penutup kepalanya itu bisa dilihat keringat dingin mengalir diwajahnya.
‘Dia sangat kuat... tidak mungkin dia hanya seorang petualang biasa.’ Pikir Redios.
“Sepertinya tidak ya, baiklah...”
Perkataan Lugi bagai sebuah alarm peringatan untuk Redios. Dia pun bersiap dengan elemen anginnya untuk menghalau serangan lanjutan dari Lugi.
“Sand Cannon Punch.”
Lugi meninju udara kosong disaat itulah tercipta serangan pasir tanah yang menghajar lurus kearah Redios. Melihat serangan berbasis pasir tanah itu, Redios pun membentuk sebuah pelindung angin yang berputar di sekitarnya seperti tornado yang dimana dirinya menjadi pusat dari putaran tornado tersebut.
Duuuaaarr
Angin milik Redios berhasil menghalaunya dan membuat serangan itu membentur kearah kanannya. Melihat serangan musuh gagal, sekarang dirinya akan membalas serangan Lugi. “Wind Storm.”
Redios menyemburkan angin besar kearah Lugi yang merupakan targetnya. Sebuah gelombang angin yang berputar lurus menuju kearah Lugi dengan tekanan kuat merusak jalur yang dilaluinya sehingga tanah yang dilewatinya membentuk cekungan lurus. Lugi yang melihat serangan itu tidak tinggal diam, dengan hentakan kaki kanannya sebuah tanah berbentuk segitiga lancip terbentuk didepannya untuk dijadikan perisai.
Duuaaarrrr syuuuhhhh
Serangan itu terbelah menjadi dua saat bertemu dengan pertahanan segitiga lancip milik Lugi. Sehingga angin yang berpusat itu menyebar saat bertemu dengan pertahanan tanah. Keduanya masih terlihat seimbang, namun beberapa orang tahu kalau yang lebih unggul disini adalah Lugi.
“Elemen tanah yang hebat, kekuatannya bisa dibilang berbeda dengan peserta yang lain. Begitu pula pemuda dengan elemen angin itu, serangan anginnya menjadi sangat tajam saat di pusatkan. Namun masih belum mampu menembus pertahanan tanah dari Lugi. Kedua peserta ini sangat berbahaya...” komentar Yugi dengan keringat dinginnya saat melihat alur pertarungan yang sengit ini.
Peserta pengguna elemen tanah itu menempelkan tangan kanannya ketanah, tembok yang melindunginya membuat Redios tidak tahu apa yang sedang dilakukan lawannya. Tidak lama menara tanah yang dipijaknya mulai runtuh dan dia tahu siapa pelakunya.
“Jatuhlah...” gumam Lugi.
__ADS_1
Seketika itu juga menara tanah itu runtuh dan Redios pun jatuh kedalam jurang tanah yang dibuat oleh Lugi. Semua penonton merasa takut saat satu peserta itu terjatuh kedalam lubang tanah yang besar itu. Mereka berpikir jurus yang dimiliki pengguna elemen tanah itu terlalu kejam untuk dilihat. Tidak berhenti disana, Lugi pun mengangkat kedua tangannya ke atas dan saling menyatu, seolah mengikuti isyarat tangannya, tanah itu pun mulai menutup dimana Redios tertelan didalamnya.
“Selesai sudah.”
Perkataan itu membuat arena menjadi hening, semua tanah sudah kembali seperti semula, dan pengguna elemen angin itu sudah tidak ada didalam arena. Pemuda itu tertelan kedalam tanah milik Lugi.
“Aaahh...” Yugi terkejut dan terdiam, dia tidak tahu harus berkomentar apa. Redios ditelan tanah, lawannya menggunakan elemen tanah yang sangat mengerikan. Pertarungan didepan mereka ini sudah terlalu serius, sangat... ini seperti mengubur orang hidup-hidup. Bukankah itu terlalu mengerikan untuk ditonton.
Tapi di tengah keterkejutan mereka, sebuah getaran tanah di arena itu membuat semuanya panik, didetik itu juga sebuah pusaran angin tornado dari dalam tanah langsung menjulang tinggi sampai menabrak penghalang sihir yang dibuat oleh para penyihir kerajaan. Pusaran angin seperti tornado itu mulai mereda dan memuntahkan seseorang didalamnya. Disana seorang pemuda berjubah hitam dengan surai hitam, mata hitamnya menatap lawannya dibawah kemudian dia mendarat dengan sempurna. Pemuda itu tidak lain adalah Redios yang berhasil keluar dari dalam tanah. Karena jurusnya sendiri hodie yang menutup kepalanya terbuka sehingga memperlihatkan wajah sangarnya ditambah goresan menyilang di pipi kirinya. Walau terkesan sangar namun masih terlihat keren, bahkan para wanita merasa kagum saat melihatnya.
“Kau hampir membunuhku tahu...” kesal Redios, tapi dia tersenyum senang, seolah tadi cukup menyenangkan. “Tapi...” pusaran angin mulai kembali berputar di sekitar tubuhnya. “Aku tidak akan kalah semudah itu.” Redios melesat cepat menggunakan elemen anginnya, dia bersiap dengan tinju angin ditangan kanannya.
“Seharusnya kau menyerah saja, dengan begitu pertarungan ini akan berakhir.”
Lugi menginjakkan kaki kirinya ketanah, disaat itu muncul tangan tanah raksasa yang menghalangi laju Redios. Didepan matanya yang terdapat tangan tanah raksasa, Redios tidak berhenti, dengan tangan kanan berlapis elemen anginnya, dia pun meninju kuat tangan tanah itu.
Duar
Dari perkataan Lugi itu, muncul kembali tangan tanah raksasa dibelakang Redios, walau tangan tanah pertama hancur namun tepat disaat itu pula tangan tanah raksasa yang baru terbentuk, Redios tertangkap oleh tangan tanah raksasa milik Lugi. Dengan tangan kanannya, Lugi meremas kuat dan seketika itu tangan tanah itu pun ikut meremas tubuh Redios dengan kuat.
“Aaaaarrrrggghhh...” berteriak kencang, Redios kesakitan saat tangan tanah raksasa itu meremas kuat tubuhnya. Giginya menggertak kuat, kedua tangannya tidak bisa dia gerakkan, jika begini akan sulit baginya mengeluarkan jurusnya.
“Menyerahlah, maka akan kulepaskan kau.” Tawar Lugi.
Mendengar tawaran itu seolah meledeknya, Redios pun langsung berteriak marah dan mengamukkan elemen angin di sekitar tubuhnya. “Aaaarrrrrrhhhhhh...”
Tangan tanah mulai hancur sedikit demi sedikit karena sayatan angin yang mengelilingi Redios. Dan tidak lama tanah itu pun hancur dan melepaskan Redios, disaat merasa sudah terbebas, dua tangan tanah raksasa kembali terbentuk di samping kanan dan kirinya kemudian langsung menjepit tubuh Redios. Kembali dirinya berada dalam bahaya, kedua tangannya menahan tangan tanah itu sekuat tenaga ditambah elemen angin yang terus mendorongnya kuat.
“Aku sudah memberikan tawaran yang bagus, tapi kau tidak mau menerimanya.” Tangan kiri Lugi terangkat ke atas sambil terbuka. Saat itu juga muncul tangan tanah dari bawah Redios dan membuatnya terapung ke langit.
“Huuaaaaaa...” Redios berteriak, dirinya terhempas cukup tinggi, sebelum dia menabrak dinding pembatas sihir, dengan elemennya Redios menyeimbangkan diri di udara.
__ADS_1
Namun belum sempat dia berpikir untuk membalas, sebuah batu tiba-tiba melayang dengan jumlah banyak diatas Redios dan membentuk sebuah sekumpulan batu besar.
“Berakhir sudah... Meteor.”
Semua batu pun langsung melesat secara beruntun kearah Redios, ini merupakan jurus milik Lugi. Sebuah serangan meteorit yang berbasis tanah yang berkumpul sehingga membentuk batu raksasa yang jatuh dari langit layaknya meteor. Karena saking cepatnya lesatan batu itu, sehingga setiap bergesekan dengan batu lainnya maka terciptalah api yang menyelimuti batu tersebut.
‘Sebenarnya batu yang jatuh dengan ketinggian seperti itu tidak akan menciptakan api, tapi dengan menggesekkannya dengan batu yang lain, maka api pun bisa kuciptakan di setiap batu yang melesat itu. Dengan ini berakhir sudah...’ batin Lugi.
“Kau pikir aku akan kalah...” Redios membentuk sebuah barrier angin yang berputar cepat dan membentuk sebuah perisai yang melindunginya.
Lugi membalas perkataan Redios itu dengan datar. “Tidak... kau sudah kalah, sejak awal...”
Duar duar duuuaaarrrr duaaaarrrrr
Ledakan meteor yang beruntun menghantam perisai angin milik Redios tanpa ampun. Ledakannya mengguncangkan arena, tanah yang menerima dampak ledakan itu menjadi berlubang dengan diameter yang sangat besar. Karena setiap satu lubang terus dihantam meteor lainnya sehingga semakin lama semakin membesar lubang tersebut.
Sedangkan dengan Redios tidak diketahui apa dia selamat atau tidak. Asap diudara menghalangi pandangan sehingga belum bisa dipastikan Redios kalah atau belum. Tapi Lugi tidak perlu menebaknya karena dia yakin dengan jurusnya itu lawannya pun pasti sudah kalah.
“Serangan yang sangat hebat.” Gumam Maruya. Dia tercengang dengan serangan hebat itu, melihatnya membuat badan Maruya merinding, dia tersenyum senang. Rasanya semangat didalam dirinya berkobar melihat lawan yang kuat.
Tidak lama ada sebuah bayangan hitam yang jatuh dari langit, itu adalah Redios yang sudah lemas karena terkena serangan bertubi yang sangat kuat. Tubuh itu pun membentur tanah, tidak ada gerakan sedikit pun, matanya masih melihat ke langit, dengan senyuman yang mengaku dirinya kalah, dia pun berkata dengan nada lemah.
“Ternyata, aku masihlah lemah.”
Disaat itu juga wasit langsung mengumumkan pemenangnya. “Pemenang pertarungan keempat adalah Lugi...”
Penonton terdiam, mereka baru saja tersadar dari rasa syok karena serangan beruntun yang mengguncang arena itu. Tatapan mereka berpusat pada satu orang yang masih berdiri di dalam arena. Itu adalah sang pemenang pertarungan ini, dengan diumumkannya pemenang, semua penonton pun mulai bersorak atas kehebatan petualang pengguna elemen tanah itu.
‘Sorakan yang kuterima ini, tidak membuatku senang.’ Batin Lugi.
Bersambung
__ADS_1