KAISAR ES

KAISAR ES
FAMILIAR VIRA


__ADS_3

Duar


Duar


Duar


Ledakan terjadi dalam sebuah laboratorium bawah tanah yang disebabkan oleh amukan monster yang memiliki nama Chimera. Monster gabungan dari tiga monster yang berada dalam satu tubuh. Monster itu terdiri dari ular, harimau dan burung. Terlihat badannya yang seperti harimau dengan sayap burung dan ekor ular yang ujungnya terdapat kepala ular itu sendiri.


“Grooaaaarrghhh...” Chimera mengganas kembali sambil mengepakkan sayapnya dengan kuat sehingga benda yang ada di sekitarnya berterbangan kemana-mana.


Seorang pemuda petualang bersurai putih salju berdiri sambil menutupi wajahnya dari angin kuat itu. Tatapan tajamnya tidak lepas terhadap monster penggabungan itu. Walau badan monster yang terbilang besar dan mengerikan hal itu tidak membuat sang pemuda gentar padanya. Setelah angin berhenti berhembus, pemuda petualang itu berlari kearah kanannya sambil membawa pedang es yang dia buat dari teknik es miliknya. Melompat sedikit kearah dinding dekat dengan kepala harimau, kemudian melompat lagi dan secara nekat pemuda itu malah melompat kearah Chimera itu berada. Dengan mengayunkan pedangnya secara vertikal, petualang itu mengincar kepala sang monster.


“Rasakan ini.” Teriaknya sambil menebas kuat kearah kepalanya.


“Gooooaaarrrgghh...”


Auman kuat dari Chimera menghentikan terjangan dari petualang bersurai putih salju dan mengakibatkannya terpental kearah dinding sebelumnya.


Brak


“Agh...” benturan terhadap tubuh sang petualang membuatnya sedikit memuntahkan ludah. Sepertinya auman dari Chimera itu lumayan memiliki tenaga yang kuat sehingga petualang itu sampai terpental cukup kuat.


Ah... rasanya sakit, monster yang beberapa saat lalu kami temui sekarang mengganas. Sudah beberapa kali aku mencoba menyerangnya, tapi masih bisa ditahannya, tidak sedikit aku selalu terkena imbas dari serangannya. Bisa saja aku mengalahkannya dengan kekuatan penuhku, tapi jika itu kulakukan tempat ini mungkin saja akan runtuh. Dan itu berbahaya untuk Vira...


Tatapan petualang itu melihat kearah seorang gadis kecil bersurai putih perak yang berada dipojok ruangan yang tengah bersembunyi dari amukan pertarungan monster Chimera dengan sang petualang.


Aku tidak boleh membuatnya khawatir...


Petualang itu tersenyum untuk meyakinkan muridnya itu agar tidak khawatir padanya. Dengan semangat tinggi, dia menarik dirinya dari dinding tersebut dan melompat ke bawah dengan tenang.


Tap


Sesampainya di daratan, tidak berselang lama sang monster Chimera menerjang sang petualang dengan cakarnya.


Blaaarrrr


Dipojokkan seorang gadis melotot tidak percaya melihat gurunya diserang secara mendadak seperti itu. “GUURUUUU...”


Krak krak krak


Sebuah es menjalar dari cakar monster itu yang baru saja menerjang sang pemuda dan mulai membungkusnya sampai setengah badan. Tidak lama sesosok bayangan orang keluar dari bekas terjangan monster tadi dengan berjalan santai seolah monster tersebut bukan ancaman untuknya.


“Tenang saja Vira, aku baik-baik saja.” Ucap pemuda surai putih salju yang tidak lain adalah Yugi.


‘Syukurlah...’ dalam hati Vira merasa lega karena gurunya tidak terluka.


“Rooaaarrrrr...”


Chimera merasa marah karena pergerakannya dihentikan oleh es milik Yugi. Sementara sang pelaku pembekuan hanya menatap datar monster itu. Dirinya masihlah menganalisa mengenai kelemahan dari monster didepannya ini.


‘Didalam setiap monster terdapat yang namanya inti. Seperti halnya sumber kehidupan mereka. Hanya saja...’ Yugi melompat tinggi menyamai kepala Chimera.


Jleb


Yugi berhasil menancapkan pedang esnya tepat ke kepala Chimera. Tapi bukannya mati monster itu malah semakin mengganas karena kesakitan. Yugi melepaskan genggamannya terhadap pedang es buatannya dan mendarat tidak jauh dari monster Chimera. Tidak berhenti disana dia juga menghindar kearah kirinya karena serangan cakar kiri Chimera, untungnya kaki kanannya masih terperangkap oleh es sehingga tidak mengejar Yugi yang mengambil jarak aman.


“Sudah kuduga, kebanyakan monster memiliki inti kehidupan yang berada dikepalanya. Tapi sepertinya monster ini berbeda, intinya bukan berada dikepala.” Gumam Yugi. ‘Aku tidak bisa menahannya terus...’


Yugi kembali berlari membelakangi sang monster dengan tangan kiri membawa pedang berbentuk pedang yang ujungnya bercabang dua. Monster itu sempat menyadari keberadaan Yugi tapi sayang dia tidak bisa bergerak dari tempatnya tersebut. Kaki yang membeku itu belum bisa monster itu lepaskan, disaat Yugi berada tepat dibelakang ekornya, dia tidak menyadari kalau ekor itu sendiri memiliki kesadaran.


“Ssstt...” ekor itu melambai dengan kepalanya yang berdesis, ternyata ekornya merupakan kepala ular hijau. Karena ada ancaman dibelakangnya, kepala ular itu menyemburkan ludah asamnya kearah Yugi.


Serangan dadakan itu membuat Yugi sedikit lengah, tapi masih bisa dia hindari walah beberapa tetes ludahnya mengenai baju dan lengan kirinya. Sehingga rasa perih menghinggapinya dan membuat pedang es terlepas dari tangan kirinya.


“Sial...” umpat Yugi.


Chimera dengan sekali tarikan berhasil lolos dari penjara es milik Yugi. Monster itu langsung berbalik dengan mulut besar yang terbuka yang siap menembakkan energi penghancur miliknya.


“Rooooaaarrrrr...”


Sebuah laser besar meluncur kearah Yugi dengan kecepatan tinggi, melihat itu membuat insting naga Yugi langsung merespon cepat kemudian menghindari serangan itu kearah kanannya sambil memegangi lengan kirinya yang kesakitan. Untungnya serangan itu berhasil dia hindari, dia melihat jejak bekas tembakan itu, bertapa kuatnya sampai terbentuk jejak cekung panjang yang lumayan lebar.


“A-aaahh...” Yugi terbengong konyol saat melihat bekas serangan monster Chimera.


Diruang tamu mansion, terlihat seorang perempuan bersurai cokelat terang tengah menginvestigasi Tempat Kejadian Perkara (TKP), dia layaknya seorang petugas penyidik yang tengah mencari bukti secara mendetail di tempat tersebut. Wajah seriusnya terlihat jelas dengan tekukan alis yang tengah berpikir keras. Tapi tetap saja kecantikannya tidak memudar walau sedang serius begitu.


Duuuaaaarrrrrr


Suara ledakan besar menarik perhatian sang gadis itu, tanpa membuang waktu dia berlari kearah sumber suara untuk memeriksanya.


Tap tap tap


Langkah kaki yang tengah berlari itu menggema di sepanjang lorong, tidak lama dia berdiri tepat didepan pintu yang sebelumnya pernah di masuki oleh Yugi dan Vira. Ya, disitu adalah ruang kerja sang pemilik rumah ini sebelumnya. Tanpa keraguan perempuan itu pun membuka pintu dan mendapati ruangan kerja yang berantakan. Matanya melihat ke segala penjuru sampai mata itu terhenti tepat di sebuah pintu masuk ruang bawah tanah. Dengan kewaspadaan yang sudah terlatih, perempuan itu berjalan memasuki pintu tersebut.


‘Ruang bawah tanah ini terasa begitu lembab dan dingin. Tanahnya juga sedikit basah, ada dua jejak kaki. Mungkin saja raungan mengerikan itu berada di depan sana.’ Batin sang perempuan.


Batu kristal yang berada didinding menerangi jalanku, gema setiap langkahku ditambah rasa dingin ini tidak membuatku takut. Karena mentalku sudah terlatih sedari aku kecil, semakin lama kedalaman ruang bawah tanah ini semakin dingin. Untungnya zirahku dilengkapi oleh sihir ketahanan, jadi rasa dingin ini bisa dinetralisir sehingga aku tidak kedinginan. Walau begitu rasa dingin masih dirasakan sedikit olehku, karena zirah ini hanya memiliki ketahanan terhadap sihir saja, sepertinya hawa ini berasal dari alam itu sendiri, sehingga zirahku tidak sepenuhnya dapat menahan rasa dingin ini.


“Grooaaarrgghh...”


Raungan itu terdengar lagi, dan suaranya terdengar lebih keras, pasti sumbernya didepan sana. Aku harus cepat kesana...


Kembali pada Yugi, serangan sebelumnya yang dilancarkan oleh Chimera masih ditatap oleh Yugi. Jika saja dia sampai terkena serangan itu sudah dipastikan dia akan terluka parah disana sini. Terlihat wajah Yugi mulai mengeras dengan tatapan seriusnya, karena ini bukan waktunya bercanda. Serangan monster didepannya ini lebih kuat dibanding monster yang sebelumnya dia hadapi. Tangan kiri Yugi yang sempat terluka kini mulai pulih kembali berkat penyembuhan elemen esnya yang menetralkan zat asam milik ular hijau. Tapi walau begitu lukanya yang diakibatkan zat asam tersebut belum pulih sepenuhnya, karena serangan kepala ular hijau itu bagai racun asam, dampaknya pada Yugi begitu buruk. Bisa terlihat dari ekspresinya yang masih menahan sakit, tapi baginya hal itu belum seberapa dibandingkan latihan neraka dari Yui, dan juga dia tidak mau membuat muridnya itu khawatir. Yugi kembali membuat pedang es di kedua tangannya, kedua kakinya dia hentakan dan melesat kembali kearah Chimera.


Monster yang berada di hadapan Yugi terlihat meraum marah karena serangannya meleset. Dengan sayap dipunggungnya, sebuah kepakkan sayap membuat sebuah pusaran angin bertekanan tinggi mengarah pada Yugi. Melihat serangan itu tidak membuat Yugi gentar, dengan mengumpulkan energi sihir pada pedang es buatannya, sebuah gelombang biru berbentuk silang langsung Yugi tebaskan kearah serangan Chimera.


Duuuaaarrrr


Serangan keduanya meledak dan mengakibatkan debu yang menghalangi pandangan. Tapi dengan sekali kepakkan sayap Chimera, debu itu menghilang tertiup angin. Ekor berkepala ular yang berada di tubuh Chimera mengeluarkan zat asam yang mengarah ke tempat Yugi berada. Cairan itu yang mengarah ke Yugi langsung ditebas dengan pedang es buatannya. Namun itu sebuah kesalahan karena pedang es nya langsung meleleh saat terkena zat asam ular tersebut. Yugi langsung membuang pedang esnya dan berlari kearah kirinya guna menghindari serangan zat asam yang terus berdatangan.


Cesss


Cesss


Cesss


Tanah yang terkena zat asam tersebut langsung meleleh dan membentuk cekungan yang mengeluarkan asap, itu menandakan bertapa bahayanya jika zat asam itu mengenai tubuh manusia. Yugi yang berhasil menghindari serangan beruntun Chimera langsung mengambil nafas dalam untuk melancarkan serangannya.


“Ice Dragon Roar.” Semburan es yang begitu besar keluar dari mulut Yugi yang langsung menyelimuti Chimera yang meraung kesakitan akibat serangan kuat itu.


Debu menutupi tubuh Chimera, dengan nafas terengah-engah karena jurus yang baru saja dikeluarkannya yang memakan banyak energi sihir, Yugi berharap serangannya berhasil melumpuhkan monster tersebut. Serangan itu merupakan salah satu versi Dragon Slayer yang memfokuskan energi dari dalam dan mengeluarkannya dari kerongkongan layaknya naga yang menyembur. Terkadang Yugi merasa dia seperti memuntahkan isi perutnya keluar, namun itulah konsep dari semburan es miliknya.


Vira yang bersembunyi sedari awal hanya bisa takjub akan kekuatan gurunya itu, mata yang berbinar-binar seperti melihat mainan yang diinginkan, bagi Vira ini merupakan momen yang tidak boleh dia lupakan. Dia sekarang tahu bertapa kuatnya Yugi, setelah melihat itu motivasinya yang ingin menjadi kuat menjadi menggebu-gebu.


‘Hebat, guru memang luar biasa.’ Batin Vira.


“Rooaarrrgghh...” suara raungan dari balik asap tempat Chimera berada membuat Yugi siaga. Ini pertanda bahwa Chimera masih belum di kalahkan.


“Tidak mungkin, seharusnya serangan itu mampu mengalahkannya.” Gumam Vira.


‘Ini memang mengesalkan, ternyata serangan itu belum cukup untuk membunuhnya.’ Batin Yugi dengan wajah kesalnya.


Langkah kaki Chimera terdengar berat, sepertinya kemarahan dari monster ini sudah memuncak. Dan itu di provokasi oleh Yugi, sungguh sebuah peribahasa yang menyebutkan jangan membangunkan kucing yang tidur. Yugi pikir itu peribahasa yang cocok untuk saat ini. Mata merah dari Chimera berkilat tajam, dia mengambil udara yang banyak dan menahannya dalam-dalam dari perutnya. Yugi tahu apa yang akan Chimera lakukan, serangan sebelumnya hampir membunuhnya, jika dia tidak menghindar sekarang mungkin saja Yugi hanya tinggal nama saja.


Yugi membentuk sebuah sayap naga dari energi sihir berwarna biru muda dan langsung terbang ke atas untuk menghindari serangan laser Chimera. Tapi ternyata Chimera mengetahui pergerakan Yugi sehingga dengan penuh konsentrasi tinggi monster tersebut mulai mengangkat kepalanya ke atas dan menyemburkan laser lebih cepat sebelum Yugi menghindarinya.


Sebuah laser besar mengarah pada Yugi tepat digaris terbangnya. Sedikit demi sedikit laser itu akan mengenai Yugi dengan kecepatan tinggi dan akhirnya...


Syuuuuuutttttt


Duuuuaaaarrrrrrrr


Tembakan laser ungu itu melesat ke atas bangunan dan menembus sampai ke langit sehingga membentuk sebuah lubang besar dari ruang bawah tanah sampai atap mansion tersebut. Langit yang tertutup awan hitam terlihat dari ruang bawah tanah tempat pertarungan antara Yugi dan Chimera berlangsung. Laser tadi menyapu habis awan dari jarak serangannya sampai membentuk lingkaran awan besar dilangit.


Masih menjadi pertanyaan apakah Yugi berhasil menghindari serangan dari monster buatan itu atau tidak? Vira yang menyaksikannya sendiri dimana serangan itu mengarah pada Yugi hanya mampu terduduk diam. Pasalnya sedari tadi dia tidak melihat gurunya tersebut. Air mata mulai menumpuk di kelopak matanya, dia beranggapan bahwa Yugi telah mati akibat serangan Chimera. Membayangkan hal tersebut membuat hatinya sakit, sangat sakit. Dan disaat bersamaan dia marah, ya... sangat marah. Bahkan ekspresi kemarahannya dapat terlihat jelas dengan aura permusuhan berwarna merah kehitaman yang terus menguar dari tubuh Vira, dan hawa membunuh itu diarahkan pada Chimera. Kedua tangannya meremas kuat, kepalanya yang tertunduk mulai terangkat dengan mata merah darah dan pupil hitam vertikal layaknya binatang buas. Mata itu begitu menakutkan, bahkan siapa pun yang menatapnya akan lari ketakutan, dengan langkah gontai Vira mulai berjalan kearah Chimera berada. Langkah itu seperti zombie yang baru bangkit, pikirannya tampak kosong. Yang dia inginkan sekarang adalah membunuh monster didepannya. Ya... Vira ingin membunuh Chimera itu.


“Beraninya...” suara berat yang menakutkan keluar dari mulut Vira. Suaranya bagai penderitaan bagi yang mendengarnya, kuku tangannya mulai memanjang, taring vampire nya terlihat jelas. Air liurnya menetes sedikit dari sudut bibirnya, jika harus digambarkan sekarang, maka Vira terlihat seperti... Vampire yang haus darah.

__ADS_1


“Greeeggghh...” Chimera menggeram tidak suka pada Vira, aura yang mengerikan dari Vira membuat Chimera marah. Tidak peduli akan aura membunuh Vira, Chimera menerjang kearah gadis kecil itu dengan cakar tajamnya.


“Beraninya kau... beraninya kau...” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Vira, tapi itu sudah cukup mengungkapkan perasaan marah dan dendamnya pada Chimera.


Sementara Chimera yang sedikit lagi akan melayangkan serangannya, Vira dengan telapak tangan kanan yang terbuka ke atas, kemudian sebuah energi hitam kemerahan mulai terkumpul disana. Itu adalah energi negatif yang begitu pekat yang tidak pernah dimiliki oleh penyihir pada umumnya. Sebelum energi pekat tersebut terkumpul membentuk bola hitam, Chimera terlebih dahulu mencabik Vira dengan cakarnya dengan sekali libasan. Seketika tubuh Vira hancur tercabik oleh cakar Chimera, semua darah dan tubuhnya berceceran kemana-mana. Chimera yang merasa puas langsung meraum kesenangannya, tapi dia tidak tahu kalau gadis kecil yang diserangnya lenyap tanpa sisa bagaikan bayangan. Ternyata yang di serang oleh Chimera hanya sebuah ilusi belaka, dia tidak mengetahui kalau Vira sudah berdiri tepat dibelakangnya dengan bola hitam seukuran sepak bola dengan kepadatan tinggi.


Vira mengarahkan telapak tangan kanannya yang terdapat bola hitam pekat kearah Chimera sambil bergumam kecil yang hanya dia saja yang tahu kata-katanya. “Meiton.”


Bola hitam pekat itu meluncur cepat dari telapak tangan Vira yang langsung mengarah pada Chimera. Saat bola hitam itu hampir mengenai Chimera, monster buatan itu mulai menyadarinya dan terbang ke atas dengan bantuan sayapnya. Namun sayang serangan bola hitam itu masih tetap mengenainya walau hanya terkena kaki kiri bagian belakangnya saja.


“Graauuuggrrhhh...” Chimera meraung kesakitan tatkala kaki nya lenyap tertelan bola hitam yang tanpa menyisakan daginya sedikit pun. Darah keluar dengan derasnya dari kaki kiri belakang yang buntung akibat serangan Vira.


Setelah selesai melancarkan aksinya, Vira mulai oleng ke depan dibarengi perubahannya yang kembali seperti semula, taringnya mulai memendek kembali begitu pula kuku tangannya. Mata merah darah dengan pupil hitam vertikal kini kembali menjadi merah kehitaman yang indah. Sebelum tubuhnya jatuh ketanah, sebuah tangan terlebih dulu menahan tubuh kecil tersebut. Dan disana sesosok pemuda bersurai putih salju tersenyum hangat pada gadis yang ada di pangkuan tangannya. Dia bisa merasakan tubuh muridnya itu yang terkulai lemas setelah melakukan perubahan dadakan tadi. Tatapan matanya terlihat menyiratkan kekhawatiran dengan dicampur senyuman hangat menenangkan.


Tidak lama tatapan itu mulai mendingin dengan raut wajah datar saat melihat kearah Chimera yang terbang diatasnya dengan kaki yang buntung satu. Dibaringkannya tubuh Vira di sebuah kursi panjang yang agak jauh dari pertarungannya dengan Chimera. Saat memastikan kalau tempat itu aman, Yugi yang tidak mau mengambil resiko langsung membuat sebuah penghalang sihir yang kokoh untuk melindungi Vira yang pingsan. Kini dia merasa sedikit tenang dan kembali berjalan ke hadapan Chimera yang melayang di atasnya. Yugi pun membuat sayap naga dari energi sihirnya dan melayang sejajar dengan Chimera.


“Kau sudah tamat sekarang, Chimera.” Ucap Yugi dengan nada kemarahan yang begitu kentara di setiap katanya.


Ditempat perempuan berambut cokelat terang yang memakai zirah wanita yang terlihat lumayan berat, langkahnya sempat terhenti saat mendapat sebuah guncangan kuat yang dibarengi oleh ledakan besar barusan. Matanya terlihat begitu serius dan waspada karena sepertinya sumber dari ledakan itu sudah dekat darinya.


“Apa yang baru saja terjadi?” tanya perempuan itu entah pada siapa. Karena rasa penasarannya dia melanjutkan langkahnya ke arah sumber guncangan terjadi.


Beberapa menit kemudian langkah kakinya terhenti kembali saat melihat sebuah ruangan yang terlihat hancur, dengan memantapkan dirinya, perempuan itu kembali melangkah dan masuk kedalam ruangan tersebut. Belum sampai satu menit dia sudah dibuat terkejut dengan ruangan yang sudah luluhlantah, ditambah lubang besar yang menganga dari atas ruangan bawah tanah itu. Bukan hanya itu, terlihat didepannya seekor monster raksasa dengan tubuh aneh melayang diatasnya dan di hadapan monster itu juga terlihat seorang pemuda dengan sayap naga biru muda melayang sejajar dengan monster bersayap aneh tersebut. Dia beberapa kali mengerjapkan matanya untuk memastikan kalau di hadapannya ini adalah sungguhan.


Tapi setelah memastikan hal tersebut dia masih belum percaya, belum pernah sebelumnya dia melihat monster seperti itu. Tapi apa mau dikata, dia harus menelan kenyataan itu bulat-bulat. Bukan hanya itu ternyata pemuda yang melayang sejajar dengan monster itu adalah orang yang dia kenal. “Apa yang sebenarnya terjadi disini?” Pertanyaan itulah yang muncul pertama kali saat memasuki ruangan bekas laboratorium tersebut, walau kini ruangan itu sudah hancur lebur akibat serangan Chimera.


Yugi yang masih menatap marah kearah Chimera dengan aura membunuh yang begitu pekat yang sudah sekian lama tidak pernah dia keluarkan lagi. Bahkan aura nya yang sekarang lebih dan lebih pekat dari yang dulu. Sangat bahkan udara di sekitarnya terasa berat, dapat terlihat aura kebiruan yang memekat dari sebelumnya, lebih tepatnya aura biru mudanya mulai sedikit menghitam sehingga terlihat seperti biru tua. “Kau sudah tamat sekarang, Chimera.”


Tangan kanan Yugi terangkat ke atas dan membuka telapak tangannya ke langit. “Rasakanlah rasa sakit ini... Ice Needle.” Sebuah jarum es yang begitu banyak tercipta dilangit dan mengelilingi Chimera. Kemudian dengan perlahan dia meremas tangan kanannya dengan kuat dan dibarengi hal tersebut jarum es yang mengelilingi Chimera semakin membesar seukuran batang pohon besar. Ukuran itu cukup untuk menikam tubuh besar Chimera. “Mati...” dengan satu kata tersebut, semua jarum es itu langsung menyerang Chimera secara brutal dan menancap dengan kuat.


Syut syut syut syut syut syut syut syut syut syut syut syut syut syut syut syut


Jleb jleb jleb jleb jleb jleb jleb jleb jleb jleb jleb jleb jleb jleb jleb jlsb jleb jleb


Ratusan jarum es menyerang Chimera tanpa ampun, dan disaat beberapa jarum es terakhir tersisa, semuanya secara bersamaan langsung menghujani Chimera di bagian kepala sampai menembus mulutnya. Sebuah pemandangan yang begitu sadis tersaji didepan mata. Monster itu tidak meraung atau pun berteriak kesakitan, dia hanya terdiam melayang sampai tubuhnya mulai terjatuh secara perlahan ketanah. Sampai beberapa detik jatuhnya semakin cepat dan cepat sampai sebuah benturan keras terjadi antara tubuh Chimera dengan tanah.


Guncangan itu sedikit berdampak pada tempat Vira terbaring, tapi itu tidak terlalu berpengaruh. Berbeda terbalik dengan perempuan bersurai cokelat terang yang cukup dekat dengan jatuhnya tubuh Chimera, dia bisa merasakan getaran kuat saat tubuh Chimera itu jatuh, hempasan angin kuat juga bisa dia rasakan tatkala Chimera terjatuh dengan kerasnya ketanah. Tidak lama setelah jatuhnya Chimera, pemuda bersurai putih salju yang masih melayang diatas mulai menunduk dan turun secara perlahan ke bawah.


Yugi yang berhasil mengalahkan monster Chimera hanya menatap kosong mayatnya yang berada dibawah, sayap naga yang ada dipunggungnya sedikit menekuk dan secara perlahan Yugi mulai mendarat ke atas tanah. Saat sudah mendarat dengan mulus, Yugi langsung mengaktifkan mata observasinya untuk mengetahui apakah Chimera masih hidup atau sudah mati. Mata biru mudanya terdapat lingkaran sihir observasi yang berputar perlahan. Tidak lama dia mulai menonaktifkan sihirnya dan mengkonfirmasi bahwa monster Chimera telah berhasil dia kalahkan. Dengan langkah gontai dia mulai mundur perlahan dan mengambil jarak beberapa meter dari monster tersebut. Namun langkahnya terhenti saat merasakan hawa kehadiran seseorang, orang itu tepat berada dibelakang Yugi.


Perempuan yang sempat bingung akan kejadian yang baru saja terjadi, langsung saja menghampiri sosok pemuda yang telah berhasil mengalahkan monster dengan bentuk aneh. Dan dia tahu siapa kah pemuda misterius yang berhasil mengalahkan monster tersebut. Ya dia adalah orang yang sangat dia kenal, orang yang beberapa hari lalu menjalin pertemanan dengannya. Dan untuk beberapa alasan mereka cukup dekat karena sering bertemu.


“Yugi, apa yang sedang kau lakukan disini?”


Ya benar, nama dia adalah Yugi, seorang petualang yang pernah bertemu dengan Lani di puncak gunung tertinggi saat dia sedang latihan.


Yugi berbalik dan menatap kearah perempuan yang dia kenal, senyuman cerah dia tampakkan pada perempuan tersebut dan berkata padanya. “Hay Lani, sudah lama tidak bertemu.”


Keduanya saling menatap dengan dalam, mata biru muda seindah samudra bertemu dengan mata hitam malam yang begitu elegan, sesaat mereka terdiam sampai Lani mulai angkat bicara.


“Aku punya banyak pertanyaan untukmu, dan yang pertama adalah sedang apa kau disini?” tanya kembali Lani.


Untuk pertanyaan yang diajukan oleh Lani hal itu bisa dengan mudah Yugi jawab, lagi pula misi yang dia terima tidak usah di tutupi. Lagian permintaan misi ini berasal dari guild secara langsung jadi secara otomatis kerajaan pun akan tahu dan hal itu cepat atau lambat Lani pun pasti tahu. Yugi yang siap menjawab pertanyaan dari Lani secara tiba-tiba dadanya berdetak kencang. Perutnya terasa sakit, sebuah darah keluar dari lubang hidungnya, rasa mual di mulutnya terasa ingin memuntahkan isi perutnya. Yugi seperti seseorang yang sedang sekarat, mulutnya yang menahan muntah langsung saja mengeluarkan darah yang begitu banyak.


Lani yang melihat Yugi kesakitan langsung saja panik bukan main. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Yugi, padahal sebelumnya dia baik-baik saja. Tapi kenapa secara mendadak menjadi seperti ini, Yugi terlihat menderita. Dia membutuhkan pertolongan sesegera mungkin.


“Yugi... Yugi bertahanlah.” Panik Lani. Dia membuka setiap isi tasnya untuk mencari obat penyembuh, tanpa membuang waktu Lani mengeluarkan sebotol ramuan penyembuh untuk digunakan oleh Yugi. Tapi ramuan itu ditolak oleh Yugi, hal itu membuat Lani kebingungan dengan wajah paniknya.


“T-tenanglah Lani, aku a-akan baik-baik saja.” Ucap Yugi dengan nada pelan sedikit terbata.


“Apa yang kau katakan, kau tidak terlihat baik-baik saja. Diamlah dan minum ramuan penyembuh ini.” Ucap Lani.


“A-aku hanya akan naik level itu saja. Tapi sepertinya proses kali ini terganggu oleh racun yang sebelumnya di lancarkan oleh monster tadi.” Jelas Yugi.


Lani terkejut, naik level. Yugi baru saja berkata bahwa yang dialaminya sekarang adalah kenaikan level. Tapi baru pertama kali ini dirinya melihat kenaikan level semenderita ini. Seharusnya kenaikan level tidak sampai seperti ini, tapi beda lagi jika ada yang mengganggu prosesnya, sama halnya racun yang dikatakan oleh Yugi barusan.


“Jika seperti itu, kau harus segera menenangkan lonjakan mana didalam tubuhmu.”


Yang dikatakan oleh Lani benar, sekarang didalam tubuh Yugi terdapat lonjakan mana bertekanan tinggi yang sedang memberontak. Jika tidak segera dijinakkan maka akan berakibat fatal. Lonjakan energi yang tidak terkendali itu bagai bom waktu yang bisa kapan saja meledakkan dirinya sendiri.


Akhirnya Yugi mulai bersemedi untuk menenangkan lonjakan mana didalam tubuhnya. Mana adalah energi sihir yang dimiliki oleh setiap penyihir, tanpa mana seorang penyihir tidak bisa melancarkan jurusnya. Tapi jika mana didalam tubuh tidak terkendali maka akan membunuh penggunanya. Mana bagai pedang bermata dua, bisa saja menjadi penyelamat dan pembunuh dirinya sendiri. Sekarang yang dialami oleh Yugi adalah fase kenaikan level, biasanya kenaikan level ini terjadi saat seorang penyihir sudah melampaui batasan levelnya, kemudian dia akan naik level ke tahap yang lebih kuat. Tapi jika gagal menenangkan lonjakan mana didalam tubuh dia akan mati saat itu juga. Biasanya kenaikan level ini berjalan dengan mudah dan peluang keberhasilannya bisa mencapai sembilan puluh persen, tapi beda lagi jika tubuh kita dalam keadaan buruk. Sama halnya dengan Yugi yang terkena racun monster Chimera, kondisi tubuhnya sekarang sedang tidak bagus, ini bisa menjadi kendala dalam kenaikan levelnya.


“Baik.” Balas Yugi.


Dengan kombinasi dari keduanya, ledakan mana secara tiba-tiba itu bisa di tahan sementara dan memberikan waktu yang cukup bagi Yugi untuk mulai menjinakkan energi sihirnya. Beberapa menit kemudian Lani telah berhasil menetralkan semua racun yang ada didalam tubuh Yugi. Karena tugasnya sudah selesai, Lani menghentikan kegiatannya sambil menatap punggung Yugi dengan senyuman kelegaan.


“Sisanya kuserahkan padamu, Yugi.”


‘Seluruh racun didalam tubuhku sudah lenyap. Sekarang aku bisa melakukan kenaikan level dengan tenang, aku harus tetap fokus pada aliran energi sihirku.’ Batin Yugi.


Aura biru muda menguar layaknya gelombang laut yang mengelilingi Yugi, sedikit demi sedikit mulai banyak dan terlihat membungkus Yugi sepenuhnya. Secara mendadak sebuah laser biru muda melesat ke atas langit dari tubuh Yugi. Ya aura itu merupakan peleburan mana yang menjadi tahap terakhir kenaikan level. Aura yang begitu indah, sampai Lani terdiam dengan rona merah karena terpesona oleh sinarnya. Takjub akan sinar yang berbeda dengan kebanyakan penyihir saat naik level, baru kali ini dia menyaksikan kenaikan level yang begitu terasa sejuk dan lembut. Tidak lama sinar itu pun mulai memudar dan menghilang. Yugi yang merasa telah berhasil level up langsung merasakan perubahan yang begitu besar pada dirinya.


Begitu pula Lani yang terpesona akan perubahan tubuh Yugi, badannya yang mulai tumbuh sedikit dan terlihat lebih atletis dari sebelumnya walau tidak terlalu berotot tapi sudah cukup membuat kaum hawa ingin memakannya. Begitu pula untuk Lani, baginya melihat ketampanan Yugi yang bertambah membuat dadanya berdetak kencang, entah itu karena terlalu bersemangat atau karena malu-malu kucing saat melihat tubuh Yugi yang sedikit terlihat sixpack nya karena pakaiannya yang sedikit sobek disana sini. Lani menggeleng-geleng girang sambil memegangi pipinya yang merona merah.


Yugi yang sudah merasa berhasil naik level langsung saja membuka matanya. Dia berharap mendapat sambutan keberhasilan dari Lani, tapi yang dilihatnya sekarang adalah Lani bertingkah aneh. Ya benar sekali, Yugi melihat Lani yang menggeleng-geleng gak jelas dengan rona merah dipipinya. Yugi berpikir ‘apa yang sedang perempuan ini lakukan?’ kira-kira seperti itu pikiran Yugi sekarang.


Sementara sang perempuan tidak sadar kalau sedari tadi ditatap aneh oleh orang yang dia kagumi. Lani sedang berpikiran sesuatu yang kurang senonoh saat melihat tubuh atletis milik Yugi. Karena sudah lama asyik dengan dunianya sendiri, Lani pun mulai membuka mata dan tersenyum canggung saat ditatap oleh Yugi dengan bingung.


“Eh...” Lani.


“Hem...” Yugi.


Senyuman canggung itu mulai terlihat malu bukan main, Lani tidak bisa membayangkan seperti apa sekarang wajahnya. Memikirkan sesuatu hal yang tidak senonoh tentang tubuh Yugi, kegirangan sendiri dan tersenyum aneh. Mungkin saja sekarang dirinya sudah dianggap aneh oleh Yugi. Dan entah kenapa sepertinya pemikirannya itu tepat mengenai sasaran. Memang sedari tadi Yugi berpikiran bahwa Lani tengah bertingkah aneh.


Untuk mengkonfirmasi hal tersebut, Lani bertanya pada Yugi dengan jarak dekat. “A-apa sedari tadi kau melihat tingkahku?” tanya Lani.


Entah memang Yugi yang tidak peka, bodoh atau ceroboh, dia malah menjawab pertanyaan Lani dengan jujur. “Ya.” Jawaban yang singkat secara spontan meluncur dari bibir Yugi.


Dan entah kenapa Yugi belum menyadari kalau dia sedang menggali lubang untuk dirinya sendiri. Aura yang mengerikan dikeluarkan oleh Lani dengan senyuman psikopat. Raut wajah Yugi langsung memucat takut dengan iblis betina didepannya. Bagai melihat malaikat maut, Yugi hanya mampu terdiam mematung dengan wajah tanpa dosa karena memang dia tidak tahu kesalahannya dimana kali ini.


“Sebaiknya kau melupakan semua yang kau lihat.” Ucap Lani sambil membawa sebuah palu tanah raksasa yang digenggam oleh kedua tangannya.


“Hwaaaaaa...” Yugi berteriak histeris sambil berlari kucar kacir karena ingin di palu oleh Lani.


Lani berpikir dengan memukul keras kepala Yugi maka ingatannya akan hilang, ya itu bisa saja terjadi, tapi jika dengan palu sebesar itu yang ada nyawa Yugi melayang. Jangan tiru adegan tersebut, karena sangat berbahaya.


Berselang beberapa menit akhirnya kejadian absurd tadi telah berhenti. Kini keduanya tengah beristirahat sambil duduk berlawanan dengan punggung mereka yang saling menempel. Lani menyenderkan kepalanya ke punggung Yugi yang hanya terdiam saja tanpa membalas senderan dari Lani.


Lani berkata sesuatu pada Yugi karena bosan jika hanya diam saja. “Yugi, aku punya banyak pertanyaan padamu.”


“Aku tahu, tapi sebelum kau bertanya, akan kuceritakan kenapa aku bisa ada disini.” Yugi pun mulai mengatakan semua hal tentang misi yang dia jalani. “Aku mengambil misi dari guild untuk menyelidiki mansion bekas eksperimen penelitian tentang makhluk panggilan. Selain mendapatkan informasi disini, aku juga diminta untuk memusnahkan setiap monster yang memiliki potensi yang dapat membahayakan manusia. Hanya itu yang aku lakukan sekarang ini, seharusnya kau sudah tahu monster yang aku maksud.”


“Monster itu, namanya apa?” tanya Lani.


“Monster itu bernama Chimera, makhluk itu merupakan eksperimen dari seorang ilmuwan penyihir. Dengan menggabungkan ketiga monster maka terciptalah spesies baru. Bisa dibilang makhluk itu merupakan buatan dari seorang penyihir gila yang ingin menciptakan sebuah makhluk panggilan yang kuat. Aku bahkan tidak berpikir kalau sampai harus seperti itu.” Jawab Yugi dengan nada lelah saat mengingat bertapa sulitnya menangani Chimera tersebut.


“Chimera, aku tidak menyangka kalau ada penyihir yang menciptakan makhluk seperti itu.” Balas Lani, dalam pikirannya jika seandainya makhluk itu tetap hidup mungkin saja jadi malapetaka bagi kerajaannya. Dan mungkin saja bisa berdampak pada kerajaan lain. “Tapi, kalau bisa dijinakkan mungkin saja bisa menjadi senjata terkuat kerajaan.”


Yugi hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Lani, sepertinya pendapatnya dengan Lani tidak bisa selaras. Karena dia berpendapat lain terhadap monster itu. “Aku rasa pemikiranmu tidak bisa dilakukan.”


Lani bertanya-tanya apa maksud dari perkataan Yugi, belum selesai disana Yugi menambahkan ucapannya.


“Karena monster Chimera itu tidak bisa dijinakkan oleh sembarang orang. Aku membacanya sedikit mengenai monster itu dari catatan penyihir yang kudapatkan disini. Makhluk itu memiliki kecerdasan layaknya manusia, walau dalam catatan makhluk itu sudah sempurna, tapi aku rasa belum sepenuhnya benar. Karena saat aku melawannya, kemampuannya tidak sekuat yang ada di catatan tersebut.” Lanjut Yugi.


Lani yang mendengar penjelasan dari Yugi mengangguk mengerti, namun dirinya masih dalam pendapat pribadinya. Jika memang hanya orang tertentu saja yang bisa mengendalikannya, mungkin saja dirinya bisa melakukannya. “Tapi sungguh disayangkan, kau membunuhnya terlebih dulu sebelum di jinakkan.”


“Apa kau lebih suka aku terbunuh oleh monster itu hah.” Kesal Yugi.


“Hihihihih...” Lani hanya mampu tertawa senang saat mendengar nada kesal Yugi yang cukup menghibur dirinya.


“Ngomong-ngomong kenapa kau bisa kesini?” tanya Yugi, karena sedari tadi hanya Lani saja yang bertanya, kini dia mulai balik bertanya pada Lani.


Untuk sesaat Lani berpikir untuk menjawab pertanyaan dari Yugi. “Hanya menjalani tugasku saja. Aku juga sedikit penasaran tentang rumah besar ini. Dulunya mansion ini dimiliki oleh seorang bangsawan, dia adalah seorang ilmuwan sihir yang meneliti tentang monster panggilan, tapi sayang karena sifatnya yang menggila dia di cap sebagai ancaman kerajaan karena penelitiannya yang tidak wajar.” Jelas Lani.


“Heemmm, aku berpikir kalau semua ilmuwan itu memang gila saat mencari sebuah kebenaran.” Balas Yugi.


“Apa kau kesini seorang diri?” tanya Lani, karena sedari tadi mereka hanya berdua saja.

__ADS_1


Sementara Yugi mulai berpikir tentang Vira, mungkin yang satu ini akan dia rahasiakan. “Ya, begitulah.” Jawabnya bohong.


“Untuk seorang petualang kau ternyata nekat juga ya.” Balas Lani, tidak lama wajahnya terlihat murung dan berpikir tentang sesuatu, tapi hal tersebut tidak disadari oleh Yugi. “Yugi, apa kau mengikuti turnamen itu?”


Ya itu yang sedari tadi Lani pikirkan, apa Yugi mengikuti turnamen itu atau tidak. Tapi seharusnya dia sudah tahu kalau Yugi mengikuti turnamen tersebut, karena dia sendiri menyaksikan kehebatan Yugi saat didalam arena. Yugi sendiri menyadari akan pertanyaan dari Lani seperti mengkonfirmasi apakah dirinya mengikutinya atau tidak. Yugi tersenyum biasa dengan jawaban yang membuat Lani terlihat serius.


“Ya, aku mengikutinya.”


Kedua tangan Lani mencengkram kuat dengan mulut yang merapat. Kemudian dia berkata pada Yugi dengan nada lemah. “Apa... yang kau incar dalam turnamen itu?”


Yugi tidak tahu harus menjawab apa, pertanyaan yang ini begitu sulit baginya untuk menjawab. Sebenarnya Yugi tidak terlalu tertarik akan kedudukan, jabatan, kebangsawanan atau pun hadiah misterius yang membuat semua orang penasaran. Dia tidak memikirkan itu semua, namun dirinya tetap harus menjawab pertanyaan dari Lani. “Aku... tidak bisa memberitahukannya sekarang.”


“Begitu...” setelah mendengar jawaban yang meragukan itu, Lani tidak mengajukan pertanyaan lagi. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh dari Yugi.


Yugi yang tahu kalau Lani akan pergi langsung berdiri dan menatap punggungnya yang semakin jauh. “Apa kau marah?” tanya Yugi.


“Semoga kau menang.” Bukan sebuah jawaban yang didapat, tapi sebuah ucapan penyemangat dari Lani yang terdengar oleh Yugi.


Saat pandangan Yugi terhadap Lani sudah menghilang disana, dia pun berjalan ke tempat Vira berada. Ya, Vira masih pingsan dan berada dalam lindungan penghalang sihir milik Yugi. Tapi sesampainya disana, dia tidak bisa menemukan Vira. Panik, tentu saja Yugi langsung mencari Vira ke segala jarak pandangannya. Tapi dia tidak bisa menemukannya, hanya satu hal yang bisa dia lakukan sekarang. Yugi menutup mata dan menyebarkan aura sihir kemana-mana, dia menggunakan sihir pendeteksi hawa keberadaan untuk menemukan Vira. Berselang beberapa menit dia merasakan energi sihir dari seseorang yang dia cari sedari tadi. Vira berhasil ditemukan, tapi ada satu hal yang membuat Yugi bingung.


“Aliran energi sihir milik Vira terasa aneh, seperti digantikan oleh energi kehidupan yang lain. Apa itu sebenarnya?” karena khawatir dan juga penasaran, Yugi pun bergegas menuju tempat Vira berada.


Ditempat yang cukup gelap terlihat seorang gadis kecil yang tengah berdiri menghadap sebuah tabung besar yang didalamnya berisi air yang banyak, bukan hanya itu didalam sana juga terdapat makhluk kecil yang tengah mengapung. Makhluk kecil itu berbentuk seperti serigala berbulu putih dengan sayap putih yang lebat di tambah corak biru di ujung sayapnya. Kepalanya juga terdapat sedikit rambut biru tua yang menambah keimutan makhluk tersebut. Mata merahnya menatap kearah Vira dengan pandangan tajam, sementara Vira hanya menatap kosong makhluk kecil didepannya.


“Siapa kau sebenarnya, kenapa energi didalam tubuhmu begitu gelap?” Tanya makhluk kecil itu dengan nada berat khas binatang buas.


“Kau, memiliki energi yang aku sukai. Darah yang mengalir padamu merespon kedatanganku. Bukankah kau merasa begitu...” suara Vira berbeda dari biasanya. Jika dilihat lagi penampilannya seperti saat dia melawan monster Chimera, taring panjang, kuku tangan seperti cakar, ditambah mata darah dengan pupil hitam vertikal seperti harimau. Tidak salah lagi, sekarang Vira tengah memasuki mode vampire nya.


“Hhmmmm...” makhluk kecil itu mengeram pelan, tapi tidak lama dia mulai terdiam menatap gadis itu.


“Aku punya penawaran kecil padamu.” Ucap Vira.


“Apa itu?” tanya serigala bersayap.


“Jadilah piaraanku.” Jawab Vira.


“Kalau aku tidak mau?”


“Kau pasti mau, kau tidak akan menolaknya.”


Serigala bersayap itu menjadi ragu akan pertanyaannya, bahkan dia sedikit terintimidasi oleh kata-kata Vira. Didalam pikirannya dia sedang menganalisa apa keinginan dari gadis kecil didepannya. Tapi ya sudahlah, karena rasa penasaran akan aura itu dan rasa ketergantungan ini. Akhirnya serigala bersayap itu pun menyetujuinya.


“Baiklah, aku setuju.” Jawab serigala bersayap.


Vira mengangkat tangan kanannya dan membuka telapak tangannya tersebut. Tabung kaca yang memenjara makhluk kecil itu hancur seketika dan membuat semua airnya merembes keluar. Serigala bersayap melayang sejajar dengan kepala Vira dan mereka saling menatap satu sama lain.


“Aku memiliki kepribadian yang lain, diriku yang ini hanyalah bayangan dari diriku yang lain. Dengan kata lain sekarang ini aku sedang memasuki mode kepribadian yang berbeda.”


Perkataan Vira membuat makhluk kecil itu sedikit bingung. Tapi hal itu bisa disingkirkan terlebih dulu, sekarang mereka akan melakukan sebuah kontrak yang akan mengikat satu sama lain sebagai majikan dan pelayan.


“Aku tidak terlalu mengerti akan maksudmu, tapi kita bisa membahasnya lain kali.”


Vira merentangkan kedua tangannya ke depan menghadap serigala bersayap yang melayang didepannya. Sebuah lingkaran merah bersinar terang dibawah serigala bersayap, Vira menggigit jempol kanannya sampai berdarah dan menempelkan ke kepala serigala bersayap. Yang dilakukan oleh Vira adalah kontrak darah antara makhluk panggilan dan tuannya. Hal ini umum di kalangan para penyihir saat melakukan kontrak, berbeda dengan Yugi yang melakukan kontrak melalui ludah, ingat adegan saat Yugi di cium oleh Risa sang raja naga es yang dipanggil Freez dalam bentuk naga. Tidak lama lingkaran sihir dibawah serigala bersayap yang melayang mulai naik dan melewati tubuh serigala tersebut. Dengan begitu kontrak diantara mereka pun selesai.


“Aku punya satu permintaan padamu.” Vira.


“Baru juga membuat kontrak tapi kau sudah meminta sesuatu padaku. Apa permintaanmu itu?” tanya serigala.


“Aku ingin kau terus bersama denganku dalam wujud kecil itu.” Vira.


Serigala. “Jadi kau sudah tahu seperti apa wujud asliku ya.”


“Hmm...” Vira mengangguk pelan menjawab pertanyaan serigala didepannya.


“Tentu saja, aku tidak keberatan.” Serigala.


“Dan aku punya satu permintaan lagi, jika nanti kepribadianku berubah menjadi diiriku yang lain. Aku ingin kau bersikap seperti makhluk kecil yang imut.” Pinta Vira.


“Apa kau bilang...” serigala bersayap itu nampak marah saat diminta bersikap imut. Dirinya juga memiliki harga diri sebagai makhluk yang dulu di kagumi. Tidak banyak orang yang mengetahui tentang makhluk yang ada didepan Vira ini.


“Ini perintah dariku, kau harus mengecilkan suaramu menjadi imut. Jangan pernah melibatkan diriku yang lain dalam masalah besar. Selalu lindungi diriku yang lain dengan segenap jiwamu. Itu saja...”


Entah kenapa serigala bersayap itu tidak bisa membantah gadis kecil ini. Seolah dirinya memang harus mematuhinya, dia bingung tapi disaat bersamaan merasa senang. Dirinya yang lain berkata kalau dia sudah mengenal gadis kecil ini. Atau lebih tepatnya dia seperti memiliki hubungan dengannya. Hubungan yang sudah sangat lama, dan itu sangat di rindukan olehnya.


“Baiklah kalau itu maumu.”


Akhirnya serigala itu menyetujuinya, tapi tidak berhenti disitu, dia mulai berbicara lagi atau lebih tepatnya meminta satu hal pada Vira.


“Aku punya satu permintaan padamu, berikanlah aku nama.” Pinta serigala bersayap.


“Tentu saja, aku juga sudah memikirkan hal itu. Namamu sekarang... Neo.”


Setelah memberi nama itu Vira mulai oleng ke depan dan menutup matanya. Tubuhnya mulai jatuh menghadap tanah tanpa ada alas disana, Neo dengan sigap menahan tubuh Vira dengan tubuhnya yang kecil.


“Neo... nama yang bagus. Terima kasih.”


Sebelum kesadaran Vira lenyap sepenuhnya, dia tersenyum sedikit dan mulai menutup mata menuju alam mimpi.


Sedangkan dengan Yugi, dia berlari cepat menuju tempat Vira berada. Lorong yang dilalui ini nampak asing baginya, tapi Yugi tidak memperdulikan hal itu. Karena didepan sana terdapat muridnya yang entah bagaimana keadaannya sekarang.


“Eh...” Yugi berhenti sebentar saat tidak merasakan aura aneh itu lagi. Sekarang digantikan oleh aura milik Vira sendiri, dan aura ini nampak lemah. Sepertinya terjadi sesuatu pada Vira. Yugi pun melanjutkan larinya menuju Vira berada.


Berselang beberapa menit akhirnya Yugi pun sampai, disana dia melihat tubuh Vira yang terbaring lemas di tanah. Dengan segera dia memeriksa denyut nadi di tangan Vira sambil mengaktifkan mata observasinya untuk memeriksa keadaan Vira. Untuk sementara dia bisa bernafas lega karena Vira hanya pingsan saja. Tapi hal itu menimbulkan pertanyaan di kepala Yugi, kenapa Vira bisa berada disini. Tapi dia mengesampingkan hal itu, karena sekarang yang penting adalah keluar dari sini. Baru Yugi mau membopong Vira kedalam gendongannya, seekor serigala kecil berbulu putih dengan corak biru tua sedikit dikepalanya menjilati pipi Vira beberapa kali. Yugi penasaran dari mana makhluk ini berasal.


Sayap yang sebelumnya ada di punggung Neo menghilang begitu saja, sepertinya Neo menggunakan sihir tertentu yang membuat sayap di punggungnya hilang.


Vira yang dijilati terus pipinya mulai terganggu dari tidur imutnya. Tidak lama kesadarannya pun datang dan melihat Yugi yang sedang menatap dirinya yang terbaring. Karena merasa malu di tatap dengan senyuman menawan itu, wajah Vira memerah sedikit di sekitar pipinya. Lalu kemudian dia melihat kearah kanannya dimana seekor serigala kecil tengah menjilati pipi kanannya. Vira langsung saja terduduk sambil memandangi binatang imut itu.


“Waaahhhh imutnya.” Ucapnya dengan nada senang.


‘Astaga, mungkin aku terlalu mengkhawatirkannya. Dia terlihat baik-baik saja, tapi serigala ini, dari mana dia berasal.’ Batin Yugi.


“Guru, guru... makhluk apa ini, dia imut sekali.” Vira memeluk serigala berbulu putih itu dengan manjanya.


Sementara didalam hati sang serigala merasa harga dirinya sebagai serigala sejati telah jatuh. Tapi ini adalah permintaan dari majikannya ini, atau lebih tepatnya majikannya yang lain yang berada didalam tubuh gadis kecil yang tengah memeluknya ini. Sesuai permintaannya dia pun mulai berbicara dengan nada imut khas binatang kecil. “Jangan memelukku begitu.”


“Hwaaa dia bisa berbicara, dan nadanya imut sekali. Sungguh imut...” bukan melepaskan, Vira malah semakin erat memeluk.


“Hey lepaskan... lepaskan...”


Yugi sedikit terkejut, ternyata didepannya ini monster, bahkan berbeda dengan monster kebanyakan. Dia sudah bisa berbicara layaknya manusia, dengan kata lain dia memiliki kecerdasan seperti manusia. Tapi seharusnya yang bisa berbicara seperti itu hanyalah monster yang levelnya diatas penyihir lanjutan. Hanya saja makhluk ini terlihat kecil, tapi sekecil ini sudah bisa berbicara, dengan kata lain monster ini bukan lah monster sembarangan.


“Siapa kau sebenarnya?” tanya Yugi.


“Hemmm, aku tidak mau mengakuinya, tapi aku adalah familiar gadis kecil ini.” Jawab Neo.


“Benarkah?” tanya Vira.


‘Jika benar Vira adalah majikannya, kenapa dia sendiri malah tidak tahu. Pokoknya sekarang adalah identitas makhluk ini.’ Batin Yugi. “Apa itu benar Vira?” tanya Yugi.


Vira yang ditanyai hanya menggeleng kepala pertanda tidak tahu, lagi pula dirinya belum pernah membuat kontrak dengan monster mana pun. Tapi kenapa serigala imut ini malah menganggap dirinya majikannya. Vira menatap Neo dengan tanda tanya besar di kepalanya. “Namamu siapa?” tanya Vira.


‘Apa yang dikatakan oleh nya ternyata benar, jadi ini kepribadiannya yang lain. Bahkan dia tidak ingat pernah memberiku nama, ya ampun ini merepotkan.’ Batin Neo. “Neo... namaku Neo.”


“Neo, imutnya.” Vira tidak tahan dengan bulu lembut Neo sampai dia beberapa kali menggosokkannya ke pipi tembemnya.


‘Untuk sekarang lebih baik kita keluar dulu dari sini.’ Batin Yugi. “Vira, ayo kita keluar terlebih dulu dari sini. Neo jelaskan detailnya di perjalanan.”


Setelah itu semuanya berjalan pergi meninggalkan tempat bekas laboratorium tersebut. Seandainya saja Yugi lebih teliti, seharusnya dia bisa melihat sebuah tulisan yang berada di tabung bekas makhluk itu berada sebelumnya. Di bawah tabung tersebut terdapat papan yang menempel dengan tulisan disana.


Tulisan itu berbunyi [Hewan Fantasi]


Beberapa kejadian terus mendatangi kami, setelah mengalahkan Chimera aku dipertemukan kembali dengan Lani. Atau sebelumnya aku pernah memanggilnya Lanya, itu merupakan nama samarannya saat pertama kali kami bertemu. Disaat perpisahan tadi, aku merasa kalau Lani terlihat memikirkan sesuatu walau aku tidak bisa melihat ekspresinya karena memunggunginya. Saat itu aku ingin berbicara banyak hal dengannya...


Tapi...


Mungkin lain kali, saat kami bertemu lagi...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2