
Kekuatan api dan es saling mendominasi didalam arena, ini terjadi karena sebuah kompetisi kerajaan yang diselenggarakan oleh Raja Eartfil. Pertarungan sudah memasuki babak kelima dimana pembuka dari kompetisi ini yaitu Maruya melawan Yugi. Peserta dari kerajaan berbeda dengan sihir yang sama namun memiliki elemen yang berlawanan. Bertarung di dalam kompetisi untuk menunjukkan siapa yang terkuat, sejauh ini pertarungan terus berlangsung. Sampai mereka di ujung batas menggunakan kekuatan maksimal masing-masing. Sihir keduanya yaitu sihir kuno yang diajarkan oleh naga, sihir itu bernama Dragon Slayer. Kekuatan yang tidak bisa di pelajari oleh sembarang orang kecuali mereka yang sudah diakui oleh sang naga. Hal ini tentu menggemparkan semua orang yang melihat pertarungan antar dua naga yang terus saja saling mendominasi satu sama lain. Apalagi mereka sudah memasuki tahap terakhir kekuatan sejati naga, yaitu Dragon Force.
Wujud Maruya yang diselimuti oleh aura api emas dengan sisik merah muncul di setiap lengan dan wajahnya ditambah mata naga berwarna merah dengan pupil hitam vertikal. Begitu pula Yugi dengan sisik birunya dan mata biru dengan pupil hitam vertikal ditambah sayap kanan naga yang terbentang dipunggungnya. Perbedaan keduanya terletak pada elemen yang berlawanan, namun auranya tidak jauh beda. Dimana aura tersebut memancarkan kekuatan naga, selain itu perbedaan juga terletak pada sayap dimana Yugi berhasil menumbuhkan satu sayap kanan sedangkan Maruya tidak. Dengan begitu bisa terlihat perbedaan kekuatan mereka. Karena kekuatan naga tergantung seberapa mirip kau dengan naga tersebut, semakin tumbuh anggota badan naga pada seorang penyihir naga maka kekuatannya pun akan semakin kuat dan menyerupai naga itu. Tidak perlu ditakutkan jika itu yang akan terjadi, karena seorang penyihir naga yang sudah bisa mengendalikan kekuatannya akan tetap bisa kembali seperti manusia pada umumnya. Namun ada saja kasus dimana mereka yang telah terjatuh dalam ketamakan atas kekuatan sehingga mereka menjadi naga seutuhnya dan tidak pernah bisa kembali. Disini, dimana arena kerajaan Eartfil akan menjadi saksi bisu terjadinya pertarungan antar pengguna sihir naga. Dan hal ini pasti akan menjadi sejarah dimana sekali pun setiap tahunnya belum pernah ada dua Dragon Slayer saling bertarung. Semua penonton ingin melihat akhir dari pertarungan ini, dan mereka juga ingin melihat pemenang tunggal kompetisi kerajaan.
Kedua peserta masih berdiri dengan tatapan tajam satu sama lain. Mata merah dan mata biru terus berkilat tajam. Mencari momen yang tepat untuk melancarkan serangan. Karena sebelumnya mereka mengakibatkan ledakan besar dengan semburan api dan es. Sekarang arena pun menjadi berantakan tak karuan, bagai padang pasir tandus dan padang es dingin. Rasa panas dingin bisa di rasakan para penonton walau sudah di lindungi oleh penghalang sihir, ternyata penghalang tersebut tidak bisa menahan hawa yang keluar dari dalam arena.
Beberapa detik berlalu, sampai ada satu dari peserta itu yang melesat lebih dulu dengan elemen apinya. Itu adalah Maruya yang bersiap dengan tinju api di tangan kanannya.
“Dragon Force: Fire Dragon Punch.”
Yugi yang melihatnya tidak diam saja, karena kekuatan naganya telah bangkit, sekarang dia dapat melihat gerakan cepat Maruya. Disaat serangan itu hampir mengenainya, Yugi melompat melewati tubuh Maruya sehingga serangan itu pun tidak mengenainya.
“Sekarang giliranku. Dragon Force: Ice Dragon Wings.” Dengan sayap biru dipunggungnya ditambah kedua tangan Yugi, sebuah kibasan es dengan aura naga tebal menerjang kuat kearah Maruya.
Baru saja serangan pemuda bersurai merah maroon ini gagal, disaat itu juga Maruya harus dihadapkan oleh jurus lawannya saat membalikkan badannya, sehingga dia tidak sempat menghindari serangan tersebut.
Duuuaaaarrrrr
Serangan itu sendiri telak mengenai Maruya, namun itu tidak dapat menghentikannya. Dengan sangat marahnya, pemuda dengan sihir naga api ini langsung kembali menerjang Yugi dengan kedua kakinya yang bersiap di lancarkan untuk menyerang. Pertama Maruya melakukan serangan lurus dengan kaki kanannya yang tepat mengarah pada wajah Yugi.
Swush
Namun serangan itu dapat dihindari oleh Yugi dengan memiringkan tubuhnya kearah kanannya, kemudian tidak berhenti disana, Maruya memutar tubuhnya 180 derajat dengan tendangan kaki kiri berlapis api emas mengarah pada leher Yugi.
Duak
Tapi itu juga bisa ditahan oleh Yugi dengan tangan kanannya. Belum sempat pemuda dengan elemen es itu bernafas lega, Maruya kembali melancarkan serangan dengan mulutnya yang menggembung.
“Dragon Force: Fire Dragon Roooar.”
Duuuuaaaarrrrrr
Serangan itu telah mengenai Yugi dan membuatnya terpental beberapa meter namun untungnya tidak membuat Yugi sampai menabrak tembok. Kekuatan yang dilancarkan oleh serangan Maruya tidak terlalu meninggalkan bekas luka yang parah, tapi hal itu masih bisa membuat Yugi kepanasan karena kekuatannya. Walau dirinya sudah memasuki mode sejati naga, namun hal itu tidak menutup kemungkinan dia tidak mendapat luka. Malah sebaliknya, karena memasuki mode secara paksa maka kekuatannya pun terbatas oleh waktu. Yugi sendiri menyadarinya, setiap menitnya kekuatan yang dia gunakan ini menguras habis Mana dalam jumlah besar. Sampai hal itu juga menguras staminanya sampai titik dimana dia harus menghemat pengeluarannya. Dirinya bukan lagi bertarung melawan Maruya, tetapi waktulah yang sedang dia hadapi saat ini.
“Akan kuselesaikan dengan cepat.” Teriak Yugi. Dia pun melesat dengan cepat kearah Maruya berada.
Tidak tinggal diam, Maruya pun membalas perkataan Yugi dengan semangat membaranya. “Akulah yang akan menyelesaikan ini.” Maruya juga ikut melesat kearah Yugi dengan kecepatan tinggi.
Duar duar duar
__ADS_1
Keduanya saling membentur satu sama lain, dari setiap tinju, kemudian menjaga jarak dan lagi menerjang kembali dengan tendangan yang saling membentur kemudian di lanjutkan dengan pukulan yang saling beradu. Terus seperti itu bagai kedua naga yang berusaha menggigit satu sama lain, mengadu kecepatan, bersaing dalam raungan terkeras, sampai benturan diantara kepala.
Duar
Tabrakan yang terdengar keras itu merupakan benturan kepala mereka yang dilapisi aura merah dan biru. Seperti halnya naga yang saling membenturkan kepala untuk melihat siapa yang lebih kuat, jika salah satunya mundur maka dialah yang kalah. Tapi dari tadi kedua pemuda pemegang sihir naga ini terus saja berusaha mendorong kepala mereka untuk memukul mundur lawannya. Namun Yugi tidak sebodoh itu, dia tidak mengikuti cara Maruya yang bar-bar, karena hal ini membuat dia memiliki kesempatan. Maruya yang masih fokus untuk mendorong mundur Yugi dengan kepalanya sendiri, Yugi dengan sigap menggunakan tangan kirinya yang dia lapisi energi sihir dalam jumlah besar kemudian dengan sekuat tenaga memukul pipi kanan Maruya.
Buak
Syuuuuuuttttt
Duuuarr
Maruya berhasil dipukul mundur oleh Yugi, sampai pemuda naga api itu terbentur keras ketanah yang mengakibatkan tanah retak seperti jaring laba-laba. Yugi tersenyum atas perbuatannya, dibanding dengan Maruya yang mengandalkan semangat membara dan kekuatan yang terus digunakan secara bar-bar. Yugi berbeda, dia menggunakan kekuatan sihirnya lebih efisien, dengan melihat kelemahan musuh kemudian menyerang titik tersebut merupakan strategi yang benar menurutnya. Sekarang dia ingin menyelesaikan semua ini, karena waktu yang tersisa tidak terlalu banyak.
“Akan kuakhiri ini.” Setelah mengatakan hal itu, Yugi mengonsentrasikan tangan kanannya dimana energi sihir biru keputihan mulai berkumpul disana, dibantu tangan kirinya yang mengumpulkan energi tersebut supaya tidak merembes kemana-mana.
Tidak lama Maruya pun mulai berdiri kembali dari telungkupnya. Dengan kepala yang sakit, dia berusaha menstabilkan penglihatannya yang sedikit kabur. Matanya menatap tajam lawan didepannya, digaris penglihatannya seperti ada sebuah bola besar biru yang ada di tangan kanan Yugi. Walau pada dasarnya itu memang merupakan bola energi dari sihir naga.
“Dragon Force: Storm Wave Ice Dragon Blow.”
Yugi memukul udara kosong dan seketika badai tornado es dengan intensitas kekuatan yang begitu besar menerjang cepat kearah Maruya. Disaat mata Maruya sudah bisa melihat kembali, saat itu jugalah dia sudah terlambat untuk menghindari serangan tersebut.
Disaat mengenai Maruya, dia bisa mendengar badai yang meraung keras seperti naga. Dan didetik itu juga Maruya tidak mengingat apapun, badannya terseret oleh badai besar yang mirip tornado es itu sampai menghantam tembok dengan sangat kerasnya, bahkan serangan itu hampir membuat tembok arena pecah. Walau dibilang hampir pun hal itu sudah tidak bisa dikatakan tidak hancur, karena terdapat banyak retakan seperti kaca dimana-mana yang memperlihatkan tembok sihir transparan yang dibuat oleh penyihir kerajaan. Semua orang terkejut, bahkan Raja sendiri tidak mempercayai akan kekuatan yang begitu besar itu. Yugi yang sudah selesai dengan jurusnya, langsung terduduk lemas disana. Nafasnya tidak beraturan, aura biru yang menyelimutinya sudah hilang, tapi sisik dan sayap naganya tidak menghilang. Begitu pula matanya yang biru menyala dengan pupil hitam vertikal tetap ada. Sepertinya mode naga milik Yugi tidak menghilang sepenuhnya, dengan kata lain masih ada sisa-sisa energi sihir naga sejati yang tersisa.
“Apa aku... menang?” gumam Yugi. Pandangannya melihat ke atas langit, terlihat awan yang menutupi matahari, sehingga membuat arena menjadi teduh. Langit itu sendiri seperti memberikan keteduhan padanya, memberitahu kalau dirinya sudah berjuang dengan sangat baik.
Sementara itu kepulan yang diakibatkan serangan Yugi mulai menghilang, memperlihatkan Maruya yang pingsan ditempat. Tubuhnya sendiri sudah menghantam tembok dengan cukup dalam. Untungnya ada pelindung sihir, jadi dia tidak sampai terpental keluar dari gedung colosseum. Jika tanpa penghalang itu, sudah dipastikan serangan Yugi akan terus menembus secara paksa dan membuat lubang besar disana.
Rud yang melihat satu peserta pingsan yang menandakan kalau pertarungan ini sudah berakhir langsung saja mengumumkannya. “Pemenang pertarungan semi final yang pertama, sang petualang dari kerajaan Aries... Yugi.”
Semua penonton bersorak ria kearahku, namun sayangnya aku tidak dapat mendengar dengan baik sorakan mereka, hanya sedikit dari mereka yang terdengar... tapi melihat ekspresi semangat para penonton, sudah bisa kutebak kalau ini adalah kemenanganku... apa aku, sudah menjadi lebih kuat sekarang...
Bruk
Detik itu juga, Yugi pingsan didalam arena. Meninggalkan sorak sorai para penonton yang mendukungnya, bahkan teriakan dari muridnya yang terus memanggil namanya dan berlari menghampiri dirinya dari gerbang masuk arena. Tidak bisa didengar olehnya, karena kegelapan sedikit demi sedikit mulai menyeretnya pergi. Kemudian para medis kerajaan langsung membawanya pergi keruang perawatan, bersama dengan Maruya yang lebih dulu pingsan dari pada pemuda surai putih salju itu.
Setelah mereka pergi dari dalam arena, wasit pun kembali berbicara untuk mengumumkan pertarungan selanjutnya. “Baiklah, pertarungan selanjutnya yaitu Pangeran dari kerajaan Vouleftis dan Pangeran dari kerajaan Swordia. Mari kita panggil mereka, Pangeran Rexas Vouleftis melawan Pangeran Seiga Swordia.”
Kedua pangeran pun berjalan menuju kedalam arena pertarungan, disaat bersamaan mereka muncul dari gerbang yang sama. Saling berjalan beriringan, dengan wajah datar dan tatapan serius. Atmosfer di sekitarnya pun terasa begitu berat, padahal pertarungan belum dimulai namun di sekitar aura mereka seperti sedang bertarung satu sama lain. Mereka berhenti berjalan saat sudah berhadapan dengan wasit yang sudah berdiri didalam arena yang selesai diperbaiki kembali dengan elemen tanah oleh seorang penyihir kerajaan Eartfil.
__ADS_1
“Peraturan tetap sama, kerahkan segenap kekuatan kalian. Tapi jangan sampai ada yang terbunuh. Baiklah, pertarungan kedua dari babak semi final ini... DIMULAI.”
Di ruang perawatan, terlihat Yugi dan Maruya yang terbaring di kasur masing-masing namun ditempatkan di ruangan yang sama. Vira yang berdiri khawatir menatap gurunya dengan Neo yang berada di gendongannya, begitu pula Maria yang melihat sedih kondisi kakaknya yang cukup parah. Tapi untungnya hal itu tidak sampai membahayakan nyawa kedua pemuda ini. Lalu tidak lama seorang wanita berambut merah datang menghampiri pemuda berambut putih salju, dia berdiri di hadapan sang pemuda yang dimana hal itu diperhatikan oleh Vira.
“Kakak ini siapa?” tanya Vira pada perempuan berambut merah.
Wanita itu tersenyum ramah, lalu memperkenalkan dirinya dengan suara lembut. “Namaku Sara, seorang resepsionis guild Fairy Storm yang berada di kerajaan Aries.”
“Kerajaan Aries? Bukankah kerajaan itu merupakan tempat guru berasal?” Tanya Vira.
“Jadi kamu muridnya Yugi ya, aku tidak tahu kalau dia sudah mendapat murid semanis ini.” Sara mengelus pelan rambut putih perak Vira dengan lembut. “Aku pikir kau anaknya, untungnya aku tahu ini. Kalau tidak pasti sudah kucincang habis Yugi.” Lanjutnya dengan wajah horror.
Vira sendiri mulai merinding saat melihat wajah menakutkan Sara, padahal tadinya dia menikmati elusan lembut dari wanita ini. Tapi secara mendadak sikap malaikat itu berubah menjadi iblis, untungnya itu hanya berlangsung sebentar saja. Tapi mengingat kalau wanita ini memanggil gurunya dengan begitu akrab seolah sudah sangat mengenalnya, membuat dirinya penasaran apa hubungan wanita ini dengan gurunya.
“K-kak Sara...” panggil Vira dengan sedikit gugup.
“Ya ada apa?” tanya Sara.
“K-kalau boleh tahu, apa hubungan kak Sara dengan guru Yugi?” tanya Vira.
Sara tersenyum manis, dengan tanpa keraguan mulut itu menjawab pertanyaan sederhana gadis kecil itu. “Aku... calon istrinya.”
Vira terdiam kaget, begitu pula Maria yang mendengarkan dari samping sana. Lalu keduanya pun mulai bereaksi secara bersamaan.
“”EEEEEEHHHHHH...””
Kedua gadis ini memang tidak menyangka kalau Yugi sudah memiliki calon istri. Bahkan untuk Vira, selama dalam perjalanan mereka, tidak pernah sedikit pun Yugi membahas tentang calon istrinya. Hal itu membuat Vira sedikit kesal, murung dan cemburu. Entah apa ini membang cemburu, namun hatinya merasa sakit dan nafasnya mendadak sesak sesaat.
Sara juga menyadari akan sikap aneh Vira, lalu melihat perubahan raut wajah yang terlihat sedih itu. Apa ada sesuatu yang salah dengan perkataannya? Namun sebagai seorang wanita dia sudah mengetahui akan hal itu, harusnya demikian. Walau pada awalnya dia merasa bingung, tapi dia sudah mengerti saat tatapan wajah yang sedih itu melihat kearah pemuda yang terbaring lemas didepannya.
Lalu Sara pun kembali berkata. “Hanya bercanda kok, aku hanya teman masa kecilnya sekaligus penanggung jawabnya sebagai seorang petualang. Aku datang kesini untuk melihat bagaimana keadaannya. Tapi aku tidak menyangka kalau dia akan bertarung dengan sangat gagah berani seperti itu. Sungguh hebat...”
Mendengar penjelasan itu membuat Vira kembali ceria, entah bagaimana perasaan sedihnya hilang dalam sekejap. Apa ini perasaan lega karena sesuatu yang tidak diinginkannya hanya sebuah khayalan saja? Entahlah, yang terpenting sekarang adalah dirinya masih memiliki harapan.
Sedangkan dengan perasaan Sara sendiri, dia merasa sakit karena menyangkal sesuatu yang memang belum terjadi, namun hal itu seperti dia menyangkal akan perasaannya itu. Demi seseorang yang bahkan baru dia temui, dirinya harus membohongi perasaannya sendiri. Mungkin ini yang terbaik... itu pikirnya.
Waktu pun terus berlalu, kompetisi kerajaan masih berlangsung. Pertarungan kedua sudah dimulai, dimana kedua pangeran dari kerajaan yang berbeda akan bertarung di dalam arena. Lalu matahari yang sempat ditutupi oleh awan, kini kembali memancarkan sinarnya saat awan tersebut pergi tertiup oleh angin. Hari yang panas pun kembali hadir didalam arena.
Bersambung
__ADS_1