
Diruang perawatan, dimana tempat para peserta kompetisi kerajaan Eartfil berada saat mengalami luka fatal waktu bertarung didalam arena. Terbaring tubuh seorang pemuda berambut putih salju dengan wajah tertidur yang damai. Wujudnya sendiri terlihat seperti naga, dengan sisik di lengan dan pipinya ditambah satu sayap kanan dipunggungnya membuat sosok pemuda ini hampir menyerupai manusia setengah naga. Disampingnya terdapat satu wanita berambut merah yang seumuran dengan pemuda yang terbaring itu, lalu ada juga gadis kecil yang masih berumur sepuluh tahunan yang duduk disisi satunya sambil menggendong familiarnya yang berwujud serigala berbulu putih, matanya menatap kearah pemuda berambut putih salju yang merupakan gurunya. Sudah tiga jam mereka menantikan kesadaran dari sang pemuda yang terbaring ini, namun sampai detik ini belum ada tanda-tanda kalau dia akan bangun. Do’a penuh harapan dari dua perempuan beda umur ini terus mereka panjatkan demi keselamatan dari pemuda berambut putih salju.
“Enaknya Yugi, dia mendapat perhatian yang begitu hangat dari dua perempuan cantik.” Ucap pemuda bersurai merah maroon yang merupakan salah satu pasien di ruang perawatan yang sama dengan pemuda berambut putih salju yang dipanggil Yugi.
Mendengar penuturan iri dari pemuda rambut merah maroon ini membuat sang gadis yang ada disamping kirinya merenggut kesal dan berkata. “Lalu aku ini apa hah...”
“Adikku?” balas pemuda itu pada sang gadis.
“Dasar kak Maru menyebalkan.” Dengan emosi marah itu, sang gadis berambut sama dengan pemuda itu langsung saja melempar bantal ke wajah kakaknya dengan kekuatan penuh sampai bulunya berhamburan kemana-mana. Dan saat itu juga si gadis langsung meninggalkan pemuda itu yang terbaring seketika saat mendapat serangan mendadak dari adiknya sendiri.
“Ada apa sih dengan Maria, apa hari sensinya sudah tiba ya. Astaga...” gumam Maruya yang merasa bingung akan sifat adiknya yang sensitif itu. Lalu matanya melirik kearah sang pemuda yang menjadi lawannya dikompetisi kerajaan, dimana dirinya kalah oleh pemuda yang masih terbaring lemas diatas kasur itu. Dia tidak marah sama sekali karena kalah oleh Yugi, hanya saja mata itu melirik murung saat melihat kearah sayap yang terbentuk dipunggung Yugi. ‘Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan kekuatan itu...’ itu merupakan perkataan batinnya yang merasa kecewa pada dirinya sendiri.
Dialam bawah sadar Yugi, dibawah pohon besar. Terbaring tubuh jiwa Yugi yang dipeluk oleh tubuh kecil Yui. Tepat dibelakang mereka tertancap pedang Eternal Snow. Bisa dibilang sekarang ini mereka sedang melakukan ritual penyembuhan terhadap jiwa dan raga Yugi. Dan itu dilakukan oleh Yui dengan cara memeluk Tuannya. Walau kekuatan penyembuhan Yui tidak sehebat Risa yang merupakan sang Raja Naga yang memiliki kemampuan penyembuhan luar biasa, tapi setidaknya hal itu bisa mengurangi dampak akibat penggunaan sihir naga sejati secara paksa. Memang begitu lah adanya, kekuatan Yui hanya unggul dalam bidang penghancur, sedangkan dalam penyembuhan dia dibawah Raja Naga itu, Yui tidak mau mengakuinya tapi kemampuan Risa benar-benar bisa diacungi jempol.
“Emmhh...” lenguhan seorang pemuda yang terbaring lemas itu menandakan kalau dia akan bangun. Matanya berkerut sedikit sampai dia benar-benar terbangun. Saat menatap langit disana, dia menyadari kalau sudah tidak ada di dalam arena. Kemudian matanya melirik kearah kirinya yang dimana terdapat satu gadis imut dan cantik tengah tertidur sambil memeluk dirinya. Dia juga bisa merasakan energi sihir yang terus mengalir pada tubuhnya, bisa dibilang kalau gadis ini sedang menyembuhkannya dari luka dalam. “Aku membuatmu khawatir lagi ya, Yui...” gumamnya.
“Ya kau membuatku khawatir lagi, Tuanku.” Balas Yui dengan masih matanya yang terpejam, lalu dia buka perlahan, dan mulai memposisikan badannya duduk berhadapan dengan Yugi. “Jadi bagaimana keadaanmu? Walau aku bertanya seperti itu, ini hanya alam bawah sadarmu. Aku berusaha menyembuhkan luka dalam tapi tidak dengan luka luar. Itu hanya kau yang bisa menyembuhkannya...”
“Aku merasa lebih baik, selain itu kenapa kau memanggilku Tuan?” tanya Yugi dengan nada bingung, karena dia sendiri sudah meminta Yui untuk memanggil namanya saja tanpa tambahan Tuan, tapi Yui yang ada di hadapannya ini terasa begitu berbeda.
“Apa yang kau katakan, aku selalu memanggilmu begitu kan. Tuan...”
Tidak... bukan begini... ada yang berbeda dengan Yui. Seolah dia tidak mengingat akan perkataanku dulu. Kenapa...
“Yui ini tidak lucu loh, kenapa kau memanggilku seolah kita ini baru pertama kali bertemu.”
Walau Yugi berkata demikian, namun jawaban dari Yui selanjutnya tidak pernah dia duga.
“Aku tidak bercanda, siapa juga yang akan bercanda tentang hal itu Tuan. Bukankah Anda Tuanku...” Yui menatap bingung kearah Yugi, begitu pula sebaliknya. Tapi dibanding tatapan bingung, mungkin wajah Yugi terlihat seperti seseorang yang kaget karena suatu kejadian tidak terduga menimpanya.
“Yui, apa yang terjadi padamu?” tanya Yugi.
Yui memiringkan kepalanya bingung, lalu dia melirik kearah sayap kanan naga dipunggung Tuannya. “Sepertinya aku memang melupakan sesuatu, tapi entah apa itu. Tapi yang penting sekarang Tuan baik-baik saja...”
Tidak, yang kau lupakan juga merupakan sesuatu yang penting. Ada apa ini, seolah aku telah kehilangan Yui. Padahal dia ada didepanku kan...
“Untuk sayap naganya, itu akan hilang beberapa menit kedepan. Jadi jangan khawatir... selain itu Tuan akan kembali sekarang kan. Bersiaplah, mungkin akan ada orang yang menunggumu disana.” Lanjut Yui dengan senyuman manisnya.
“Yui apa kau ingat kenapa aku bisa jadi seperti ini sekarang?” tanya Yugi.
“Tentu saja, Tuanku memenangkan sebuah kompetisi dan melaju ke babak final. Dengan menggunakan sihir naga sejati Dragon Force, Tuan bisa mengalahkan musuh Anda yang sesama pengguna sihir naga.” Jawab Yui.
Sekarang dia malah memanggilku dengan begitu sopan, seolah ingatan kebersamaan kami digantikan oleh sesuatu, atau oleh seseorang. Orang lain yang ada didalam diri Yui...
“Yui ada apa sebenarnya? Katakan padaku...” Yugi panik, dia pun bertanya seperti itu sambil menggoyangkan bahu Yui beberapa kali. Namun dia sadar, ekspresi Yui berubah menjadi takut saat menatap dirinya. Seolah dia lah yang membuat Yui menjadi seperti ini, atau memang dirinya lah yang membuatnya jadi seperti ini.
__ADS_1
“A-aku tidak tahu maksud Tuan, t-tapi aku benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan yang tidak aku tahu.”
Yui berbicara dengan nada takut kepadaku... Yui yang ada didepanku ini, bukan Dewa Naga yang aku kenal. Kenapa...
Pikirkan Yugi... coba pikirkan, apa yang dikatakan oleh Yui sebelum dia melarangku menggunakan sihir Dragon Force...
“Waktu itu apa yang kau katakan sebelum memberikan kekuatan naga sejati. Bukankah kau melarangku untuk menggunakan sihir Dragon Force. Tapi saat itu kau menyirami benih naga yang ada didalam tubuhku, apa kau mengingat itu Yui?” tanya Yugi.
“Tentu saja, saat Tuanku meminta menyirami benih naga, saya pun melakukannya sesuai perintah.” Jawab Yui.
Tunggu sebentar, perintah dia bilang, permintaanku waktu itu dianggapnya sebuah perintah... sebenarnya apa yang terjadi...
[Tuan ini adalah keinginanmu. Aku ada untuk memenuhi semua keinginanmu...]
Kalau tidak salah Yui berkata seperti itu sebelum akhirnya aku memasuki mode naga sejati... apa maksud dari perkataannya, seolah kalimat itu sendiri seperti salam perpisahan. Dengan begitu siapa sebenarnya Yui yang ada didepanku ini...
Seperti inilah kejadian yang menimpa Yugi, partner yang ada didepannya seolah bukan partnernya. Padahal dia orang yang sama tapi ingatannya bagai disamarkan dengan hal yang lain, dan hal itu membuat Yugi seperti kehilangan orang yang sangat berharga baginya. Lalu kemana kah Yui nya pergi...
Ini aneh... entah bagaimana hatiku sakit sekali, seolah ada yang berteriak tapi aku tidak mengerti kenapa. Aku ingin menangis, malahan aku sudah menangis...
“Tuan, kenapa air mata Anda bisa turun. Tuanku bersedih, apa ada yang sakit?” tanya Yui secara bertubi-tubi dengan nada khawatirnya terhadap Tuannya. Dia tidak mengerti kenapa Tuannya menangis seperti itu, tapi yang jelas dia sangat khawatir saat ini.
“Yui, kau adalah Yui kan. Kumohon jawab aku kau adalah Yui.” Pinta Yugi untuk bisa meyakinkan dirinya.
Tapi sayang sekali, jawaban dari Yui tidak bisa menenangkannya...
Seketika harapanku seolah dibawa pergi... aku pikir bisa menerima ini, tapi ternyata tidak. Saat Yui menyebutku dengan sebutan Tuan bukan dengan namaku, saat itu aku seperti melihat Yui pergi jauh...
“Aaahhhh...”
Yugi berteriak takut dan langsung memeluk Yui. Sang Dewa Naga yang diperlakukan seperti itu menjadi salah tingkah, wajahnya begitu memerah, dia tidak menyangka kalau Tuannya akan seagresif ini. Namun dia tidak bisa menolak hal itu, saat mendengar sebuah isakan yang keluar dari mulut Tuannya.
“Kumohon jangan pergi Yui, maafkan aku telah memaksamu melakukan hal itu. Maafkan aku jika aku telah mengabaikan banyak laranganmu. Maafkan aku yabg telah membuat hatimu terluka. Aku mohon kembalilah Yui... hiks hiks hiks...”
Mendengar nada putus asa dari Tuannya, Yui pun dengan lembut mengusap punggung yang gemetar itu. Dia membalas pelukan Tuannya dibarengi kasih sayang, rasa ingin menenangkan Tuannya yang terlihat frustasi itu dengan kehangatan hatinya.
“Aku tidak akan kemana-mana kok...”
Tidak... kau telah pergi, aku tahu itu. Ada yang hilang darimu, seolah itu adalah hukuman untukku karena tidak mendengarkan perkataanmu. Tapi bukankah hukuman ini terlalu berat untukku. Kumohon apapun asalkan jangan yang ini, kau bisa memukulku, menghajarku, memarahiku sepuasmu. Tapi kumohon jangan hukuman yang seperti ini, rasanya begitu menyakitkan... seolah bagian dari diriku yang lainnya... hilang...
Disaat yang bersamaan, kesadarannya yang berada dialam bawah sadar mulai pergi. Dan kesadarannya didunia nyata, mulai terbuka. Sisik naga birunya sudah menghilang begitu pula sayapnya. Lalu mata itu melihat kearah atap bangunan, kemudian melirik kanan dan kiri, disana terdapat dua perempuan yang menunggunya siuman. Ada wanita sang pujaan hati yang menatap dirinya, seharusnya dia senang melihatnya kembali. Tapi entah kenapa, hatinya terasa begitu sakit, air matanya pun kembali turun. Tentunya hal itu membuat khawatir kedua perempuan ini, mereka pikir Yugi telah mengalami luka yang begitu menyakitkan sampai dia menangis. Tapi memang benar kalau Yugi mengalami luka yang begitu parah, dan luka itu berada jauh didalam hatinya.
Jika ditanya di manakah letak rasa sakitnya sampai kamu menangis? Maka aku akan menjawab... jauh didasar lubang yang gelap...
Ditempat lain, sebuah ruangan terpisah dari ruangan pasien lainnya. Terlihat sang Pangeran Vouleftis sedang melakukan perawatan terhadap lukanya. Dia harus segera menyembuhkan semua luka itu dan memulihkan kembali staminanya. Karena masih ada satu pertarungan lagi yang harus dia menangkan, dengan begitu bertarung di babak final melawan Yugi bukan lagi sebuah mimpi.
__ADS_1
“Hanya tinggal satu pertarungan lagi, maka aku...”
“Sebaiknya kau menyerah saja Pangeran.”
Sebuah suara yang memotong perkataan Pangeran Vouleftis itu membuatnya berdiri seketika dari duduknya. Rexas sang Pangeran dari kerajaan Vouleftis melihat seorang peserta selanjutnya yang akan dia lawan. Peserta itu mengenakan topeng kucing berwarna hitam yang dimana itu menyembunyikan identitasnya. Rexas menatap tidak suka kearah pemuda itu yang mengatakan padanya untuk menyerah.
“Apa maksud dari perkataanmu itu?” tanya Rexas.
Lugi, sang peserta misterius yang mengenakan topeng dan menutupi kepalnya dengan tudung jubah. Sehingga dia tidak bisa diketahui akan identitasnya, namun di dalam arena disebutkan kalau Lugi merupakan petualang dari kerajaan Eartfil. Dan hanya informasi itu saja yang diketahui. Sehingga belum pernah ada yang melihat tentang seperti apa wajah petualang bernama Lugi ini.
“Seperti yang aku katakan. Aku ingin kau menyerah saja dalam pertarungan itu dan membiarkan aku melaju ke babak selanjutnya. Lagi pula walau kau bertarung sekali pun tidak akan mampu mengalahkanku.” Nada bicaranya terdengar begitu percaya diri, Lugi begitu yakin akan menang dalam pertarungan nanti sore.
Tentu saja Rexas tidak diam begitu saja. Dia balik menatap Lugi dengan tajam kemudian berkata. “Yang bisa mengalahkanku hanya orang yang kuanggap rival. Dan kau bahkan tidak kuanggap sama sekali. Aku bisa mengalahkanmu hanya dengan satu kali serangan.”
“Begitu ya, baiklah kalau kau masih bersikeras Pangeran. Saya menunggu waktu pertarungan kita.” Setelah perkataan itu, Lugi pun pergi dari sana melalui pintu yang terbuka lebar itu.
Disaat peserta misterius itu pergi, saat itu juga Rexas langsung menundukkan kepalanya. Dirinya tahu akan kekuatan dari petualang misterius itu, karena dia juga menyaksikannya. Kekuatannya berelemen tanah, tapi elemen itu sendiri begitu kuat sampai dapat memorak-porandakan arena pertarungan.
“Aku pasti akan mengalahkannya.” Gumam Rexas dengan tekad membaranya.
Diruang perawatan yang berbeda, seorang Pangeran lainnya yang dikalahkan oleh Rexas. Dia adalah seorang Pangeran dari kerajaan Swordia, Pangeran Seiga. Dia dikalahkan oleh Rexas di babak semi final, bisa dibilang itu merupakan pertarungan yang membuat reputasinya turun drastis. Bagaimana mungkin dia bisa menghadap sang Raja jika begini... itulah yang sedang dia pikirkan sekarang.
“Kenapa wajahmu murung begitu, kakak.”
Seiga langsung berdiri saat mendengar suara yang dikenalnya. Dan disana dirinya bisa melihat seorang perempuan cantik yang umurnya lebih muda darinya. Seperti anak berusia empat belas tahunan. Saat mengetahui siapa yang menemuinya, Seiga tanpa sadar menyebutkan nama orang itu.
“Saniya... kenapa kau ada disini?” Tanya Seiga.
“Aku datang kesini untuk melihat pertarunganmu.” Saniya, sang perempuan cantik berambut pirang panjang ini mendekati orang yang dipanggilnya kakak. Dia tersenyum kearah Seiga lalu melanjutkan kembali perkataannya. “Walau kalah sekali pun kau terlihat sangat keren kak, ini bukanlah kalimat menghibur atau semacamnya. Tapi memang kau sangat keren kak, ayah juga pasti akan mengerti. Aku yakin ayah juga akan mengakui kekuatanmu itu.”
“Aku tahu ayah tidak akan berkata hal aneh karena kekalahanku. Tapi tetap saja hal ini membuatku kesal, aku sekarang ini merasa telah gagal memberikan nama baik untuk keluarga, kerajaan bahkan untuk rakyatku. Aku sebagai Pangeran kerajaan Swordia sudah gagal mengharumkan nama kerajaan kita.”
Nada suara yang begitu memilukan, menyalahkan diri sendiri yang menurutnya terlalu lemah. Bahkan tidak sanggup hanya untuk sekedar menatap sang adik, tentu saja begitu. Bahkan semua orang pasti akan memalingkan wajahnya dari orang yang berharga baginya saat dia telah mengecewakan harapan semua orang. Namun Seiga akan salah jika berpikir semua orang sama. Mungkin saja ada beberapa yang berbeda, seperti...
Puk
Kedua tangan perempuan yang bernama Saniya itu memegang pipi kiri dan kanan Seiga. Lalu menghadapkan kepala itu untuk melihat dirinya, saat itu tatapan Seiga membeku ditempatnya, dia terkejut saat melihat raut sedih sang adik. Lalu air mata jatuh ke atas pipinya, itu adalah air mata dari adiknya.
“Aku mengerti rasa sakit kakak, aku paham akan kekalahan itu. Aku juga merasakannya kak, tapi yang paling menyakitkan adalah saat melihat kakak terpuruk seperti ini. Itulah yang paling menyakitkan untukku, bahkan untuk ayah juga. Jadi jangan pasang wajah itu lagi kak, aku tahu kakak adalah orang hebat. Kakak adalah Pangeran yang akan terus maju dan membanggakan kerajaan Swordia, karena kakak yang aku kenal tidak akan pernah menyerah apapun yang terjadi.”
Mendengar perkataan sang adik, membuat Seiga terdiam. Dia bisa melihat perasaan semangat dari adiknya untuk menyemangati dirinya. Saat itu Seiga berpikir, sejak kapan dia lemah seperti ini, sampai adiknya sendiri yang menghiburnya. Memang setiap orang pasti ada yang berbeda, dan adiknya ini lah salah satu orang itu. Dimana dia lebih mementingkan keselamatan dirinya dibanding reputasinya sebagai seorang Pangeran. Dan karna hal itulah, dia terselamatkan oleh sang adik yang menyadarkannya dari rasa terpuruk dan keinginan untuk menyerah. Sekarang jiwa pantang menyerahnya sudah kembali, jika hari ini gagal maka dia akan terus mencoba di kesempatan yang akan datang, kesempatan dimana dia bisa mengharumkan nama kerajaannya. Pastinya waktu itu akan datang cepat atau lambat.
“Terima kasih Saniya.” Ucap Seiga dengan senyuman semangatnya.
“Sama-sama kak...” balas sang adik dengan senyuman manis diwajahnya.
__ADS_1
Hampir semua orang telah menghadapi sesuatu yang menjadi hambatan bagi mereka, namun itu hanya sebuah kata hampir, dimana ada satu orang yang tengah menghadapi sesuatu yang sangat besar. Sesuatu yang membuatnya kehilangan seseorang yang sangat berharga. Walau raganya ada didepan, namun ingatannya sudah hilang tanpa jejak...
Bersambung