
Pagi hari yang cerah seperti biasanya di kerajaan Northern Esla. Semua kegiatan berjalan seperti semestinya, para pelayan yang sibuk menyiapkan berbagai hal. Para prajurit yang selalu bersiaga demi keamanan istana. Dan disebuah kamar yang terlihat damai, itu menurut penglihatan orang lain...tapi menurutku sendiri... ini sangat berbahaya.
‘Kenapa ini bisa terjadi...’ batin Yugi.
Sekarang dikamar Yugi terdapat dua gadis yang tertidur sambil memeluknya. Tentu bagi kebanyakan pria pasti berkata kalau ini adalah surga dunia. Tapi apa yang dipikirkan oleh Yugi, menurutnya ini adalah penyiksaan batin yang keterlaluan. Disisi kanan terlihat Elsa yang begitu hebatnya bergelayut ditubuh Yugi. Sementara di kirinya terlihat Elna yang memeluk manja seolah tidak mau melepaskannya. Kedua tuan putri ini berebut kepemilikan atas Yugi, sementara untuk Yugi sendiri, dia hanya berpikir kenapa ini bisa terjadi padanya.
“Apa yang terjadi, seingatku kami berpisah setelah berpamitan ke kamar masing-masing. Lalu kenapa mereka ada dikamarku?” gumam Yugi dengan nada menahan hasrat akan kebutuhan masa remajanya. Mau bagaimanapun dia sudah dalam masa pubertas, disuguhi dua bidadari cantik pastilah menyiksa batinnya.
Tidak lama sebuah cahaya putih kebiruan muncul diatas Yugi dan membuat tidur kedua tuan putri terganggu. “Yugi...” teriak Yui dengan marah setelah cahaya menghilang. Sekarang Yui menindih Yugi tepat di bagian bawah, bagi Yugi sendiri kemarahan Yui terlalu menyiksa jiwanya. Pasalnya bukan kelihatan seram, tapi sangat atau malah terlalu imut.
‘Aku mohon, hentikan penyiksaan yang datang bertubi-tubi ini ya Tuhaaaannnnn...’ batin Yugi.
“Ada apa sih ribut-ribut?” tanya Elsa yang terbangun karena teriakan dari Yui. Saat Elsa melihat Yui yang menindih Yugi dengan begitu mesranya, hal pertama yang muncul dikepala Elsa adalah... hal yang tidak senonoh. “APA YANG KAMU LAKUKAAAANNN...” dengan reflek yang cepat, Elsa mendorong Yui dan membuatnya terjatuh dari kasur.
BRuuukk
“APA-APAAAN KAU INI...” Teriak Yui yang kembali berdiri dari terjatuhnya.
“Aku yang harusnya bilang begitu padamu... kenapa kamu menindih Yugi?” teriak Elsa penuh emosi.
“Apa, karena dia tuanku, terserah aku mau melakukan apa. Lagi pula kenapa pula kalian berada dikamar Yugi hah...” balas Yui sama emosinya.
“Bukannya seharusnya aku yang bilang begitu...” ucap Yugi dengan pelan dengan wajah yang penuh dengan keringat dingin.
“Lebih baik kamu diam saja dasar pedang tua...” ejek Elsa.
“Apa kau bilang...” marah Yui yang tidak terima dengan ejekan Elsa.
“Kenapa berisik sekali...” gumam pelan Elna yang baru bangun sambil mengucek kedua matanya.
Yugi yang mendengar gumaman Elna dengan segera mengelus kepalanya guna membuatnya tidur kembali, karena dia tidak mau pagi ini bertambah lebih buruk lagi. “Tidak ada apa-apa, kamu kembali tidur saja...”
“Baaiikkkkk...” ucap pelan Elna khas orang bangun tidur. Dengan manjanya Elna memeluk Yugi dan kembali tidur dengan damai.
“Seharusnya kamu tunduk pada senjata Dewa Naga...” ucap Yui dengan arogan.
“Hem, maaf saja... aku tidak akan tunduk pada pedang tua.” Balas Elsa dengan tatapan tajamnya.
“Kalian berdua sudah hentikan...” teriak Yugi yang berusaha melerai mereka berdua.
“Berani sekali kau manusia...” aura putih menyeruak dari tubuh Yui yang membuat suhu ruangan menurun drastis.
“Aku tidak akan kalah olehmu...” balas Elsa dengan aura biru mudanya yang membuat ruangan tambah dingin.
“”Rasakaannn...”
Keduanya saling menyerang dan...
Duuuaaaaarrrrrrrrr
Terjadi ledakan yang sangat hebat dikamar Yugi yang membuat semua orang panik dibuatnya.
Tempat berpindah di lapangan istana, tempat yang biasa digunakan untuk latihan. Disana Yugi berdiri di hadapan dua orang yang menyebabkan kamarnya meledak. Mereka duduk dengan wajah menunduk ke bawah pertanda menyesali perbuatan mereka.
“Aku tidak mengerti kenapa kalian sampai membuat kekacauan di pagi hari ini, terutama untukmu tuan putri Elsa... kenapa kamu meladeni perkataan Yui?” tanya Yugi.
“Itu karena, dia sangat menyebalkan...” ucap Elsa pelan dengan nada masih kesal.
“Untuk Yui aku memakluminya karena sifatnya memang seperti itu. Tapi untukmu, kenapa sifatmu berubah 180 derajat setelah pertarunganku dengan Rexas...” ucap Yugi sambil menghela nafas, dia tidak menyangka tuan putri yang selalu bersikap elegan dan sempurna berubah secepat ini.
“Itu... karena salahmu.” Ucap Elsa dengan nada pelan yang tidak bisa didengar oleh siapa pun.
“Apa, kau mengatakan sesuatu...?” Tanya Yugi yang tidak bisa mendengar perkataan Elsa.
“Hmph... bukan apa-apa...” jawab Elsa yang kesal karena ketidak pekaan Yugi yang terlalu over itu.
“Ada ribut-ribut apa sepagi ini...” seorang wanita yang sudah berusia genap 30 tahunan dengan rambut hitamnya yang terurai dan mata ungunya yang begitu menawan berjalan kearah Yugi.
“Guru Yuko...” Yugi menatap gurunya itu dengan pandangan ramah.
“Guru, bukankah guru menjalankan sebuah misi selama 2 minggu, kenapa bisa ada disini?” tanya Elsa yang terkejut melihat keberadaan gurunya itu.
“Aku sudah menyelesaikan misiku, kemudian kembali secepat mungkin kesini... aku tidak menyangka ternyata seorang petualang ini adalah pengguna pedang suci yang melegenda itu. Aku benar-benar beruntung menjadikannya muridku... mungkin dengan begitu aku juga akan menjadi legenda juga.” Canda Yuko sambil mengacak rambut Yugi dengan senangnya.
__ADS_1
Sementara Yugi yang diperlakukan itu hanya mampu menahan malu dengan rona merah di kedua pipinya. “Hentikan guru Yuko...” ucap Yugi pelan.
“Maaf maaf, hehehehe...” tawa kecil Yuko lontarkan kepada murid lelakinya itu.
“Aku juga minta maaf guru, karena aku tidak memberitahu yang sebenarnya sejak awal...” ucap Yugi dengan nada menyesal.
“Tidak usah dipikirkan, semua orang pasti punya rahasia masing-masing. Jadi jangan khawatir...” senyuman Yuko membuat Yugi tersenyum lega.
Entah kenapa, Elsa dan Yu saling memandang dengan pandangan saling curiga terhadap Yuko. Mereka berpikir kalau Yuko bisa saja menjadi saingan mereka.
“Kamu berpikir apa yang aku pikirkan?” tanya Yui.
“Iya... guru Yuko patut dicurigai.” Balas Elsa. “Ditambah...” Elsa menatap kearah dada Yuko yang berukuran G cup itu.
“Senjata yang dia miliki sangat berbahaya...” ucap Yui yang juga menatap dada Yuko.
Yuko yang menyadari kedua orang itu yang menatap dirinya hanya bisa memandang mereka bingung. “Kenapa kalian memandangku seperti itu?”
“Sangat berbahaya...” dengan ekspresi seriusnya Yui menatap dada Yuko yang bergoyang saat bergerak menghadap mereka.
“Hm...” Elsa membalasnya dengan anggukan kepala yang memasang ekspresi serius juga.
“Sudahlah lupakan, sebaiknya kita berkumpul diruang utama.” Ucap Yugi pada dua orang yang sepertinya sudah kembali akrab.
“Aku juga sebaiknya melapor pada Raja, oh ya Yugi... nanti aku ingin melihat kemampuanmu dengan pedang legendaris milikmu itu. Sampai jumpa...” Yuko menghilang dalam lingkaran teleportasi yang menelannya tanpa sisa.
Yugi hanya membalasnya dengan senyuman hangat sambil berjalan meninggalkan taman istana diikuti dua perempuan dibelakangnya.
“Aku tidak menyangka kedua putriku bisa senekat itu hahahaha...”
Sekarang mereka sedang berkumpul diruang utama istana, sang raja dan ratu menceramahi kedua putri mereka. Sementara Yugi hanya melihat dari kejauhan bersama dengan dua pelayan yang berada disampingnya.
“Sepertinya yang mulia raja Reulad terlihat senang dibanding marah.” Yugi memperhatikan kedua sepasang suami istri itu yang malah terlihat tengah membahas kejadian pagi tadi dengan senyuman senang di wajah mereka.
“Lalu apa yang terjadi...?” sekarang giliran sang ratu yang berbicara dengan kedua anak mereka.
“Sayangnya tidur kami terganggu karena kehadiran Yui, padahal sedikit lagi Yugi mau menyentuhku.” Ucap Elsa dengan nada kesal.
“Hm hm...” Elna mengangguk antusias dengan mata berbinar.
“Maaf Tuan Yugi, saya tidak bisa memberitahukannya...” jawab Rufald dengan nada kalem.
Yugi menatap kearah pelayan yang satu lagi dengan pandangan bertanya. “Maaf, saya juga tidak bisa memberitahu anda...” ucap Rofald.
“Aku kan belum bilang apa-apa...”
“Tapi wajah anda mudah ditebak Tuan Yugi...”
“Kalian kakak beradik sangat kompak ya...” balas Yugi yang melihat kelakuan Rofald dan Rufald yang saling melakukan tos dengan senangnya. “Sepertinya ada yang sedang kalian rahasiakan dariku...” gumam Yugi.
“Itu Cuma perasaan anda tuan Yugi...” balas Rofald.
Rofald, dia kepala pelayan istana ini... aku baru mengetahuinya kemarin setelah aku siuman. Rofald merupakan kakak dari Rufald... pantas saja mereka sangat mirip. Semenjak kejadian kemarin malam, sifat raja dan ratu terlihat sangat aneh. Begitu pula kedua pelayan ini, ditambah Elsa dan Elna semakin agresif padanya. Seolah aku adalah sasarannya disini... jika itu benar, maka aku akan berada dalam bahaya... lelahnya...
“Senang rasanya ya, menjadi rebutan dari dua tuan putri kerajaan.” Ucap suara seorang wanita yang berada dibelakang Yugi, dia adalah Yuko, dia merupakan guru yang sudah mengajari Yugi selama satu minggu. Dengan senyuman ramahnya, Yuko berdiri di hadapan Yugi sambil berkacak pinggang. “Sudah tidak bertemu selama satu minggu, muridku ini sudah jadi populer...”
“Hentikan ejekanmu itu guru... aku sedang kesusahan sekarang.” Ucap Yugi dengan nada lelah.
“Benarkah, kamu tau ada satu hal yang bisa membuatmu keluar dari masalahmu sekarang...” Yuko memeluk Yugi dari belakang sambil menempelkan dadanya yang super itu.
Yugi dengan wajah memerahnya, merasakan sebuah kelembutan dibelakang punggungnya, dia tau itu apa. Dengan sekuat tenaga dia melawan hasratnya untuk tidak berbalik dan menyerang gurunya. “A-apa yang kau lakukan guru Yuko?”
“Apa kamu menganggapku hanya sekedar gurumu...” goda Yuko dengan nada lemah lembut yang membuat Yugi terangsang.
“K-kamu adalah guruku...” gagap Yugi yang bisa merasakan nafas Yuko yang begitu terasa ditelinganya.
“Apa kamu tidak pernah berpikir kalau aku ini wanita pada umumnya, walaupun aku lebih tua darimu. Tapi aku masih terlihat muda kan... lagi pula aku belum menikah, aku juga belum mempunyai seseorang yang istimewa. Bagaimana...” Yuko meraba dada bidang Yugi dengan begitu sensual. Nadanya yang begitu halus bagaikan benang sutra yang membelai wajah.
‘Tenangkan dirimu Yugi... benar, dia pasti hanya bercanda, jangan termakan dengan godaannya.’ Batin Yugi sambil memejamkan kedua matanya.
Sementara dua pelayan sebelumnya sudah pergi meninggalkan Yugi dan Yuko karena mereka merasakan akan adanya firasat buruk jika terus berada disana. Yugi yang menyadari hal itu segera membuka matanya, digaris penglihatannya sekarang, disana terlihat aura dari dua gadis yang menatapnya seperti mangsa yang baru saja terjebak dalam perangkap musuh.
“T-tunggu sebentar Elsa, Elna...” ucap Yugi yang berusaha menenangkan mereka.
__ADS_1
Sementara Yuko masih saja memeluk Yugi dari belakang tanpa menghiraukan permusuhan dari duo kakak beradik didepannya. Sementara raja dan ratu sudah pergi lebih dulu untuk menghindari dampak yang akan terjadi nantinya.
“Guru, apa yang kau lakukan...” aura Elsa semakin menguar dengan ganasnya.
“Lepaskan kak Yugi...” tidak jauh beda dengan sang adik yaitu Elna yang sudah menyiapkan bola air bertekanan tinggi.
“Wah wah... bagaimana ini ya.” Bukannya melepaskan, Yuko malah memeluk Yugi semakin erat.
Yugi semakin berkeringat takut dengan aura kakak beradik yang semakin menjadi-jadi tatkala Yuko yang memeluknya semakin erat. “Apanya yang bagaimana, sekarang kita harus pergi dulu dari sini...” teriak Yugi panik.
“Dasar tukang selingkuh.. “ Elsa melemparkan bola es bertekanan tinggi kearah Yugi.
“Kak Yugi buaya darat...” begitu pula Elna yang melemparkan bola air dengan cepat kearah Yugi.
Duuuuaaarrrrr
Ledakan yang begitu hebat mengguncang istana, semua pelayan dan penjaga yang mengetahui asal ledakan itu hanya santai saja dan mengabaikannya seolah tidak terjadi apapun. Karena mereka tau siapa yang melakukan ledakan tersebut.
Setelah kejadian yang tidak mengenakan itu, sekarang Yugi dipanggil ke ruang singgasana untuk menghadiri sebuah rapat dengan empat tetua mengenai dirinya yang merupakan pengguna senjata suci. Sesampainya disana, Yugi berdiri berhadapan dengan Raja Reulad yang duduk di singgasananya.
“Saya datang menghadap yang mulia Reulad.” Ucap Yugi dengan sopan.
“Hm, baiklah karena Yugi sudah tiba, kita akan langsung mendiskusikannya sekarang.” Reulad memberikan wewenang kepada empat tetua untuk menjelaskan tentang situasi sekarang.
Thorn berjalan satu langkah ke depan dan menatap Yugi dengan serius. “Tuan Yugi, kami sepakat untuk memberikanmu benda peninggalan kaisar terdahulu sebelum beliau menyegel pedang suci Eternal Snow.”
Yugi terkejut atas pernyataan tetua Thorn. ‘Jangan-jangan itu...’ batin Yugi.
[“Ya tidak salah lagi, pelengkap dari pedang Eternal Snow...”]
‘Tapi kenapa?’ Batin Yugi yang bingung akan situasi sekarang ini.
“Seharusnya anda sudah diberitahu oleh sang Dewa Naga nona Yui... tentang benda pelengkap Pedang Eternal Snow.” Ucap tetua Pieros.
“...” Yugi hanya mampu mengangguk membenarkan pernyataan Pieros.
“Sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus dibahas, mari kita pergi sekarang...” Ares membacakan sebuah mantra, secara tiba-tiba cahaya berwarna merah menyelimuti mereka semua, dan dalam sekejap ruang singgasana itu kosong tanpa ada satu orang pun disana.
Disebuah gunung terdapat cahaya merah yang muncul secara tiba-tiba, tidak lama cahaya itu mulai menghilang dan menampakkan anggota kerajaan, empat tetua, dua pelayan dan Yugi yang berada didepan sebuah gua. Semua orang menatap mulut gua itu dengan pandangan serius, kecuali Yugi dan Elna yang memandang gua itu penuh kebingungan.
“Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku kesini.” Gumam Elsa yang dapat didengar oleh adiknya.
“Ini tempat apa kak?” tanya Elna.
“Ini adalah tempat benda peninggalan leluhur kita, kakak pernah sekali diajak oleh ayah kesini.” Jelas Elsa.
“Bagaimana kalau kita langsung masuk saja.” Tetua Kars langsung memimpin jalan diikuti oleh tetua yang lain dan yang terakhir kepala dan wakil kepala pelayan.
Aku masuk ke gua lagi untuk kesekian kalinya... tidak ada hal yang istimewa, semua gua terlihat sama... hanya saja gua ini terdapat berbagai tulisan kuno yang tidak bisa aku baca. Semakin dalam kami memasuki perut gua... semakin lama gua ini mulai bersinar dari setiap dinding, atap, bahkan alasnya juga ikut bersinar. Aku terkagum melihat kilauan yang begitu indah, begitu pula Elna yang terlihat sangat senang melihatnya.
“Kita sudah sampai...” ucap tetua Kars. Didepan mereka sekarang terdapat sebuah tempat yang begitu luas.
“Dimana kita?” tanya Yugi melihat sekelilingnya dengan kagum.
“Kita berada didalam perut gua gunung berapi yang sudah tidak aktif, dengan kata lain kita berada dipusat gunung berapi. Atapnya hancur akibat letusan terakhir seribu tahun yang lalu.” Semua orang menatap ke atas dimana langit biru bisa mereka lihat dengan jelas. “Menurut sejarah gua ini berubah menjadi sebuah padang rumput setelah raja terdahulu menyegel benda yang disebut sarung pedang pelengkap Eternal Snow.” Setelah penjelasan dari tetua Thorn, mereka melihat sebuah sarung pedang berlambangkan naga dengan permata biru tua diatasnya.
Sarung pedang itu bersinar merespon pedang Eternal Snow yang baru saja Yugi keluarkan dari dimensi buatan. “Sarung itu, seperti sedang memanggilku.”
“Sekarang giliran anda Tuan Yugi, ambillah sarung pedang itu. Dengan begitu kekuatan anda akan semakin bertambah.” Ucap tetua Pieros.
Yugi berjalan perlahan kearah sarung pedang yang tertancap di tanah agak jauh darinya. Tinggal beberapa langkah lagi Yugi akan mencapai sarung pedang itu, tapi sebelum sempat menggapai nya, sebuah gempa tiba-tiba terjadi membuat keseimbangan Yugi goyah. Tapi dengan siaga Yugi memasang kuda-kuda bertahan untuk menahan guncangan yang cukup dahsyat itu.
“KAK YUUUGGIIIII...” Teriak Elna yang mulai terpisah dengan Yugi dikarenakan tanah yang mereka pijak terbelah dua.
“ELNAAAA...” teriak Yugi yang juga berusaha untuk kembali, tapi apa daya tanah itu semakin membalah dan menjauh.
Kini tersisa hanya Yugi sendiri dengan sarung pedang Eternal Snow didepan matanya. Dengan tekad yang bulat, Yugi akan mencabut sarung pedang itu, dan berniat kembali setelah mendapatkannya.
“Lucu sekali, sepertinya ada manusia yang bosan hidup.”
Yugi dibuat terkejut dengan kemunculan naga yang begitu besar di hadapannya. Naga itu memiliki sisik berwarna biru dengan mata kuning dan pupil hitam vertikal yang menakutkan. Sayapnya yang besar mengepak kuat membuat angin berhembus kencang di sekitarnya. Yugi harus bertahan karena hembusan angin itu hampir menerbangkannya.
“Apa kau siap untuk mati...”
__ADS_1
Aku tidak bisa berkata apapun lagi, di hadapanku sekarang seekor naga yang sangat besar sedang terbang dengan sayapnya. Menatapku dengan pandangan tajam khas seorang predator yang siap menerkam mangsanya. Di bawah langit biru ini... aku harus menghadapi ras terkuat yang pernah ada...
Bersambung