KAISAR ES

KAISAR ES
PERJODOHAN YANG TIDAK DIHARAPKAN


__ADS_3

Aku tidak tau apa yang aku pikirkan waktu itu... langkah kaki ini membawaku kepada tatapannya yang begitu lembut. Mata seputih salju itu menyiratkan akan kehangatan mentari. Rambutnya yang biru keputihan seperti langit cerah tanpa awan. Wujudnya bagaikan bidadari salju yang turun dari langit.


“Apa kamu akan berdiri saja disana...”


Mendengar panggilannya aku pun tersentak seketika... dengan tenang kakiku melangkah ke hadapannya.


“Sedang menikmati angin malam?”


Pertanyaanku membuat perempuan itu tertawa kecil sembari memandangku.


“Apa kamu mau duduk...?”


“Dengan senang hati.”


Aku menerima tawaran dari wanita itu... kami pun duduk bersebelahan. Bisa aku hirup aroma yang begitu wangi dari tubuhnya. Aku sekilas meliriknya, pandangannya tidak pernah lepas dari bulan yang bersinar dilangit malam.


“Yugi... kamu...”


Perempuan itu menggantung perkataannya, membuatku penasaran apa yang akan dikatakan selanjutnya. Tatapannya yang lembut digantikan dengan wajah yang serius, walau begitu tidak mengurangi paras cantiknya.


“Menyembunyikan sebuah rahasia kan...?”


Saat itu waktu terasa berhenti sejenak... angin yang tidak begitu kencang, tiba-tiba berhembus cepat. Rambutku dan perempuan itu berkibar tertiup angin, pandanganku membulat mendengar pertanyaannya. Terkejut... kaget... entah apa yang harus aku katakan, tapi didalam pikiranku, aku harus tetap tenang. Sejenak kepalaku ku tundukkan, membuat poniku menutupi wajah. Kedua tanganku saling bertautan, memikirkan sebuah alasan yang tepat untuk dikatakan.


“Tidak perlu berpikir keras hanya untuk menghindari pertanyaanku. Aku bisa membaca isi hatimu...”


*Membaca isi hati... apa maksudnya... aku pun menatap putri tertua yang tidak lain calon ratu dimasa depan, E*lsa.


“Mataku ini bisa melihat hati seseorang... kemampuan ini ada sejak aku lahir.”


Aku menatap mata seputih salju itu... ia juga bisa merasakan kekuatan dari mata itu. Sesuatu yang tidak dimiliki penyihir sebelumnya.


“Walaupun dibilang membaca isi hati, itu hanya sebuah julukan saja. Aku hanya bisa merasakan debaran jantung dan perasaan manusia melalui mata ini. Jadi aku bisa tau jika seseorang berbohong atau berkata jujur padaku.”


“Setelah mengetahui ini, apa yang akan Anda lakukan, tuan putri...?”


Aku melayangkan pertanyaan yang membuatnya tersenyum kearahku. Walau dia mengetahui kalau aku berbohong, tapi aku tidak merasa terancam sama sekali. Seolah tidak terjadi apa-apa...


“Tidak ada... aku hanya meminta satu hal padamu.”


Elsa berjalan menuju air mancur... aku pun mengikutinya dari belakang, tidak lama Elsa pun berbalik dan menghadapku. Air mancur dibelakangnya membuatku memandangi nya. Begitu berkilau diterpa cahaya bulan.


“Tolong aku...”


Pagi hari yang cerah di kerajaan Northern Esla... di sebuah kamar seorang pemuda memandangi matahari terbit dari jendela. Pikirannya mengingat akan permintaan tuan putri yang tidak mungkin bisa ia kabulkan. Walau begitu tatapannya penuh akan harapan padanya, seolah hanya dia saja yang bisa membantunya. Yugi tau akan resiko yang akan dihadapinya.


“Apa yang harus aku lakukan?”


[“Yugi... kau terlalu memikirkan perkataannya.”]


“Yui... mungkin aku akan ikut campur dalam kehidupan orang lain.”


[“Jika itu yang kamu mau... aku akan mendukungmu.”]


“Terima kasih...”

__ADS_1


Seminggu berlalu sejak aku berada di kerajaan Northern Esla, pada saat itu juga banyak hal yang telah terjadi. Kedekatanku dengan Elna semakin erat, bahkan ia menganggapku seperti kakaknya sendiri. Selain menemani Elna bermain, aku juga banyak belajar di perpustakaan ditemani oleh Elsa. Itu baru pertama kalinya aku melihat wajah seriusnya saat sedang membaca buku. Tidak lupa juga aku sering latihan bersama Yuko, entah bagaimana kami menjadi akrab walaupun aku masih waspada terhadapnya. Kejadian itu berawal saat aku sedang latihan seorang diri di belakang istana, tepatnya air terjun es abadi... disanalah Yuko memergokiku yang tengah bersemedi tanpa baju, hanya memakai celana latihan pendek hitam. Tentu saja aku terkejut waktu itu, karena hawa keberadaan Yuko sangat tipis sekali sampai sulit untuk dideteksi. Tapi aku cukup berterima kasih padanya, karenanya aku sekarang menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Metode yang diberikannya juga mudah untuk aku pahami. Dilatih oleh jendral penyihir dan dewa naga es membuatku semakin cepat naik level. Seperti halnya sekarang ini...


“Bagaimana, kamu merasakan sesuatu?” tanya Yuko.


“I-iya... aku merasakan tanganku mau patah...” jawab Yugi sambil menahan sesuatu diatas kepalanya.


“Bagus bagus... teruskan ya.” Ucap Yuko dengan senyuman tidak bersalahnya.


“Bagus dari mananya, dasar iblis...” sekarang ini Yugi tengah mengangkat batu berukuran dua kali lipat dari tubuhnya, menahannya selama mungkin. Ini adalah salah satu metode yang diberikan oleh Yuko untuk melatih Yugi. “Apa tidak ada cara yang lain hah...” teriak Yugi.


“Kau ini terlalu banyak mengeluh... bukannya kau ingin menjadi lebih kuat secepat mungkin.” Balas Yuko tidak peduli.


“Setidaknya berikanlah metode yang lebih manusiawi.” Sekarang ini Yugi benar-benar kesal dengan Yuko yang memberikannya sebuah latihan bagai neraka ini. Walau sebenarnya dia pernah mengalami hal yang lebih parah dari ini, dan itu terjadi saat pelatihannya bersama Yui.


“Kamu ini... dengarkan baik-baik, latihan ini berguna untuk melatih konsentrasi dan kontrol sihir. Dengan cara mengalirkan energi sihir ke seluruh tubuh, kau akan memiliki kontrol yang bagus dan fisik yang kuat. Jangan berpikir sihir hanya bisa menciptakan sebuah ledakan saja, ingat baik-baik. Sihir bisa digunakan untuk memperkuat tubuh, mempercepat gerakan, untuk mencapai hal itu maka diperlukan kontrol sihir yang bagus.” Balas Yuko.


“Aku tau itu... t-tapi bisakah metodenya tidak seperti ini?” tanya Yugi yang sudah tidak kuat menahan batu besar itu.


“Untuk dirimu, inilah metode yang paling efektif, tidak hanya meningkatkan kontrol sihir, ini juga bagus untuk latihan fisikmu.” Jawab Yuko dengan tenangnya.


“S-siaalll...”


Grek.. gretakk.. blaaaarrrr


Batu yang diangkat oleh Yugi hancur seketika, Yuko yang melihatnya hanya mampu terkejut dibuatnya. Jika dilihat lebih teliti, batu itu hancur karena tekanan energi milik Yugi yang terlalu besar sehingga mengakibatkan batu tersebut hancur.


“Sudah kubilang kan, kontrol sihirmu masih belum cukup. Latihlah lagi, ngomong-ngomong batu cadangannya ada dibelakangmu.” Ucap Yuko dengan mode datarnya yang acuh.


“Kau sudah mempersiapkannya...” teriak Yugi dengan tampang bodohnya.


“Lupakan soal iblis, kau bahkan lebih kejam dari ituuuuu...” teriak Yugi.


‘Benar-benar, pemuda yang menarik... tapi kekuatannya itu, dia bukan pemuda biasa...’ batin Yuko.


Namaku Elsa... seorang tuan putri pertama dari kerajaan Northern Esla. Yang juga merupakan penerus selanjutnya... kehidupanku sebagai seorang tuan putri berjalan dengan baik. Walau banyak hal yang membuatku bingung, tapi aku terus mencari tahu dan mempelajarinya lagi dan lagi... kegiatanku sebagai tuan putri sangat padat, mulai dari belajar tata krama, berjalan tegak selayaknya tuan putri, bertemu dengan orang-orang penting, belajar sejarah kerajaan, berlatih ilmu sihir, latihan memasak dan masih banyak lagi. Ayahanda bilang kalau penerus kerajaan harus pintar dalam memilih keputusan, karena hal itu akan mempengaruhi rakyatnya. Oleh karena itu aku sering membaca banyak buku di perpustakaan seorang diri. Disela kegiatan padatku, aku juga tidak lupa untuk menyempatkan diri bermain dengan adik tersayangku. Semua orang memandangku sebagai tuan putri yang sempurna. Karena bukan hanya pintar tapi juga bakat sihirnya yang terlampau melebihi gadis seumurannya. Tapi menurutku aku bukanlah tuan putri yang sempurna, menurutku sendiri... aku ini seperti sebuah benda yang ditempa sampai berbentuk sempurna. Yang membuatku seperti ini bukanlah ayah dan ibuku, tapi para tetua. Mereka mengatakan kalau masa depan kerajaan ada ditanganku. Aku pun sedikit takut dan tidak mau berbuat kesalahan, oleh karena itu aku mengikuti saran para tetua. Tapi ibuku berkata lain...


“Putriku, kamu tidak usah memikirkan apa yang dikatakan oleh orang lain... kamu tetaplah anak ibu.”


Ibu memberiku kebebasan, ibuku tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku. Selain itu ayah juga pernah berkata padaku...


“Elsa, jalanilah hidup sesuai keinginanmu, kamu tidak perlu mengkhawatirkan ayah dan ibumu, asalkan kamu bahagia, itu sudah cukup untuk kami.”


Aku bersyukur memiliki orang tua yang sangat menyayangiku...


“Kakak...”


Begitu pula adikku... mereka selalu mendukungku. Walau begitu aku tidak bisa bertindak egois, aku juga harus memikirkan perasaan rakyatku... aku ingin menjadi pemimpin yang bisa melindungi mereka semua. Bahkan sekarang pun...


“Elsa, putra dari kerajaan tetangga akan segera datang kemari...” ucap sang raja Reulad pada putrinya.


“Itu bagus sekali, jika rencana pernikahan ini berjalan dengan baik, kita bisa menjalin hubungan yang lebih erat dan tidak akan ada lagi hal yang perlu ditakutkan akan masa depan kerajaan ini.” Ucap sang tetua.


Iya benar... sebuah pernikahan dimana putra dan putri dari masing-masing kerajaan akan menjalin hubungan atas dasar politik. Hal ini sudah sering terjadi di setiap kerajaan guna membina kerja sama satu sama lain yang saling menguntungkan. Jika kerajaan Northern Esla bersekutu dengan kerajaan tetangga, maka keamanan dan kebutuhan ekonomi kerajaan akan terjamin. Ini lah yang disebut pernikahan politik.


“Anakku, apa kamu yakin dengan ini?”

__ADS_1


Ibuku yang berada disampingku, merasa khawatir padaku. Seorang ibu pasti tau perasaan anaknya karena mereka terhubung oleh batin yang kuat antara orang tua dan anak. Tapi aku tidak mau melihat mereka khawatir... aku pun menjawab dengan senyuman yang dipaksakan.


“Ya... demi semua orang di kerajaan ini, aku bersedia.”


Haahh... aku mengatakannya


“Hm... seperti yang diharapkan dari putri tertua. Kita harus menyambut mereka dengan baik.” Ucap tetua kepada semua orang yang hadir dalam rapat kerajaan tersebut.


Tidak lama sebuah kereta kerajaan dengan corak api mendekat kearah gerbang Northern Esla. Semua penjaga berbaris untuk menyambut kedatangan sang raja dari kerajaan lain. Sebuah terompet pun dibunyikan menandakan bahwa raja sudah tiba.


“Suara apa itu?” tanya Yugi yang kini masih berada ditempat latihan, tapi ia sudah memakai pakaiannya dengan rapih menandakan latihan hari ini sudah usai.


“Sepertinya raja dari kerajaan Vouleftis telah tiba.” Jawab Yuko.


‘Vouleftis, bukankah itu kerajaan yang berada di seberang perbatasan Northern Esla. Jadi sudah saatnya ya...’ batin Yugi.


“Kau kenapa, wajahmu terlihat serius sekali?” tanya Yuko.


“Guru Yuko... terima kasih atas segala bimbingan yang telah Anda berikan kepada saya.” Ucap Yugi sambil menundukkan kepalanya tanda hormat pada gurunya.


“Kenapa tiba-tiba berkata begitu?” tanya Yuko bingung.


“Tidak... hanya saja saya ingin berterima kasih, karena sudah mau mengajari saya.” Ucap Yugi dengan nada santai sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


“Tidak masalah, lagi pula putri Elna yang menginginkannya, dan juga aku bangga memiliki murid yang berbakat sepertimu. Kamu itu, hampir mirip dengan Esla sewaktu aku mengajarinya sihir untuk pertama kalinya. Kalian benar-benar giat dan tekun dalam menjalani latihan... sungguh aku senang sekali melihatnya, seolah aku sedang mengajari seorang murid yang akan mengubah masa depan kerajaan ini. Tapi kalau itu benar, aku sangat menantikannya...” senyuman Yuko terlihat sangat natural dan alami. Begitu cantik dan lembut...


Yugi menggelengkan kepalanya melihat wajah Yuko, terlihat semburat merah muncul di kedua pipinya. ‘Apa yang kau pikirkan bodoh... dia itu gurumu, aku hampir saja tertipu oleh penampilan luarnya. Walaupun begitu dia sudah berumur 30 tahun. Dia seperti seorang kakak bagiku... sadar Yugi sadar.’ Batinnya penuh akan gejolak, memikirkan betapa cantiknya gurunya itu saat sedang tersenyum.


“Sudah saatnya aku pergi... sampai jumpa Yugi.” Yuko menghilang melalui sihir teleportasi meninggalkan Yugi sendirian.


“Sebaiknya aku juga pergi...” Yugi melompat cepat ke udara dan terbang menggunakan sayap biru muda yang terbuat dari energi sihirnya yang berbentuk sayap naga.


Diruang kerajaan berkumpul sang raja dan ratu Northern Esla bersama dengan kedua putrinya, dan juga raja berserta pangeran dari kerajaan Vouleftis. Disini mereka akan mendiskusikan tentang masa depan anak-anak mereka. Tentu saja ini juga menyangkut kerja sama antar kedua kerajaan.


“Sungguh kehormatan anda datang kesini Rouxias Vouleftis.” Ucap sang raja Reulad.


“Kehormatan itu milikku Reulad Northern Esla.” Balas Rouxias.


“Bagaimana kalau kita langsung saja pada intinya... sepertinya putriku bersedia menikah dengan putra Anda.” Ucap Reulad.


“Itu bagus, putraku juga sudah setuju dan mau menikahinya.” Balas Rouxias.


“Kalau begitu kita tinggal menentukan tanggal pernikahan mereka.” Ucap sang istri raja, Raniya.


“Iya...” balas kedua raja tersebut.


Sementara terjadi kecanggungan diantara kedua putra putri yang akan dijodohkan itu. Rambut jingganya yang begitu rapih terurai ke belakang, wajahnya yang tampan dengan mata merah yang membara layaknya api, tatapannya begitu menghangatkan, sang pangeran yang sepertinya berusia sekitar 21 tahun menatap kearah Elsa dengan senyuman menawannya. Sedangkan Elsa hanya membalasnya dengan senyuman tipis supaya tidak menyinggung pangeran.


Namaku Rexas Vouleftis, aku merupakan putra pertama kerajaan Vouleftis sekaligus pewaris selanjutnya. Sekarang aku tengah menghadiri sebuah pertemuan guna membahas acara pernikahanku dengan putri Elsa Northern Esla. Sejak aku kecil kami sering bermain bersama. Waktu itu untuk pertama kalinya aku tertarik dengan seorang wanita. Dia memberikan sebuah warna baru dalam hidupku. Selama ini yang aku pelajari hanyalah bagaimana membuat semua rakyatku hidup damai tanpa memikirkan tentang perasaan akan cinta. Tapi setelah aku bertemu dengannya, rasa itu muncul seketika, ini memang aneh, seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 14 tahun menyukai seorang anak perempuan berusia 9 tahun, itu dulu dan sekarang rasa itu kian bertambah. Tapi aku tidak peduli, walau kami berbeda umur, aku tidak memperdulikan hal itu, yang aku tau sekarang aku sangat ingin bersama dengannya dan terus melihat senyuman cantiknya.


Elsa yang merupakan korban dari perjodohan ini hanya bisa tersenyum palsu untuk menyembunyikan rasa sedihnya. Dia tidak mau membuat keluarganya khawatir akan dirinya, ia lebih memilih mengorbankan diri dibanding melihat keretakan kerja sama antar dua kerajaan. Pandangannya hanya melihat kearah masa depan kerajaan. Jadi menurutnya melakukan pengorbanan seperti ini tidaklah begitu besar. Karena kebahagiaan semua orang lebih penting baginya.


Tiba-tiba sebuah angin berhembus cukup kencang membuat semua prajurit bersiaga. Begitu pula dengan anggota kerajaan kecuali dua raja yang hanya tenang-tenang saja, mungkin karena mereka merupakan manusia terkuat yang memiliki gelar kaisar. Dari balik pusaran salju memunculkan seorang pemuda yang dengan tatapan biru langitnya yang terang membuat prajurit memandangnya takut.


“Maaf atas kelancangan saya... TAPI SAYA MENOLAK PERJODOHAN INI.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2