
Kompetisi dimulai, kelima peserta sudah berada didalam colosseum. Urutan pertarungan juga sudah ditentukan lewat undian, mereka yang tidak bertarung duduk di bangku penonton khusus peserta kompetisi. Pembuka dari pertarungan semi final ini adalah Maruya melawan Yugi. Di awal pertarungan mereka menunjukkan aura seorang Dragon Slayer. Dengan kekuatan biru dan merah yang mendominasi arena, tanah pun berguncang karena kekuatan mereka. Debu berterbangan menutupi kedua peserta yang bertarung itu, dengan serangan pertama, mereka saling menerjang dengan satu tinju kuat yang diarahkan langsung ke lawannya. Tinju itu pun bertemu dan meledak di tengah arena dengan warna merah dan biru. Kobaran sepanas gunung berapi dari Maruya, hawa dingin yang menusuk tulang dari Yugi, membuat semua penonton merasa terkagum-kagum, padahal ini baru awal pertarungan, tapi sudah ditunjukkan sebuah kemampuan yang menakjubkan. Mereka masih menebak diantara kedua Dragon Slayer ini, siapakah yang akan menang.
Duuuuuuuuaaaaaaarrrrrrr
Tinju berlapis kobaran api dan hawa dingin es yang terus mendominasi, terlihat wajah keduanya mengeras dikala mendorong satu sama lain untuk memperlihatkan siapa yang paling kuat diantara mereka. Tapi itu tidak berlangsung lama, Yugi yang melihat ada peluang langsung saja memutar badannya dan membelokkan lesatan tinju Maruya sehingga tinju tersebut melewati tubuhnya. Tidak berhenti disana, dengan tinju berlapis es miliknya itu, Yugi berteriak dan melepaskan serangannya.
“Ice Dragon Punch.”
Buak
Suara tinju menghantam punggung Maruya, membuat orang yang diserang itu merasakan syok sesaat sebelum akhirnya melesat jauh karna terdorong sangat kuat.
Syuuuuttttt
Blaaaartt
Kemudian berputar sebentar ketanah dan memantul lalu menghantam kuat ke daratan sehingga tanah pun membentuk cekungan kecil. Dari serangan kedua yang berhasil menghantam Maruya itu, sudah bisa dipastikan kalau Yugi mengerahkan sihirnya pada satu titik pusat ditangan kanannya.
Namun serangan itu masih belum cukup untuk mengalahkan Maruya, pemuda dengan elemen api itu mulai berdiri kembali, dan dengan tangan kirinya dia mengusap darah kecil di sudut bibirnya yang memang sempat ia muntahkan saat Yugi menghantam punggungnya dengan tinju berlapis es itu.
Dengan senyuman senang dan bersemangat, Maruya berkata. “Tinju yang kuat...”
Yugi sendiri tidak terlalu terkejut, karena memang tubuh seorang Dragon Slayer memiliki kekebalan yang sangat kokoh seperti naga. Dia pun membalas perkataan Maruya dengan tenang. “Itu masih belum seberapa, masih ada yang lainnya.”
“Kalau begitu tunjukkan padaku.” Maruya mengobarkan kembali api di kedua tangannya, dengan melompat tinggi dia mengucapkan jurusnya. “Fire Dragon Wings.”
Api di kedua tangannya membentuk sayap naga yang melingkar dengan kobaran besar yang langsung mengarah pada Yugi. Melihat hal itu Yugi pun melompat mundur dengan cepat untuk menghindari serangan tersebut.
Duuuuaaarrr
Tempatnya berdiri tadi sudah gosong dengan api yang membakar, terlihat cekungan yang cukup dalam akibat serangan api itu.
“Ini belum selesai...” diatas sana, Maruya mengobarkan api di kedua kakinya, kemudian dengan gaya meluncur dimana kaki kanan terlebih dahulu mendarat ketanah sambil mengarahkan serangan tersebut pada Yugi. “Fire Dragon Kick.”
Layaknya kamen rider kabuto saat menyerang menggunakan kakinya, serangan itu melesat langsung kearah tempat Yugi berdiri.
“Ice Dragon Kick.” Yugi pun membalas serangan itu dengan memutar badannya 360 derajat kearah kanan kemudian menggunakan kaki kanannya yang berlapis es untuk menahan serangan Maruya.
__ADS_1
Duuuuuuuaaaaaarrrr
Kedua kaki itu pun bertemu dan saling menghantam, serangan api dan es membuat sebuah uap panas yang mengepul di tengah serangan tersebut. Bagai gurun pasir dan padang es, semua penonton melihat sebuah halusinasi yang begitu nyata, dua peserta itu terlihat bagai naga api dan es yang saling menerjang dengan amarah. Mengingatkan mereka kembali mengenai ras terkuat sepanjang sejarah. Benar, ras naga merupakan ras terkuat dan sulit untuk di kendalikan. Dan kini mereka diperlihatkan dua peserta yang memiliki kekuatan naga yang merupakan dari ras terkuat tersebut.
Karena dominasi serangan itu yang lebih diuntungkan oleh Maruya, Yugi pun terpental sedikit tapi masih bisa menyeimbangkan dirinya di tanah sambil menggunakan tangan kanannya untuk menghentikan dorongan kuat itu. Kepalanya masih menghadap Maruya didepan sana, mata itu menatap tajam lawannya. Tapi berkedip sekali membuatnya kehilangan Maruya, kecepatan yang dimiliki oleh pemuda itu membuat Yugi terkejut. Tidak lama disamping kirinya sudah terlihat tinju berapi yang mengarah ke pipi kirinya. Dengan tangan kiri Yugi yang berlapis es, dia pun menahan serangan itu yang terus saja mendorong dirinya.
“Rasakan panas apiku ini Yugi...” teriak Maruya.
“Kheh...” Yugi tidak bisa membalas perkataan Maruya, dia terus berusaha berkonsentrasi untuk menahan serangan yang terus menerus mendorong dirinya sehingga tercipta jejak diatas tanah yang memperlihatkan dirinya yang terseret bagai terdorong meteor.
“Hora hora, ayo balas seranganku.”
“Sebaiknya kau tidak besar kepala dulu.”
Membalas perkataan Maruya yang memprovokasi nya, Yugi dengan menghentakkan kaki kanannya ke bawah sehingga terciptalah es yang mencuat dengan ujung yang tumpul langsung saja menghantam perut Maruya. Seketika itu Maruya terdiam ditempatnya dengan wajah kesakitan sambil memegang perutnya dengan tangan kanan, karena ada kesempatan itu, Yugi pun menendang Maruya dengan kaki kanan berlapis es tepat kearah wajahnya.
Syuuutttttt
Tak tak sreeeettttt
Maruya melesat cepat karena terkena hantaman kaki kanan Yugi, namun masih bisa menyeimbangkan dirinya dengan menyalto dua kali kemudian menghentikan lajunya dengan kaki dan tangan yang menggenggam tanah. Dorongan yang cukup kuat itu membuat sebuah jalur seretan di bawah kakinya. Maruya tidak menampakkan wajah marah, dia malah tersenyum senang, karena didepannya terdapat lawan yang selama ini dia nantikan. Seseorang yang menggunakan seluruh kemampuannya untuk melawan dirinya. Tidak bisa membiarkan lawannya saja yang mendominasi, Maruya pun kembali mengobarkan apinya, tapi kini kobaran api itu sendiri sudah menyelimutinya.
Yugi yang berdiri jauh disana juga berkata dengan senyuman diwajahnya. “Aku juga semakin bersemangat.”
Keduanya mengambil kuda-kuda tengah, sambil menghirup udara dengan jumlah banyak, terlihat dada mereka membusung dengan mulut menggembung, sepertinya akan memuntahkan sesuatu. Kedua tangan mereka pun berada didepan mulut dengan membentuk lingkaran kecil, tidak lama lingkaran sihir terbentuk tiga yang berbaris didepan mulut mereka dan semakin membesar di setiap barisan kedua dan ketiga.
“Fire Dragon Rooooaaaarrrrrr...”
“Ice Dragon Roooooaaaarrrrr...”
Ternyata yang mereka muntahkan adalah sebuah semburan api dan es yang bertekanan tinggi, membuat suhu menjadi tidak stabil, hawa tinggi dan rendah yang saling mendominasi, lalu akan saling bertemu di satu titik serangan. Dan saat kedua jurus itu bertemu... maka...
Duuuuuuuuuuuuuuaaaaaaaarrrrrrrrrrrr
Ledakan dahsyat yang hampir membuat pelindung arena hancur dimana sudah terdapat sedikit retakan disana saat menghadapi suhu yang naik turun. Didalam arena sendiri sudah seperti uap panas sauna yang dapat membakar daging sampai matang. Semua penonton tercengang, mereka tidak akan menyangka semburan yang begitu besar seperti nafas naga yang saling beradu bisa mereka lihat sekarang ini. Raja dan Ratu pun tidak bisa berpaling dari serangan kuat itu, sampai mereka sendiri tidak sadar kalau Tuan Putri baru saja duduk di bangku VIP nya yang kemudian menonton pertarungan tersebut.
Asap mengepul tebal dengan warna putih yang menutupi semua arena pertarungan. Tentu saja serangan keduanya mengakibatkan hal tersebut karena es pada dasarnya adalah air yang membeku, jika dipanaskan dengan suhu yang tinggi secara mendadak maka akan menimbulkan uap tebal seperti sekarang ini. Mereka semua tidak dapat melihat kedalam arena, hanya bisa menunggu sampai asap itu sendiri menghilang. Tapi dari asap itu mereka melihat seberkas cahaya merah dan biru saling beradu, dengan setiap benturannya menghasilkan suara yang keras. Dapat dipastikan itu adalah kedua peserta yang saling bertarung di tengah asap putih tebal tersebut.
__ADS_1
Namun bagaimana kedua peserta itu dapat melihat dibalik asap tebal itu, jangan salah sangka, penglihatan seorang Dragon Slayer sangatlah tajam, sehingga asap seperti ini tidak dapat menghalangi pandangan mereka. Jadi dengan kemampuan tersebut ditambah insting sebuas naga, membuat keduanya bisa mengetahui posisi satu sama lain.
Duar duar duar
Buakh bak bak dak dak dak
Serangan tinju dan tendangan kaki saling beradu, dengan lapisan api dan es yang membungkusnya, membuat serangan itu menjadi berlipat ganda. Yugi sendiri merasa kewalahan jika bertarung dengan tangan kosong, karena dia merupakan petualang pengguna pedang, dan dia tidak terlalu mahir dalam pertarungan tangan kosong, tapi sebaliknya Maruya sangat ahli dalam pertarungan tangan kosong tersebut, sehingga dia yang lebih di untungkan disini.
“Hah hah hah...” Yugi terlihat kelelahan, disana dia berdiri dengan nafas tersengal-sengal. Hal itu menandakan kalau staminanya mulai menurun.
Berbanding terbalik dengan Maruya, dia masih terlihat segar dengan senyuman diwajahnya. Walau begitu dia sendiri mendapat serangan yang tidak tanggung-tanggung dari Yugi. Keduanya juga sudah terlihat babak belur akibat serangan satu sama lain. Namun jika dilihat dari situasi sekarang, maka Maruya lah yang paling mendominasi. Bagi Yugi, lawannya yang sekarang ini sangat jauh berbeda dengan lawan yang pernah dia hadapi sebelumnya. Kekuatan dari Maruya tidak pernah terprediksi sampai seperti ini olehnya, karena itu dia tidak akan menyangka kalau harus bertarung dengan segenap kemampuannya saat menggunakan sihir Dragon Slayer.
“Kau memang kuat Maruya.” Puji Yugi.
Maruya tersenyum lalu membalas perkataan Yugi. “Kau juga kuat Yugi, tapi ini masih belum selesai...” setelah mengatakan itu, kedua tangannya kembali terbakar, sepertinya dia siap dengan ronde selanjutnya.
Yugi juga sudah muak bermain-main, dia tahu tidak mungkin bisa menang dengan tangan kosong. Jadi satu-satunya cara adalah menggunakan kemampuan yang sebenarnya. “Aku akan menjawab semangat juangmu Maruya, dengan kemampuan penuhku.” Mata Yugi tertutup, tangan kanan terlentang kedepan. Dengan menggumamkan satu kalimat sebuah lingkaran sihir terbentuk di bawah tangannya. “Dimensional:...” portal dimensi pun terbentuk dan memunculkan sebuah gagang hitam dari pedang yang belum sepenuhnya terlihat. “Baru pertama kali ini aku membawanya dalam pertarungan. Pedang hitam... Arashi.” Yugi menggenggam gagangnya dan menarik sepenuhnya pedang itu yang masih berada didalam sarungnya.
Semua orang bingung melihat pedang itu, karena baru pertama kali ini mereka melihatnya, tapi berbeda bagi mereka yang pernah melihatnya, tatapan terkejut tentu di arahkan pada pemuda bersurai putih salju itu. Karena dari sekian banyak orang yang tahu tentang pedang itu disebabkan mereka pernah mencoba menjinakkan pedang tersebut. Termasuk sang Raja yang terkejut kalau sang pemuda itu akan menggunakannya sekarang ini. Yang lebih membuatnya terkejut adalah pemuda yang bernama Yugi itu dengan santainya menggenggam pedang hitam itu tanpa kesusahan. Padahal dirinya dulu yang ingin menjinakkan pedang itu, dengan susah payah menggunakan kekuatan penuhnya dan masih tidak mampu menariknya dari segel. Tapi melihat pemuda ini dapat menggenggamnya dengan mudah, membuat dirinya merasa kesal dan iri dengan keberuntungan pemuda tersebut. Tapi dia tahu kalau ini adalah salah satu takdir yang sudah ditetapkan, jadi dia harus menerimanya, tapi dengan begini dia akan tahu kemampuan dari pedang itu, mungkin ini merupakan keberuntungannya karena bisa melihat pedang hitam itu memulai debutnya.
“Mari kita lihat kekuatan dari pedang hitam yang disegel itu, pedang Arashi.” Gumam sang Raja.
Kembali kedalam arena, semua penonton dibingungkan dengan pedang hitam yang baru saja di munculkan oleh peserta yang bernama Yugi. Tidak sedikit dari mereka penasaran akan pedang itu, bahkan dua peserta disana yaitu Rexas dan Seiga sangat ingin tahu pedang itu, karena aura yang dipancarkan oleh pedang hitam tersebut bisa mereka rasakan. Seperti sebuah bencana yang akan datang jika kita menghadapi sang Tuan dari pedang hitam Arashi, namun hal itu malah membuat Rexas merasa senang dengan kekuatan Yugi yang meningkat.
Kenapa peserta yang duduk di bangku khusus peserta itu hanya ada dua orang saja. Kemana satu orang yang tersisa yaitu Lugi, dia tidak ada di tempat duduknya. Entah kemana dia, bahkan Rexas dan Seiga pun tidak memperdulikannya atau memang mereka tidak menyadari kalau Lugi sudah tidak ada disana. Mata mereka benar-benar tertuju pada Yugi yang menggenggam pedang hitam.
“Maruya, mari kita mulai ronde selanjutnya.”
“Aku sudah menunggunya Yugi.”
Kedua peserta ini siap untuk memulai pertarungan kembali, Yugi menarik pedang dari sarungnya. Dan memperlihatkan sebuah bilah hitam yang begitu tajam dan tipis seperti pedang pada umumnya, hanya saja corak dan warna pedang ini terkesan mengerikkan, seperti pedang perebut nyawa siapa pun yang berani melihatnya. Semua penonton terdiam, mereka tidak berani bersuara, karena merasakan aura yang tidak mengenakan di hati mereka setiap kali melihat kearah pedang hitam milik Yugi. Begitu pula beberapa dari mereka yang memiliki kepekaan yang tinggi, maka aura pedang yang diselimuti oleh kegelapan itu benar-benar terasa oleh mereka. Sampai keringat dingin pun turun dari pelipis mereka.
‘Ini gila, sebenarnya pedang apa itu. Di sekitar bilahnya terselimuti hawa negatif, memang masih beda jauh dengan pedang dewa miliknya itu, tapi tetap saja hawa tidak mengenakan dari pedang hitam itu membuatku merinding.’ Pikir Rexas dengan rasa takutnya.
Begitu pula Seiga yang dimana kedua tangannya ikut bergetar, sepertinya dia juga tahu kalau melawan pedang hitam itu akan sangat berbahaya. Kemudian dia menganalisis apa bisa pedangnya untuk mengalahkan hawa negatif dari pedang yang baru saja dimunculkan oleh Yugi.
Wanita yang sebelumnya tersesat kini sudah berada didepan colosseum, dia wanita berambut merah terurai panjang dengan mata hitamnya melihat kearah gedung besar colosseum, dia pun melangkah masuk kedalam yang dimana terdapat dua penjaga yang menjaga gerbang masuk. Wanita itu pun mengambil sebuah kartu nama dirinya dan menunjukkannya pada si penjaga. Melihat kartu identitas itu, sang wanita pun dipersilahkan masuk. Akhirnya dia berhasil masuk sekarang, didalam sini sudah penuh oleh para penonton, dirinya juga melihat kearah arena, disana terlihat dua pemuda yang berbeda warna rambut sedang berdiri saling berhadapan dengan aura permusuhan. Hal itu tidak dia pedulikan, yang menjadi perhatiannya adalah sang pemuda dengan surai putih salju.
__ADS_1
“Apa mungkin dia?” tanya wanita itu terhadap pikirannya sendiri. Melihat ciri-ciri dari pemuda itu sama persis seperti yang dikatakan oleh petualang yang dulu memberitahukan dirinya kalau pemuda itu berambut putih salju. “Yugi...” gumamnya.
Bersambung