
Sore itu sangat indah, langit begitu jingga dengan awan yang menambah keindahan sore itu. Tapi kenapa, aku berdiri dengan mata tajam, menatap seorang pria paruh baya yang membuatku marah karena telah menyerang kami secara tiba-tiba...
Orang itu tersenyum sinis kearahku, dengan tatapan penuh intimidasi layaknya seorang musuh... tapi aku tidak takut sama sekali walaupun dia seorang jendral penyihir sekalipun.
Dia sudah membuatku marah, karena telah menyerang guruku... aku tidak akan memaafkannya.
Aura Yugi tersebar ke seluruh penjuru taman kota, tatapannya tidak pernah lepas dari pria yang baru saja muncul dan menyerang mereka secara tiba-tiba. Yuko sudah terkurung kedalam benda berbentuk kristal es raksasa berwarna hijau, walau sudah mengerahkan segala cara Yuko tetap tidak bisa keluar karena kristal itu terus saja menyerap energinya. Yugi yang mengetahui hal itu menatap waspada kearah musuhnya, karena dia tau kalau musuhnya ini merupakan seorang jendral penyihir yang lebih kuat dari gurunya.
“...” tiba-tiba pria itu menghilang dari hadapan Yugi.
“Kemana dia...” Yugi mencari pria paruh baya itu dengan waspada, karena dia tidak merasakan hawa keberadaannya dimana pun.
“Apa ini yang disebut sebagai calon kaisar.”
Yugi tersentak karena pria yang tadi menghilang sudah ada dibelakangnya. Dengan pukulan kuat, pria itu menyerang Yugi tepat di perut dan membuatnya melayang menabrak bangku taman dengan begitu kerasnya.
Buak
Syuuutttt
Blaaarrrt
Tabrakan itu membuat debu berterbangan dan menutupi Yugi. Pria yang menyerang Yugi tersenyum meremehkan dengan kedua tangan bersedekap didepan dada. Sementara Yuko hanya mampu memukul kurungan kristal itu dengan kedua tangannya, tatapan penuh kemarahan dia layangkan pada pria itu. Tapi mau seberapa kali pun dia berteriak, suara Yuko tetap tidak bisa keluar dari kurungan itu.
“Hanya segitu sajakah kemampuanmu?” tanya pria itu.
Yugi keluar dari kepulan asap dengan diselimuti aura biru keputihan, itu adalah mode Eternal Snow. Dia memasuki mode itu setelah terlempar ke arah bangku taman. Dengan seriusnya, Yugi meninju udara kosong dan terciptalah gelombang es yang menyerang kearah pria misterius itu.
Syuuuuuuttt
Tapi gelombang itu bisa dihindari dengan mudah oleh pria misterius itu hanya dengan menggeser tubuhnya ke samping kiri. Tidak berhenti disitu, Yugi melesat kearah pria misterius itu dan melayangkan sebuah pukulan yang berbentuk pusaran air.
“Spalshing...”
Pukulan itu tepat mengenai perut pria misterius itu dan membuatnya melayang kearah air mancur kemudian menabraknya dengan keras. Tidak membuang waktu, Yugi dengan konsentrasi penuh langsung memukul kurungan berbentuk kristal hijau itu yang mengurung Yuko.
Bang...
Tapi sayang pukulannya tidak bisa membuat kristal tersebut hancur, bahkan retak pun tidak sama sekali.
“Dasar bodoh...” pria itu mulai keluar dari air mancur dan kembali berdiri tegak seolah pukulan tadi tidak terasa sedikit pun. “Kurungan itu bukanlah kurungan biasa, tapi sebuah segel yang membuat siapa pun yang terkurung akan diserap energinya. Baik diserang dari dalam maupun luar tidak akan bisa berpengaruh, karena setiap kau menyerangnya maka serangan itu akan langsung diserap olehnya.” Jelas pria itu.
Yugi mulai berpikir, jika ini sebuah segel maka pasti ada satu cara untuk melepas segelnya. “Hanya itu yang bisa kulakukan...” Yugi menyentuh kurungan itu dengan telapak tangan kanannya. “Jika kurungan ini menyerap energiku, maka...” Yugi mengeluarkan energinya secara besar-besaran.
[“Yugi...”] Yui yang mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Yugi hanya mampu melihatnya dengan pandangan khawatir.
“Apa yang kau lakukan...?” tanya pria misterius itu.
“Walaupun kurungan ini bisa menyerap energi mana milikku. Tapi kita tidak tau sampai mana kapasitas mana yang bisa dia ambil.” Ternyata Yugi mengalirkan seluruh energinya untuk membuat kristal itu kelebihan muatan dan menunggu hancur dengan sendirinya.
“Dasar bodoh, hal itu akan membuat kristalnya meledak.” Teriak pria misterius tersebut dengan paniknya.
__ADS_1
“Aku tau apa yang aku lakukan... setelah ini selesai aku akan membuat perhitungan denganmu.” Yugi terus berkonsentrasi menyalurkan mananya kedalam kristal yang mengurung Yuko. ‘Aku hampir kehabisan mana... sial.’ Batin Yugi yang sudah berkeringat cukup banyak.
‘Dia ini, apa dia berencana meledakkan diri bersamanya. Tidak akan aku biarkan...’ batin pria misterius itu, dia membuat bola energi sambil membidik Yugi. “Hentikan perbuatanmu itu...” pria itu meluncurkan bola energi hijau tersebut kearah Yugi.
Yugi yang melihat bola energi itu hanya diam saja dan tidak mempedulikannya. Saat bola itu mendekat dengan cepat Yugi memakannya dan menelannya begitu saja. “Terima kasih untuk makanannya.”
“Dia memakannya, aku lupa kalau dia seorang Dragon Slayer...” gumam pria itu.
“Sekarang... SERAPLAH SEMUA ENERGIKUUUU...”
Kurungan kristal yang mengurung Yuko mulai retak dan bersinar terang. Sinarnya itu menyilaukan mata siapa saja yang melihatnya. Dan tidak lama terjadilah sebuah ledakan yang sangat keras.
Duuuuaaaarrrrr
Swwwuuussshhh
Setelah ledakan terjadi Yugi dengan cepat menyedot seluruh energi itu kedalam mulutnya, hal itu membuat ledakan yang seharusnya terjadi menghilang begitu saja kedalam tubuh Yugi. Dan itu memberikan Yugi energi yang baru.
“Tidak mungkin, seharusnya kau tidak bisa memakan energi milikmu sendiri.” Ucap pria misterius itu.
“Hehehe... walaupun aku tidak bisa memakan energi milikku, tapi jika sudah tercampur dengan milik orang lain, hal itu bisa aku serap.” Jelas Yugi.
“Hem, kau cukup pintar juga.” Pria itu tersenyum senang seolah menemukan barang yang menarik.
Yuko sudah berada dalam dekapan Yugi, tapi dia pingsan setelah kehilangan banyak mana dalam tubuhnya. Yugi perlahan membaringkan Yuko dan berjalan ke depan berhadapan dengan pria misterius yang mengganggu kencannya.
“Aku tidak tau siapa kau, tapi kau telah berani mengusikku. Akan kuberikan kau ganjaran atas perbuatanmu.” Ucap Yugi dengan aura modenya yang begitu kuat.
“Tidak usah menahan diri lagi... akan kuperlihatkan mode terkuat milikku. Kau cocok untuk jadi kelinci percobaanku.” Tubuh Yugi tiba-tiba terdapat sisik naga di setiap wajah (sekitar pipi dan alisnya), lengan dan kakinya. Aura yang begitu kuat terus menguar dari tubuhnya. Aura biru itu semakin lama semakin memudar menjadi putih. Sebuah energi baru terkumpul dalam satu tubuh, energi perpaduan antara mode Eternal Snow dan Dragon Slayer.
“Dia bermaksud menggabungkan mode Eternal Snow dan Dragon Slayer. Seberapa nekat dia ini...” ucap pria misterius dengan keringat dingin yang meluncur di pelipisnya.
“Lihat baik-baik... inilah mode terakhirku... ETERNAL DRAGON.”
Duuuuaaaarrrrrr
Ledakan dahsyat terjadi ditempat Yugi setelah dia menyebutkan mode terkuatnya. Seluruh tempat kerajaan terkena gelombang angin yang terus bertiup kencang. Langit tiba-tiba menjadi gelap dengan petir yang menyambar. Tanah di sekitar Yugi hancur seketika, salju yang menutupi taman bersih dalam sekejap tanpa meninggalkan sisa. Yuko yang jauh dari Yugi hanya mendapatkan sentuhan angin yang begitu kencang. Sekarang terlihatlah Yugi dalam mode barunya, penggabungan mode Eternal Snow dan Dragon Slayer membuat tubuh Yugi seperti naga itu sendiri. Dengan sayap putih yang terbentuk begitu kokoh dibelakang punggungnya, mata biru yang berubah putih yang begitu dingin, garis biru ditangannya juga berubah menjadi putih dengan lambang naga putih di punggung tangannya, dan dengan sisik naga di setiap wajah bagian pipi dan alisnya, begitu pula bagian lengan dan kakinya yang diselimuti sisik naga berwarna putih, kuku tangannya memanjang dan taring naga yang begitu tajam di sekitar giginya, rambutnya menjadi agak panjang sampai bahu dan runcing acak-acakan layaknya duri. Modenya itu membuat dia seperti seorang monster setengah naga, dengan aura yang begitu kental. Tatapan tajamnya tidak henti dia layangkan kearah pria yang sedari awal belum memperkenalkan namanya.
“Kekuatan yang luar biasa, kalau begitu ayo kita mulai serius.” Aura laki-laki itu semakin kuat seiring luapan energi yang semakin besar. Tatapan matanya yang hitam itu layaknya malam tanpa cahaya bulan. “Aku seorang jendral penyihir, namaku Yashou...”
“Aku Yugi, petualang senior... pemilik pedang Dewa Naga dan pengguna teknik Dragon Slayer.” Ucap Yugi yang tidak menurunkan auranya yang semakin membeludak.
Syut...
Pria itu melesat kearah Yugi dengan tinju berlapis aura hijau dingin...
Tap...
Tapi Yugi dengan mudah menahan serangan itu menggunakan telapak tangan kanannya sambil menatap pria itu dengan datar tanpa ekspresi. Tidak berhenti disana, Yashou menggunakan kakinya dan berputar 360 derajat dan menendang Yugi menggunakan kaki kanan. Melihat itu Yugi menahannya menggunakan lengan kiri.
Bakh
__ADS_1
Serangan yang ditahan itu membuat Yugi bergeser sedikit kearah kanannya. Senyuman mengejek diluncurkan oleh Yashou, dengan cepat dia melompat ke udara dan meluncurkan tiga tombak es. Yugi yang melihat itu langsung melahap ketiga tombak es kedalam mulutnya.
“Seranganku tidak berguna, sebanyak apapun aku menyerang dengan elemen es, maka dia akan langsung menyerapnya. Aku ini seperti sedang memberi makan naga dengan manaku sendiri. Oi oi ini tidak lucu sama sekali...” gumam Yashou yang mendapatkan kerugian atas serangannya sendiri.
Kemampuan salah satu Yugi dari teknik Dragon Slayer adalah dapat menyerap elemen yang sama dengan dirinya. Tapi tidak bisa menyerap elemen miliknya sendiri, hal itu merupakan keuntungan bagi Yugi. Karena musuhnya ini menggunakan elemen es untuk menyerang, dengan kata lain jika orang itu terus menyerangnya dengan elemen es, itu sama saja memberikan energi tambahan untuk Yugi.
“Jika kau tau, lebih baik kau menyerah saja...” Yugi mencabut pedang Eternal Snownya dengan aura yang menyelimuti pedang tersebut. Sebelum Yugi mengayunkan pedangnya, seseorang menghalanginya dari depan membuat Yugi mau tidak mau menghentikan kegiatannya. “Guru Yuko, apa yang kau lakukan?” tanya Yugi terkejut.
“Tenang saja, biar aku yang mengatasi ini.” Yuko yang sebelumnya sempat pingsan kembali tersadar karena merasakan dua aura superrior yang begitu kuat membuatnya mau tidak mau membuka matanya. Dan dengan cepat dia menghentikan Yugi yang ingin menyerang pria paruh baya didepannya.
“Yuko, kau sudah bangun...” Yashou menghampiri Yuko dengan wajah senang. Tapi...
Plak...
Yuko menampar Yashou tepat dipipi kirinya, hal itu membuat Yashou maupun Yugi terkejut dibuatnya. “Apa yang kau lakukan papa...”
“PAPA...?” Yugi terkejut bukan main setelah mendengar perkataan Yuko, mode Eternal Dragon miliknya sudah dia hilangkan. Sekarang dia terkejut dengan pernyataan Yuko yang memanggil pria itu dengan sebutan papa.
“P-papa bisa jelaskan...” ucap Yashou dengan paniknya melihat putri semata wayangnya marah kepadanya.
“Jelaskan...” pinta Yuko dengan nada datarnya.
“Papa sangat khawatir padamu saat kau bilang akan pergi kencan dengan seorang pemuda. Jadi papa mengawasimu sedari awal sampai sekarang, papa hanya tidak percaya kalau pemuda yang kau kencani adalah seorang calon kaisar yang dirumorkan. Jadi papa ingin mengujinya sedikit apa dia pantas untukmu atau tidak.” Ucap Yashou panjang lebar dengan kepala menunduk ke bawah.
“Tetap saja papa sudah melakukan kesalahan, harusnya papa percaya padaku. Lagi pula yang akan menikah kan aku, jadi akulah yang harus menilai dia pantas atau tidaknya.” Yuko sudah mencapai batas kemarahannya. Sudah sering dia mendapatkan ceramah dari ayahnya itu soal pernikahan karena usianya yang sudah genap 30 tahun. Hal itu membuat Yuko lelah dan memutuskan untuk melakukan berbagai misi keluar kota hanya untuk menghindari pertanyaan ayahnya itu. Tapi sekarang baginya ini sudah keterlaluan, sampai menguntit anaknya sendiri selama kencan, itu membuat kesabaran Yuko mencapai batas.
Tap
Seseorang menepuk bahu kiri Yuko, disana dia bisa melihat Yugi yang tersenyum lembut kearahnya. Dengan perlahan dia berjalan mendekati Yashou dengan tatapan datar. Tapi tatapan itu berubah menjadi ramah. “Saya mengerti perasaan anda, seorang ayah pasti akan mengkhawatirkan masa depan anaknya. Tapi ada kalanya seorang ayah harus menyetujui keputusan anaknya dan ikut mendukung keputusannya tersebut. Guru Yuko bisa menentukan masa depannya sendiri... aku yakin itu.”
Mendengar perkataan Yugi membuat Yashou tersentuh, dia menatap mata biru langit itu penuh kehangatan. Pemuda yang berdiri didepannya ini bagaikan mentari yang menyinari dunia anaknya. Yashou menatap kearah anaknya yang berada dibelakang Yugi, kemudian menatap Yugi kembali, dia pun tersenyum sambil menepuk bahu kiri Yugi.
“Kau benar, terima kasih... perkataanmu telah menyadarkanku nak Yugi. Bisakah aku mempercayakannya padamu...?” Tanya Yashou penuh harap dengan senyuman ramahnya.
“Tentu saja, aku jamin itu...” Yugi menjawabnya tanpa tau arti dari perkataan Yashou.
Aku Yuko... baru saja mendengar jawaban dari muridku yang begitu tegas tanpa keraguan. Didalam hati aku senang sekali... rasanya senyumanku tidak bisa luntur dari wajahku. Papahku telah menyetujuinya, aku mendapatkan restu dari papa... dan Yugi menjawabnya tanpa ragu... walaupun aku juga tau kalau Yugi tidak mengerti apa yang papaku katakan, karena sifat polosnya itu aku jadi khawatir padanya. Tapi didalam lubuk hatiku yang terdalam, aku menginginkannya... aku ingin memberikan hidupku padanya... semua yang kumiliki ingin rasanya aku serahkan padanya, bergantung padanya... dan tetap bersamanya selamanya... karena aku... mencintaimu... Yugi...
Mendengar jawaban dari Yugi tanpa adanya keraguan membuat Yashou tersenyum senang. Dia pun melewati Yugi dan menatap putrinya dengan pandangan hangat. Yashou mengangguk dengan senyuman hangat yang selalu menghiasi wajahnya.
“Terima kasih papah...” senyuman penuh kasih sayang Yuko lancarkan untuk ayahnya itu. Dalam pusaran salju Yashou menghilang dari hadapan mereka.
Saat itu... aku melihat pusaran salju yang indah membawa kasih sayang seorang ayah. Rasa senang dan iri yang datang disaat bersamaan itu membuatku tersenyum hangat pada mereka. Aku pun teringat akan kasih sayang kedua orang tuaku... aku Yugi... ingin terus melihat kasih sayang itu seumur hidupku.
“Ayo kita kembali... Yuko.”
Di bawah langit malam ini, di bawah awan yang bergerak perlahan di langit. Aku terus menatapnya bagaikan sebuah lukisan yang sangat indah... wajahnya yang tersenyum membuatku merasa nyaman... guruku adalah seorang wanita yang luar biasa... tidak hanya cantik tapi juga memiliki hati yang kuat. Kasih sayangnya terhadap keluarga mengingatkanku akan masa lalu... Yuko, aku ingin terus mengingat nama itu didalam hatiku... seperti halnya orang-orang yang berharga dalam hidupku... Elsa, Elna, Yui, Risa dan masih banyak lagi.
Sara... aku ingin segera bertemu denganmu, tunggulah aku... aku pasti kembali.
Bersambung
__ADS_1