
Hari itu... aku... mendengar kebenaran dari seorang wanita... sejak saat itu aku selalu memikirkannya. Setelah perkataannya waktu itu... aku...
Melihat sebuah senyuman tulus dari seorang yang aku anggap sebagai teman...
Pagi hari yang cerah di kota Eartfil, semua orang melakukan aktivitasnya seperti biasa. Sama halnya Yugi yang kini tengah melatih Vira di sebuah hutan tempat biasa mereka latihan. Sekarang mereka tengah bertarung satu sama lain dengan sangat sengit.
“Hiyyaaaaaa...” Vira meninju lurus kearah perut Yugi dengan cepat. Tapi serangan seperti itu bisa Yugi hindari dengan menggeser badannya kesamping kanan, tidak berhenti disana Vira memutar tubuhnya ke kiri dan melakukan sebuah tendangan kearah pinggang Yugi menggunakan kaki kanannya.
Bakh
Serangan itu masih bisa di tahan oleh Yugi menggunakan tangan kirinya, kemudian menangkap kaki Vira dan melemparnya ke belakang. Vira yang terlempar ke udara dengan segera menyeimbangkan tubuhnya dengan cara berputar sekali dan mendarat di batang pohon.
“Lumayan juga...” ucap Yugi dengan santainya.
“Aku baru mulai guru, sebaiknya kau tidak lengah.” Vira melompat tinggi dengan tangan kanan dia rentangkan keatas. Sebuah lingkaran sihir merah terbentuk disana dengan kobaran api yang semakin membesar. “Rasakan ini, bola yang menghanguskan segalanya... Fire Ball.” Bola api raksasa baru saja Vira ciptakan dan langsung saja mengarahkannya ke Yugi. “Bagaimana...” ucap Vira yang yakin akan kemenangannya.
Yugi tersenyum santai seolah bola api itu bukanlah apa-apa baginya. “Jangan terlalu senang dulu...” Yugi merentangkan tangan kanannya ke depan dan menciptakan sebuah pedang yang terbuat dari es. “Kalau ini masih terlalu mudah...” dengan sekali ayunan pedangnya bola api itu langsung terbelah menjadi dua dan menghilang.
“T-tidak mungkin...” ucap Vira tidak percaya apa yang dilihatnya, tapi dia tidak menyerah disana. Dengan sisa energinya Vira membuat lingkaran sihir lagi untuk membuat bola api yang baru. “Ini masih bel-...” sebelum sempat menyelesaikan perkataannya tubuh Vira menjadi lemas seketika dan lingkaran sihirnya menghilang, dengan cepat tubuhnya mulai jatuh ke bawah karena telah kehabisan energi sihirnya.
“Dasar...” keluh Yugi yang langsung saja melompat dan menangkap tubuh Vira yang sudah tidak berdaya. Pendaratan mereka berjalan mulus dengan Vira yang berada di gendongan Yugi layaknya tuan putri. “Kau ini terlalu memaksakan diri...” dengan begitu latihan di pagi hari ini diakhiri dengan pingsannya Vira yang kehabisan energi.
Disebuah tempat yang tinggi, tempat itu adalah gunung tertinggi dari kerajaan Eartfil. Seorang wanita dengan surai cokelatnya sedang berdiri dijurang terjal yang sangat tinggi. Tatapannya menerawang kedepan dengan pandangan lembut, ekspresinya seperti sedang memikirkan sesuatu. Angin yang berhembus menerpa wajahnya tidak mengganggu pemikirannya. Surai coklat yang berkibar tertiup angin itu menambah kesan yang begitu berbeda, terlihat cantik dengan aura tuan putri yang mengelilinginya. Untuk sesaat wanita itu tersenyum dan memejamkan matanya sebentar kemudian menatap kembali kedepan.
‘Malam itu, aku tidak akan pernah melupakan momen dimana kau mendengar tentang diriku. Sebagai seorang teman... aku harap kita bisa bertemu lagi. Yugi...’ perkataan dihatinya tersirat akan kesedihan karena mungkin baginya semalam adalah pertemuan terakhir mereka. Karena hari ini dia...
“Tuan putri Lani... waktunya berangkat.” Ucap seorang prajurit pada wanita yang dari tadi sedang asyik dengan dunianya sendiri.
“Aku akan kesana...” balas Lani dengan ekspresi tegasnya. ‘Aku... akan kembali ke istana.’
Di sepanjang perjalanan Yugi melihat banyak sekali orang-orang yang berbaris memenuhi jalan utama menuju kerajaan Eartfil. Hal itu membuatnya bingung dan penasaran apa yang sedang terjadi sebenarnya. Melihat seorang pemuda yang berlari kearahnya dengan cepat Yugi hentikan dan bertanya dengan sopannya pada pemuda tersebut. “Maaf sebelumnya, aku ingin bertanya, kenapa semua orang berkumpul seperti itu di sepanjang jalan?”
Pemuda itu langsung menjawab pertanyaan Yugi. “Tuan putri kerajaan telah kembali dari latihannya, oleh karena itu banyak orang yang ingin melihatnya. Sudah dulu ya aku juga tidak mau sampai ketinggalan...” pemuda itu langsung berlari meninggalkan Yugi begitu saja.
“Tuan putri... apa jangan-jangan dia. Setelah kejadian itu, aku tadinya ingin mengunjunginya malam ini, tapi sepertinya itu tidak mungkin.” Gumam Yugi sambil melihat sebuah kereta kuda kerajaan yang begitu mewah berjalan menuju istana dengan para penduduk yang bersorak menyambut kedatangannya.
“TUAN PUTRI...”
“SELAMAT DATANG KEMBALI...”
"PANJANG UMUR TUAN PUTRI LANII...”
Teriakan itu terus membahana di sepanjang jalan utama menuju istana kerajaan Eartfil. Yugi menatapnya dengan senyuman di wajah tampannya, tidak lama dia mulai melangkah pelan menjauhi kerumunan orang-orang.
“Sepertinya kau sangat dicintai oleh rakyatmu... tuan putri.” Gumam Yugi yang lenyap dari lautan manusia itu.
Didalam kereta kuda kerajaan terlihatlah Lani yang tengah duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang merupakan gurunya sendiri. Suasana yang begitu meriah di luar sana membuat Lani tersenyum sambil menatap rakyatnya di balik jendela.
“Sebentar lagi kita akan sampai di istana putri Lani.” Ucap Tio.
“Ya...” jawab singkat Lani dengan pandangannya yang menerawang keluar jendela, dia memikirkan seorang pemuda yang selalu menemaninya setiap malam. Mulai sekarang mungkin mereka tidak bisa bertemu lagi, mau bagaimanapun Lani adalah seorang tuan putri kerajaan.
Pertemuan kami merupakan sebuah kejadian yang tidak terduga. Atau itu sebuah takdir... mungkin saja pertemuan kemarin malam merupakan yang terakhir... saat gerbang itu di tutup, maka semuanya akan seperti sebuah mimpi...
Kedua insan yang terpisah karena sebuah status, membuat mereka yakin tidak bisa bertemu kembali. Tapi mereka tidak mengetahui bahwa takdir sedang memproses pertemuan yang tidak mereka duga. Sesuatu yang besar sedikit demi sedikit akan segera terungkap, pada akhirnya tali takdir saling menyambung satu sama lain, dan menjadi sebuah ikatan yang tidak bisa di lepaskan...
Di bagian hutan kerajaan Eartfil, seorang pemuda dengan surai putih saljunya yang tidak lain adalah Yugi yang sedang melakukan latihan terakhirnya. Posisi badannya seperti seseorang yang hendak akan meninju, tangan kanan dia tarik ke belakang secara perlahan, kaki kiri didepan dengan kaki kanan berada dibelakang. Tangan kiri didepan sebagai ayunannya, sebuah energi biru keputihan menyelimuti tangan kanan Yugi yang terkepal kuat. Tatapan tajamnya menatap kearah batu dengan konsentrasi tinggi, Yugi mengambil nafas sejenak dan menghembuskannya secara perlahan.
“...” dengan cepat Yugi meninju udara kosong dan menciptakan sebuah gelombang kuat yang langsung saja menghantam batu besar.
Syuuutttt
Duuuuaaaaarrrrr
Batu itu hancur berantakan menjadi serpihan kerikil yang berceceran kemana-mana. Melihat hasil yang memuaskan, Yugi tersenyum senang dengan gestur tubuh yang sudah santai. “Akhirnya... besok...” kepalanya menghadap langit yang terlihat cerah itu.
Istana kerajaan Eartfil di jaga sangat ketat oleh para prajurit, kerajaan yang dikatakan sebagai kerajaan yang memiliki pertahanan terkuat sepanjang masa, dan juga rajanya yang bijaksana membuat kerajaan Eartfil sangat disegani oleh kerajaan lain. Disebuah ruangan yang terlihat begitu feminim dan tertata rapih, beberapa hiasan bunga terpajang disana. Di atas kasur terlihatlah seorang wanita yang tengah berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, tapi itu tidak berlangsung lama saat suara ketukan terdengar olehnya.
Tok tok tok
“Tuan putri Lani, anda di pinta yang mulia untuk menghadap ke ruang kerjanya.” Ucap suara seorang perempuan yang diyakini adalah pelayan kerajaan.
__ADS_1
Wanita yang disebut itu dengan perlahan menuruni tempat tidurnya dan menatap kearah pintu. “Katakan pada Ayah aku akan segera kesana.” Ucap Lani.
“Baik...” balas pelayan tersebut yang langsung pergi untuk menyampaikan pesan pada raja.
“Sudah saatnya.” Lani melepas semua pakaiannya dan berjalan kearah lemari untuk berganti pakaian. Beberapa orang pasti berpikir kalau seorang tuan putri pasti akan memiliki seorang pelayan untuk membantunya mengenakan pakaian, tentu saja Lani memilikinya, hanya saja dia lebih suka mengenakannya sendiri. Kecuali disaat ada acara resmi maka dia akan meminta para pelayannya untuk memakaikannya. Lani mengambil pakaian warna coklat dengan berenda yang menghiasi pinggirannya dan sebuah bunga kecil yang terletak di sebelah kiri dadanya. Rambutnya dia ikat ponytail yang menambah kecantikannya. Terlihatlah sekarang Lani yang begitu menawan khas seorang tuan putri kerajaan. Dengan senyuman diwajahnya, dia berjalan menuju ruang kerja ayahnya yang terletak cukup jauh dari kamarnya.
Disebuah ruangan yang begitu luas ditambah beberapa dekorasi bunga dan lukisan yang menghiasi ruangan tersebut. Beberapa dokumen penting bertumpuk di meja kerja, dan seorang pria paruh baya tengah mengerjakan beberapa dokumen sambil membacanya dengan teliti. Raut wajah yang begitu serius itu sangat berwibawa, dan disampingnya juga terdapat wanita yang senantiasa menemaninya sambil memeriksakan beberapa berkas yang akan di tanda tangani. Tidak lama kegiatan mereka terganggu oleh ketukan pintu didepan mereka.
Tok tok tok
“Ini aku...” ucap sang suara dibalik pintu.
“Masuklah...” ucap wanita satu-satunya di ruangan itu.
Setelah mendengar perintah itu terlihatlah Lani yang tersenyum manis sambil menundukkan sedikit kepalanya khas tuan putri. “Ayahanda, ibunda... saya sudah kembali.” Ucap Lani dengan sopan.
“Aku senang kau kembali, putriku.” Ucap sang Raja yaitu Tenruo.
“Laniku sayang.” Sang Ratu langsung saja memeluk anak semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.
“I-ibu...” ucap Lani dengan nada malu karena diperlakukan seperti anak kecil.
“Sudahlah Leuna, anak kita sudah dewasa. Janganlah perlakukan dia seperti anak kecil.” Ucap Tenruo sambil menghampiri mereka.
“Apa salahnya, bagiku dia tetap anak kesayanganku.” Ucap Leuna sambil menggesekkan pipi mereka gemes, sementara Lani hanya mampu pasrah akan kelakuan ibunda tercintanya.
“Sebenarnya ada apa ayah memanggilku?” tanya Lani yang masih saja pipinya di gesek oleh pipi ibunya.
“Ayah hanya ingin membicarakan hal penting menyangkut tentang dirimu.” Jawab Tenruo.
Leuna yang merasa pembicaraan ini mulai serius akhirnya mengakhiri kegiatannya pada Lani dan mulai mendengarkan pembicaraan mereka. Suasana menjadi sedikit tegang dengan tatapan yang serius yang saling diarahkan satu sama lain.
“Apa maksud ayah?” tanya Lani yang penasaran akan perkataan ayahnya tersebut.
“Kau tahukan tradisi turun temurun kerajaan ini saat sang anak penerus kerajaan sudah dewasa?” tanya Tenruo sambil membelakangi mereka menatap ke sebuah jendela didepannya.
“Ya aku tahu ayah.” Jawab Lani yang mengerti akan arah pembicaraan ayahnya ini.
Sebenarnya didalam hati Lani tidak bisa menerima saat mendengar perkataan ayahnya tersebut, tapi hal ini tidak bisa dibantah. Karena dia tau hal ini akan terjadi padanya cepat atau lambat. Tapi dia tidak mau menyerah pada tradisi, tidak peduli tradisi apapun tentang kerajaan ini, semua ini menyangkut akan kehidupan masa depannya. Hanya dialah yang boleh menentukan calon pasangan masa depannya. Dengan begitu Lani menatap ayahnya dengan serius dan mengatakan sebuah perkataan yang membuat kedua pasangan suami istri ini sedikit terkejut.
“Baiklah aku akan menerima tradisi ini, tapi aku punya satu syarat...” Ucap Lani sambil menggantung perkataannya.
“Apa syaratnya?” tanya Tenruo.
“Aku sendiri yang akan menilai apa dia pantas untukku atau tidak... bagaimana, ayah?”
Mendengar nada penuh keseriusan dari putrinya membuat sang raja yang merupakan ayahnya hanya mampu tersenyum dan menatap Lani dengan lembut. “Tentu saja.”
“Terima kasih Ayahanda. Kalau begitu saya permisi...” dengan begitu Lani pergi dari ruang kerja ayahnya setelah mendapatkan jawaban yang membuatnya puas.
“Sepertinya putri kita sudah mulai berubah.” Ucap Leuna dengan senyuman hangat di wajahnya.
“Ya, aku rasa pelatihannya sudah mulai membuahkan hasil.” Balas Tenruo sambil menatap pintu keluar.
Disebuah tempat yang begitu banyak senjata yang terpajang dari pedang, kapak, tameng, busur dan sebagainya. Sang pemuda dengan rambut putih salju dan mata birunya tengah melihat-lihat banyaknya senjata yang mengelilinginya. Dia adalah Yugi yang sebelumnya habis melatih Vira dan sekarang tengah berada di dalam sebuah toko yang merupakan salah satu pandai besi yang berada di kota Eartfil. Perhatiannya terhenti pada sebuah pedang yang begitu mengkilap di depannya. Untuk sesaat dia ingin memegang pedang tersebut tapi sebuah suara menghentikan kegiatannya.
“Hei pemuda, apa yang ingin kau lakukan?” ucap sebuah suara yang begitu berat yang berasal dari seorang pria paruh baya yang sudah berusia cukup tua dengan janggut hitam didagunya, tapi perawakannya begitu kekar seperti seorang petinju saja.
“Maaf paman, aku hanya ingin memegang pedang ini. Pedang ini terlihat sangat bagus, dan juga... pedang ini terlihat begitu terawat dengan baik. Aku juga bisa merasakan begitu kerasnya pedang ini di tempa sampai bisa setajam dan semengkilap ini. Usaha untuk membuat pedang ini pastilah tidak kecil, aku sangat kagum melihatnya.” Ucap Yugi sambil menatap pedang di depannya.
“Heh... kau memeiliki mata yang bagus. Memang pedang ini di tempa sedemikian rupa, dan akulah yang menempanya sendiri. Aku membuatnya selama hampir seminggu lebih... dan ini merupakan mahakaryaku yang luar biasa.” Paman itu mengambil pedang yang terpajang itu dan menyodorkannya pada Yugi. “Kau ingin memegangnya kan, cobalah...”
Yugi mengambil pedang itu dan melihat bilahnya yang begitu tajam. Gagang pedang hitam itu terasa nyaman saat digenggam, dan pedang ini terasa begitu ringan menurutnya. “Hebat... pedang ini begitu ringan tapi juga kuat. Dan ketajamannya sudah dipastikan kualitasnya tinggi.”
“Hehehehe... aku masih punya beberapa di gudang, kau mau melihatnya?” ucap paman itu.
Yugi yang mendengarnya langsung saja matanya berbinar ingin segera melihat pedang lainnya. “Aku mau paman...”
“Kalau begitu ayo ikut aku... oh ya namaku Jigar.” Ucap Jigar yang memperkenalkan dirinya pada Yugi.
“Aku Yugi...” balas Yugi yang juga ikut memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
“Kalau begitu bersiaplah Yugi...” Jigar memegang sebuah pintu yang masih tertutup. “Untuk melihat karyaku yang lainnya...” setelah perkataannya itu pintu tersebut dia buka dan hal itu membuat Yugi terkejut saat melihat isi didalamnya.
Kerajaan Vouleftis merupakan kerajaan yang terletak di sebelah barat dimana terdapat satu gunung berapi besar yang masih aktif. Walau begitu gunung tersebut tidak terlalu berbahaya, malah mereka memanfaatkan gunung itu untuk kehidupan sehari-hari mereka. Dan kerajaan Vouleftis terdapat sebuah sumber air panas yang katanya bisa membuat tubuh terasa segar bagaikan terlahir kembali, ditambah air panas tersebut bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit ringan seperti gatal, kulit retak dan lain-lain. Kerajaan ini terbilang makmur dimana rakyatnya hidup dibawah mata pencaharian petani dan tambang. Rajanya yang merupakan seorang kaisar Api yang sudah hidup lebih dari 78 tahun dan akan segera pensiun saat anak tertuanya mengambil alih takhtanya. Istana Vouleftis begitu megah dan dikelilingi beberapa obor yang selalu menyala di depan gerbang sebagai simbol bahwa kerajaan ini merupakan pengguna elemen api yang sangat disegani oleh semua orang. Berbeda dengan Aries maupun Eartfil, kerajaan Vouleftis bagaikan perbandingan terbalik dari kerajaan Northern Elsa dimana disana terdapat banyak salju. Sedangkan dengan istana Vouleftis tanahnya dipenuhi oleh bebatuan dan duri bagaikan benteng tersendiri bagi mereka. Sementara ibu kotanya terlihat sangat asri dengan berbagai tumbuhan hidup lebat dikarenakan tanahnya yang subur karena dekat dengan gunung berapi.
Cukup sampai disana penjelasannya, sekarang kita berfokus pada seorang pemuda yang dikenal sebagai Rexas Vouleftis yang sebulan yang lalu kalah berduel dengan Yugi yang merupakan seorang petualang. Semenjak hari itu Rexas mulai berlatih lebih keras demi mengejar satu orang yang sudah dia anggap sebagai rivalnya sendiri. Mengingat kekalahannya yang dulu membuat motivasi Rexas semakin tinggi dan berharap akan bertarung lagi dengan Yugi.
“Hooorrraaaaa...” ayunan pedang Rexas secara vertikal dari atas ke bawah mengakibatkan sebuah gelombang merah yang langsung menghantam batu besar sampai hancur berkeping-keping. “Hah hah hah...” nafasnya terus memburu dengan keringat bercucuran diwajahnya. Bajunya sudah basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Pedang merah yang merupakan senjata yang pernah dia gunakan untuk melawan pedang dewa milik Yugi terlihat bersinar redup dikarenakan energi milik Rexas sudah terkuras habis untuk latihan.
“Kau terlalu memaksakan dirimu.” Ucap suara yang terdengar seperti iblis yang berasal dari pedang di tangan kanan Rexas. Ya pedang itu adalah pedang iblis sang Pheonex. Dimana didalamnya bersemayam iblis burung Pheonex abadi yang melegenda. Julukan abadi itu bukanlah omong kosong belaka karena kemampuan dari sang iblis Pheonex selain serangan apinya yang bagaikan neraka adalah karena kemampuan regenerasinya yang begitu cepat membuatnya tidak bisa mati. Karena itulah dia di juluki sebagai iblis burung Pheonex abadi.
“Tidak... ini masih belum cukup. Aku yakin dia sekarang sudah lebih berkembang dari yang dulu. Oleh karena itu aku...” Rexas mencengkram pedang Pheonex nya dengan kuat untuk menyalurkan kekesalan karena kalah duel oleh pemuda surai putih salju.
“Aku mengerti, oleh karena itu aku muncul di hadapanmu waktu itu. Kekesalanmu akan duel itu membuatmu semakin ingin bertambah kuat hanya untuk melampauinya. Karena keinginan kuatmu itu membuatku sampai muncul sekarang ini. Mungkin kau ini merupakan penggunaku yang terkuat setelah ayahmu. Kau masih bisa berkembang menjadi lebih kuat lagi, dan saat kau bisa menguasai semua kemampuan yang aku ajarkan, maka tidak akan ada lagi yang bisa menyaingimu. Kecuali...” ucap Pheonex menggantung membuat Rexas mendongakkan kepalanya ke atas langit.
“Senjata dewa kah...” lanjut Rexas dengan pandangan tajamnya.
Saat aku berduel dengannya waktu itu... aku baru menyadari pedang dingin itu. Sangat dingin bahkan bisa memadamkan api dari pedang Pheonex. Kedinginannya sampai menusuk tulang yang ada didalam tubuhku... perasaan itu begitu kelam dan kuat. Kekuatan yang sangat dahsyat, tapi itu belum semuanya, aku tau kekuatan itu belum sepenuhnya bangkit. Senjata yang dia gunakan itu merupakan salah satu dari senjata yang didalamnya di semayami oleh dewa naga. Saat aku kembali ke kerajaan, aku dengan cepat pergi ke perpustakaan untuk mencari tahu soal pedang itu. Ternyata itu adalah salah satu pedang Dewa Naga yang ada sejak zaman dulu. Pedang itu membuat sang pengguna memiliki kemampuan setingkat dewa... oleh karena itu aku kalah olehnya. Oleh pedang itu dan juga... olehnya...
Kembali ke toko senjata dimana sang tokoh utama sedang memasuki sebuah ruangan yang mirip seperti gudang dimana didalamnya terdapat banyak sekali senjata dari pedang sampai tombak dan masih banyak lagi.
“Ini benar-benar menakjubkan paman.” Ucap Yugi, dia sekarang sedang melihat begitu banyaknya pedang berkualitas tinggi yang terpajang dengan rapih di dinding.
“Heh... aku tau kau akan takjub saat melihatnya.” Paman itu berjalan ke tempat satu senjata pedang yang terpajang dengan berbagai rantai yang mengikatnya. Pedang itu begitu hitam dengan beberapa garis merah yang menghiasi pinggiran mata tajam pedang itu. Pedang itu seperti sebuah perwujudan iblis yang haus akan darah.
Yugi melihat paman Jigar mendekati sebuah senjata yang terikat rantai dengan pandangan bingung. Dilihat dari mana pun pedang itu seperti disegel seolah sangat berbahaya. Tapi sebuah tekanan energi yang begitu kuat dirasakan oleh Yugi, dan energi itu berasal dari pedang hitam yang dirantai itu. Pedang yang begitu tipis tapi juga kokoh, terlihat begitu tajam dan sangat kuat.
“Paman Jigar... pedang itu?” tanya Yugi yang penasaran dengan pedang hitam yang terpajang sendirian disana.
“Ini... aku membuatnya dari sebuah besi hitam misterius, entah apa namanya karena logam itu terbilang sangat keras dan susah untuk di cairkan. Bahkan dengan suhu gunung berapi sekali pun tidak bisa mencairkannya.” Jelas Jigar sambil teringat akan pembuatan pedang hitam itu.
“Terus bagaimana paman bisa membuat pedang itu jika besi hitamnya tidak bisa dicairkan?” tanya Yugi bingung.
“Ada orang misterius menggunakan sihir pembentuk untuk membuat pedang dari besi hitam itu. Orang itu aku tidak terlalu mengenalnya tapi dia menggunakan sihir untuk membentuk besi itu menjadi sebuah pedang. Kalau tidak salah itu adalah sihir Crafting...” jelas Jigar.
“Sihir Crafting... bukankah itu merupakan sihir yang sulit untuk di pelajari. Siapa orang itu sebenarnya?” Yugi mulai merasa bingung dengan orang misterius yang dikatakan Jigar.
“Yah aku juga penasaran dengan orang itu, padahal di kerajaan ini semua penyihir Crafting sangat di hormati. Bahkan jabatannya pun seperti seorang bangsawan, tapi orang itu sangat berbeda, dia berkata ingin hidup bebas tanpa terikat apapun oleh kerajaan. Saat aku bilang untuk membawa pedang hitam ini...” Jigar kembali menatap pedang itu dengan pandangan sulit di artikan. “Dia menolaknya, katanya pedang ini tidak memilihku sebagai majikannya. Aku bingung dengan perkataannya, tapi jika di pikirkan lagi aku mulai menyadari sesuatu. Pedang ini begitu berat, saking beratnya bahkan seluruh ksatria istana bahkan raja sendiri tidak sanggup mengangkatnya dari tempat itu.”
Penjelasan dari Jigar membuat Yugi semakin bingung dengan pedang hitam itu. Apa maksudnya tidak bisa mengangkatnya, jika dilihat baik-baik pedang itu tidaklah besar ataupun kecil, dan juga terlihat tipis dan mudah untuk di angkat. “Terus, bagaimana pedang itu bisa terpajang di atas tembok ini?”
“Karena bukan aku yang memajangnya, tapi orang misterius itu. Dia juga bahkan merantai dan menyegel pedang ini.” Jawab Jigar.
“Tunggu sebentar, apa maksud paman pedang ini di segel?” tanya Yugi.
“Ya... orang itu bisa mengangkat pedang ini dengan mudah, mungkin itu karena dia yang membuat pedangnya. Tapi yang membuatku bingung adalah perkataannya sebelum kami berpisah.” Jawab Jigar yang berjalan ke sebuah kotak kayu dan mengambil sarung pedang berwarna hitam.
“Dia tidak memilihku sebagai majikannya kah... kata-katanya itu seperti pedang ini punya kehendak sendiri untuk memilih siapa yang akan memakainya.” Ucap Yugi sambil melihat Jigar yang membawa sarung pedang hitam.
“Ya begitulah, aku sendiri bingung dengan perkataannya. Yang mulia Tenruo tidak serta merta membawa pedang ini ke istana. Dia berkata kalau pedang ini terlahir untuk seseorang yang istimewa. Sampai sekarang pun aku menunggu orang itu untuk membawa pedang ini ke dunia luar. Aku tidak membutuhkan uangnya, aku hanya ingin melihat pedang ini bersinar dan berjaya ditangan orang yang tepat. Aku berharap masih hidup sampai hari itu tiba.” Sebuah tatapan harapan dari Jigar membuat Yugi ingin mengangkat pedang itu.
Tatapan Yugi terarah pada pedang hitam itu dan berkeinginan untuk menggenggamnya. “Paman... bolehkan aku mencobanya... aku tidak tau apa aku bisa mengangkatnya atau tidak. Tapi aku merasa ingin memiliki pedang itu.” Ucap Yugi meminta izin pada Jigar.
“Tentu saja... silahkan, sudah banyak orang yang mencobanya dan menyerah. Aku akan sangat senang jika kau bisa memiliki pedang itu.” Balas Jigar dengan senyuman ramahnya.
“Baiklah...” Yugi berdiri berhadapan dengan pedang hitam yang tersegel itu. Tangan kanannya mencoba meraih pedang itu, untuk sesaat Yugi merasakan sedikit sengatan saat ingin menyentuhnya. Tapi dia tidak memperdulikan hal itu dan tetap menggenggam pedang hitam itu. “Ini dia...” Yugi begitu erat menggenggam pedang hitam itu dan mencoba mengangkatnya. “B-berat sekali...”
“A-aaahh ini...” Jigar merasakan sebuah perasaan yang begitu mencengkam. Sebelumnya dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini bahkan saat Raja Tenruo menggenggam pedang itu dengan kekuatan penuh. Perasaan ini terasa begitu mencengkam, takut dan merinding. Dan perasaan ini... “berasal dari pedang itu... apa pedang itu merespon pada pemuda ini?” tanya Jigar entah pada siapa.
“Khe... jadi kau ingin mengujiku hah... baiklah akan aku terima tantangan darimu itu.” Aura kebiruan mulai menguar dari tubuh Yugi tatkala pedang itu sedikit demi sedikit mulai terangkat. Wajah Yugi mulai membiru dan keringat terus saja bercucuran dari setiap inci tubuhnya. Perasaan ini baru pertama kali bagi Yugi, seperti halnya dia saat mencabut pedang Eternal Snow. Pedang hitam itu juga memberi begitu perlawanan baginya.
Awan hitam mulai berkumpul diatas bangunan pandai besi itu. Seolah merespon pedang hitam yang kini sedang melawan seorang pemuda yang ingin mengangkatnya. Sebuah ujian untuk melihat pantas atau tidaknya Yugi memiliki pedang itu.
Sementara di kerajaan semua orang mulai heboh karena sebuah awan hitam berputar layaknya spiral mengelilingi kota Eartfil. Raja yang tengah berada diruang kerjanya terkejut melihat awan hitam itu dibalik jendela ruangannya. Dia merasakan sebuah perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan. Perasaan saat berada di medan perang, perasaan akan takut dan gelisah. Perasaan ini semakin kuat sat awan hitam itu mulai menyambarkan petir yang begitu kuat sampai suaranya menggetarkan istana.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Tenruo.
Awan hitam... petir menyambar... kegelisahan... ketakutan... akan kekuatan yang begitu besar. Kian menyelimuti kerajaan Eartfil, entah apa yang terjadi tapi sebuah kekuatan besar kini mulai bangkit... yang akan menjadi pertanyaan adalah... apakah orang yang memilikinya akan menggunakannya untuk perang... atau untuk kedamaian?
Tapi jika memiliki kekuatan itu... dia bisa saja menjadi senjata penghancur yang mengerikan. Atau bahkan memusnahkan dunia ini...
Bersambung
__ADS_1