KAISAR ES

KAISAR ES
MURIDKU SEORANG VAMPIR


__ADS_3

Kebanyakan orang pasti berpikir kenapa aku selalu datang ke danau ini... itu karena ini adalah tempat favorit orang yang aku cintai. Ingin sekali aku melihatnya lagi... walau itu hanya sebuah harapan palsu. Tapi aku tetap berharap akan hal itu.


Dengan surai merahnya yang begitu indah seperti mawar. Mata hitamnya menatap kearah danau dengan pandangan rindu, kedua tangannya menyatu didepan dada berharap orang yang dia tunggu akan datang menghampirinya. Walaupun dia tau kalau harapannya mungkin tidak bisa dikabulkan, tapi wanita itu tetap berharap.


Nah Yugi, sampai kapan kau akan membiarkanku diam seperti ini. Bahkan kau tidak mengunjungiku sekalipun...


Sebuah air mata menuruni pipi mulus Sara, dia menangis lagi setiap mengingat Yugi. Rasa cintanya begitu besar dan hal itu membuatnya selalu merasakan sakit setiap mengingat wajahnya yang begitu tampan dimatanya. Semua orang selalu mengejek Yugi sebagai pemuda cupu yang pengecut, tapi bagi Sara Yugi adalah pemuda yang sangat baik dan pemberani. Seberapa kali pun dia mengingat Yugi, selalu saja hatinya merasa senang dan sedih disaat bersamaan, perasaan itu terus saja bercampur aduk sampai-sampai Sara tidak tau harus berbuat apa untuk menghentikan perasaan ini. Dia selalu berpikir mungkin jika saja waktu terus berlalu dia akan melupakan pemuda yang telah membuatnya jatuh hati, tapi sampai sekarang rasa cinta itu tidak kujur pudar, yang ada malah semakin bertambah. Dadanya sering berdebar mengingatnya, dia selalu berharap Yugi pulang walau semua orang berkata kalau dia sudah mati. Tapi Sara tetap yakin...


Kau akan kembali kan... Yugi...


Dataran tanah yang di tumbuhi banyak pohon, disebuah sungai terdapat seorang pemuda berambut putih salju tengah memancing dengan tenangnya. Pandangannya selalu mengarah ke langit dengan awan yang bergerak pelan. Wajahnya menyiratkan akan kerinduan yang mendalam, dia tidak menyangka akan datang hari dimana dia mulai sangat merindukan gadis yang selalu bersamanya sedari kecil. Pemuda itu memegang dadanya yang begitu sesak saat mengingat wajahnya, dia ingin bertemu dengannya, memeluknya dan berkata kalau dia mencintainya. Tapi dia tidak sanggup melakukan itu, karena...


Sara, apa kau akan menerimaku jika aku bilang kalau aku mencintai orang lain juga. Aku tidak menyangka akan mencintai orang lain selain teman masa kecilku... aku tidak menyangka bahwa hati ini juga tertuju untuk orang lain selain dirimu Sara...


Karena asyik melamun, dia tidak sadar kalau pancingannya sedari tadi terus saja bergoyang pertanda kalau ikan sudah memakan umpannya.


“Hei, umpannya dimakan ikan tuh...” ucap suara seorang gadis kecil yang berada disamping Yugi.


“Ah... waaaahhh...” karena terkejut mendengar suara gadis kecil disampingnya, Yugi dengan refleks segera menarik pancingannya dan membuat ikannya melambung tinggi ke atas dan mendarat tepat di wajah gadis kecil itu.


“H-hwaaa.. apa-apaan ini...” gadis kecil itu melempar ikan yang ukurannya cukup besar itu ke belakangnya. “Kenapa kau melemparnya kearahku hah...” kesal gadis itu dengan wajah yang sudah memerah menahan tangis.


“Itu salahmu sendiri, jangan mengagetkan orang lain yang sedang konsentrasi memancing.” Sewot Yugi yang juga kesal karena dikagetkan begitu saja.


“Kau itu bukan sedang konsentrasi tapi sedang melamun...” balas gadis itu.


“Memang apa salahnya.” Ucap Yugi acuh.


“Tuhkan kau mengakuinya.” Balas gadis itu dengan nafas terengah-engah.


Kemudian kedua orang itu terdiam sejenak sampai sebuah tawa memecah keheningan mereka berdua. Mereka tertawa dengan senangnya seolah beban yang tadi dipikul oleh Yugi hilang dalam sekejap.


“Ngomong-ngomong kau ini siapa, bagaimana kau bisa diserang oleh Redgor tadi pagi?” tanya Yugi sambil memungut ikan yang dilempar oleh gadis kecil tadi.


“Namaku Vira... aku ini...” ucapan Vira dipotong oleh Yugi dengan santainya.


“Seorang vampir kan... aku tau.” Yugi membuat api dan memanggangnya dengan tenang seolah tidak merasa bersalah karena memotong pembicaraan Vira.


“B-bagaimana kau bisa tau?” tanya Vira dengan wajah terkejut.


“Dari pada itu, bisakah kau menceritakan bagaimana seorang Vampir bisa berada disini. Dan juga kau tidak merasakan sakit saat terkena matahari, itu berarti kau bukan keturunan vampir berdarah murni, tapi perpaduan antara manusia dan vampir. Manusia setengah monster, iya kan...?”


Pertanyaan dari Yugi membuat wajah Vira menunduk mengingat akan statusnya sebagai manusia setengah monster. Mau bagaimanapun manusia selalu saja menganggap dirinya adalah sebuah aib bagi mereka. Karena seorang manusia setengah monster tidak pernah diterima baik di kalangan manusia ataupun monster, karena mereka hidup di antara dua ras tersebut. Baginya darah monster dan manusia ditubuhnya sangat menjijikkan sampai dia berharap mati saja. Tapi disaat ingin mati dia berharap ingin tetap hidup, sungguh ironis mengingat hal itu semua.


Vira menatap kearah Yugi dengan pandangan sayu untuk mengetahui niat manusia didepannya ini. ‘Mungkin manusia ini bisa dipercaya...’ batin Vira. “Sebelum aku menceritakan tentang kisah hidupku, apa kakak mau memberitahu namamu dulu?” tanya Vira.


“Ah kau benar... ehem... namaku Yugi, seorang petualang biasa yang mengelilingi dunia. Salam kenal Vira.” Jawab Yugi dengan senyuman ramah.


Melihat senyuman Yugi membuat Vira merona sejenak, tapi dengan cepat dia menggelengkan wajahnya untuk menghilangkan rasa terpesonanya terhadap Yugi. “Baiklah, akan kuberitahu kisah hidupku...” Vira mengambil nafas sejenak dan menengadahkan wajahnya mengingat kehidupannya yang dulu. “Aku terlahir dari seorang ibu manusia dan ayah seorang vampir...”


Cerita Vira berlangsung saat dia masih berada didalam kandungan seorang wanita. Disebuah istana kerajaan para vampir, dimana vampir merupakan salah satu ras terkuat di kalangan para monster. Vampir sangat di segani dan dihormati karena kekuatannya bagaikan sebuah bencana bagi para monster. Tapi mereka memiliki sebuah kelemahan yang sangat fatal, mereka tidak bisa berada di bawah sinar matahari. Karena matahari membuat kulit mereka terbakar menjadi abu, tapi bagi mereka yang memiliki kekuatan yang besar tidak akan terpengaruh oleh panas matahari. Dan vampir yang seperti itu biasanya dinamakan sebagai vampir siang dan malam, karena bisa beraktivitas walaupun disiang hari. Selain itu juga ada vampir yang bisa bertahan walau di teriknya matahari selain harus menjadi kuat, yaitu campuran antara darah vampir dengan ras lain seperti manusia. Karena darah campuran itu maka vampir bisa bertahan walau diterik matahari.


“Bagaimana keadaan wanita itu?” tanya seorang vampir yang terlihat seperti seorang raja dengan pakaian hitam bergaris merah darah. Tatapannya begitu tajam dengan mata hitam segelap malam, suaranya terdengar begitu berwibawa dengan kedua tangan yang dia posisikan dibelakang punggungnya.


“Dia mungkin saja akan meninggal saat melahirkan, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan keduanya.” Pria yang berjanggut putih dengan kumis putih itu terlihat seperti seorang tabib walau dia juga seorang vampir.

__ADS_1


“Begitu, selamatkan saja bayinya... aku tidak peduli dengan wanita yang melahirkannya...” perintahnya yang membuat tabib itu mengerti dan mengangguk lemah.


“Baik yang mulia...”


Setelah mengatakan itu raja vampir pergi meninggalkan wanita yang sedang menahan sakit karena akan melahirkan seorang bayi. Tidak lama petir terus menyambar bersamaan dengan teriakan wanita yang tengah berjuang untuk melahirkan seorang anak.


“KKKYYAAAAAAAAA....”


Setelah teriakannya yang terakhir terdengarlah suara bayi kecil yang menangis mencari ibunya, dia terlihat begitu mungil dan lucu dengan tangisan khas seorang bayi kecil.


“Owwaaa... owaaa... owaaa...”


Tangisan bayi itu sampai ke telinga raja yang tengah duduk disinggasananya. Dengan tatapan tajamnya dia tersenyum menyeringai dan menghilang dari singgasananya. Sekarang raja vampir yang belum diketahui namanya itu tengah memandang seorang bayi perempuan dengan pandangan kecewa.


“Kenapa perempuan, aku menginginkan bayi laki-laki...” teriak sang raja.


“Anda tenang dulu yang mulia, mereka kembar... lihatlah.” Ucap sang tabib dengan menunjukkan seorang bayi laki-laki yang tengah tertidur bersama dengan ibunya. Dengan pelan tabib tadi juga meletakkan bayi yang satunya disisi kiri wanita yang sudah melahirkan mereka.


“Bagus... akhirnya anak yang mewarisi darah dari seorang penyihir mata iblis telah terlahir. Aku hanya menginginkan bayi laki-lakinya, yang perempuan itu buang saja jauh-jauh dari sini.” Ucap sang raja dengan kejamnya.


“Tapi...”


Saat ingin menyanggah ucapan sang raja, tabib itu menatap kearah wanita yang baru saja melahirkan bayi kembar. “Aku mohon...” dengan suara pelannya wanita itu berucap dengan nada lirih. “Jangan buang anakku, walau dia seorang perempuan dia tetap anak dari darah dagingmu sendiri. Biar aku saja yang merawatnya sendiri...” ucap sang ibu yang begitu lemah setelah persalinan.


“Baiklah aku akan membiarkanmu pergi dari sini bersama dengan anak perempuanmu. Aku tidak peduli dengannya...” ucap sang raja dengan dinginnya.


Setelah itu sang ibu hidup bersama dengan anak perempuannya di dunia manusia. Setelah meninggalkan istana raja vampir, mereka hidup disebuah hutan belantara tanpa ada seorang pun disana. Karena kemanapun mereka pergi mereka tidak diterima dengan baik karena anak setengah vampir yang dibawa oleh sang ibu. Tapi mereka tetap hidup bahagia walau hanya berdua saja. Saat sang anak sudah berusia 10 tahun, dia pernah bertanya pada sang ibu tentang ayahnya.


“Ibu ibu... ayah kemana? Kenapa aku tidak pernah melihatnya...” tanya sang anak yang bernama Vira.


“Sejak saat itu ibu terus menangis setiap malamnya karena pertanyaan dariku, aku bisa mengerti akan perasaan ibuku. Dan saat itu semuanya terjadi...” Vira menunduk saat menceritakan akan akhir ceritanya.


“Uhuk uhuk...” ibu dari Vira terbatuk dengan darah yang keluar dari mulutnya.


“Waktu itu ibuku terbatuk dengan darah yang keluar dari mulutnya. Aku pun menangis sejadi-jadinya karena takut akan kehilangan ibuku. Tapi sebelum dia meninggal, ibuku berkata tentang ayahku dimana dia adalah seorang raja vampir. Dan saat itu aku baru menyadari kenapa aku selalu tergoda saat melihat darah, dan taringku ini sudah membuktikan kalau aku adalah setengah vampir. Sejak kematian ibuku aku sudah bersumpah akan membunuhnya, orang yang telah menelantarkan kami. Monster yang sangat keji itu akan aku bunuh... demi ibuku... aku akan balas dendam.” Ucap Vira dengan kemarahan yang teramat dan mata darahnya sudah memancarkan aura iblis yang begitu kuat.


Sementara Yugi yang mendengar cerita itu sampai akhir hanya mampu menatap dengan pandangan sayu, dia mengerti akan perasaan Vira. Karena sejak kecil dia juga sudah kehilangan kedua orang tuanya, tapi Yugi masih beruntung karena masih ada orang yang menyayanginya. Walaupun dia sudah tidak ada lagi didunia ini, tapi Yugi yakin kalau kakeknya akan terus mengawasinya dari dunia sana.


“Kau ingin balas dendam?” tanya Yugi.


“Ya...” jawab Vira dengan mata yang menekuk tajam.


Melihat mata kebencian dari Vira membuatnya teringat akan pesan kakeknya. Yugi menatap Vira dengan pandangan prihatin dimana dia menatap dirinya yang dulu yang selalu memikirkan soal kebencian dan dendam. “Sebaiknya kau lupakan saja soal kebencianmu itu. Karena seberapa kuat tekadmu untuk balas dendam, itu semua tidak akan berhasil. Karena kau sangat lemah...”


“Aku akan menjadi lebih kuat, karena itu aku mohon jadikan aku muridmu. Aku melihatmu tadi, kau sangat kuat... bahkan monster itu berhasil kau kalahkan hanya dengan sekali pukul. Oleh karena itu aku mohon...” ucap Vira sambil bersujud pada Yugi.


“Aku menolak...” jawab Yugi datar.


“Kenapa...?” Vira terkejut karena permintaannya ditolak dengan cepat oleh Yugi.


“Karena alasanmu itu... membuatku tidak mau menjadikanmu sebagai muridku.” Jawab Yugi sambil membalikkan badannya.


“Ada apa, apa salahnya balas dendam. Dia pantas mendapatkannya karena telah membuat ibuku menderita. Apa kau mengerti perasaanku hah...” teriak Vira dengan air mata dan suara yang sudah serak.


“Aku tidak akan pernah menjadikanmu muridku jika tujuanmu masih belum berubah.” Yugi berjalan menjauh setelah mengatakan itu. Dengan pelan dia melepas semua bajunya dibalik semak-semak dan masuk kedalam air untuk mandi.

__ADS_1


[“Kau benar-benar tegas ya...”] ucap Yui dalam pikiran Yugi.


‘Aku hanya tidak bisa menerima alasannya itu. Menurutmu apa aku terlalu berlebihan...?’ Tanya Yugi.


[“Tidak, aku pikir perkataanmu ada benarnya. Hanya saja kau terlalu keras padanya, mau bagaimanapun dia masih anak-anak yang tidak tau akan bahayanya dunia luar.”]


‘Mungkin kau benar... tapi aku akan membiarkannya untuk sementara. Aku ingin membiarkannya berpikir kembali akan tujuan hidupnya. Lagi pula sepertinya aku tidak bisa membiarkannya begitu saja...’


[“Kau benar, penyihir mata iblis...”]


‘Itu merupakan salah satu kemampuan yang dimiliki oleh orang tertentu secara turun temurun. Jika saja dia jatuh ketangan orang yang salah maka akan sangat berbahaya...’


[“Aku tidak menyangka akan bertemu dengan salah satu dari mereka.”]


‘Aku juga... mangkinkah ini yang disebut takdir.’


Suasana menjadi hening dengan air mancur yang terdengar dibelakang Yugi. Pepohonan bergoyang tertiup angin, daun-daun berjatuhan dan angin yang menerpa begitu sejuk dengan kicauan burung yang terdengar merdu. Menurut Yugi ini adalah ketenangan yang dia cari, sungguh damai dan membuat mata mengantuk.


Air yang begitu menyejukkan badan ini terasa sangat nyaman. Haaahh... sungguh hari yang damai, aku harap gadis itu mulai memikirkan tujuan barunya.


Vira yang masih termenung akan perkataan dari Yugi hanya mampu menunduk sambil menatap ikan yang sedang dibakar itu. Sepertinya dia sangat kesal akan perkataan Yugi karena telah membuat hatinya bimbang akan balas dendam. Tapi Vira juga mulai mengingat akan pesan terakhir ibunya.


“Anakku Vira, ibu mohon janganlah kamu terjebak oleh perasaan balas dendam. Ibu ingin... uhuk... kamu hidup bahagia.”


Mengingat pesan terakhir ibunya membuat Vira berpikir lagi soal tujuan dia hidup. “Ibu... aku akan berusaha untuk tidak terjebak dalam lingkaran balas dendam. Aku akan hidup bahagia, itu pasti ibu...” gumam Vira.


Vira mulai berjalan kearah tempat Yugi, dia juga mulai melepas semua pakaiannya dan ikut masuk kedalam air. Saat Yugi menyadari akan kehadiran seseorang, dia melihat Vira masuk kedalam air tanpa busana sehelai pun.


“Oi oi Vira... apa yang kau lakukan.” Panik Yugi sambil membelakangi Vira.


“Apa, aku juga mau mandi.” Jawab Vira dengan tenangnya.


“Apa ibumu tidak pernah mengajarimu tentang lawan jenis hah...” Teriak Yugi yang sudah kehabisan kesabarannya.


“Ah...” tatapan polos Vira membuat Yugi yakin kalau dia belum pernah mempelajari tentang sosialisasi. Mau bagaimanapun seorang laki-laki dan perempuan mandi bersama sama halnya mengundang serigala yang akan bangkit jika saja Yugi tidak bisa menahan dirinya.


Untung saja Yugi merupakan salah satu cowok yang masih memiliki moral dimana dia tidak akan menyerang seorang wanita sebelum menikahinya. “Sepertinya aku harus mengajarinya tentang bahayanya dunia ini. Terutama soal laki-laki...” gumam Yugi yang membuat Vira bingung mendengarnya.


“Eemm... begini kak Yugi. Aku masih mau menjadi muridmu...” ucap Vira.


“Maaf saja aku-...”


“Aku ingin hidup...” potong Vira dengan nada tegas yang terkesan imut.


“Eh...” Yugi terkejut akan perkataan Vira, dia menatap mata merah kehitaman itu dengan pandangan terkejut. Tapi tidak lama dia tersenyum senang saat melihat mata yang memancarkan akan keinginan untuk tetap bertahan hidup. “Sepertinya kau sudah merubah tujuan awalmu...”


“Izinkan aku menjadi muridmu... aku mohon.” Ucap Vira sambil menundukkan kepalanya dengan tubuh bergetar. “Aku ingin mewujudkan keinginan terakhir ibuku, dia tidak mau aku melakukan balas dendam... ibuku ingin aku tetap hidup dan menemukan kebahagiaanku. Oleh karena itu izinkan aku menjadi muridmu...”


Dengan senyuman yang begitu hangat Yugi menatap Vira, dari setiap nada yang dikeluarkan gadis kecil itu membuat Yugi enggan tidak menerimanya sebagai murid. Karena dia tau seberapa kuatnya gadis ini, dia bisa saja membuat semua orang terkejut akan kekuatannya di masa depan kelak. Dan Yugi tidak mau kalau Vira sampai jatuh ketangan orang jahat.


Saat itu hari masih menjelang siang... aku melihat tekad yang begitu kuat dari seorang gadis lemah yang meminta pertolongan. Dan aku... tidak mungkin meninggalkannya begitu saja... entah kenapa hatiku tergerak untuk membantunya... tanpa keraguan sekali pun aku...


“Baiklah... aku akan mengangkatmu menjadi muridku.”


Menerimanya dengan senyuman tulus diwajahku...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2