KAISAR ES

KAISAR ES
YAKIN


__ADS_3

Pertarungan telah selesai, dan kelima peserta lolos ke babak selanjutnya, aku sekarang sedang di sebuah kedai kafe setelah keluar dari colosseum, bersama dengan Vira, Maruya dan Maria, kami pun merayakan kemenangan babak ke empat ini... disampingku Vira, dia terlihat sedang memeluk serigala kecil imut yang merupakan familiarnya... sementara Maruya dan Maria, sedang sibuk dengan urusan mereka. Lalu bagaimana denganku, kepalaku sedang memikirkan sesuatu, entah itu memang penting atau tidak... tapi aku masih tetap memikirkannya...


“Permisi, ini pesanannya.” Seorang pelayan kedai itu mengantarkan makanan dan minuman yang sudah dipesan oleh mereka.


Dengan kedatangan pelayan itu, kesibukan mereka pun terhenti. Karena memang perut mereka semua sudah keroncongan, setelah melalui pertarungan sengit itu, tidak mengherankan kalau semua tenaga kedua pemuda petualang ini terkuras habis.


“Waktunya makan, sebaiknya kita habiskan semua makanan ini sebelum dingin.”


Dari perkataan Yugi, semuanya pun melakukan pose berdoa sebelum memulai makan sore itu.


Secara bersamaan mereka mengucapkan satu kalimat. “Selamat makan...”


Mereka pun mulai makan, Vira yang makan sambil menyuapi familiarnya, walau familiarnya itu yang bernama Neo selalu saja menggelengkan kepalanya pertanda tidak mau, namun dengan sekali paksaan manis dari Vira, satu suapan penuh itu di telan habis oleh Neo. Tentu saja serigala itu menggeram kesal, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Maria yang melihatnya hanya tertawa kecil ketika melihat tingkah Vira dan Neo. Lalu dengan Maruya, dia memakan makanannya dengan rakus seperti harimau yang kelaparan. Sepertinya pertarungan itu membuat perutnya tidak bisa menahan lapar. Untuk Yugi, dia makan dengan tenang sambil merasakan kenikmatan dari makanan tersebut. Kegiatan ke empat orang ini berjalan lancar, tapi tanpa mereka sadari, ada satu pemuda yang sedari tadi memperhatikan mereka. Pemuda itu berambut jingga api yang tengah melakukan acara makan juga. Walau dia hanya sendirian saja sih, sepertinya tidak ada orang yang menemaninya. Tapi seharusnya ada beberapa pengawal yang menjaganya, karena dia adalah seorang pangeran. Sepertinya untuk hari ini dia membiarkan dirinya tanpa pengawalan, atau dia melarikan diri dari para pengawalnya. Karena sifat dari pangeran ini memang terkesan tidak mau terkekang dan ingin bebas. Begitulah keinginannya, dari mata merah api nya saja sudah terlihat jelas.


“Sebagai seorang pangeran Vouleftis, kebebasan seperti ini sangatlah jarang untukku. Aku terkadang sangat iri pada mereka yang bisa berkeliaran bebas kemana saja. Tapi keadaanku yang seperti itu, tidak buruk juga.” Pangeran Vouleftis itu bergumam dengan dirinya sendiri, sambil memperhatikan ke empat orang itu, tapi yang paling diperhatikannya adalah seorang pemuda dengan rambut putih salju. Ya, dia adalah pemuda yang sudah dianggapnya rival. “Semenjak pertarungan pertama kita, aku merasakan perasaan membara di dalam dadaku. Seolah ingin terus bertarung tanpa henti. Saat aku mengetahui kau adalah pemilik pedang legenda, aku semakin ingin melawanmu. Yugi, bersiaplah... kita harus bertemu di kompetisi kerajaan ini. Tentu saja, didalam arena.”


Pangeran itu adalah Rexas, orang yang menjadi lawan tangguh Yugi yang pertama. Dalam pertarungan memperebutkan seorang Tuan Putri kerajaan Northern Esla. Yugi sampai mengeluarkan mode pertamanya, dan tentu saja berkat hal itu dia harus tertidur selama seminggu lebih. Rexas yang kalah dalam duel itu langsung di rundung rasa kekesalan dan amarah karena kalah. Tapi dia tahu kalau hanya memendam perasaan ini dan tidak melakukan apa-apa tidak akan ada yang berubah. Karna itulah dalam beberapa bulan belakangan ini dirinya berlatih keras sampai mencapai tingkat ini. Dan pelatihannya itu hanya untuk satu tujuan.


“Aku pasti akan mengalahkanmu, Yugi...” begitulah tekad dari pangeran Vouleftis ini.

__ADS_1


Kita beralih ke sebuah ruangan feminim berwarna kuning cerah. Diatas tempat tidur, seorang wanita cantik jelita tengah berbaring sambil melihat langit-langit kamarnya. Bayangannya masih mengingat pada sesosok pemuda surai putih salju dengan mata biru yang indah, saat bertarung didalam kompetisi kerajaan mata mereka sempat bertemu. Dan saat itu juga sang Tuan Putri kerajaan Eartfil ini memasang sebuah harapan tapi juga menatap sebuah permusuhan. Entah perasaan campur aduk apa yang di rasakannya saat ini, tapi saat mengingat pemuda itu membuat hatinya tidak karuan.


“Apa kau akan memenangkan kompetisi ini. Apa kau akan keluar sebagai juaranya, jika itu benar. Walau kita sudah berteman sekali pun, aku harus menghentikanmu. Yugi... aku berharap tidak harus sampai bertarung denganmu.” Gumam sang Tuan Putri kerajaan Eartfil satu-satunya itu. Ya dia adalah Lani, atau biasa di kenal pertama kali oleh Yugi adalah Lanya. Tapi nama pertama yang diperkenalkan pada pemuda surai putih salju itu adalah nama palsu. Dan nama aslinya adalah seorang Tuan Putri kerajaan Eartfil, Lani.


Scene kembali berpindah pada sebuah hotel mewah yang biasa dipesan oleh para bangsawan dan orang kaya raya saja. Didalam sebuah kamar, seorang pemuda dengan rambut pirang pucat sedang memoles pedangnya dengan sebuah lap putih secara hati-hati. Pemuda itu merupakan salah satu peserta kompetisi kerajaan yang berhasil lolos ke babak lima. Dia adalah seorang pangeran dari klan pedang, ya namanya Seiga Swordia. Pangeran dari kerajaan Swordia yang terkenal dengan ksatria pedangnya yang sangat berbakat dalam seni bela diri pedang. Dan pangeran ini merupakan satu dari setiap generasinya yang memiliki potensi menjadi seorang pendekar pedang legendaris. Selain bakatnya yang hebat, pedang yang dipakainya juga merupakan pedang kuno, itu terlihat jelas dengan ukiran kuno seperti semacam tulisan prasasti tertulis di bilah pedangnya.


“Moryasense... pedang yang dapat menciptakan pedang tiruan yang mirip aslinya. Dan dijuluki sebagai pedang pelahir, sebagai pangeran penerus kerajaan Swordia. Aku tidak akan membuat kesalahan yang dapat merusak reputasi kerajaanku.” Monolog Seiga dengan tatapan tajam yang terkandung tekad kuat didalamnya. Sambil mengacungkan pedangnya kedepan, tangan itu memegang erat gagang itu seolah tidak akan ada orang yang bisa mengambil pedangnya dari sang pemilik.


Dimalam hari, sebuah jalan raya yang selalu dilewati oleh banyak orang. Pemandangan berganti di pusat ibukota, dekat sebuah pancuran air, Yugi dan Vira sedang berjalan-jalan setelah menyelesaikan acara makan mereka. Saat di kafe itu, Yugi dan Vira berpisah dengan Maruya dan Maria. Dan sekarang guru dan murid ini sedang menikmati malam yang dingin di ibukota kerajaan Eartfil. Bisa dibilang ini refreshing sebelum kompetisi besok, Yugi sendiri ingin merilekskan kepalanya dari berbagai strategi untuk menghadapi lawannya di arena nanti. Walau dia sendiri masih belum tahu lawan seperti apa yang akan di hadapinya.


“Guru, apa guru merasa gugup karena besok sudah mencapai semi final?” tanya Vira. Karena dirinya melihat sang guru sedikit gelisah, hal itulah yang memicu pertanyaan itu muncul. Walau sedari tadi Vira sudah menahan dirinya untuk bertanya, tapi pada akhirnya dia pun bertanya juga.


“Aku rasa itu wajar saja, semua peserta yang mengikuti kompetisi ini pasti merasakan hal yang sama. Seperti halnya kakaknya Maria, dia juga merasakan kegelisahan. Tapi diwajahnya selalu terpasang sebuah semangat walau masih terlihat gugup. Jadi guru juga harus bisa melawan rasa kegelisahan guru.” Vira mencoba menyemangati gurunya, karena memang disaat semi final seperti ini pasti akan membuat para peserta merasakan kegugupan. Perjuangan mereka sudah setengah jalan, tinggal beberapa langkah lagi akan mencapai puncaknya. Disaat itulah hati setiap para peserta akan mengalami rasa gundah, gelisah, gugup dan takut. Tapi mau tidak mau mereka harus bisa melawan rasa takut itu dengan tekad yang kuat.


Yugi tersenyum, dirinya merasa payah karena telah membuat seorang gadis kecil merasa khawatir pada dirinya. Apalagi gadis itu mencoba menyemangatinya, dia tidak mungkin merasa tidak karuan seperti ini terus. Yugi menatap Vira dengan mata yakin dan berkata. “Kau benar Vira, aku harus yakin bisa menang. Terima kasih muridku yang hebat.” Yugi mengelus lembut, elusan itu bukan seperti seorang kakak pada adiknya. Tapi terkesan merasa kagum dengan sifat Vira yang semakin dewasa dan mulai memahami perasaan orang lain.


Lalu untuk Vira, jangan ditanyakan lagi. Dia sangat senang, saking senangnya dadanya berdetak sangat kencang. Seolah jantung itu mau melompat dari dalam tubuhnya, wajahnya pun sudah memerah. Bahkan Neo yang berada di gendongan Tuannya itu hanya mampu memutar matanya bosan dan tidak memperdulikannya. Perjalanan mereka pun terhenti, di tengah jalan itu, tidak sedikit orang yang melihat kedekatan Yugi dan Vira. Apalagi momen saat Yugi sedang mengusap rambut lembut muridnya itu, orang-orang mengira mereka adalah kakak beradik yang akrab. Kenapa mereka menyimpulkan begitu, karena warna rambut mereka yang terlihat sama. Dan tinggi mereka yang memang terkesan seperti seorang kakak yang menyayangi adik kecilnya. Dunia terasa milik mereka berdua, sehingga mereka tidak menyadari banyak orang yang tengah menyaksikan momen yang terasa hanya milik mereka itu.


“Kakak yang baik sekali.”

__ADS_1


Suara seorang ibu-ibu membuat momen guru dan murid itu seketika terhenti. Mereka pun mulai melihat sekelilingnya dan terkejut saat menyadari mereka menjadi pusat perhatian orang-orang. Banyak dari mereka yabg tersenyum kearah Yugi dan Vira.


“Memang seperti itu, seorang kakak harus menyayangi adiknya dengan baik.” Ucap dari seorang kakek tua yang beruban.


“Jagalah adikmu itu dengan segenap jiwamu pemuda berambut putih.” Teriak seorang pria dewasa yang terkesan masih muda.


Seketika Yugi tersenyum canggung, dia tidak tahu harus membalas seperti apa. Tapi dengan yakin dia berkata pada mereka semua. “Tentu saja, aku akan selalu menyayanginya dan melindunginya seumur hidupku.”


Mendengar jawaban yang tegas itu membuat semua orang tersenyum tulus pada Yugi dan Vira. Kemudian semua orang itu pun mulai berlalu lalang sambil menyapa dengan senyuman saat melewati guru dan murid itu. Yugi hanya membalas sapaan mereka dengan senyuman hangat juga. Lalu untuk Vira, wajahnya sudah memerah sempurna. Dia sendiri tidak menyangka kalau gurunya itu akan mengucapkan kalimat seperti itu dengan nada tegas tanpa ada keraguan. Ada terbesit rasa hangat di hatinya, tentang bagaimana Yugi yang berkata akan selalu menyayanginya dan melindunginya seumur hidup, itu sama hal nya seperti sebuah lamaran terhadap dirinya, dan Vira sangat tersentuh sampai rasanya ingin menangis bahagia.


Aku sangat senang, hatiku tidak bisa berhenti berdegup kencang. Sungguh rasanya ingin sekali memeluknya dan mendekap dada bidang yang kokoh itu. Perasaan yang tertahan ini semakin lama semakin membesar, dan aku sendiri sudah menyadarinya. Membohongi diri sendiri ternyata akan semenyakitkan ini, aku ingin mengatakannya soal perasaanku ini, tapi dia hanya memandangku sebagai seorang murid kecilnya yang imut. Aku sebagai seorang gadis kecil namun juga ingin terlihat sebagai sosok wanita didepannya... bisakah aku melewati batas guru dan murid, bisakah aku mengungkapkan perasaanku ini pada guruku... pemuda ini, dia yang telah menyelamatkanku, yang memberiku tempat untuk pulang, melatihku menjadi kuat, dan membimbingku ke jalan yang benar... entah rasa kagum apa lagi yang bisa aku utarakan padanya, setiap rasa kekaguman itu sudah berubah menjadi sebuah perasaan suka... dan rasa suka ini semakin melonjak tidak karuan, yang pada akhirnya aku tahu kalau ini adalah... sebuah perasaan CINTA...


Dimalam hari ini lah, seorang gadis kecil yang mulai beranjak dewasa dengan cepat. Mulai merasakan perasaan hangat yang menyadarkannya akan sesuatu yang lebih besar. Tapi apa dia akan sanggup saat tahu perasaan gurunya yang mungkin bisa membuat hatinya merasakan keretakan disana. Dan disisi lain, seseorang yang sudah lama menjadi penantian gurunya itu, sedang menuju ke kerajaan Eartfil. Di padang rumput itu, sebuah kereta kuda yang melaju sedang di tengah malam yang dingin. Membawa seseorang yang mengenakan jaket tebal sampai menutupi kepala untuk membuatnya tetap hangat. Tujuannya adalah ibukota kerajaan Eartfil, tempat dimana diadakannya sebuah kompetisi kerajaan. Bulan di malam ini terlihat sangat terang dan bulat, sampai bisa menyinari orang yabg berada didalam kereta kuda. Tidak lama tubuh orang itu bergerak dan tangannya membuka jendela kereta, kepalanya dia keluarkan dan melihat kearah depan, dimana sebentar lagi dia akan sampai tujuan. Karena angin yang kencang itu, penutup hodie jaket hangatnya terbuka dan memperlihatkan sebuah rambut panjang terurai warna merah yang sangat indah. Mata hitam itu tidak hentinya menatap kedepan, senyuman cerah yang begitu cantik terpampang jelas di wajahnya. Seperti sedang mendambakan seseorang, wanita ini sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.


Gumamannya yang terdengar halus dan hanya mampu dia dengar sendiri. “Semoga kita bisa bertemu... Yugi.” Suaranya itu terbawa oleh angin malam, terdengar lembut seperti angin pelan yang membelai wajah. Kemudian setitik air mata mulai mengalir, itu adalah air mata harapan. Keinginannya yang ingin bertemu dengan sang pujaan hati, membuat hatinya berdetak kencang. Lalu, apa keinginannya itu bisa terwujud, atau hanya sebuah harapan belaka saja. Saat memikirkan hal itu, membuatnya semakin ragu, jadi dia pun mulai berhenti berpikir dan tetap berjalan maju menuju harapan yang menunggu disana.


Sebuah harapan dari seorang wanita yang merindukan sosok sang terkasih. Namun kebimbangan didalam hatinya masih ada, perasaan takut jika tidak sesuai harapan membuatnya ragu melihat kedepan, tapi dia tahu, kalau seperti ini terus tidak akan bisa merubah apapun... dirinya sudah mengambil keputusan, dan apapun hasilnya nanti... dirinya akan menerimanya... aku SARA... ingin bertemu denganmu, pemuda yang sudah mencuri hatiku ini...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2