KAISAR ES

KAISAR ES
KEBENARAN DIBALIK RAHASIA


__ADS_3

“Sekarang jelaskanlah...”


Mendengar perintah itu membuat aku mau tidak mau harus menjelaskan dari awal hingga akhir. Tapi itu sangat merepotkan, jika saja ada sihir proyektor atau semacamnya... tapi aku tidak bisa menggunakannya.


“Ada apa?” Ucap tetua Kars yang sudah kehilangan kesabarannya.


Sudahlah, katakan saja apa yang mereka ingin dengar...


“Akan saya ceritakan, awal dimana saya bertemu Eternal Snow...” jawab Yugi.


Akhirnya aku menceritakan dimana untuk pertama kalinya aku dikhianati dan itu oleh party baruku sendiri. Kemudian dikejar para monster serigala sampai terjebak di sebuah gua.


“Di gua itu, saya dituntun oleh sebuah suara... saya berjalan lebih dalam kedalam gua. Disana saya melihat sebuah pedang yang bersinar yang tertancap di sebuah balok es besar. Tentu saja saya tidak langsung mengambilnya... saya berpikir mungkin akan ada jebakan kalau saya mengambil pedang itu.” Untuk sesaat Yugi menjeda ucapannya sambil mengambil nafas pelan. “Tapi tiba-tiba ada suara yang memanggilku lagi, saat saya melihat ke sumber suara, pedang itu... sinarnya berkedip beberapa kali. Waktu itu saya terkejut, ternyata pedang itu lah yang telah menuntun saya...”


[“...”] sementara Yui yang masih berada dimensi buatan, dia hanya duduk diam mendengarkan penjelasan dari Yugi tentang awal pertemuan mereka.


“Dan begitulah yang dia katakan padaku... Pedang itu Eternal Snow, dia berkata jika aku merupakan penerus selanjutnya dari Pedang Dewa Salju Abadi.” Akhirnya Yugi menyelesaikan ceritanya, ada beberapa yang Yugi rahasiakan tentang dimensi buatan yang merupakan tempat latihan Yugi sebelum mencabut Eternal Snow dari segelnya.


“Tidak mungkin...” semua orang tertuju pada sumber suara yang tidak mempercayai cerita Yugi. “Karena pada dasarnya Eternal Snow hanya bisa digunakan oleh keturunan kaisar seribu tahun yang lalu... harusnya yang menjadi penerusnya adalah Tuan Putri Elsa ataupun Elna.” Ucap Ares.


“Saya juga penasaran akan hal itu, karena Eternal Snow sendiri berkata kalau didalam tubuhku terdapat darah dari keturunan kaisar masa lalu... saya juga terkejut saat mengetahuinya.” Balas Yugi.


“Kalau begitu, bisakah kau menceritakan soal kehidupanmu sebelumnya sebelum menjadi seorang petualang?” tanya Pieros yang sebelumnya hanya diam mengamati.


Mendengar permintaan itu membuat hati Yugi bimbang, dia tidak mau mengingat kejadian dimana kedua orang tuanya direnggut begitu saja darinya. Yugi menundukkan kepalanya ke bawah dengan pandangan sedih.


Elsa yang melihat gelagat Yugi yang terlihat sedih itu segera membalas tetua dengan kata-katanya. “Sudah cukup, bukankah pertanyaan anda terlalu berlebihan tetua Pieros...”


“Maaf Tuan Putri Elsa, tapi ini penting untuk mengetahui siapa sebenarnya petualang Yugi ini...” ucap tetua Pieros dengan tenang.


“Tapi-...”


“Tidak apa-apa Putri Elsa... akan saya ceritakan.” Potong Yugi sambil melihat kearah tetua Pieros dengan pandangan tegas. “Saya hidup di dataran kerajaan Aries daerah pinggiran sungai, disana kami hidup dengan sederhana... aku hanya memiliki seorang ayah dan ibu yang merupakan seorang petualang yang sangat disegani karena kemampuan mereka yang tidak biasa. Ayahku seorang yang ahli menggunakan sihir Angin, dan Ibuku pengendali sihir Air. Mereka sering disebut sebagai pengguna sihir gabungan. Karena sihir Angin dan Air merupakan sihir dasar untuk menciptakan Es. Dan aku sendiri, merupakan pengguna sihir Es, yang anehnya saya tidak bisa menggunakan sihir Angin seperti ayah saya.” Yugi menjeda ceritanya sambil mengingat kejadian dimana dia kehilangan ayah dan ibunya. “Delapan Tahun yang lalu, sebuah peristiwa terjadi dimana aku kehilangan kedua orang tuaku. Waktu itu... sebuah kebakaran terjadi, rumahku hancur ditelan api, dan disana masih terdapat kedua orang tuaku yang belum menyelamatkan diri.” Air mata perlahan meluncur dari mata kiri Yugi, dengan menahan dirinya untuk tidak rapuh di hadapan semua orang, tubuhnya bergetar akan kesedihan. Elna yang melihat keadaan Yugi yang begitu rapuh, ingin rasanya dia memeluk orang yang sudah ia anggap kakaknya sendiri itu. Tapi tindakannya dihentikan oleh sang ibu. “Setelah kobaran api itu menghilang, yang tersisa disana hanyalah abu rumahku.”


“Ibu, kenapa kamu menghentikanku, aku ingin menemani kak Yugi...” ucap Elna pelan.


“Tenanglah anakku, ini bukan waktu yang tepat...” balas sang ratu, akhirnya Elna hanya bisa menurut akan perkataan ibunya.


“Bagaimana dengan sisa delapan tahun itu, apa kau tinggal sendirian?” tanya Ares.


“Waktu itu saya di adopsi oleh seorang kakek, sisa hidupku aku abdikan kepada kakek yang telah rela merawatku. Saya hidup di bawah bimbingannya, kakek mengajarkanku bertani dan memberikanku sebuah pengetahuan umum sampai sejarah kerajaan. Selain itu kakek juga mengajarkanku cara membuat obat dari berbagai tanaman herbal... dia mengajarkanku soal pengetahuan untuk bertahan hidup. Hanya satu yang tidak dia ajarkan padaku... yaitu cara menggunakan sihir. Tapi semenjak kakekku meninggal, dia berpesan padaku untuk terus hidup dan menemukan kebahagiaan dibalik impianku...” ucap Yugi yang mengakhiri ceritanya.


Thorn berkata setelah mendengar penjelasan Yugi. “Dengan kata lain kau baru menjadi petualang semenjak meninggalnya kakek angkatmu...”


Yugi hanya mengangguk lemah tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.


“Hhhmmm... dengan kata lain bisa saja ayah atau ibu Yugi merupakan keturunan Kaisar masa lalu yang tidak kita ketahui.” Ucap Kars.


Tetua yang lain mulai berpikir akan penjelasan Yugi yang menurut mereka ada yang aneh. Tentu saja ini pasti bukan sebuah kebetulan, jika benar salah satu orang tua Yugi merupakan keturunan kaisar di masa lalu, maka...


“Untuk lebih memastikannya, petualang Yugi, bisakah anda memanggil Roh Eternal Snow...?” tanya tetua Thorn.


“Maaf, sepertinya dia tidak mau keluar...” jawab Yugi seadanya.


“Tapi kami memerlukan penjelasan darinya, kenapa dia memilihmu sebagai penerusnya...” ucap tetua Pieros.


Tetua yang lain mengangguk mengiyakan, hal itu membuat Yugi tidak tau harus berbuat apa.


Bagaimana ini, apa yang harus kulakukan...


Yui yang melihat kejadian itu hanya bisa duduk menahan amarah karena keserakahan para tetua yang ingin bertemu dengannya. Karena tidak tahan melihat tuannya tersudut, Yui berdiri dari duduknya dan menghilang dari dimensi buatan.


Tiba-tiba sebuah cahaya biru keputihan menyelimuti tempat rapat kerajaan itu, didepan Yugi melayang sebuah pedang, itu adalah Eternal Snow yang di diami oleh Yui. Dibalik sinar menyilaukan itu, keluarlah Yui yang kemudian memegang Pedang Eternal Snow ditangan kanannya.


“Kalian empat tetua sangat keras kepala... asal kalian tau saja, aku sudah tidak tahan mendengar pertanyaan kalian yang membuat hati tuanku terluka.” Ucap Yui dengan suara datar plus dinginnya.


Semua orang dibuat terkejut akan kedatangan seorang wanita berambut putih dengan mata biru langit dan wajah yang cantik mulus seputih salju. Pakaiannya yang seperti Tuan Putri berwarna putih kebiruan dengan corak salju dimana-mana. Tatapannya menatap semua orang terutama empat tetua yang tengah terkejut melihat Yui.


“Apa yang kalian butuhkan dariku?” tanya Yui datar.


“Anda, apa benar sang Dewa Naga Elemen...?” tanya Thorn dengan wajah tidak percayanya.


“Begitulah, ini adalah diriku dalam wujud manusia, kalian bisa memanggilku Yui, karena itu namaku dalam wujud ini.” Balas Yui dengan acuhnya.


“Y-yui...”


“Untuk kalian para tetua, kalian harus memanggilku dengan sopan. Aku adalah Dewa Naga...” Tegas Yui memotong perkataan Thorn dan membuat empat tetua terkejut.


“Yui, apa yang kau katakan?” tanya Yugi yang terkejut akan perkataan Yui yang tidak sopan pada orang yang lebih tua.

__ADS_1


“Tidak masalah, kami memang tidak sopan pada Dewa Naga yang telah melindungi kami sejak lama. Maafkan atas kelancangan kami, Nona Yui...” ucap Thorn.


“Eemmm... itu lebih bagus. Jadi apa yang ingin kalian tanyakan padaku?” tanya Yui arogan.


‘Entah kenapa, sepertinya Yui tidak menyukai empat tetua itu...’ batin Yugi.


“Kenapa anda memilih petualang Yugi...?” tanya Kars.


Yui yang mendengar pertanyaan itu hanya menatapnya datar, dengan helaan nafas lelah dia menceritakan sebuah kisah. “Seribu tahun yang lalu, di daratan Northern Esla terjadi gempa yang dahsyat. Tuanku meyakini bahwa ini adalah pertanda akan lahirnya kekuatan jahat yang baru. Gempa itu juga tidak hanya melanda kerajaan ini, tapi semua daratan yang ada dimuka bumi ini juga merasakan hal yang sama. Kemudian karena tuanku merasakan ada nya firasat buruk di masa depan, demi melindungi dunia ini, dia menyegelku dengan harapan akan terlahirnya pahlawan baru yang akan memusnahkan kekuatan jahat tersebut.” Yui duduk di pangkuan Yugi dengan nyamannya, dan hal itu mengundang kemarahan dari dua orang kakak beradik yang tidak lain adalah Elsa dan Elna. Yui yang menyadari itu tidak peduli dan melanjutkan ceritanya. “Dan dia sekarang berada di hadapan kalian semua, seorang pahlawan legenda yang akan mengukir sejarah di daratan para penyihir terhebat, dia akan menjadi kaisar diantara kaisar. Dia akan berdiri diatas puncak tertinggi dan menjadi yang terkuat diantara yang terkuat.” Ucap Yui panjang lebar.


Mendengar penjelasan dari Yui, semua orang kembali dibuat terkejut akan pernyataan yang teramat dari Yui. Sementara Yugi hanya bisa mengumpat kesal karena Yui terlalu melebih-lebihkan dirinya.


“Maksud anda, Petualang Yugi...?” tanya Pieros.


“Memang siapa lagi, kalian harus hormat padanya... karena dia adalah penerus dari pedang Dewa Salju Abadi.” Ucap Yui dengan nada sombongnya.


Semua tetua berdiri kemudian memberi hormat pada Yugi. “Maafkan atas kelancangan kami, Tuan Yugi...” ucap mereka secara bersamaan.


“Yui, lihat apa yang telah kau perbuat.” Ucap Yugi marah.


“Yugi, ini adalah takdirmu, aku sudah mengatakan rahasia yang telah kupendam padamu. Sekarang kamu tau, kau adalah penyelamat yang sudah dinantikan oleh tuanku seribu tahun yang lalu. Jangan membuat harapannya musnah...”


Mendengar perkataan Yui yang teramat serius itu... aku tidak bisa membalasnya, untuk pertama kalinya, aku melihat sisi lain dari Yui yang berbeda.


“Jadi ini maksud darimu...” ucap Yugi yang mengingat rahasia yang disembunyikan oleh Yui.


“Ya, kau pikir aku bercanda...” balas Yui. Kembali menatap para tetua, Yui kembali bertanya pada mereka. “Apa masih ada pertanyaan yang lain?”


Ares menatap Yui dengan pandangan serius. “Bagaimana dengan Ke enam Dewa Naga Elemen?”


“Untuk mereka aku hanya merasakan dua kehadiran Naga Elemen, yaitu Dewa Naga Angin Dan Api, mereka sudah sepenuhnya bangkit sekarang ini.” Jawab Yui.


“Berarti sudah Tiga Dewa Naga Elemen yang bangkit termasuk milik Tuan Yugi.” Ucap tetua Kars.


“Ehehehehe...” Yugi hanya mampu tertawa hambar karena di panggil begitu sopan oleh para tetua.


“Bagaimana dengan empat lainnya?” tanya Pieros.


Yui hanya menggelengkan kepalanya sambil bersandar ke dada bidang milik Yugi. Perbuatan Yui merupakan bendera perang bagi Elsa dan Elna. Tantangan yang diberikan oleh Yui, akan mereka terima.


“Elna adikku, sepertinya dia menantang kita...” ucap Elsa kesal.


Entah kenapa Yugi bisa melihat aura permusuhan dari Elsa dan Elna yang ditunjukkan untuk Yui, sampai-sampai terlihat seperti ada percikan listrik yang saling mengadu diantara mata mereka bertiga.


“Sepertinya pertemuan hari ini kita akhiri sampai di sini...” ucap Thorn yang disetujui oleh yang lain. Semua orang mulai berdiri dari tempat duduknya dan pergi dari ruang rapat tersebut.


“Hei kamu...” ucap Elna dengan nada kesal. “Sampai kapan kamu mau menempel terus sama kak Yugi?”


“Memang apa salahnya...” balas Yui yang sekarang sedang menggandeng lengan kanan Yugi.


“Kaaaauuuuu...” kesal Elna karena mendengar balasan dari Yui seolah menantangnya.


“Lagian aku punya nama ya, namaku Y-U-I...” ucap Yui dengan penekanan di setiap namanya.


“K-kalian berdua tenanglah.” Ucap Yugi berusaha melerai mereka.


“Elsa...” panggil sang raja pada putri tertua.


“Ada apa ayah?”


“Kamu temani Yugi malam ini.” Ucap Reulad.


“Heeee... kenapa?” kaget Elsa.


“Dengarkan ibu...” sekarang giliran sang ratu yang ikut bicara. “Dapatkan hati Yugi, kami mendukungmu... oh ya, jangan lupa ajak adikmu, sepertinya dia juga menyukai Yugi.” Melihat Elna yang bertengkar dengan Yui.


Mendengar persetujuan dari kedua orang tuanya membuat Elsa menjadi malu dengan wajah yang sudah memerah sempurna. Dengan senangnya Elsa menjawab. “Iya, Pasti...” Elsa menatap Yugi seperti seekor mangsa yang siap di santap.


“Bbrrrr... kenapa tubuhku jadi merinding begini ya?” tanya Yugi entah pada siapa.


“Dengar baik-baik adik kecil, Yugi itu Tuanku, dengan kata lain dia itu cuma buatku. Aku tidak akan mengizinkanmu memilikinya.” Ucap Yui.


“Tidak bisa seperti itu, kak Yugi adalah milikku, aku berhak memilikinya.” Balas Elna.


“Apa kau bilang...” marah Yui.


“Kenapa hah...” balas Elna tidak mau kalah.


“Y-yugi...” ucap Elsa berbisik didekat Yugi.

__ADS_1


“Ada apa Elsa, aku sedang sibuk melerai mereka...” balas Yugi yang kewalahan menghadapi dua orang yang tengah adu bacot.


“Eemmmhh...” karena kesal diacuhkan, Elsa menarik Yugi untuk menjauhi mereka.


“Diam kamu, Yugi itu milikku titik.” Teriak Yui.


“Tidak, kak Yugi milikku...” balas Elna tidak mau mengalah.


Disaat mereka berdebat, Yugi sudah tidak ada disana. Yang pertama menyadari hal itu adalah Yui.


“Eh, dimana Tuan...?”


“Kak yugi kemana?”


Saat mereka menyadari kalau satu orang lagi tidak ada di ruangan ini, dengan kompak mereka berteriak. “ELSAAAAAA / KAK ELSAAAAAAAAAAA...”


Ditaman istana, tempat dimana keindahan bisa dilihat disini. Jika malam tiba, taman ini akan terlihat sangat menawan diterpa cahaya bulan dan dihiasi taburan bintang dilangit. Ditambah kunang-kunang yang berkelap kelip menambah keindahan taman istana ini. Terlihat Elsa dan Yugi yang tengah duduk di ayunan panjang ditaman tersebut.


“Neee Yugi, apa kamu masih ingat apa yang aku katakan padamu waktu itu?” tanya Elsa.


“Ya, untuk pertama kalinya tuan putri Elsa meminta sesuatu padaku. Walaupun kita waktu itu tidak terlalu dekat. Tapi aku senang dimintai tolong olehmu... tapi yah, maaf aku tidak bisa memenuhinya.” Ucap Yugi sambil menggaruk kepala bagian belakangnya dengan grogi.


“Tidak apa-apa, aku malah senang karena kamu tidak memenuhinya, kalau tidak... mungkin sekarang aku sudah tidak disini lagi.” Ucap Elsa dengan nada lega.


“Oh ya bagaimana dengan Raja dan Ratu, apa mereka terkena masalah karena gara-gara aku membatalkan perjodohanmu waktu itu?” tanya Yugi dengan nada agak takut karena sedari rapat tadi Raja Reulad terus saja menatap Yugi dengan pandangan tajam seolah mendapatkan mangsa.


“Tidak, semuanya baik-baik saja... walaupun ayah juga masih marah sih.” Jawab Elsa tenang.


‘Sudah kuduga, pantas saja dari tadi raja terus saja menatapku.’ Batin Yugi dengan nada sedih didalam hatinya.


“Tapi tenang saja, Raja Rouxias memaafkan perbuatanmu dan masih menjalin hubungan dengan kerajaan ini. Begitu pula dengan Rexas, dia sangat senang akan pertarungan waktu itu, dan dia juga memberiku sebuah pesan untukmu, katanya dia ingin bertarung lagi denganmu jika sudah sembuh nanti.” Ucap Elsa dibarengi senyuman tipis.


“Itu sih bukan senang, sepertinya dia ingin menghajarku sampai babak belur jika harus berduel lagi nanti dengannya.” Ucap Yugi dengan lesu.


“Kurasa tidak, dilihat dari wajahnya waktu itu... Rexas, dia seperti menganggapmu sebagai temannya.” Balas Elsa.


“Mana mungkin orang yang menghalangi nya menikah denganmu menganggapku sebagai teman, yang ada mungkin saingan... eh...” Yugi baru menyadarinya, duel waktu itu Rexas terlihat sangat menikmatinya. Walaupun pada akhirnya dia kalah karena syok mendengar penolakan dari Elsa.


“Yup, dia menganggapmu Rivalnya...” ucap Elsa dengan nada senang.


“Begitu ya, rival pertamaku...” ucap Yugi sambil tersenyum. “Terus, hubungan kalian bagaimana?”


“Untuk sekarang kami sepakat untuk berteman lagi... seperti dulu.” Jawab Elsa.


“Begitu ya, syukurlah...” Yugi memandang langit malam itu dengan senyuman penuh arti. Elsa yang melihat senyuman Yugi yang begitu menawan diterpa cahaya bulan membuat jantungnya berdetak kencang. Waktu terasa berhenti untuknya, bagi Elsa ini adalah momen yang sangat berharga.


“Eemmmhhh...” dengan keberanian yang sudah terkumpul, Elsa menggenggam tangan Yugi yang berada disampingnya.


Yugi yang merasakan genggaman tangan seseorang, dia menatap ke asal tangan tersebut, digaris pandangnya, tangan Elsa menggenggam tangannya sambil memasang wajah malu-malu kucing.


Aku tidak tau apa yang aku rasakan, Elsa menatapku dengan mata nya yang indah, surainya tertiup angin malam, menambah kecantikannya yang terlihat jelas disinari bulan purnama yang indah. Wajah kami saling mendekat satu sama lain, mata Elsa tertutup dengan bibir ranumnya yang terbuka sedikit. Aku berpikir, apa kita akan melakukan itu...


“Ah...”


Tapi tiba-tiba aku teringat dengan seseorang yang selalu bersama denganku. Aku merasa bersalah akan suatu hal...


Aku menggenggam kedua pundak Elsa dan menghentikan tindakannya itu.


“Yugi...” ucap Elsa pelan. Dia bisa melihat Yugi yang memalingkan wajahnya kearah lain, seolah menolaknya. Hal itu membuat Elsa menjadi murung dan agak menjauh dari Yugi.


“Maaf Elsa...” ucap Yugi dengan nada menyesal.


“Tidak apa-apa...” balas Elsa sambil menggelengkan kepalanya.


Suasana menjadi canggung diantara mereka, karena keheningan itu suara jangkrik pun sampai terdengar oleh mereka. Tapi suasana itu langsung buyar seketika...


“Hei, apa yang kalian lakukan hah...” teriak sebuah suara dari kejauhan. Yugi dan Elsa melihat ke sumber suara, disana mereka bisa melihat Yui dan Elna yang tengah berlari kearah mereka. “Akhirnya aku menemukanmu Yugi...” ucap Yui yang langsung memeluk Yugi dari depan.


“Y-yui...” ucap Yugi terbata.


“Hentikan kelakuanmu dasar kucing garonggg...” Elna berusaha menarik Yui dengan sekuat tenaga.


“Siapa yang kau panggil kucing garong dasar anak ayaammm...” Yui dengan sekuat tenaga memeluk Yugi agar tidak lepas.


“Ihihihihihihi...” Elsa hanya mampu tertawa kecil melihat tingkah mereka yang konyol. Sementara Yugi kerepotan menghadapi dua orang yang terus saja memperebutkannya.


Mungkin bukan saatnya, Yugi... aku berharap perasaanku tersampaikan padamu. Aku akan terus menunggumu...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2