KAISAR ES

KAISAR ES
MARUYA VS SHARO


__ADS_3

Sorak sorai penonton begitu meriah saat Yugi berhasil memenangkan pertarungan melawan tiga orang dari negara Boltendra, tangannya teracung dengan senyuman kemenangan. Yugi berjalan dengan bangganya sambil menatap muridnya yang menonton pertarungan tersebut.


Luar biasa, sejak awal aku memang merasakan kekuatan yang sangat hebat didalam tubuhmu Yugi... aku juga berani bertaruh kalau kau belum mengeluarkan semua kekuatanmu. Tapi aku juga...


Kedua tangan Maruya menggenggam palang pembatas arena dengan sangat kuat sampai mengakibatkan bengkok. Dengan senyuman senangnya dia menatap Yugi dengan pandangan membara.


‘Akhirnya... setelah sekian lama aku bersemangat kembali untuk mengalahkan lawanku. Dan targetku adalah kau... Yugi. Lihat saja, akan kutunjukkan kekuatanku padamu.’ Batin Maruya dengan percaya dirinya.


‘Diluar dugaan, dia berkembang begitu pesat.’ Batin seorang pemuda bersurai jingga api memakai jubah berlambangkan Pheonex membara. Matanya berkilat tajam menatap kearah Yugi berada, disana dia melihat senyuman senang darinya bersama dengan teman-temannya. “Aku jadi tidak sabar bertarung lagi denganmu.”


“Wah pertarungan yang luar biasa, situasi tidak terduga bisa di atasi oleh sang petualang muda ini. Baiklah mari kita mulai mengacak kembali peserta yang akan bertarung selanjutnya.” Setelah perkataan Rud sang wasit, papan hologram sihir mulai mengacak kembali nama peserta selanjutnya. “Ini dia... petarung selanjutnya adalah Maruya, Sharo, Yuga, dan Ruze.”


Keempat petarung yang di panggil langsung memasuki arena. Sementara Maruya yang tadinya ingin langsung masuk arena di tahan sebentar oleh Yugi dengan memegang pundaknya.


“Ada apa?” tanya Maruya.


“Berhati-hatilah, aku merasakan salah satu dari mereka memiliki kekuatan yang hebat.” Ucap Yugi memperingati Maruya.


“Tenang saja, kau sendiri belum melihat kekuatanku.” Dengan begitu Maruya langsung melompat menuju tengah arena.


“Begitu rupanya...” gumam Yugi. ‘Benar juga, perasaan familiar yang kurasakan mungkin saja akan kulihat sekarang.’ Batinnya.


“Baik, semua peserta yang dipanggil sudah berkumpul, pertarungan akan di mulai sekarang.” Teriak sang wasit Rud, setelah instruksi tersebut setiap peserta hanya terdiam sambil menatap satu sama lain. Aura yang begitu menekan terasa dari keempat peserta tersebut.


“Aku tidak tertarik dengan kalian.” Ucap Ruze dengan dinginnya, jubah hitamnya menutupi badannya begitu pula pakaian didalamnya, mata hitam itu menatap ketiga peserta dengan remeh, potongan rambutnya seperti pantat ayam dengan warna biru kehitaman.


“Apa kau bilang...” Geram Yuga dengan emosinya. Sekujur tubuhnya sudah di selimuti oleh aura jingga pekat bersamaan dengan rambut panjang lebat jingga yang melengkung ke bawah sampai pinggangnya bergerak-gerak sedikit untuk mengintimidasi lawannya. Pakaiannya layaknya seorang preman jalanan berwarna abu-abu dengan kedua tangannya terdapat gelang besi.


“Kalau kau tidak menyukai perkataanku kenapa tidak bertarung saja denganku.” Balas Ruze datar.


“Cih... sialan.” Dengan provokasi itu Yuga langsung melesat kearah Ruze sambil mengayunkan tangannya untuk memukul wajah Ruze.


Duuuaaaarrrrr


Ledakan terjadi saat Yuga berhasil menghantamkan tinjunya kearah Ruze dan mengakibatkan debu beterbangan dan menghalangi penonton yang penasaran apa yang terjadi.


“Sepertinya tinggal kita berdua yang tersisa.” Ucap Sharo dengan santainya, dia memakai pakaian layaknya seorang cowboy dengan rantai yang melilit menyilang di tubuhnya.


“Aku sangat bersemangat.” Balas Maruya dengan senyuman sambil meninju tangan kanannya ke telapak tangan kirinya.


“Kalau begitu izinkan aku memulai lebih dulu.” Perkataan dari Sharo menjadi instruksi tersendiri untuk Maruya.


Tanpa sadar sebuah rantai dari bawah tanah langsung mengepung Maruya secara menyilang, tidak tinggal diam disana dengan cepat Maruya melompat tinggi untuk menghindari rantai tersebut.


“Dia menggunakan rantai sebagai senjatanya...” perkataan Maruya terhenti saat sebuah rantai selanjutnya tiba-tiba melesat cepat kearahnya. “Akan kulelehkan rantai itu... Flame Burst.”


Semburan api dari mulut Maruya yang begitu membara langsung melelehkan rantai yang dikendalikan oleh Sharo. Melihat itu wajah Sharo terkejut dengan keringat di pelipisnya, tapi dengan cepat dia kembali tersenyum sambil berkata dengan tawa senangnya.


“Kau terjebak...” tiga rantai tiba-tiba muncul dari arah kanan, kiri dan belakang Maruya kemudian mengikat kedua tangan dan lehernya.


“Gheee...” Maruya tidak bisa berbicara karena suaranya telah di hentikan melalui leher yang terasa di cekik.


“Bagaimana kalau kau menyerah saja, dengan begitu kau tidak perlu merasakan rasa sakit.” Ucap Sharo dengan santainya.


Di bangku penonton terlihat adik Maruya yang menatap khawatir pada kakaknya tersebut. Kedua tangannya terkepal di depan seperti sedang berdoa. ‘Kakak berjuanglah...’


“Pengendali rantai, baru pertama kali ini aku melihatnya.” Gumam Yugi, perkataan Yugi barusan sempat terdengar oleh Vira.


“Guru, apa orang itu kuat?” tanya Vira.


“Ya dia kuat, tapi...” perkataan Yugi terhenti saat melihat Maruya yang membakar seluruh tubuhnya dengan api membara.


“T-tidak mungkin.” Ucap Sharo terkejut saat melihat rantainya yang kembali meleleh akibat api milik Maruya.


“Rantaimu itu seperti benang yang mudah terbakar.” Ejek Maruya.


Sharo yang tidak terima langsung mengerahkan seluruh rantai yang berada di belakangnya yang berjumlah sepuluh. “Jangan sombong dulu...” dua diantara sepuluh rantai itu mulai kembali melesat kearah Maruya dengan tombak tajam di ujungnya.


Maruya dengan reflek langsung berlari kearah kanannya untuk menghindari kedua serangan itu.


Duar


Duar

__ADS_1


Kedua rantai itu menghantam tanah dan menancap disana. Tidak berhenti rantai selanjutnya kini kembali menyerang Maruya.


Duar duar duar


Lagi Maruya berhasil menghindari ketiga rantai tersebut dengan melompat tinggi dan bersalto dan mendarat dengan sempurna.


“Apa kau hanya bisa menghindar saja.” Ejek Sharo.


“Oryaaaaaa, aku akan menghajarmu.” Dengan membaranya Maruya melesat ke depan menuju Sharo dengan kedua tangannya yang terkepal dan diselimuti oleh api.


Tinju berapi Maruya dapat ditahan oleh rantai Sharo yang saling berkumpul membentuk perisai tebal. “Tidak bisa menembus hah...” ejek Sharo.


Maruya hanya terdiam sambil memutar tubuhnya dan menendang perisai itu dengan kaki berselimut api.


Blaaaarrrrrr


Tetap saja perisai rantai itu tidak hancur, dibalik sana Sharo tersenyum senang sambil menggerakkan tangan kanannya ke depan dan tangan kiri ke atas. Rantai yang berwujud perisai itu mulai mengurai kembali dan menyerang Maruya secara membabibuta, dengan reflek bagus Maruya berhasil menghindarinya.


“Aku tidak akan terkena rantaimu lagi.” Teriak Maruya.


Tapi tanpa sadar sebuah rantai yang meluncur cepat dari atas tepat mengarah Maruya dengan ujungnya seperti tombak yang begitu tajam diselimuti energi sihir.


Duuuaaaaaaarrrrrrrr


Ledakan yang begitu besar menutupi para penonton dengan debu tanah yang tebal. Semuanya penasaran akan nasib sang petualang pengguna api karena telah mendapatkan serangan yang begitu kuat oleh pengguna rantai yang cukup hebat mengendalikan rantai-rantainya. Sharo yang melihat itu hanya tersenyum kemenangan atas perbuatannya tersebut.


“KAKAAAKKKK...” Sang adik hanya mampu berteriak terkejut saat melihat serangan secara tiba-tiba itu.


“Tenang saja...” ucap Yugi yang berada disampingnya. “Dia baik-baik saja, aku masih bisa merasakan mana nya.”


Mendengar perkataan itu Maria kembali menatap debu bekas pertarungan Maruya dengan Sharo. Tidak lama sebuah bayangan melesat ke udara dengan kedua tangan yang terselimuti api yang begitu panjang berbentuk tali yang begitu tebal.


“Bagaimana dia menghindari itu...” gumam Sharo terkejut.


“Wings of Fire.” Kedua tangan Maruya saling menyilang dengan begitu api yang berbentuk tali tebal itu saling menyilang dan melengkung tajam kearah Sharo layaknya sayap yang menyambar.


Sharo yang melihatnya tidak tinggal diam, dengan cepat dia membuat perisai kembali menggunakan rantainya.


DBuuaaarrrr


“Ledakan yang kuat, tapi itu masih belum cukup.” Gumam Sharo yang masih terlindung oleh rantai yang membungkus dirinya.


Trak trak


Mendengar suara retakan dibawah kakinya, Sharo langsung terkejut karena yang keluar adalah lawannya.


“Fire Fist.” Maruya meninju dagu Sharo dengan begitu kuatnya sampai perisai rantai yang membungkusnya hancur terhantam tubuhnya sendiri dan terbang ke udara dengan cepatnya. “Masih belum...” Maruya melompat tinggi untuk menyusul Sharo.


“Gha...” Sharo batuk darah saat berada diudara, digaris penglihatannya Maruya melesat cepat kearahnya. Dengan usaha yang kuat Sharo berusaha menggerakkan rantai-rantainya untuk menyerang Maruya. Tiga rantai melesat cepat kearah Maruya, tapi hal itu tidak membuat Maruya takut.


Maruya menggunakan api di kedua kakinya yang berfungsi sebagai pendorong dan untuk menghindari rantai milik Sharo. Dengan akurasi yang tepat Maruya memiringkan jalur lajunya ke kiri, kanan dan sedikit ke atas dan hal itu berhasil membuatnya terhindar dari rantai sihir tersebut.


“Aku tidak mau kalah.” Teriak Sharo dengan lantang.


“Hahahaha aku suka lawan yang pantang menyerah.” Balas Maruya dengan tawa percaya dirinya.


Sharo membungkus tangan kanannya dengan rantai sampai berbentuk bor yang berputar cepat. “Drill Chain.”


“Akan kubalas... Dragon Fire Fist.” Tangan kanan Maruya membentuk api berkepala naga yang begitu ganas.


“Hhhrrraaaaaaa...” teriak Sharo sambil meninju dengan kekuatan penuh.


“Hooorrraaaaaa...” begitu pula Maruya yang tidak mau kalah.


Blllaaaaarrr duuuaaaaarrrrr


Dan akhirnya kedua tinju itu saling bertemu di udara dan mengakibatkan daya ledak yang begitu kuat sampai gelombangnya mencapai tanah dan membuat debu beterbangan. Namun hal itu tidak membuat para penonton bisa mengalihkan kedua matanya dari dua pemuda yang masih melayang diudara. Maruya berhasil meninju tangan kanan Sharo sampai rantainya hancur berkeping-keping dan mendarat tepat di pipi kirinya sampai terpental pelan diudara.


Karena hukum alam, tidak lama mereka pun mulai terjatuh dengan cepat ketanah. Maruya berhasil mendarat dengan mulus tapi tidak untuk Sharo.


“Ah, Sharo.” Maruya dengan cepat menghampiri tempat Sharo terjatuh.


Disana tergeletak tubuh Sharo yang tidak berdaya dengan retakan dibawah tubuhnya seperti sarang laba-laba. Untuk terakhir kalinya Sharo membuka matanya dan menatap kearah Maruya dengan senyuman kecil.

__ADS_1


“Cih... ternyata aku kalah, tapi tadi... pertarungan yang menyenangkan.” Sharo pingsan ditempat dengan senyum puas karena telah bertemu dengan lawan yang kuat.


“Kau hebat, Sharo.” Ucap pelan Maruya yang menatap tubuh Sharo yang menghilang dibawa oleh tim medis menggunakan sihir teleport.


“P-pertarungan yang begitu hebat, kini yang tersisa hanya tinggal Maruya dan Ruze.” Teriak wasit.


Mendengar hal itu Maruya baru sadar masih ada lawan yang harus dia kalahkan. Dia pun menatap ke segala arah untuk mencari Ruze. Seketika matanya membelalak terkejut saat melihat Ruze duduk bermeditasi dengan tenang di ujung arena jauh dari tempatnya berdiri.


“B-benar juga...” ucap penonton laki-laki


“Masih ada yang tersisa.” Ucap penonton perempuan.


“Aku pikir sudah selesai...” ucap laki-laki yang terkejut melihat Ruze masih ada didalam arena.


“Aku tidak bisa merasakan kehadirannya, apa-apaan ini.” Ucap Maruya dengan keringat di pelipisnya.


“Laki-laki itu sangat misterius.” Ucap Vira.


“Aku bahkan tidak bisa merasakan hawanya.” Balas Maria yang menatap khawatir kakaknya.


‘Hawanya begitu tipis, sangat... bahkan aku sendiri tadi sempat lengah.’ Batin Yugi menatap tajam kearah arena. ‘Tapi untuk gadis kecil seperti Maria, bagaimana dia bisa mengatakan hal tersebut. Kalau Vira sudah hal yang biasa karena aku yang melatihnya. Tapi Maria, dia bilang tidak bisa merasakan hawa keberadaannya. Apa selama ini dia bisa merasakan hawa keberadaan penyihir seperti kami. Sebenarnya, Maruya dan Maria... kalian itu siapa?’


Arena kembali menjadi begitu tegang saat pertarungan penyelisihan ini masih menyisakan dua orang didalam arena. Kedua orang tersebut saling menatap satu sama lain dengan intimidasi kuat. Ruze yang sudah selesai bermeditasi langsung melompat tinggi dan mendarat tidak jauh dari Maruya. Sekarang mereka pun bisa saling melihat lawannya dengan jelas dengan jarak yang terpaut beberapa meter saja.


“Aku cukup terkesan, kupikir kau akan kalah.” Ucap Ruze.


“Kheh, aku pikir sudah menang. Maaf melupakanmu... habisnya hawamu begitu tipis.” Balas Maruya.


“Tidak masalah, banyak yang mengatakan hal itu kepadaku.” Hawa hitam tipis mengelilingi Ruze sambil tersenyum meremehkan kearah Maruya.


“Sepertinya ini akan menjadi pertarungan yang hebat.” Ucap Maruya dengan semangatnya.


Raja dan Ratu yang melihat pertarungan itu hanya mampu tersenyum karena melihat sesuatu yang menarik perhatian selain pemuda bersurai putih salju. Saat sedang asyik menonton tiba-tiba suara langkah kaki menghampiri mereka. Rambut yang terurai coklat itu begitu menawan, parasnya yang begitu elok menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Langkah kaki sang gadis itu berhenti tepat di belakang yang mulia. Dia pun menatap kearah arena dimana pertarungan sedang berlangsung.


“Ayah, Ibu...” panggil wanita itu dengan lemah lembut.


“Putriku, duduklah... kompetisinya masih berlanjut.” Ucap Tenruo sambil mempersilahkan putrinya duduk disamping nya.


Tanpa membuang waktu Lani sang putri kerajaan Eartfil duduk di sebelah ayahnya. Mereka pun menatap ke arah arena dimana terdapat dua orang pemuda yang sedang saling menatap satu sama lain.


“Menurutmu siapa yang akan menang...?” Tanya Tenruo pada putrinya.


“Keduanya memiliki potensi yang bagus. Tapi aku merasakan masih ada kekuatan tersembunyi yang belum mereka keluarkan.” Tebak Lani yang menganalisa kedua pemuda tersebut.


“Pengamatanmu masih tetap tajam Lani.” Balas sang Raja.


“Mungkin saja kita bisa melihatnya sekarang...” ucap sang Ratu yang melihat kearah arena.


“Sepertinya kau sudah siap.” Ucap Ruze dengan tenangnya.


“Kapan pun itu...” balas Maruya sambil menyelimuti kedua tangannya dengan api.


“Elemen api, hmmm... sepertinya akan menarik saja.” Aura hitam yang menyelimuti Ruze mulai memudar dan menghilang. Dengan gestur santai dia mengangkat tangannya dan memasang pose menantang di depan Maruya. “Majulah...”


“Hoorraaaaa...” dengan amarah Maruya melesat kearah Ruze dan melayangkan pukulan pertamanya kearah pipi kiri Ruze.


Wuussshhhh


Tapi sayang serangan itu bisa dihindari oleh Ruze dengan cepatnya. Atau lebih tepatnya dia menghilang dari hadapan Maruya.


“K-kemana dia?” Maruya hanya mampu terdiam sambil melihat sekelilingnya dengan waspada.


“Aku di belakangmu.”


Deg


Jantung Maruya berdetak cepat, dia terkejut karena hawa keberadaan Ruze begitu tipis dan sulit di lacak.


Begitu pula Yugi yang tidak kalah terkejutnya saat melihat kecepatan dari Ruze yang tidak bisa dia ikuti.


‘Dengan mata biasa kita tidak bisa melihat pergerakannya, itu sangat cepat. Sejak kapan, apa itu sihir teleportasi... aahh tidak, aku tidak melihat dia mengaktifkan sihir teleportasi.’ Batin Yugi bingung.


Semua penonton dibuat takjub akan kecepatan Ruze, tidak diragukan dia berhasil mengalahkan Yuga dengan kemampuannya tersebut. Jika begini mereka menimbang-nimbang siapakah diantara mereka yang akan menang.

__ADS_1


Pertarungan Maruya temanku dengan pemuda asing misterius bernama Ruze masih berlangsung... dan aku bisa merasakan begitu panasnya kompetisi yang sedang dilaksanakan ini. Aku yakin kedua orang itu... akan membuat seisi arena pertarungan ini, menjadi ajang kekuatan yang menggemparkan...


Bersambung


__ADS_2