KAISAR ES

KAISAR ES
KENCAN


__ADS_3

Pertarungan pengujian Yugi sampai pada ujungnya, kekuatan yang begitu besar sampai meluluhlantakkan seisi arena sampai tidak berbentuk lagi. Setiap penyihir kerajaan yang memiliki level raja penyihir harus membuat barrier untuk melindungi anggota kerajaan dan para penonton yang menyaksikan pertarungan seorang pemuda petualang melawan jendral penyihir. Pertarungan itu bukanlah seperti pengujian, tapi itu benar-benar pertarungan sungguhan dimana mereka mengerahkan seluruh kemampuan mereka sampai tahap akhir. Dan disini debu yang diakibatkan serangan Yugi yang berbenturan dengan pelindung mutlak dari Yuko sampai sekarang masih belum menghilang. Yugi yang sudah tepar di lapangan dengan nafas terengah-engah karena kehabisan energinya, sementara Yuko masih tertutup debu di tengah arena. Hasil dari pertarungan ini masih belum keluar, karena mereka tidak mengetahui apa pelindung milik Yuko berhasil ditembus atau tidak.


“Hah hah hah...” Yugi menatap ke atas langit dengan nafas yang tidak beraturan, dia menunggu hasil dari pertarungannya melawan gurunya sendiri. “Hehehehe... aku tidak bisa bergerak.” Ucap Yugi dengan suara pelan dan tawa hambarnya, wajahnya masih tersenyum puas dengan pertarungan yang begitu mendebarkan tadi.


[“Kau terlalu memaksakan diri, sudah aku bilangkan jangan berlebihan...”] marah Yui dalam Eternal Snow.


“Entah berapa kali kamu selalu memarahiku...” ucap Yugi dengan nada senang dan senyuman puasnya.


[“Kenapa kamu malah senang, aku benar-benar marah tau.”] Yui semakin kesal melihat Yugi yang terlihat senang dengan tubuh tak berdaya itu.


“Maaf, hanya saja aku sangat senang... kau begitu mengkhawatirkanku Yui, maafkan aku.” Ucap Yugi dengan perasaan tulusnya.


Mendengar perkataan Yugi, wajah Yui menjadi merah merona dengan asap yang mengepul diatas kepalanya. Entah kenapa kata-kata Yugi membuat Yui menjadi senang dan malu disaat bersamaan. Dadanya tiba-tiba berdebar entah kenapa, rasanya ingin sekali dia berada disamping Yugi dan memeluknya erat. Perasaan yang belum pernah Yui rasakan sebelumnya, perasaan dimana kau ingin selalu bersama dengan orang yang kau sayangi.


[‘Yugi, jika kau terus saja membuatku senang seperti ini. Aku tidak mungkin membiarkanmu jauh dariku.’] perkataan dari hati Yui tidak bisa didengar oleh Yugi. Senyuman hangat Yui dia arahkan hanya pada satu orang, Yugi.


Karena terlalu lama terdiam membuat Yugi khawatir pada Yui, dengan inisiatif dia bertanya pada Yui. “Yui... ada apa?”


[“Tidak ada... lebih baik kamu perhatikan lawanmu itu. Dia masih didalam kepulan asap akibat seranganmu, kemungkinan menangmu sangatlah tipis...”] Ucap Yui yang sudah tenang kembali.


Dari balik asap terlihat bayang-bayang yang masih berdiri dengan tegak. Saat angin berhembus dan meniup semua debu yang ada, terlihatlah Yuko yang masih baik-baik saja tanpa luka yang berarti. Dan juga kubah yang melindunginya masih ada walaupun terdapat beberapa retakan disana-sini.


“Pemenangnya... Jendral Penyihir Yuko.” Pengumuman dari Rufald membuat para penonton diam sejenak. Tapi tidak lama satu tepukan tangan dari penonton membuat yang lain mengikutinya dan bersorak untuk kemenangan Yuko.


Prok prok prok prok prok prok prok


“Jendral Penyihir kerajaan ini memang sangat kuat ya...” puji seorang pria paru baya.


“Tapi pemuda itu juga sama kuatnya, walaupun dia kalah... tapi jika dia berlatih lagi aku yakin dia pasti bisa menjadi seseorang yang lebih hebat lagi.” Ucap laki-laki yang terlihat masih muda.


“Kyyaaaaaaa... Yugi tetap keren...” teriak para wanita muda yang menjadi fans dadakan Yugi.


“Aaahhh... jadi aku kalah ya. Tentu saja, guru masihlah sangat kuat... aku harus lebih banyak berlatih lagi.” Dengan kata-katanya itu, Yugi akhirnya sudah kehabisan tenaga dan kesadarannya mulai menghilang. Tapi sebelum dia tidak sadarkan diri, disana dia melihat wanita yang merupakan gurunya tengah memangku kepala Yugi ke paha lembutnya. Yugi juga bisa mendengar perkataan gurunya sebelum semua kesadarannya menghilang.


“Kau sudah berusaha keras... aku bangga padamu, Yugi.” Yuko tersenyum hangat dengan wajah lembutnya. Tatapannya begitu sayu melihat Yugi yang sudah tidak berdaya. Tangan putih dan halus itu mengelus pelan pipi kanan Yugi yang begitu tampan. Tidak hentinya dia menatap wajah Yugi sampai kesadaran Yugi mulai menghilang.


Aku bisa melihat wajahnya yang begitu cantik dengan pemandangan matahari senja dibelakangnya, hal itu membuat kecantikannya terlihat begitu indah untuk dipandang. Tubuhku tidak bisa aku gerakan... mataku juga terasa sangat berat, kelopak mataku tidak mau menuruti perintahku. Rasanya sangat berat, dan dunia terlihat begitu jauh di sana... pandanganku dibawa jauh ke langit malam...


Dan pada akhirnya, kegelapan menyambutku dalam dekapannya... kegelapan ini terasa nyaman dan tenang. Seolah aku berada dalam keadaan dimana aku berada sangat nyaman didalamnya...


Kegelapan ini, aku tidak membencinya...


Pada akhirnya Yugi pun tidak sadarkan diri setelah duel yang begitu sengit diantara mereka. Yuko masih memangku Yugi dengan pandangan menyesal, perbuatannyalah yang membuat Yugi sampai seperti ini. Seharusnya dia lebih menahan diri saat melawannya, tapi dia merasa itu bukanlah pilihan yang tepat.


“Kau merasa menyesal, guru...” Elsa menghampiri Yuko kedalam arena. Semua orang terkejut melihat Elsa yang masuk sendiri kedalam arena. Disana dia memandang kearah Yugi yang dipangku oleh Yuko dipahanya. “Tapi keputusanmu itu sangatlah tepat, jika anda menahan diri pasti Yugi akan sangat marah padamu guru. Khusus hanya untuk hari ini, aku titip Yugi padamu... guru.” Setelah mengatakan itu, Elsa meninggalkan mereka dan membiarkannya untuk merawat Yugi.


“Maaf telah memaksamu sampai seperti ini, kau adalah muridku yang hebat, Yugi...”


Dua hari setelah pertarungan sengitku melawan guru Yuko... sekarang aku sedang berjalan-jalan di tengah kota Northern Esla, disini begitu ramai... banyak anak-anak yang berlarian, pedagang yang sedang jualan... dan orang-orang yang berbelanja. Dan aku sendiri... menikmati hariku.


Itu yang ingin aku katakan, walau pada kenyataannya...


“Waahhh ramai sekali, kapan ya terakhir kali aku kesini...” ucap seorang perempuan berambut hitam pekat dengan mata ungunya yang tidak henti menatap berbinar kearah kerumunan orang-orang yang tengah berlalu lalang. Langkah kakinya seirama dengan langkah Yugi sambil memasang senyuman khas anak kecil.


Benar-benar diluar dugaan... melihat sifat yang belum pernah aku lihat sebelumnya, guru... kau benar-benar menghancurkan harga diriku yang sangat menghormatimu ini...


Yang pertama Elsa, sekarang Yuko... siapa lagi yang telah membohongiku dengan sifat mereka... aku harap Risa yang seorang naga terhormat tidak bersifat seperti mereka berdua...


Ya... sekarang Yugi sedang berkencan dengan gurunya, Yuko. Sifat wibawa Yuko hancur setelah berkencan dengan Yugi, ternyata sifat aslinya begitu kekanakan dan manja. Bahkan Yugi sendiri tidak percaya bawah seorang Jendral Penyihir yang sangat dihormati di dataran Northern Esla ternyata hanya seorang gadis remaja biasa pada umumnya. Hal tersebut membuat gambaran Yugi tentang gurunya yang hebat hancur seketika setelah melihat sifat aslinya itu.


“Kenapa ini bisa terjadi...” keluh Yugi dengan wajah yang menunduk ke bawah.


Kejadian ini terjadi akibat pertaruhan dua hari yang lalu, setelah satu hari Yugi dirawat dalam rumah sakit khusus milik kerajaan Northern Esla. Yugi siuman satu hari kemudian setelah pertarungan melawan Yuko. Disana Yuko sudah menunggu Yugi siuman, saat pertama kali Yugi membuka matanya, dia melihat gurunya tengah tertidur sambil menggenggam tangan kanannya begitu erat, seolah jika di lepas maka Yugi akan pergi jauh.


Melihat hal itu membuat Yugi tersenyum hangat kearah Yuko, dia jadi tau betapa gurunya ini sangat mengkhawatirkannya. “Guru...” gumam Yugi sambil membalas genggaman tangan Yuko.


Merasakan tangannya kembali digenggam oleh seseorang, Yuko secara perlahan membuka matanya dan mendapati Yugi yang tersenyum kearahnya. “Kamu sudah sadar Yugi...” dengan reflek Yuko langsung memeluk Yugi dengan tubuh yang bergetar.


Yugi juga merasakan getaran tubuh Yuko yang begitu hebat. Air matanya bisa dia rasakan dipunggungnya, membuat bajunya menjadi basah.


Air mata Yuko begitu hangat, rasanya seperti sebuah air yang disinari matahari. Begitu hangat dan nyaman... aku merasakan begitu banyak kasih sayang di setiap tetesannya. Rasa takut akan kehilangan, khawatir dan penyesalan... aku mengelus punggungnya, berusaha menenangkannya... aku tidak tau kalau guruku bisa serapuh ini. Guru yang begitu hebat, kuat dan disegani banyak orang ternyata hanya gadis rapuh didalamnya. Sifatnya yang begitu tegar membuat semua orang berpikir kalau dia tidak membutuhkan pertolongan dari siapa pun... tapi aku tau, selama ini guru selalu menahan diri untuk tidak membuat orang lain kesusahan... perasaan guru yang begitu tulus bisa aku rasakan. Entah kenapa hatiku berkata untuk melindunginya apapun yang terjadi... aku hanya perlu menunggu sampai guru membutuhkannya...


Tidak lama pelukan kasih sayang guru terhadap muridnya dia sudahkan. Kedua mata biru dan ungu itu saling memandang satu sama lain, untuk sesaat mereka saling terpesona akan tatapan yang begitu hangat yang dilayangkan satu sama lain. Yugi berpikir kalau gurunya terlihat cantik dari sebelumnya. Pesonanya yang begitu menawan membuat wajahnya merona merah, karena tidak kuat memandangnya terus. Yugi akhirnya menghentikan kegiatannya itu dan mengalihkan pandangannya kearah lain. Tiba-tiba kecanggungan terjadi diantara keduanya, karena tidak kuat akan suasana yang tidak mengenakan itu, Yugi berinisiatif mencari topik pembicaraan.


“Oh ya dimana Elsa dan Elna, biasanya mereka akan menjengukku...?”


Raut wajah Yuko berubah menjadi agak dingin, sepertinya Yugi melakukan kesalahan. Melihat aura yang begitu dingin dari gurunya, Yugi hanya mampu menelan ludahnya melihat raut tidak senang dari Yuko.


“Mereka ada disini...” jawab Yuko dengan wajah manis, saking manisnya Yugi jadi takut karena bayangan hitam terbentuk dibelakang Yuko seperti dewa kematian. Tidak lama lemari yang berada di kanan Yuko bergerak dan mengeluarkan Elsa dan Elna yang terperangkap didalam balok Es dengan kepala yang masih tersisa, yang dibekukan hanya bagian badannya sampai kaki. Melihat hal itu Yugi panik bukan main, dan segera menghampiri mereka.

__ADS_1


“A-apa yang terjadi...?”


Mulut Elsa dan Elna yang dibekap menggunakan kain hanya bisa mengeluarkan suara tidak jelas. Kepala mereka terus bergerak untuk melepaskan kain dimulut mereka.


“Guru, apa kau yang melakukan ini?” tanya Yugi sambil menatap Yuko.


“Itu karena mereka mengganggu saja, aku kan sedang merawatmu. Tapi mereka malah datang kemari dan membuat keributan. Jadi terpaksa aku membekukan mereka, tenang saja aku membiarkan kepala mereka tetap bergerak. Tapi karena masih ribut sekalian saja aku kasih kain buat menyumbat mulut mereka.” Jelas Yuko panjang lebar tanpa rasa bersalah.


“Tapi ini berlebihan, cepat lepaskan mereka guru...” teriak Yugi yang berusaha untuk mengeluarkan Elsa dan Elna dengan memukul balok es itu.


“Baiklah...” dengan sekali jentikan jari kirinya, balok es yang mengurung badan Elsa dan Elna hancur seketika dan mereka pun terbebas dari es tersebut.


Elsa dengan cepat melepaskan kain yang menyumbat mulutnya dan protes pada gurunya itu. “Apa yang kau pikirkan guru, kau ingin membunuh kami hah...”


“Itu kesalahan kalian sendiri...” balas Yuko tidak kalah sewotnya.


“Tapi kami hanya ingin menjenguk Yugi...” ucap Elsa membela diri.


“Harusnya kamu tau kalau menjenguk seseorang yang sakit itu jangan berisik.” Balas Yuko dengan perempatan didahinya pertanda kesal.


“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Yugi sambil melepaskan kain yang menutup mulut Elna.


“Sebenarnya kami hanya ingin menjenguk kak Yugi, tapi saat ingin membuka pintu aku dan kakak sempat bertengkar karena memperebutkan siapa yang lebih dulu masuk. Dan akhirnya kami membuat keributan, dan juga kami tidak menyadari kalau guru Yuko ada didalam. Karena kesal dengan keributan yang kami lakukan, Yuko membekukan kami dan menutup mulut kami dengan kain kemudian memasukkan kami kedalam lemari.” Jelas Elna yang mengalami kejadian yang begitu mengerikkan dalam hidupnya, dia tidak pernah menduga akan mendapat kemarahan dari sang jendral penyihir. Sifat Yuko yang seperti itu merupakan hal yang baru bagi Elna maupun Elsa. Mereka tidak pernah berpikir kalau Yuko akan melakukan hal seperti itu hanya demi seorang laki-laki yang juga di sukai oleh mereka. “Sudah aku duga, ternyata Yuko adalah ancaman terberat kami...” gumam Elna yang tidak bisa didengar oleh Yugi.


“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Yugi.


“Tidak, bukan apa-apa...” jawab Elna dengan wajah ngambek.


Melihat Elna tiba-tiba ngambek membuat Yugi bingung, tapi dia akhirnya tau kenapa Yuko sampai membekukan mereka. “Haaaah... sudahlah hentikan.” Mendengar perkataan Yugi membuat pertengkaran guru dan murid itu berhenti sejenak. “Aku mengerti situasinya, ini memang salah Elsa dan Elna. Tapi kau juga jangan berlebihan seperti itu guru... sekarang berbaikan, aku tidak mau melihat kalian bertengkar lagi.” Lanjut Yugi dengan wibawanya.


Mereka pun akhirnya berbaikan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tidak lama suasana mulai membaik sampai titik dimana sebuah perkataan yang membuat Yugi harus menelan ludahnya.


“Maaf guru...”


“Aku juga minta maaf karena terlalu berlebihan Elsa.”


“Bagus, akhirnya kalian berbaikan juga...” ucap Yugi senang.


“Jadi...” Yuko menggantung perkataannya membuat semua orang terdiam dengan wajah penasaran. “Karena aku menang, kau akan melakukan apapun yang kukatakan kan... Yugi.”


“Eh...” Yugi baru ingat kalau mereka pernah bertaruh, dan siapa pun yang menang akan menuruti apapun perkataannya. Dan yang kalah harus menurutinya... mengingat hal itu membuat wajah Yugi pucat pasi, karena dia tidak bisa menebak apa yang diinginkan gurunya itu. ‘Aku memiliki firasat buruk soal ini.’ Batinnya.


Semua orang terbengong ditempatnya sampai beberapa detik kemudian mereka baru sadar.


“Eh...”


Dan sekarang disinilah mereka, Yugi dan Yuko sedang berkencan di kota Northern Esla. Begitu ramainya orang-orang yang berlalu lalang tidak membuat mereka kelelahan. Yang ada malah Yugi yang kesusahan karena terus saja diseret oleh Yuko ke berbagai tempat. Dimulai dari toko pakaian, mereka masuk dengan senangnya. Tapi yang paling senang adalah Yuko, sementara Yugi hanya mampu tersenyum hambar sambil terus mengikuti kemana langkah kaki Yuko berjalan.


“Aku coba pakaian ini dulu ya.” Yuko masuk kedalam tempat ganti baju dengan Yugi yang menunggu didepan tirai yang menghalangi Yuko. Tentu saja Yugi malu karena toko ini khusus untuk wanita. Dan Yugi harus menunggu dengan tatapan semua wanita yang menuju kearahnya. Wajah Yugi memerah malu karena terus diperhatikan. Dia juga mendengar berbagai macam gosip tentangnya.


“Hei lihat, bukankah itu pemuda yang bertarung dengan jendral wanita dua hari yang lalu?” Tanya wanita berambut merah pada temannya yang bersurai putih.


“Kau benar, dia tampan kan...” jawab perempuan bersurai putih itu dengan mata berbentuk love.


“Dia tadi bersama dengan jendral wanita itu loh...”


“Benarkah, apa mereka sepasang kekasih...”


“Oh tidak, ternyata dia sudah mempunyai pasangan.”


Mendengar gosip itu membuat Yugi tidak tahan mendengarnya, wajahnya sudah benar-benar memerah layaknya tomat. Ini merupakan penyiksaan secara tidak langsung yang terlalu menguji batinnya. Tidak lama Yuko keluar dan memperlihatkan dirinya memakai pakaian gaun merah mawar dengan lambang bunga mawar disisi kiri dadanya. Terlihat begitu cantik, sampai Yugi pun tidak percaya kalau Yuko sudah berumur 30 tahun. Dilihat dari mana pun dia terlihat seperti remaja perempuan yang masih belasan tahun. Karena terpesona akan penampilannya membuat Yugi tidak sadar terus memandangi Yuko. Dan hal itu disadari oleh Yuko yang membuatnya jadi malu karena terus ditatap seperti itu.


“B-bagaimana kelihatannya...?” tanya Yuko dengan sedikit malu sambil memegang ujung lengan bajunya.


Yugi yang sadar dari rasa kagumnya dengan segera menjawab pertanyaan Yuko. “A-ah... ya itu sangat cocok untukmu.” Ucap Yugi sambil memalingkan wajahnya yang memerah.


“B-begitu ya, kalau begitu aku akan mengambil yang ini.” Yuko pun memakai pakaian itu dan membayarnya dikasir.


“Terima kasih banyak...”


Mereka pun keluar dari toko itu dengan Yuko yang memakai baju yang baru dibelinya itu. Sedangkan baju yang sebelumnya di pakai, dia menyimpannya didalam lingkaran sihir.


Untuk Yugi dia memakai pakaian biasanya dengan jubah putih salju yang terlihat seperti seorang pangeran. Mereka layaknya pasangan yang begitu serasi membuat semua orang iri saat melihatnya. Para laki-laki yang hanya bisa memandang mereka dari jauh dengan wajah sedih karena tidak bisa seperti pemuda yang beruntung itu. Sementara yang perempuan hanya menatap mereka dengan mata yang berbentuk hati dan wajah terpesona melihat pasangan yang begitu tampan dan cantik.


Yugi sendiri merasa risih ditatap banyak orang seperti itu. Yuko yang menyadarinya dengan segera menggenggam tangan kiri Yugi dan membawanya ke sebuah restoran.


“Selamat datang tuan dan nona...” seorang pelayan laki-laki bersurai hitam menyambut kedatangan Yugi dan Yuko dengan begitu ramah. “Silahkan lewat sini...” pelayan itu menuntun mereka ke sebuah meja yang dekat dengan jendela. Sebuah bunga mawar merah yang begitu indah terletak di tengah meja, membuat suasana menjadi terlihat romantis. Yugi dan Yuko duduk saling berhadapan dengan bunga di tengah mereka. Sementara pelayan tadi sudah pergi dan digantikan pelayan baru bersurai kuning dengan pandangan ramahnya menatap Yugi dan Yuko.


“Apa anda sudah memutuskan untuk memesan apa?” tanya pelayan itu dengan sopan dan tentu saja senyuman hangat tidak lepas dari wajahnya.

__ADS_1


“Aku pesan steak dengan saus ter pedas yang pernah ada disini.” Ucap Yuko.


Pelayan yang mendengar pesanan Yuko hanya mampu tersenyum dengan keringat yang meluncur di pelipisnya. Dia merasa sedikit aneh mendengar pesanan tentang saus terpedasnya.


‘Baru pertama kali ini ada cewek yang memesan makanan dengan saus ter pedas, aku lupa kalau dia adalah guruku sendiri...’ batin Yugi yang ikut-ikutan menatap Yuko dengan keringat dingin. “Aku juga sama, tapi sausnya jangan terlalu pedas.”


“Baik, akan saya bawakan.” Pelayan itu berjalan pergi meninggalkan kedua pasangan itu untuk mengambil pesanannya.


“Eeee... guru-...”


“Sudah aku bilang panggil aku Yuko, kita sedang berkencan. Jadi untuk hari ini berhenti memanggilku guru...” ucap Yuko dengan wajah kesalnya.


“Baiklah, maafkan aku... Yuko.” Ucap Yugi dengan nada pelan di akhir kalimatnya.


“Aku tidak bisa mendengarmu...” ucap Yuko yang masih ngambek.


“Yuko...” ucap Yugi sambil memalingkan wajahnya kearah lain karena malu yang menjalar diwajahnya.


“Katakan sekali lagi...” pinta Yuko dengan wajah memerah di sekitar pipinya.


“Eh... Yuko.”


“Lagi...”


“Yuko.”


“Lagi.”


“Yuko...”


“Lagi...”


“Yuko...”


“Lagi...”


“Yuko...” wajah Yugi sudah memerah sempurna karena dari tadi Yuko terus memintanya untuk menyebutkan namanya berkali-kali. ‘Entah kenapa lama-kelamaan semakin membuatku malu saja. Padahal aku bisa menyebutkan nama Elsa dan Elna dengan mudahnya, tapi kenapa menyebut nama Yuko saja bisa membuatku malu seperti ini.’ Batin Yugi yang sudah tidak kuat hanya sekedar untuk menatap Yuko.


Untuk Yuko sendiri, dia sudah tidak sanggup untuk mendengar Yugi menyebut namanya lagi tanpa tambahan guru. Entah kenapa baginya kata-kata Yugi seperti obat perangsang yang merangsang detak jantungnya. Tidak lama kemudian, pelayan yang tadi kembali dengan membawa pesanan Yugi dan Yuko. Pelayan itu pergi lagi setelah meletakan pesanan tersebut diatas meja.


“Sebaiknya kita makan dulu...” Yuko mulai memakan steak yang baru saja datang.


Begitu pula dengan Yugi yang memulai memakannya dengan tenang. “Enak...” gumam Yugi.


Sementara diluar restoran terdapat dua perempuan yang menyamar dengan pakaian seorang detektif dengan warna biru dan putih. Mereka sedang mengawasi kegiatan dua orang yang sedang makan di restoran. Mereka adalah Elna dan Elsa, sedari awal kencan Yugi dan Yuko mereka sudah mengikutinya tanpa diketahui.


“Mereka terlihat begitu mesra...” gumam Elsa.


“Kak Yugi...” Elna menangis meratapi nasibnya yang hanya bisa menatap kemesraan Yuko dan Yugi.


“Tenang saja adikku, kita tidak akan kalah darinya...” ucap Elsa dengan semangat penuh kemarahan.


Waktu berlalu begitu cepat, ini adalah akhir dari kencan Yugi dan Yuko. Sekarang mereka berjalan disebuah taman kota dengan air mancur es yang begitu indah dengan semburan airnya yang berkilauan layaknya pelangi. Mereka berhenti tepat didepan air mancur, kedua mata itu saling bertemu satu sama lain. Menatap keindahan dibalik bola mata yang berkilauan diterpa matahari yang berwarna jingga kemerahan, seperti gaun yang dikenakan oleh Yuko. Begitu kontras dipandang, bagaikan kehangatan yang tak bisa digantikan.


Mata kami saling bertemu, dengan kehangatan senja ini membuatku nyaman saat menatapnya. Bagaikan kilauan es yang terbang diangkasa, matanya seperti sebuah berlian yang begitu indah. Entah sejak kapan kami saling memandang seperti ini. Aku tidak bisa lepas dari pandangannya... guru, apa benar kau secantik ini...


Aku memandangnya, sebuah mata biru langit yang begitu indah... pancarannya memberikan perlindungan yang aku inginkan. Rasanya seluruh hidupku ingin kuberikan padanya. Pada orang yang telah membuatku seperti ini... dia adalah orang yang pertama kali membuatku bertingkah seperti anak-anak. Aku tidak bisa menyembunyikan sifat asliku selain pada ayahku. Saat pertama kali kami bertemu, saat itu juga dia seperti seseorang yang tidak bisa diandalkan. Tapi semakin lama, pandanganku padanya semakin berubah jauh. Sudah lebih dari satu bulan dia berada disini... hanya sebatas waktu itu... dia membuat hidupku berwarna. Melatihnya sangat menyenangkan, mendengar keluhannya membuatku tertawa. Semangatnya membuatku ikut semangat, dia bagaikan mentari yang terus menyinari duniaku. Aku tau mencintai murid sendiri merupakan sebuah dosa... tapi aku akan menerima dosa itu, jika bersamanya. Aku akan tetap bahagia...


Yuko mengalungkan kedua tangannya ke leher Yugi, hal itu membuat Yugi terkejut dengan rona merah di kedua pipinya. Suasana yang mendukung itu benar-benar terlihat begitu romantis ditambah air mancur yang berkilauan terkena cahaya matahari senja.


Elsa yang menatap itu terkejut dengan tindakan gurunya itu, begitu pula Elna yang tidak kalah terkejutnya melihat kak Yugi tercintanya mau diambil oleh Yuko.


Apa... ada apa ini, guru kau mau melakukan itu disini... aku tidak bisa bergerak, dadaku berdetak terlalu cepat. Aku gugup bahkan kedua kakiku sampai gemetar... yang terjadi biarlah terjadi, dengan begini kami bukanlah guru dan murid lagi...


Duuuuaaaaarrr


Kegiatan Yuko terhenti akibat suara yang begitu keras disamping mereka. Disana terlihat seorang pria paruh baya yang berusia sekitar 60 tahunan dengan rambut hitamnya dan mata hitam yang mengkilap tajam menatap kearah mereka berdua. Tiba-tiba sebuah kurungan es berbentuk kristal segi enam mengurung Yuko didalamnya. Hal itu membuat Yugi terkejut begitu pula Yuko yang tidak bisa keluar walaupun sudah mengerahkan seluruh tenaganya. Kurungan kristal itu seperti menyerap energi sihir milik Yuko.


“Siapa kau... lepaskan guruku.” Teriak Yugi.


“Heh guru... jadi kau orangnya. Yugi seorang pemuda yang memiliki pedang dewa naga. Orang sepertimu memangnya pantas hah...” sebuah gelombang yang begitu dahsyat dia pancarkan dari tubuhnya. Taman itu dalam sekejap ditutupi oleh es sejauh mata memandang, untungnya tidak ada seorang pun disana. Kecuali Elsa dan Elna yang sudah mengungsi ke tempat yang aman karena merasakan aura yang begitu kuat.


“Kekuatan ini, dia seorang jendral penyihir.” Gumam Yugi.


Sementara Yuko terus saja berteriak dari dalam kurungan kristal kearah pria paruh baya itu, tapi suaranya tidak bisa terdengar dari luar, tetapi dari dalam Yuko masih bisa mendengar percakapan mereka.


“Mari kita lihat kekuatanmu sampai sejauh mana, calon kaisar...”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2