KAISAR ES

KAISAR ES
MARUYA VS RUGIA End


__ADS_3

Asap yang mengepul di udara menarik perhatian semua penonton. Ledakan yang begitu kuat di dalam arena sampai tanahnya sudah hancur berantakan tak karuan. Namun semua orang tidak memperdulikan akan arena yang hancur maupun ledakan itu, yang mereka pikirkan adalah dua sosok yang sedang terjatuh dari ketinggian tanpa sadar itu. Mereka bertanya-tanya siapakah yang akan bertahan dan memenangkan pertarungan ini.


Maruya dan Rugia yang terjatuh tidak sadarkan diri terus meluncur ke bawah. Tanah yang keras siap menyambut mereka, jika saja mereka tidak segera sadar, pastilah benturan keras di kepala akan mereka rasakan. Tapi beberapa saat kesadaran keduanya mulai kembali, mata itu terbuka dan melihat kearah lawannya satu sama lain. Disana tatapan perlawanan masih ada, untuk sesaat mereka saling melihat ke bawah dimana ketinggian itu mulai mendekati tanah. Tidak mau terluka lebih parah lagi, keduanya mulai menyeimbangkan diri. Rugia yang berputar sekali dan bersiap mendarat. Sementara Maruya berusaha keras untuk mengeluarkan sesuatu, entah apa yang sedang dilakukannya, namun konsentrasi begitu terlihat diwajahnya yang serius.


“Haaaaaaaahhh...” Maruya berteriak, seketika itu sayap api berbentuk naga membara di belakang punggungnya. Dengan gagahnya sayap itu terbentang lebar dan menunjukkan aura predator terkuat dari semua ras.


Semua orang dibuat kaget, namun hal itu biasa saja bagi Yugi. Dia menatap tajam kearah Maruya sambil mengaktifkan mata observasinya. “Dia masih memiliki kekuatan yang tersisa.” Yugi kemudian melihat kearah adik Maruya yang masih terisak dengan mata yang sembab. “Tenang saja, dia baik-baik saja.” Dia berusaha menenangkan Maria dengan memberitahu keadaan Maruya yang terlihat masih bisa bertarung itu.


Mendengar perkataan dari Yugi, rasa takut Maria sedikit berkurang, tapi dia masih merasa khawatir pada kakaknya itu. Mata itu pun berfokus pada orang yang berarti dalam hidupnya, dia berdoa untuk keselamatannya. ‘Kakak berjuanglah...’


Tap


Rugia berhasil mendarat ketanah dengan selamat, lukanya yang cukup parah itu mulai membuatnya kesakitan untuk berdiri. Dia terduduk dengan lutut sebagai tumpuannya, tubuhnya merasakan luka bakar yang teramat panas. Serangan berbasis api milik Maruya berefek fatal pada dirinya. Tapi tidak ada waktu untuk mengeluhkan kesakitannya, matanya menatap tajam pada lawannya yang melayang di atasnya dengan sayap naga api di punggungnya.


Dengan sayap api berbentuk naga, dia menatap Rugia dengan wajah mengeras dan mata tajam. Sepertinya kali ini akan menjadi perlawanan yang memanas. Namun pada dasarnya Maruya sudah hampir kehabisan Mana, jika dia memang harus bertarung habis-habisan, maka...


“Sepertinya ini masih belum selesai.” Mengatakan hal tersebut sambil mendarat secara perlahan, Maruya menutup sayap naga nya sehingga terlihat kalau sayapnya menekuk di punggungnya.


“Sebenarnya aku sendiri sudah mulai kelelahan karena serangan tadi. Mana di tubuhku juga sudah hampir habis.” Rugia menganalisa keuntungan atau kerugian yang akan didapatnya jika bertarung lagi. Mau di bilang seperti apapun kemampuan yang dimiliki oleh lawannya ini tidak bisa dia duga sebelumnya. ‘Jadi ini kekuatan Dragon Slayer, pantas saja [dia] begitu kesal saat kalah olehnya.’

__ADS_1


“Bagaimana, apa kau akan menyerang lebih dulu atau aku yang harus menyerang?” Maruya sudah bersiap dengan kuda-kudanya. Dan sayap di punggungnya juga sudah dia hilangkan. Sekarang dia akan serius, karena Mana didalam tubuhnya hanya tinggal setengahnya saja. Jika dia menggunakannya secara sedikit demi sedikit maka akan habis hanya untuk mengulur waktu. Jadi dia berencana akan menggunakan semua kekuatannya untuk ledakan terakhir ini.


‘Sepertinya dia ini mau mengakhiri pertarungan ini dengan cepat. Tidak bisa, aku tidak boleh mengeluarkan kekuatan asliku disini. Sepertinya aku akan melakukan hal yang sama dengannya. Menyebalkan...’ Rugia mengangkat kedua tangannya dan berkata. “Aku menyerah...”


“Eh...” Maruya terdiam dengan wajah bingung karena perkataan Rugia yang begitu cepat.


Wasit sendiri terdiam untuk beberapa saat, tapi dia langsung tersadar jika apa yang dikatakan oleh Rugia merupakan penutup dari pertarungan ini. “Pemenang pertarungan ketiga, Maruya, petualang dari kerajaan Vouleftis.”


“Woy tunggu sebentar...” teriak Maruya pada Rugia.


Rugia yang melihatnya hanya menatap lelah, dia berpikir ini akan menjadi sangat merepotkan jika pemuda didepannya ini tidak menerima akan keputusannya. “Ada apa lagi?”


Nah kan... pemuda didepannya ini gila bertarung, sebagai seorang pemalas seperti dirinya ini akan sangat melelahkan menjelaskannya. Lagi pula dia sendiri tidak mau menjelaskan apapun. “Aku sudah tidak memiliki tenaga lagi, dan aku lelah bertarung. Jadi aku menyerah saja, simpel kan...”


“Alasan macam apa itu.” Maruya tidak terima, dari serangan baku hantam mereka, dia sendiri tahu kalau Rugia memiliki kekuatan yang cukup untuk bertarung habis-habisan dengannya. Seperti petualang sebelumnya yang juga menyerah saat melawan dirinya, sebenarnya ada apa dengan kedua petualang dari kerajaan Kurosido ini. “Jangan bilang kalau kau malah ikut-ikutan seperti temanmu yang merupakan petualang dari kerajaan Kurosido itu.”


“Temanku?” ulang Rugia yang sedikit bingung akan perkataan Maruya. Namun sesaat dia mengerti siapa yang dimaksud oleh lawannya ini. “Ah maksudmu Ruze, ya dia juga bertarung denganmu. Aku hampir lupa, tapi jangan salah paham, dia tidak sepertiku. Jika ada sesuatu yang menarik perhatiannya dia pasti akan menyelesaikannya sampai tuntas. Namun saat itu dia dalam keadaan yang tidak bisa memilih, jadi hanya bisa sampai disana saja batasnya. Sementara aku hanya menuruti apa yang menurutku benar. Aku sudah menganalisa tentang kekuatanku dan kekuatanmu. Jika kita bertarung lagi, bisa dipastikan itu akan menjadi pertarungan besar yang mengguncang arena. Tapi itu merepotkan jadi aku mengalah saja, namun ingatlah perkataanku ini. Kau sangat kuat, saking kuatnya aku ingin kau ikut bersamaku kedalam kerajaan Kurosido.” Di akhir penjelasannya Rugia mengajak Maruya untuk bergabung dengannya. Tentu saja hal itu sangat mengejutkan bahkan bagi semua orang yang ada di colosseum ini.


“Aku menolak...” tegas Maruya.

__ADS_1


“Mengecewakan, baru pertama kali ini ada yang menolak ajakanku. Baiklah...” Rugia membalikkan badannya dan berjalan perlahan meninggalkan arena. “Semoga kita bisa bertemu lagi, dan disaat itu...” Dia membalikkan badannya sebentar dan menatap Maruya dari kejauhan. “Aku ingin bertarung lagi denganmu.” Setelah perkataan terakhirnya, dia pun sepenuhnya menghilang dari dalam arena.


Semua orang terdiam, pertarungan yang serasa seperti pengulangan yang dimana lawan Maruya yang sebelumnya juga menyerah saat pertarungan sedang panas-panasnya. Maruya menatap tajam tempat dimana Rugia menghilang, sekarang dia sendiri berbalik dari tempat itu menuju pintu keluar dari arena tersebut.


“Petualang dari Kurosido, keduanya memilih hal yang sama. Menyerah di tengah pertarungan, aku menjadi bingung untuk apa mereka mengikuti kompetisi ini.” Yugi menganalisis tentang kejadian hari ini. Namun belum bisa menemukan jawaban yang tepat. Mengesampingkan masalah itu, entah apa yang dirasakan oleh Maruya, mungkin dia merasa dipermainkan oleh dua petualang dari kerajaan Kurosido. “Melihat kepribadiannya sih aku rasa dia baik-baik saja.”


“Kita akan memasuki pertarungan ke empat, dan ini dia...” layar di atas sana mulai mengacak nama kembali dan saat itu juga muncullah nama peserta yang akan bertarung selanjutnya. “Petualang dari kerajaan Eartfil, Lugi.”


Mendengar namanya dipanggil, peserta yang mengenakan topeng berjalan ke dalam arena dengan tenangnya. Auranya memancarkan kalau dia berbahaya, padahal terlihat begitu tenang, tapi didalam ketenangan itu membuat para petualang berkeringat dingin saat merasakan atmosfer yang begitu berat.


‘Memang terkadang sesuatu yang tenang bisa menyembunyikan hal yang berbahaya didalamnya.’ Batin Yugi, dia juga bisa merasakan atmosfer yang tidak mengenakan dari petualang Eartfil itu.


“Dan lawannya adalah petualang dari kerajaan Legia, Redios.”


Wasit memanggil satu peserta lagi yang akan menjadi lawan Lugi. Disana Redios yang mengenakan jubah serba hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya sehingga siapa pun tidak tahu akan wajahnya. Tapi bisa dirasakannya sebuah aura yang begitu mencengkam terasa di sekelilingnya.


‘Kalau dia terasa seperti hantu, dengan pakaian yang seperti itu ditambah aura yang begitu kelam. Tidak salah lagi, semua anak-anak pasti akan lari ketakutan.’ Walau kritik Yugi terkesan kurang enak didengar, namun itulah kenyataannya. Jika dilihat jenis pakaian petualang Redios seperti tengkorak pembawa sabit.


“Baiklah kedua peserta sudah berada didalam arena, maka pertarungan ke empat ini... DIMULAI.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2