KAISAR ES

KAISAR ES
Tahap Penentuan


__ADS_3

Arena Eartfil telah dipenuhi oleh aura kekuatan besar dari dua penyihir, yang mendominasi di sana adalah kobaran api emas yang keluar dari tubuh sang Pangeran. Namun kekuatan besar itu lebih terpusat dari pedangnya, yang mana memang dari sanalah sumber kekuatan itu berasal. Di punggung sang Pangeran Vouleftis terbentang sayap emas yang terbentuk dari kobaran api, jika dilihat lagi dia seperti terlahir kembali dengan wujud manusia bersayap. Tapi yang jelas itu hanyalah sayap api, tetapi dari perubahannya itu meningkat pula kekuatannya.


“Rasakanlah sendiri kekuatan dari tahap kedua... Gerbang Sayap.” Sang Pangeran Vouleftis berkata dengan nada percaya dirinya, tatapan mata merah itu memberikan intimidasi yang panas.


Lawan yang merupakan peserta misterius dengan topeng kucing hitamnya berdiri tanpa merasa gentar, meski demikian dirinya juga bisa merasakan kobaran api yang begitu panas dari sang Pangeran.


“Saya akui kalau kekuatan itu sudah berbeda dengan yang sebelumnya.” Peserta misterius yang merupakan petualang dari kerajaan Eartfil merupakan dari sekian banyaknya peserta yang berhasil lolos ke babak semi final. Lalu di sinilah dia harus menghadapi salah satu dari sang Pangeran kerajaan, dan juga sang pemegang pedang Iblis—Rexas Vouleftis.


“Petualang Eartfil, Lugi. Aku berharap banyak terhadap pertarungan kita pada tahap akhir ini. Sayangnya kau bukanlah targetku dalam turnamen ini.” Rexas tersenyum kecil di wajahnya, bersamaan dengan itu dia terbang ke langit dengan sayap apinya.


“Sepertinya ada seseorang yang ingin Anda kalahkan, bukan begitu Pangeran Rexas.” Lugi membuat pijakan tanah yang begitu tinggi sehingga membentuk tebing gunung, itu terlihat cukup tajam dan tinggi, sehingga dia dapat sejajar dengan Rexas yang terbang.


“Ya... babak Final merupakan tujuanku. Karena di sanalah aku akan bertemu dengannya, lawan yang sangat ingin aku kalahkan.” Setelah perkataannya, Rexas merentangkan tangan kirinya yang bebas ke depan, bersamaan dengan itu muncul tiga bola api yang mengelilingi tangannya.


Lugi berpikir dan terkejut, maksud dari Pangeran mungkin saja orang itu. “Yang berhasil melaju ke babak final adalah petualang dari kerajaan Aries. Diakah orangnya, ada hubungan apa mereka berdua?” gumamnya.


Tiga bola api yang dibentuk oleh Rexas mulai melesat satu persatu, serangan pertama dan kedua melaju secara bersamaan. Di saat itu Lugi membentuk tameng tanah di depannya dengan cepat, serangan itu berhasil di tahannya. Namun yang ketiga meluncur lebih cepat dan kemudian meledak tepat ketika menyentuh pelindung tanah milik Lugi.


Lugi terpental ke bawah yang cukup tinggi itu, tapi beruntungnya dia masih dapat bertahan dengan mencengkram tebing tanah buatannya, kemudian dia melompat sekali dan mendarat dengan sempurna di dataran tanah.


‘Daya hancurnya lebih kuat dari yang pertama, inikah kekuatan dari pedang Iblis.’ Lugi bergumam dalam hatinya, dia sudah sadar kalau level pertarungan kali ini sudah sangat jauh berbeda.


“Jangan katakan padaku kalau level ini terlalu sulit untukmu, Lugi.” Rexas mengeluarkan nada angkuh khas seorang Pangeran, yang dilakukannya adalah untuk menciutkan nyali sang petualang Eartfil itu.


“Heheheh...” sedikit tawa keluar dari Lugi, dia mengeluarkan energi sihirnya yang berwarna cokelat terang, ini merupakan keseriusan untuk menjawab tantangan lawannya. “Mari bertarung untuk menentukan siapa yang layak menjadi lawannya, Pangeran.” Lugi berlari ke depan tanpa keraguan.


Rexas yang melihatnya mengulas senyum kecil, di saat yang sama dia juga ikut meluncur dengan menukik layaknya elang. “Itu yang kutunggu dari tadi!” teriaknya, lalu pedang di tangan kanannya mulai berkobar api emas yang siap memanggang siapa pun yang menyentuhnya.

__ADS_1


Keduanya dalam jarak yang begitu dekat, lalu di saat yang tepat keduanya saling melancarkan serangan, Rexas dengan tebasan apinya yang semakin kuat, sementara itu Lugi dengan pedang tanah yang di buat sangat sempurna dan kokoh.


Duuuuuuaaaaaarrrrr


Ledakan besar membuat kepulan debu di dalam arena, hembusan angin dapat terasa meski sudah di lindungi oleh pelindung dari setiap penyihir kerajaan Eartfil. Itu menunjukkan bertapa kuatnya pertarungan pada tahap akhir ini. Dari balik debu tanah itu mulai keluar Lugi yang terpental beberapa kali namun berhasil menyeimbangkan diri dengan sempurna.


Sedangkan Rexas terbang dengan tenangnya di udara sambil pedang di tangan kanannya dia angkat. Lalu dari bibir keduanya mengeluarkan nada yang begitu tegas.


““INI ADALAH TAHAP PENENTUAN.””


Itulah yang ada di dalam pikiran masing-masing, mereka saling memahami dengan saling bertarung. Disaat yang sama keduanya juga tidak akan mengalah pada pertarungan besar saat ini.


Rexas kembali menerjang dengan cepat ke arah Lugi melalui udara, tidak tinggal diam—Lugi menciptakan pelindung besar di depannya. Namun dia seolah tau kalau itu belum cukup akhirnya memutuskan untuk menghindar dari sana. Di detik berikutnya pelindung tanah itu hancur tanpa sisa, memperlihatkan Rexas yang masih terus melaju lurus ke depan menuju Lugi.


Duuuuuaaaarrr


“Tidak bisa, dengan kekuatanku yang sekarang ini mustahil.” Lugi bergumam dalam nada putus asa, dia bisa merasakan perbedaan jauh dari kekuatan mereka. “Sepertinya tidak ada pilihan lain, aku harus menggunakannya. Tapi dalam situasi ini, jika dilihat oleh orang lain terutama Yang Mulia, maka aku akan dalam masalah,” lanjutnya.


Kaki Rexas menapak pada tanah, dia berdiri penuh percaya diri. Pedang ditangan kanannya sudah memancarkan aura panas yang tersimpan begitu besar. Sayap di punggungnya juga mulai memancarkan kilauan cahaya seperti matahari, dia berjalan mendekat pada Lugi yang menatapnya dari balik topeng itu.


“Sepertinya kau sudah mulai mengerti perbedaan kekuatan di antara kita.” Dia berhenti berjalan lalu mengarahkan ujung pedangnya pada sang lawan. “Aku Pangeran Vouleftis, sudah menunjukkan keseriusanku saat ini. Lalu bagaimana denganmu?”


Lugi terdiam tanpa membalas perkataan dari Pangeran, matanya tertuju pada pedang yang digenggamnya itu. ‘Memang benar dia sudah serius dalam pertarungan ini, seandainya aku tidak bertarung dalam performa terbaikku. Bisa dikatakan aku pasti kalah di sini, namun aku tidak menginginkan hal itu.’ Perkataan hati Lugi merupakan penolakan terhadap kelemahannya, dia bersiap dengan sesuatu yang memang sudah dia pikirkan sedari awal. “Mari kita selesaikan dengan kekuatan penuh, Pangeran.”


Senyuman kesenangan terhadap pertarungan mulai terbentuk dari wajah Rexas, entah sejak kapan dia tidak merasa sesenang ini. Mungkin itu terjadi ketika dirinya melawan Yugi, sang petualang Aries waktu itu. Sekarang darahnya kembali mendidih, jadi inilah rasanya pertarungan yang sudah lama dia rindukan. “Seperti yang kuharapkan, mari kita selesaikan ini.”


Lalu badai pasir mulai menutupi keduanya, padahal di dalam arena itu tidak ada angin kencang yang berhembus. Tentunya ini merupakan sihir yang dilakukan oleh seseorang, dan si pelakunya merupakan petarung yang ada di dalam arena yaitu Lugi.

__ADS_1


“Kau ingin mengaburkan pandanganku, sebuah taktik murahan. Hal itu percuma saja, karena mataku bukan lagi mata manusia pada umumnya. Bisa di bilang ini adalah mata lain dari kekuatan Pheonex, yaitu mata Iblis. Dengan demikian debu kecil ini tidak akan bisa menghalangiku.” Rexas berkata demikian karena menganggap kalau Lugi berusaha membutakan penglihatannya.


“Itu juga termasuk dari rencanaku, namun bukan pandangan Anda yang ingin saya kaburkan. Tetapi aku tidak ingin penonton melihat pertarungan kita, sebab ini akan menjadi rahasia di antara kita saja.” Dari bawah kakinya terbentuk lingkaran sihir cokelat yang mengeluarkan sebuah pedang yang disarungkan. Di gagang pedang itu terdapat ukiran rantai yang saling bersilangan yang mengekang gambar naga cokelat di sana.


Aura dari pedang yang dikeluarkan oleh Lugi begitu kuat, bahkan beberapa orang yang ada di luar arena dapat merasakannya, namun mereka tidak dapat melihat siapa yang mengeluarkan aura tersebut. Badai pasir itu benar-benar tebal, sehingga hanya terlihat bayangan dua orang saja di dalam sana.


“Akan kuakhiri dengan cepat, Pangeran.” Pedang cokelat itu ditarik oleh Lugi dengan mudah, lalu cahaya cokelat terang mulai menyelimuti bilahnya.


‘Pedang itu memiliki aura yang sama dengan milik Yugi, mungkinkah?’ batin Rexas yang menebak tentang pedang yang digenggam oleh Lugi, ketika dia hendak menanyakan perihal itu. Dia harus menghentikan niatnya karena serangan akan datang.


“Akan kuperlihatkan kekuatan penuh dariku, bersiaplah Pangeran.” Setelah perkataan dari Lugi, semua terlihat begitu gelap di dalam badai pasir itu.


Rexas sendiri tidak dapat bereaksi cepat terhadap apa yang datang padanya, lalu dalam hitungan detik...


Duuuuuuuuuaaaaaaarrrrr


Ledakan besar terjadi, di saat yang sama debu dari badai pasir mulai menghilang. Kemudian memperlihatkan Rexas yang terbaring lemas di dalam arena, pedang Iblisnya sudah menghilang bersamaan dengan mode kekuatannya.


Sementara itu Lugi berdiri tanpa adanya dampak dari ledakan tadi, pedang yang sempat dikeluarkannya juga sudah tidak ada. Semua orang dibuat terkejut dengan situasi yang begitu cepat ini, padahal tadi baru saja Pangeran Vouleftis mendominasi pertarungan, tapi sekarang keadaan berbalik begitu cepat tanpa ada yang tau apa sebabnya.


Wasit dalam pertarungan melihat sekilas pada mereka, saat tau hasil dari pertarungan ini, dia pun mulai mengumumkan.


“Pemenangnya... Lugi!”


Bersambung


nb. sesuai janji, ini lanjutan dari Kaisar Es, semoga kalian terhibur dengan chapter ini

__ADS_1


see you next time


__ADS_2