KAISAR ES

KAISAR ES
LEON VS SEIGA END


__ADS_3

Di pertarungan antara Seiga dan Leon terjadi sebuah ledakan besar disaat dua jurus dari mereka bertemu. Serangan penghancur milik Seiga bertemu dengan serangan cahaya panas dari Leon membuat arena menjadi lahan hancur yang sudah tidak berbentuk lagi. Debu tanah membumbung tinggi dan menyebar ke seluruh arena pertarungan. Semua penonton menebak apa yang terjadi terhadap kedua peserta itu, mereka dihadapkan oleh kebingungan saat sebuah sinar terbang tinggi ke atas sampai menyentuh penghalang. Disaat sinar itu menghilang, terlihatlah seorang pemuda yang melayang disana. Ternyata lesatan cahaya tadi merupakan seorang peserta yang melewati debu dibawahnya. Semua orang merasa familiar dengan orang itu, mereka melihat surai kuning keputihan yang merupakan ciri khas dari seorang ksatria dari kerajaan Fostias, ya benar itu adalah Leon Sourya. Dia melayang dengan tubuh yang diselimuti oleh cahaya keputihan, pedang ditangan kanannya memiliki aura yang begitu kental. Sepertinya dia berhasil selamat dari ledakan itu, sementara dengan lawannya masih belum diketahui keberadaannya.


“Aku tahu kau belum kalah. Keluarlah...” teriak Leon.


Dua pedang tiba-tiba melesat kearah Leon dari dua sisinya. Dengan pedang ditangan kanannya, Leon menghalau kedua pedang itu yang hendak menyerangnya. Namun belum selesai disana, dua pedang lagi melesat dari arah atas dan bawahnya. Dengan dua kali ayunan yang kuat dua pedang itu masih bisa di halau oleh Leon. Tapi dia masih belum bisa bernafas lega, karena sekarang empat pedang muncul yang menyerang di setiap sisi nya. Leon merapatkan giginya kesal, dengan kecepatan cahaya dia pun menebas semua pedang itu dan melesat kearah ujung arena bagian barat dimana debu disana sudah mulai menghilang. Saat sudah berhasil mendarat ketanah, secara mendadak kembali muncul sebuah pedang yang kini mencuat dari dalam tanah. Leon yang menyadari itu langsung saja melompat dan berputar menyalto beberapa kali karena pedang terus bermunculan dari jalur tempatnya berada sebelumnya dan terus merambat setiap kali dia menyalto ke belakang. Tidak lama dia pun berhenti dan saat itu juga pedang pun berhenti bermunculan, tapi itu masih belum bisa membuatnya bernafas lega. Karena lagi-lagi sebuah pedang melesat dari belakangnya dengan kecepatan tinggi dan secara reflek karena instingnya yang tajam membuat Leon menghindari pedang itu dengan menundukkan badannya sehingga pedang itu melewatinya. Saat dia kembali berdiri terlihatlah pedang itu menancap dalam di tembok tidak jauh darinya.


“Kecepatan menghindar yang hebat, memang kau memiliki kemampuan yang dapat diakui oleh seorang Raja.”


Suara dari belakang Leon terdengar familiar, karena merasakan aura yang terkesan memiliki rasa permusuhan membuat Leon secara reflek membalikkan badannya dan melihat lawannya itu berjalan santai dari balik debu dan menampakkan diri. Disana seorang pangeran bersurai pirang pucat dengan senyuman diwajahnya menatap kearah Leon dengan pandangan santai, seolah ledakan yang sebelumnya tidak pernah terjadi.


“Bagaimana kalau kita lanjutkan...” aura membesar dari lawan Leon, semua orang menatap kearah pangeran dari klan pedang itu. Kekuatan yang sebelumnya menjadi lebih besar dan memperlihatkan aura membunuh yang lebih kuat dari Leon.


‘Kekuatan jenis apa ini, sebelumnya dia tidak mengeluarkan aura seperti ini.’ Batin Leon yang berkeringat dingin saat merasakan kekuatan yang semakin membesar dari tubuh pangeran itu. “Pangeran Seiga, sepertinya Anda mulai serius ya.”


Seiga tersenyum kemudian membalas perkataan Leon. “Mari kita meriahkan kompetisi ini...”


Disaat kepulan asap dibelakang Seiga menghilang, terlihatlah dua puluh pedang buatan yang melayang dibelakangnya. Leon terkejut, semua penonton terkagum, mereka tidak akan menyangka dua puluh pedang yang tercipta dari pedang pelahir [Moryasense] bisa dikendalikan dengan jumlah sebanyak itu. Tentu akan mengejutkan, karena pada dasarnya menggunakan jurus pelahir saja bisa menghabiskan banyak Mana apalagi ditambah harus mengendalikan semua pedang yang sudah dibuatnya. Sebagai seorang pangeran yang umurnya masih sekitar 19 tahun sudah merupakan sebuah keajaiban bisa mengendalikan semua pedang itu tanpa merasa kesulitan. Yugi juga menatap serius akan pertunjukkan yang diperlihatkan oleh pangeran dari klan pedang itu, lima pedang saja sudah cukup memberikannya kekuatan besar, tapi ini melebihi kekuatan sebelumnya, sebenarnya sejauh apa kekuatan dari pangeran Seiga ini.


Semua penonton pun menahan nafas karena diperlihatkan sesuatu yang menakjubkan ini. Dua puluh pedang yang tercipta dari pedang pelahir membuat perhatian semua orang tertuju pada sang pangeran Seiga. Bahkan Raja dan Ratu pun ikut melihat kearah pemuda dari klan pedang itu. Melihat ada seorang pemuda jenius dari klan pedang yang memang tidak ada lagi yang bisa mengendalikan kekuatan pedang sebaik pemuda ini kecuali sang Raja dari klan pedang tersebut.


“Dikatakan kalau pengguna pedang terbaik zaman ini adalah sang Raja dari klan pedang, yang dimana dia bisa menciptakan 50 pedang dan mengendalikannya sesuka hati.”


Mendengar penuturan sang Raja, Ratu pun berkomentar. “Apa mungkin ini akan menjadi kelahiran baru dari kerajaan klan pedang.”


Raja membalas perkataan istrinya dengan nada berharap. “Semoga saja, dengan begitu kita bisa melihat kelahiran baru dari seorang kaisar pedang seperti pendahulunya.”


Kembali didalam arena pertarungan, kedua pemuda ini sudah bersiap dengan ronde selanjutnya. Tidak memperdulikan kekuatan dari musuhnya, Leon tetap bersikeras untuk melawannya sampai akhir. Sementara dengan Seiga, dia sudah mempersiapkan dirinya bersama 20 pedang ciptaannya dan pedang Moryasense di tangan kanannya. Angin berputar di antara mereka, menerbangkan debu sedikit. Keheningan terjadi dikala mereka tetap terdiam sambil menatap lawannya dengan hati-hati. Didalam pikiran mereka sedang bergulat tentang bagaimana caranya mengalahkan musuhnya, mengatur strategi sebelum menyerang begitulah cara mereka bertarung.


“Serang...” dengan satu kata itu dan tangannya yang mengacungkan pedang kedepan, Seiga memerintahkan pedang buatannya yang melayang dibelakang untuk menyerang.


Lima pedang pun melesat kearah Leon yang masih diam ditempatnya dengan kuda-kuda bertahan. Pedang ditangan kanannya dia arahkan kedepan, disaat lima pedang milik Seiga menusuk lurus kearahnya, dengan ayunan kuat pedang Vlitora nya, Leon menebas satu per satu pedang itu ke kanan dan kiri.


Tank tank tank tank tank


Di ayunan terakhirnya, Leon melesat kearah Seiga setelah menghalau semua serangan tadi. Tapi dia harus menghindar kembali saat satu pedang dibelakangnya melesat menyerang punggungnya. Dengan sekali lompatan, dia pun terbang ke atas, tapi tidak berhenti disana, lima pedang kembali menyerang secara brutal dari samping kanan, kiri, atas, bawah dan tengah badan. Dengan sedikit agak kesusahan, Leon berhasil menebas semua pedang itu, namun dia tidak bisa bernafas lega, karena setiap pedang yang dia tebas selalu mendatangkan pedang lainnya dan pedang yang sebelumnya tertebas kembali melesat kearahnya. Sekarang bisa terlihat seorang ksatria Fostias kewalahan saat menghalau semua serangan bertubi-tubi itu tanpa henti.


Tank tank tank tank tank tank tank tank tank


Sementara dengan Seiga, dia masih tetap diam ditempat dengan santainya sambil memegang pedang Moryasense. Dia menikmati pertunjukkan sang ksatria Fostias saat menghalau semua pedang buatannya. Para penonton pun harus menahan nafasnya saat melihat serangan pedang yang sangat banyak itu terus saja menerjang tanpa henti. Setiap di pentalkan satu pedang maka pedang yang lain akan ikut menyerang. Ini seolah seperti mengendalikan semua pedang dengan satu remot kontrol, sementara sang pengendali hanya terdiam ditempatnya sambil mengendalikan semua pedang itu tanpa masalah.


‘Tidak bisa di percaya, dia membuat ksatria Fostias kewalahan hanya dengan pedang buatannya saja. Tanpa rasa kesulitan sedikit pun, dia bisa mengendalikan semua pedang itu. Sulit dipercaya, bahkan untuk ukuran seorang pangeran itu pastilah sangat sulit. Sebenarnya, seberapa keras dia berlatih.’ Pikir Yugi dengan keringat dingin di pelipisnya. Pertarungan kali ini sudah berbeda jauh dari permulaan sebelumnya, perlawanan yang berat sebelah itu sudah menunjukkan siapa pemenangnya. Tapi, “Apa ini... dia, ksatria Fostias itu. Leon Sourya, hanya bertahan saja. Namun pedang ditangan kanannya terus meningkatkan kekuatan. Mungkinkah...” Yugi tidak mempercayai ini, dia melihat pedang di tangan Leon dengan mata observasinya, dimana semua Mana yang ada di tubuh Leon diarahkan pada pedang itu.

__ADS_1


Tank tank tank tank tank


Tebasan itu terhenti saat Leon terbang ke atas, dia melesat dengan tubuh yang diselimuti cahaya. Dia berusaha menghindari setiap serangan itu, tapi pedang yang menyerangnya tadi kini melesat mengejar dirinya. Tidak bisa dipungkiri kalau dia kewalahan menghalau semua pedang itu. Saat sudah cukup tinggi, Leon langsung menekukkan dirinya ke bawah dan melesat dengan kecepatan komet. Semua orang kaget, kecepatan yang melebihi cahaya itu langsung melesat lurus kearah Seiga.


“Ternyata begitu, dia akan menyelesaikan semuanya dengan satu serangan besar.” Terkejut, Yugi baru menyadari hal ini. Dia tidak akan menyangka kalau Leon Sourya akan menggunakan semua Mana nya pada satu serangan ini.


Kecepatan dari Leon mengejutkan Seiga. Dia masih belum bisa merespon serangan dadakan itu. Disaat jaraknya yang sudah mencapai 20 meter, disaat itu juga Leon mengangkat pedangnya ke atas dan meneriakkan jurusnya.


“Blast Meteor Light Vlitora.”


Seperti sebuah meteor jatuh dengan kecepatan yang dapat membakar apapun di sekitarnya, sampai tanah pun kehilangan gravitasinya dan terapung ke atas, Seiga pun mendapatkan dampak di sekitar tubuhnya yang merasakan panas walau jarak mereka masih 10 meter lagi sebelum mengenainya. Leon dengan kekuatan penuh siap menebaskan pedang itu kearah Seiga. Sampai detik dimana jarak mereka sudah sangat dekat, dan seketika itu mata keduanya saling bertemu. Tapi sebelum sebuah serangan besar mengenai Seiga, dia sempat bergumam sesuatu.


“Moryasense: Disappearing Slash.”


Sring tank


Keduanya saling membelakangi dengan lesatan yang sangat cepat bahkan mata pun sulit mengikutinya. Semua orang terdiam melihat kedua peserta terdiam yang saling membelakangi, Leon dengan pedangnya yang menebas lurus, sementara Seiga yang memegang pedangnya secara miring ke bawah. Tidak ada gerakan sedikit pun, sampai sebuah ledakan terjadi di tengah diantara mereka.


Duuuuuuuaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrr


‘Bahkan dengan mata observasi ku, sangat sulit untuk melihat gerakan keduanya. Tapi yang lebih sulit adalah Seiga... aku sangat yakin melihat pangeran pedang itu saat detik terakhir melancarkan serangan. Sangat cepat dibanding Leon. Bahkan tebasannya sendiri terbilang sangat banyak, tapi didetik berikutnya dia hanya berdiri diam seolah tidak menggerakkan tubuhnya.’ Batin Yugi.


Trank


“P-pemenang dari pertarungan kelima, dimenangkan oleh pangeran Seiga Swordia.”


Tidak lama semua penonton bertepuk tangan sambil bersorak atas kemenangan dari klan pedang itu. Seiga tidak menyahut apapun, dia melihat kearah lawannya yang tumbang sambil memegang lengan kanannya yang terdapat satu goresan panas disana.


“Bahkan dengan kecepatan penuh, kau masih bisa menyerangku. Luka bakar ini akan kuingat selalu. Dari sekian banyak petarung yang aku kalahkan, kau adalah salah satu orang yang bisa mengikuti seranganku. Semoga kita bisa bertarung lagi lain kali.” Seiga berjalan pergi dari dalam arena dengan pedang yang dia sarungkan kembali ke pinggang kanannya.


Dengan begini, babak ketiga dari kompetisi kerajaan sudah berakhir. Wasit kembali berbicara untuk mengumumkan siapa saja yang akan melaju ke babak selanjutnya. “Para hadirin semuanya, akan saya tampilkan dilayar sihir siapa saja yang melaju ke babak keempat.”


Sebuah layar raksasa menampilkan nama-nama peserta yang akan melaju ke babak selanjutnya. Disana tertulis nama dari urutan paling pertama sampai terakhir saat pertarungan sebelumnya.


“Mari kita panggil para peserta yang akan melanjutkan ke babak selanjutnya, bagi yang terpanggil silahkan memasuki arena. Yang pertama, petualang dari kerajaan Aries. Yugi...”


Tidak membuang waktu, tanpa berbicara sepatah kata pun pada orang yang berada disampingnya (Vira, Maruya dan Maria). Yugi menghilang dari tempat penonton dengan putaran salju di sekeliling tubuhnya, dan saat bersamaan muncul kembali putaran salju di dalam arena yang memperlihatkan Yugi disana. Dengan senyuman percaya diri, dia berdiri dengan gagahnya seperti seorang artis.


“Apa-apaan guru itu?” tanya Vira yang menatap gurunya bertingkah aneh.


“Bukankah kak Yugi hanya ingin bergaya saja.” Ucap Maria yang sama dengan Vira, menatap Yugi dengan pandangan aneh.

__ADS_1


“Aku juga ikutan ah...” ucap Maruya dengan senyuman semangatnya.


Namun tingkah Yugi yang seperti itu mendapat sambutan dari para gadis cantik yang menatapnya dengan pandangan Love. Dan hal itu tidak disukai oleh Vira yang menatap kearah gurunya dengan pandangan cemberut ditambah pipinya yang memerah kesal.


“Peserta kedua, pangeran dari kerajaan Vouleftis, Rexas Vouleftis.”


Dengan kobaran api disamping kanan Yugi, muncullah Rexas dengan bersedekap dada dan senyuman panasnya yang dapat melelehkan hati para wanita. Semua wanita pun langsung berteriak ria saat melihat kedatangan pangeran Rexas yang tidak kalah dari Yugi.


“Aku tidak akan kalah...” kalimat yang terdengar keren keluar dari mulut Rexas yang membuat Yugi kebingungan.


“Dari hal apa...” balas Yugi.


Walau terlihat jelas mereka seperti sedang berkompetisi soal masalah gaya siapa yang paling hebat saat memasuki arena. Seolah yang terakhir adalah pertarungan gaya diantara mereka. Wasit yang tidak memperdulikan itu langsung melanjutkan ucapannya.


“Peserta ketiga, petualang dari kerajaan Vouleftis. Maruya...”


Maruya dengan cepatnya melompat tinggi dan mengobarkan tubuhnya dengan api kemudian menggunakan kakinya sebagai booster, dia membuat pendorong api yang kemudian melesat kearah Yugi berada.


Duar


Dengan ledakan kecil itu, terlihatlah Maruya yang berdiri disamping kiri Yugi dengan pandangan sok kerennya. Tentu pandangan itu di balas aneh oleh Yugi begitu pula Rexas.


‘Kalau ingin bergaya, setidaknya gunakanlah gaya yang lebih pantas. Kau hampir saja meledakkan tempat ini tahu...’ batin Yugi kesal, untungnya Maruya masih bisa menahan kecepatan lesatannya sehingga arena itu tidak hancur lagi.


Dan lagi, wasit tidak memperdulikan hal itu, walau dimatanya terkesan menatap bingung kearah Maruya yang masuk arena dengan gaya tidak biasanya.


“Peserta keempat, petualang dari kerajaan Eartfil. Lugi...”


Setelah nama itu dipanggil, tidak lama tanah yang mereka pijak bergetar dan memperlihatkan tanah yang mulai mencuat ke atas disamping kanan Rexas, disaat bersamaan disana terlihat Lugi yang dengan santainya menaiki tanah tersebut.


Wasit tidak berkomentar apapun tentang itu, dan tentu saja dia memandang absurd peserta keempat itu. “Yang terakhir, pangeran dari kerajaan Swordia. Seiga Swordia...”


Seperti biasa pangeran dari klan pedang itu menuruni arena dengan mengendarai pedang buatannya, sementara pedang aslinya tetap di pinggang kirinya. Namun yang berbeda adalah dia diikuti oleh keempat pedang lainnya dibelakang.


‘Woi, lu mau pamer atau mau perang.’ Batin Yugi dengan keringat dinginnya saat melihat pawai pedang dibelakang pemuda pangeran pedang itu.


Disaat mendarat, dia pun berdiri di samping Lugi. Dengan begini kelima peserta yang berhasil lolos ke babak selanjutnya sudah berkumpul. Wasit pun berdehem sedikit kemudian berkata. “Selamat atas kelima peserta yang lolos ke babak keempat. Pertarungan babak selanjutnya akan dilaksanakan besok pagi. Diharapkan semua peserta datang tepat waktu, baik sekian dan terima kasih.”


Semua penonton pun pergi dari colosseum setelah pengumuman peserta yang akan melaju ke babak berikutnya. Kelima peserta pun juga ikut berhamburan pergi dari dalam arena untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Kompetisi kerajaan terus berlanjut, dan peserta yang tersisa sekarang tinggal lima orang... apa yang akan terjadi di pertarungan selanjutnya ya...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2