
Sore hari ini merupakan hari yang begitu menegangkan, itu terjadi di sebuah arena pertarungan dimana sebuah kompetisi kerajaan tengah berlangsung...
Pangeran dari kerajaan Boltendra menerjang cepat kearah salah satu peserta yang diyakini adalah seorang petualang yang mengikuti kompetisi ini. Sebuah pukulan bertekanan tinggi dengan listrik liar yang mengelilinginya siap menghantam sang petualang itu.
“Apa kau pikir aku akan langsung dikalahkan pangeran.” Ucap Arga, dia menyiapkan sihir pertahanan didepannya.
Duar
Serangan dan pertahanan itu bertemu, lonjakan energi yang begitu kuat dari pangeran Boltendra membuat petualang Arga merasa tertekan. Tapi dia tetap berusaha tersenyum sambil mempertahankan pelindungnya.
“Serangan yang sangat hebat pangeran.” Ucap Arga di tengah benturan mereka.
“Kau kalah...” balas Reiga.
“Eh...” bingung Arga.
Tidak lama retakan terjadi di perisai sihir milik Arga. Mengetahui hal tersebut sudah cukup membuat Arga mengerti akan perkataan pangeran. Sebelum perisai sihir itu hancur dia sempat melihat pangeran Reiga tersenyum kemenangan.
Praaayy
Buuaaakkk syuuuuutttt duuuuaaarrr
Sebuah suara dimana pertahanan sihir Arga hancur dan pukulan berbasis sihir petir dari Reiga mengenai perutnya sampai membuat Arga melesat cepat kearah tembok arena dan menabraknya sampai terbentuk retakan seperti jaring laba-laba disana.
Tentu saja hal tersebut membuat penonton terdiam sejenak. Pertarungan yang begitu singkat dari sang pangeran dengan salah satu petualang membuat mereka membungkam mulutnya. Bahkan kedua lawannya yang tadi sempat bertarung berhenti sejenak hanya untuk melihat lawan Reiga yang kalah telak dengan satu pukulan.
“B-bagaimana mungkin...” ucap Jogi tidak percaya walau sudah melihatnya sendiri.
“Bukankah kita seharusnya bekerja sama untuk mengalahkannya.” Usul Cerga.
“Aku setuju.” Balas cepat Jogi.
Reiga yang berhasil mengalahkan lawan pertamanya kini mulai berbalik melihat kedua orang yang berdiri tidak jauh darinya. Tatapan mereka salinh bertemu, tapi tidak lama Reiga menghilang dati sana dan berada tepat diantara mereka. Cerga dan Jogi yang terkejut langsung saja melompat mundur dan memisahkan diri dari Reiga.
‘Apa-apaan kecepatan itu.’ Batin Cerga, tangannya yang memegang busur langsung dia posisikan ke depan untuk membidik sang pangeran.
Jogi yang dengan cepat kembali melesat kearah Reiga setelah menjaga jarak. Dengan kedua tangan yang diselimuti oleh energi sihir, dia melayangkan pukulan keras tangan kanannya menuju wajah Reiga.
“Hooraaaaa...” teriak Jogi.
Tap
Tapi sayang pukulan itu berhasil ditangkap oleh Reiga menggunakan tangan kirinya dengan mudah. Jogi terkejut melihat serangannya tersebut bisa ditahan, dengan cepat dia berusaha melepaskan cengkeraman pada tangan kanannya. Betapa sulitnya melepaskan cengkeraman tangan Reiga, semakin Jogi berusaha melepaskan diri, Reiga malah menambah genggaman tangannya menjadi lebih kuat. Dengan kesempatan itu, Cerga tidak membuang waktu lagi, panah yang dia bidik langsung dilepaskan dan melesat dengan cepat sebari diselimuti oleh aura sihir berwarna biru muda. Reiga yang mengetahui serangan dibelakangnya, dia hanya tersenyum tenang seolah itu bukan hal yang berbahaya untuknya. Dengan sedikit tenaga Reiga menarik tangan Jogi yang dia cengkeram sedari tadi dan melemparkannya kearah panah yang dilesatkan oleh Cerga sebelumnya.
“Gawat...” kejut Cerga yang tidak menyangka kalau pangeran melempar Jogi tepat kearah anak panahnya.
Duar
Anak panah itu meledak saat mengenai Jogi dan membuatnya tepar ditempat. Cerga yang melihatnya tidak percaya, dia mulai berkeringat dingin saat menatap kearah Reiga. Sementara Reiga hanya diam dengan tenang ditatap seperti itu oleh Cerga.
“Kau yang terakhir...” ucap Reiga.
“Sepertinya begitu...” ucap Cerga, dia berjalan sedikit mundur untuk menjaga jarak dari Reiga.
Aliran petir yang begitu liar menyelimuti kaki Reiga, bersiap untuk melesat dengan sekali hentakan. Tapi sebuah kejadian yang tidak terduga membuat semua orang terkejut.
“Aku menyerah.” Ucap Cerga sambil mengangkat kedua tangannya.
Reiga menetralkan kembali sihirnya kemudian berkata kearah Cerga. “Apa maksudnya?” tanya Reiga yang tidak terlalu senang karena lawannya menyerah begitu saja.
“Aku sendiri sudah menilai sejauh mana kemampuanku. Dan aku tahu bahwa aku akan kalah olehmu pangeran. Dengan memperlihatkan kekuatan yang begitu besar, bahkan menurutku sendiri itu belum semuanya, bukan begitu pangeran?” tebak Cerga.
“Kau lumayan pintar juga, tapi aku tidak pernah sekalipun meremehkan kekuatan lawanku. Aku memang belum mengeluarkan semuanya, tapi bukan berarti kau lawan yang tidak pantas melihat kekuatanku. Aku bisa saja serius denganmu sekarang.” Balas Reiga.
“Hahahah...” Cerga tertawa hambar saat mendengar pernyataan yang begitu antusias dari sang pangeran. Tapi dia tahu sampai mana batasannya. “Aku pasti akan babak belur dengan cepat jika anda serius melawan saya pangeran Reiga. Untuk sekarang saya menyerah, Anda menang pangeran.” Ucap Cerga. ‘Karena aku bisa melihatnya, kekuatan yang begitu besar dari tubuhnya, bahkan ada yang tersembunyi disana. Sesuatu yang sangat mengerikan, aku ini selalu menganalisa sesuatu yang mungkin saja tidak bisa aku atasi. Jika itu terjadi pilihan terbaikku hanyalah menyerah, lagi pula aku juga tidak ada niat untuk memenangkan kompetisi ini.’ Batin Cerga.
“Baiklah jika kau berkata seperti itu, berati ini kemenanganku.” Balas Reiga.
Rud yang beberapa saat lalu masih dikejutkan dengan pertarungan didepan matanya, sekarang langsung mengumumkan pemenang dari pertarungan ke lima ini. “Pemenangnya... Pangeran Reiga.”
Tidak sedikit dari semua penonton mulai bersorak ria, bahkan ada yang berteriak menyerukan nama pangeran. Tapi masih ada saja orang yang terkejut akan pertarungab yang terbilang singkat itu. Salah satunya berada dibangku penonton yaitu Yugi. Dia yang sedari awal menganalisa kekuatan sang pangeran tidak mempercayai kalau pertarungan ini akan selesai dengan cepat. Tapi hasilnya memang sudah ada didepan mata, kekuatan pangeran dari kerajaan Boltendra tidak bisa dianggap remeh.
‘Kuat dan cepat...’ batin Yugi.
Didalam alam bawah sadar Yugi dimana sang pedang dewa bersemayam. Disana Yui bisa mendnegar kata hati dari Yugi, tentu saja dia juga bisa merasakan hawa dari orang itu. Yui merasakan akan kekuatan mengerikan dari pangeran kerajaan Boltendra. Untuk sekarang dia lebih memilih diam sampai waktunya tiba untuk menyampaikan sesuatu pada Yugi.
“Dengan begini kompetisi hari ini telah selesai, kompetisi dilanjutkan besok. Bagi para peserta yang belum mengikuti kompetisi hari ini persiapkan diri kalian untuk besok. Untuk mereka yang sudah mengikuti dan memenangkannya silahkan beristirahat, karena komeptisi masih belum selesai. Sekian...”
Setelah Rud mengucapkan sepatah kata tersebut. Semua orang mulai berhamburan meninggalkan tempat arena pertarungan. Begitu juga Yugi dan Vira, mereka langsung berjalan menuju penginapan untuk beristirahat.
“Pertarungan yang sangat hebat, baru pertama kali ini aku melihat pertarungan seerti itu. Apa aku juga bisa sekuat mereka ya...” ucap Vira yang berjalan disamping kanan Yugi.
__ADS_1
Yugi yang mendnegarnya mulai tersenyum lembut seraya berkata. “Kamu pasti bisa Vira...” balas Yugi.
Untuk sesaat Vira merasa bingung dan menatap kearah gurunya itu. “Bagaimana guru bisa tahu kalau aku akan sehebat mereka?” tanya Vira.
“Karena aku gurumu.” Jawab Yugi dengan senyuman hangatnya.
Entah kenapa wajah Vira memanas, rasanya begitu malu. Bahkan terdapat rona merah di kedua pipinya. Karena tidak tahan Vira menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona di wajahnya.
Yugi yang tidak mendapat balasan menatap kearah Vira. Disana kepala Vira tertunduk kebawah, hal itu membuat Yugi sedikit bingung. Karena penasaran dia pun bertanya. “Ada apa Vira?”
“E-eh...” karena masih merasa malu dia menjadi gugup. Vira menjawab pertanyaan Yugi dengan sedikit terbata-bata. “A-aku tidak apa-apa, ah aku merasa kepanasan. Ayo cepat kita krmbali kepenginapan.” Ucap Vira cepat untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Oh, kalau panas bagaimana kalau kita membeli sesuatu.” Sara Yugi.
“...” Vira yang bibgung tidak bisa mengatakan apapun.
“Sebentar...” Yugi pergi menuju sebuah toko yang di yakini tempat penjualan buah-buahan. “Maaf menunggu lama.” Dia kembali dengan membawa sekantung buah jeruk yang terlihay segar.
“Kita akan memakan buah jeruk untuk makan malam?” tanya Vira dengan polosnya.
“Lihat saja nanti.” Balas Yugi.
Tentu dengan wajah bingung Vira memiringkan kepalanya kearah kanan yang terkesan menambah keimutannya.
Didalam hutan yang tidak jauh dari kerajaan Eartfil. Seorang pemuda bersurai hitam di ikat ponytail pendek dengan pakaian serba abu-abu dan memakai busur terlihat sedang menunggu seseorang. Tidak lama satu bayangan hitam terlihat di tengah hutan yang berjalan perlahan menuju sang pemuda itu.
“Bagaimana keadaan disana, cerga?” tanya pria misterius yang memakai tudung kepala.
“Tidak ada yang aneh, hanya saja aku merasakan kekuatan yang tidak biasa dari pangeran Reiga.” Jawab pemuda itu yang ternyata Cerga, salah satu peserta kompetisi yang telah dikalahkan dalam pertarungan.
“Terus saja pantau keadaan disana, aku mendapat laporan bahwa kerajaan dari tanah gelap sudah mulai bergerak. Mereka berpendapat bahwa targetnya adalah kerajaan ini.” Ucap orang itu.
“Baik, saya mengerti.” Balas Cerga.
Tidak lama orang bertudung hitam itu menghilang meninggalkan Cerga seorang diri. Setelah orang ity pergi, Cerga berjalan kembali menuju kota untuk mengistirahatkan badannya yang lelah.
Disebuah penginapan, terdapat dua orang berbeda umura dan jenis kelamin. Mereka tengah duduk sambil meminum sebuah minuman berwarna kuning yang menyegarkan.
“Waahhh... dingin dan segar.” Ucap gadis kecil kegiarangan.
“Minumlah yang banyak Vira.” Ucap pemuda bersurai putih salju pada gadis di depannya.
“Sebenarnya tidak terlalu sulit sih, karena aku sering melakukannya. Kamu ingay buah jeruk yang aku beli kan, aku membuatnya dari bahhan itu.” Jawab Yugi sambil meminum jus jeruknya lagi.
“Emmh... tapi kenapa rasanya dingin?” tanya Vira.
“Ah, aku menambahkan es batu didalamnya. Aku menggunakan teknik es ku untuk membuat es batu itu.” Jelas Yugi.
“Pantas saja rasanya begitu dingin dan menyegarkan.” Ucap Vira dengan senyuman cerahnya.
“Hem...” Yugi hanya tersenyum senang melihat wajah gembira Vira.
Vira meminum jusnya lagi sampai tetes terakhir, wajahnya berubah cemberut saat mengetahui bahwa minumannya habis. Hal itu membuat Yugi menahan tawa dengan sedikit air jeruk yang keluar dari mulutnya. Melihat wajah Vira yang seperti itu entah kenapa jadi hiburan buat Yugi.
“Guruuu...” dengan wajah memelas, Vira menatap Yugi sambil menyodorkan gelasnya.
‘Aaahhh imutnya, terkadang dia bisa bersikap seperti ini ya.’ Batin Yugi yang merasa gemas pada muridnya ini. “Iya ya aku tahu, masih banyak kok.”
“Yeee...” teriak Vira senang.
Malam hari yang dingin, disebuah kamar yang begitu mewah didalam istana kerajaan Eartfil. Terdapat satu wanita bersurai cokelat terang tengah bercermin. Tatapannya terlihat sedikit murung, pemikirannya jauh entah kemana. Tidak lama sebuah ketukan pintu menyadarkannya dari lamunan panjangnya.
Tok tok tok
“Siapa?” Tanya wanita itu.
“Ini aku putriku.” Jawab sang suara yang berada dibalik pintu.
“Ibu...” gumamnya. “Masuklah.”
Mendengar itu seorang wanita yang terlihat sangat muda walau umurnya tidak semuda itu masuk kedalam dan tersenyum kearah anaknya.
“Ibu tidak harus mengetuk pintu, kenapa tidak langsung masuk saja.” Ucap sang putri pada ibunya.
“Ibu hanya takut mengganggu waktu privasimu putriku Lani.” Ucap sang ibu yang merupakan ratu kerajaan Eartfil, Leuna.
“Ada apa ibu kesini?” tanya Lani. ‘Disaat seperti ini aku bersikap seperti seorang anak pada ibunya. Hanya pada saat aku tidak berada di ruang formal. Aku bisa lebih terbuka pada kedua orang tuaku.’ Batinnya.
“Ibu tahu kamu pasti terganggu akan perjodohan ini. Apalagi calon suamimu di tentukan oleh sebuah kompetisi turun temurun ini. Ibu merasa kalau semua ini tidak benar, tapi kita tidak bisa menentang para tetua. Bahkan ayahmu sendiri...” Leuna tidak bisa melanjutkan perkataannya saat tangan anaknya menggenggam kedua tangannya.
“Ibu, aku tidak marah. Aku tahu Ayah dan Ibu pasti sudah berusaha untukku. Jadi jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.” Ucap Lani menenangkan sang ibunda tercintanya.
__ADS_1
Walau aku mengatakan itu, tetapi di dalam hatiku... serasa hampa...
Karena kompetisi bodoh ini, aku harus menerima siapa pun pemenangnya, walau aku sendiri tidak mencintainya...
“Ibu sangat menyayangimu anakku, maafkan ibu...” Leuna memeluk Lani dengan penuh kasih sayang. Didalam hati kecil seorang ibu, dia bisa tahu penderitaan yang dialami oleh putrinya, karena itu jika kompetisi ini membuat hati putrinya hancur, dia akan bersumpah menghancurkan kompetisi bodoh ini.
Dipenginapan, Yugi dan Vira tengah membicarakan sesuatu didalam kamar. Jika dilihat raut wajah keduanya terlihat sangat serius.
“Besok, kita tidak akan melihat kompetisi itu.” Ucap Yugi.
“Tapi, kenapa guru?” tanya Vira.
Yugi memejamkan mata sebentar dan menatap kearah Vira. “Kita akan pergi ke hutan untuk latihan. Terlebih aku ingin mencoba sesuatu.” Jawab Yugi.
“Bukankah guru pernah bilang harus memperhatikan lawan.” Balas Vira.
“Itu memang benar, tapi ada kalanya kita harus mengambil satu keputusan yang mungkin bisa menguntungkan kita. Kemampuanku sudah diketahui oleh orang lain, oleh karenanya aku harus berlatih untuk menemukan jurus baru. Kau mengerti Vira?” jelas dan tanya Yugi pada muridnya itu.
“Emh aku mengerti...” angguk Vira. “Dengan kata lain karena kemampuan elemen es milik guru sudah diketahui oleh peserta lain maka guru akan berlatih untuk menciptakan jurus baru yang belum diketahui oleh lawan.” Terang Vira.
“Benar sekali, ternyata muridku begitu pintar.” Yugi mengelus rambut Vira dengan gemasnya.
“...” Vira yang diperlakukan seperti itu entah kenapa merasa sangat senang, bahkan dia memejamkan mata untuk menikmati elusan gurunya tersebut.
“Oh ya Vira, ini mengenai darah Vampir yang ada didalam dirimu. Aku pernah bilangkan kalau saat bulan purnama seperti malam ini maka darah Vampirmu akan bergejolak dan mengendalikan dirimu. Seperti malam kemarin, kau bahkan tidak mengingatnya.” Ucap Yugi.
Mengingat hal itu membuat Vira malu dengan wajah yang memerah. Untuk menyembunyikannya dari Yugi dia menundukkan kepalanya.
“Oleh karena itu, aku ingin kamu untuk mengendalikan hasrat Vampirmu itu.” Lanjut Yugi.
“Eh... maksud guru?” tanya Vira bingung.
Mendengar pertanyaan itu Yugi pun harus menjelaskannya. “Aku pernah membacanya, seorang Vampir akan tidak terkendali saat mereka masih dibawah umur. Dengan kata lain anak kecil seperti dirimu.”
Mendengar kata anak kecil membuat Vira merasa tidak senang, dan tentu saja wajahnya berubah ngambek.
“Untuk itu mereka diberi pelatihan khusus supaya bisa mengendalikannya walau bulan berbentuk bulat sempurna.” Lanjut Yugi.
“Pelatihan, pelatihan seperti apa?” tanya Vira yang rasa kesalnya berubah menjadi penasaran.
“...” Yugi tersenyum misterius saat Vira menanyakan hal itu. Dan tentu saja Vira merasa agak risih saat gurunya tersenyum seperti itu.
Di istana kerajaan Northern Esla terlihat dua orang tuan putri tercantik kerajaan tersebut tengah bermain di taman istana. Mereka duduk dengan tenang sambil memandangi langit yang dipenuhi oleh bintang berkedip, ditambah bulan purnama yang menerangi mereka.
“Kak, apa yang sedang dilakukan kak Yugi ya?” tanya Elna.
Elsa yang merupakan calon ratu masa depan kerajaan Northern Esla menanggapi pertanyaan adiknya dengan senyuman lembut. “Entah, mungkin saja sekarang Yugi sedang berpetualang diluar sana. Dan pasti dia akan kembali pada kita...” ucapnya yakin.
“Ya.” Balas Elna denagn senyuman cerahnya.
Tidak lama seorang wanita dewasa yang begitu cantik datang menghampiri kedua tuan putri tersebut. “Putriku, kalian sedang apa?” tanya wanita itu yang merupakan ibu dari mereka, Raniya Northern Esla.
“Ibunda, kami hanya sedang menikmati pandangan bintang malam ini.” Jawab Elsa yang sudah berdiri menghadap ibunya begitu pula dengan Elna.
“Kalian merindukan Yugi?” tanya Raniya.
Mereka berdua tidak menjawab pertanyaan tersebut, tapi dari ekspresinya sang Ratu sudah mengetahui bagaimana perasaan mereka. Raniya tersenyum sambil memperlihatkan sesuatu pada mereka.
“Ini ada surat dari Yugi. Ibu rasa dia baik-baik saja...”
Elsa dan Elna yang mendengar ada surat dari pujaan hati mereka langsung menatap sang ibu kemudian beralih pada tangan kanannya dimana terdapat sepucuk surat disana.
“Kak Yugi mengirim surat.” Ucap Elna dengan wajah senang.
“Yugi...” gumam Elsa sambil tersenyum hangat.
“Bagaimana kalau kita membacanya bersama, ibu juga penasaran dengan keadaan calon menantu ibu.” Goda Raniya kepada putri-putrinya.
Sementara dua orang tuan putri yang digoda tersebut merasa malu dan merona merah.
Surat dari kak Yugi, aku benar-benar senang. Aku ingin sekali bertemu dengan kak Yugi... aku sangat merindukannya...
Wajah Elna tersirat akan kerinduan yang mendalam pada cinta pertamanya, sekaligus orang yang sudah mengambil ciuman pertamanya.
Yugi... sudah lama sekali tidak ada kabar darimu. Sekarang kau mengirimi kami surat, entah apa yang kau tulis didalamnya. Tapi aku sangat ingin bertemu denganmu...
Tidak jauh beda dengan Elna, sang tuan putri tertua juga sangat merindukan sosok laki-laki yang sudah menyelamatkannya dari perjodohan yang tidak diinginkan. Dan sekarang laki-laki itu juga sudah merebut hatinya.
Malam itu, karena sebuah jarak yang memisahkan, mereka tidak bisa bertemu. Tapi dengan surat ini hati mereka masih tetap terhubung...
Bersambung
__ADS_1