
Sudah sebulan HW Logistic berkantor di Gedung Prima Go. Kondisi keuangan perusahan pun sudah jauh lebih baik bahkan Andra sudah tidak memerlukan lagi bantuan dana dari Firmanto.
Waktu menunjukkan pukul 1 siang ketika Andra memacu laju mobilnya menuju kantornya karena pagi tadi dia sudah harus ke pelabuhan terlebih dahulu untuk mengurus pengiriman barang dengan jumlah yang cukup besar.
Betapa kagetnya ia melihat ramai orang berkerumun di depan lobby khusus Prima Go Construction. Ratusan orang pekerja proyek berkumpul disana membawa spanduk dan melakukan orasi namun tak terlihat seorangpun aparat keamanan ada disana.
"Ada kejadian apa ini??" Andra bertanya dalam hati sambil menghentikan mobilnya di pinggir jalan tak jauh dari Gedung Prima Go. Beberapa menit dia diam di dalam mobilnya mengamati situasi disana. Pergerakan massa mulai tampak tak terkendali, beberapa orang memaksa masuk sambil melempari batu atau apa saja yang ada di dekat mereka.
Andra turun dari mobilnya dan berlari menyeruak diantara kerumunan pendemo.
Tiba di lobby kantor Prima Go, Andra melihat pecahan kaca bertebaran dimana mana. Massa sudah berbuat anarkis. Nampak pula beberapa orang security berusaha menenangkan massa melaui suara toa namun massa tetap memaksa masuk.
Andra memberanikan diri menyeruak masuk, dilihatnya Firman bersama asistennya Benny yang nampak panik namun tak bisa berbuat apa apa.
Andra mendekati mereka "Ada apa ini Om?" Tanyanya kepada Firman.
"Sepertinya ada profokator diantara mereka, mereka bahkan tidak bisa diajak berdiplomasi" Firman menjawab dengan nada kesal bercampur panik.
"Pak Security... tolong antar Pak Firman dan Pak Benny ke atas, saya akan coba bereskan ini" Andra memberi perintah pada security yang sedari tadi menjaga atasannya itu. "Apa yang bisa kamu lakukan Andra?" Firman Seolah tak percaya mendengar ucapan Andra. Firman menolak untuk naik ke kantornya dan memilih diam disana mengawasi semua yang terjadi.
Andra melangkah cepat menuju kerumunan pendemo yang terus memaksa masuk, direbutnya toa dari tangan security disana lalu berteriak lantang
"Saudara saudaraku semuanya mohon tenang, saya ingin kita berdiplomasi secara damai, agar masalahnya bisa diselesaikan secara damai!!"
"Uuuuuu....!!!!. teriakan pendemo makin keras menyoraki Andra, bagaimana tidak kata kata itu juga yang sedari tadi diteriakkan Firman kepada mereka namun mereka acuhkan karena dianggap tidak menyelesaikan masalah.
Tiba tiba... blak...bluk... lemparan batu kembali berhamburan ke arah Andra, dia berusaha menghindar namun karena banyaknya jumlah batu yang dilempar kearahnya, 'plaaakkk...!!! Sebuah batu mengenai keningnya. Andra merasakan sakit dan menyentuh dahinya dengan tangannya ia dapat merasakan darah segar mengalir diatas pelipis kanannya.
"Andra.... Pak Firman yang panik melihat Andra terluka berteriak ingin mendekati Andra namun ditahan security karena itu bisa membahayakan diri atasannya itu.
Mengetahui keadaanya Andra tak sedikitpun merasa gentar. Dia kembali berteriak melalui toa yang masih ditangannya
"Tindakan kalian sudah sangat anarkis, saya sudah memohon dengan sangat agar kita bisa selesaikan ini baik baik!"
Andra terus berteriak lantang meminta agar perwakilan pendemo bisa diajak berdiplomasi dan membuat kesepakatan. Entah sihir apa yang keluar dari mulutnya, setiap kalimat yang diucapkannya mampu membuat para pendemo diam tak lagi memaksa masuk ke dalam gedung itu.
Suasana riuh sejenak menjadi hening. Dua orang pria berbadan kekar dengan wajah sangar mendekati Andra.
__ADS_1
"Baiklah kami siap bersiplomasi dengan syarat pihak Prima Go harus mendengar dan memenuhi semua tuntutan kami" ujar salah satu dari mereka kepada Andra sambil mengangguk ke arah rekannya yang lain. Mereka adalah perwakilan dari para pekerja yang sedang berdemo.
"Ok selama kita membuat kesepakatan saya mohon agar saudara saudara tidak berbuat onar lagi. Mohon tunggu dengan santun, apabila kalian bisa menghargai kami maka kamipun akan hormat kepada kalian semua" Andra menutup teriakannya melaui toa.
"Saudara saudara sekalian, kita akan sampaikan semua tuntutan kita kepada pimpinan Prima Go Construction, jadi selama diplomasi berlangsung mohon jangan melakukan pergerakan apapun. Silahkan bubar dengan tertib" salah seorang perwakilan mereka itu berbicara melaui toa untuk menenangkan massa.
Andra meninggalkan tempat itu bersama dua orang perwakilan pekerja dikawal security menuju lift yang akan membawa mereka naik ke lantai 25.
Di ruang rapat kantor Prima Go, Firman dan Benny sudah menunggu mereka dan bersiap melakukan diplomasi.
Andra meraih tissu dan menyeka keningnya yang masih mengeluarkan darah. Rasa perih masih dirasakannya namun ditahannya karena dia harus menyelesaikan kesepakatan yang akan mereka bahas.
Kedua perwakilan pekerja itu mulai membeberkan satu per satu tuntutan mereka. Benny mencatat semua tuntutan itu dan mengetiknya langsung di laptopnya.
Diplomasi berlangsung sedikit alot karena tuntutan pekerja terlalu banyak namun satu persatu tuntutan itu langsung dicarikan solusi oleh Andra. Kecerdasan dan daya nalar Andra yang diatas rata rata membuatnya sangat mudah memecahkan setiap permasalahan.
Pada akhirnya kesepakatan pun ditemukan.
"Pak Benny tolong print rangkap dua hasil diplomasi kita ini dan kedua belah pihak harus tanda tangan, saya akan bertanggung jawab sebagai pihak Prima Go. Apabila terjadi hal yang menyimpang silahkan kalian tuntut saya" Andra menutup perdebatan itu.
Sejenak suasana hening tak ada yang menjawab pertanyaan pria itu, bahkan Andra yang sedari tadi selalu punya jawaban atas setiap pertanyaannya kini hanya diam tidak tahu harus menjawab apa.
"Pak Andra ini adalah calon menantu dari Pak Firmanto yang secara otomatis juga nanti akan menjadi pemimpin di Prima Go" Benny yang sebelumnya juga hanya diam tiba tiba berbicara memberi jawaban.
Asal, namun masuk diakal sehingga perwakilan pekerja itu percaya dan mau menandatangangi hasil keputusan diplomasi tersebut.
Andra dan begitu pula Firman kaget mendengar apa yang dikatakan Benny, namun keduanya hanya mengangguk karena ingin semua permasalahan cepat selesai.
Diplomasi yang alot itupun berakhir damai kesepakatan sudah tertulis hitam diatas putih. Para pendemo pun sudah membubarkan diri dengan tertib.
Andra duduk di sofa ruang kerja Firman sambil meringis menahan perih di keningnya. Tetesan darah sesekali masih mengalir bahkan sampai mengenai kemeja yang dikenakannya.
"Andra... pasti ini sakit sekali? Om sudah panggil dokter untuk mengobati lukamu, tunggu sebentar lagi pasti datang" Firman duduk di dekat Andra sambil mengulurkan segelas air kepadanya.
"Makasih Om Andra tidak apa apa hanya luka kecil saja" bantah Andra agar Firman tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Tak lama dokter datang dan langsung masuk ke ruangan itu memeriksa luka Andra.
__ADS_1
"Lukanya tidak dalam kok, hanya lecet dan sedikit memar. Ini saya resepkan obat penghilang rasa sakit dan untuk menghentikan pendarahannya, sementara saya hanya perban saja lukanya agar tidak infeksi" Dokter lalu memberi selembar kertas resep untuk ditebus di apotik.
Benny masuk ke ruang kerja Firman sesaat setelah Andra mendapatkan pengobatan. Ditangannya sudah ada beberapa lembar berkas kesepakatan dengan pendemo untuk diberikan kepada atasannya itu.
"Ben... hal gila apa yang kamu katakan tadi pada pendemo itu? Kau bilang Andra calon menantuku? Ah... entah ide macam apa lagi itu?" Firman heran namun kagum dengan kebohongan aneh asistennya itu yang justru malah cepat menyelesaikan permasalahan.
"Iya Pak Benny, kenapa anda berbicara seperti itu" Andra sama penasarannya seperti Firman.
"Lalu saya mesti bilang apa lagi Pak Firman.... Pak Andra memang berkantor disini, tapi Pak Andra bukan bagian dari Prima Go. Dan jelas jelas mereka menolak melakukan kesepakatan dengan orang luar. Ehm... maafkan saya Pak itu terjadi spontan begitu saja, walaupun menurut saya hal ini sangat baik bila memang kenyataannya demikian hehehe..." Benny hanya tersenyum tipis.
Benny memang bawahan serta asisten kepercayaan Firman, selain setia kepada Firman, Benny juga banyak mengeluarkan ide ide dan inovasi baru di Prima Go walau terkadang sedikit nyeleneh tapi itulah yang membuat Firman sangat menyukai kinerja Benny. Inovasi yang out of the box namun sangat inovatif.
"Ehmmm.... bisa jadi itu memang bagus bila jadi kenyataan Benny hahaha...." Firman menganggukan kepala sambil menoleh ke Andra.
"Kenal sama anaknya Om Firman saja tidak, apalagi menjadi menantunya?" Pikiran Andra mengabaikannya begitu saja.
Keesokan harinya, di ruang meeting Prima Go sudah berkumpul semua direksi dan kepala kepala divisi untuk membahas masalah tuntutan para pekerja kemarin. Berbeda dengan biasanya nampak Andra juga ada disana. Andra memang tidak punya kedudukan apapun di Prima Go tapi keputusannya menjadi penanggung jawab dari hasil diplomasi dengan pekerja membawa ia harus berada di meeting itu juga.
Masing masing direksi mengeluarkan ide dan solusi untuk memenuhi tuntutan pekerja. Andra hanya diam memperhatikan mereka, Andra memang tidak begitu memahami dunia property namun dia memahami cara mengatur perusahan dengan sangat baik.
"Pak Andra, bagaimana menurut pendapat anda?" Firman menunjuk ke arah Andra.
Andra lalu bangkit dari tempat duduknya lalu memulai sebuah presentasi.
Sekali lagi kecerdasan Andra membuat semua orang di ruang meeting tersebut merasa sangat terkesan. Dia mengutarakan sebuah ide berbasis teknologi yang mudah dijangkau semua kalangan dan tentunya menguntungkan pekerja dan juga pelanggan. Aplikasi online yang menawarkan jasa property maintenance mulai dari rumah tinggal sampai maintenance gedung gedung besar.
"Dengan aplikasi ini, saya yakinkan kejadian demo seperti kemarin tidak akan terjadi lagi. Semua pekerja akan memiliki hak mendapat pekerjaan yang sama dan upah sesuai apa yang dikerjakan. Dan disini, pekerja yang rajin akan menghasilkan lebih sedangkan yang malas akan sebaliknya." Andra menutup presentasinya.
Riuh tepuk tangan semua orang yang ada di meeting itu langsung terdengar setelahnya. Mereka setuju dengan semua hal yang disampaikan Andra.
Firman tersenyum senang, Andra begitu membuatnya terkesan.
Meeting hari itu pun selesai dengan hasil yang memuaskan.
"Andra kau sungguh luar biasa" Firman tak henti hentinya memuji Andra dengan ide ide briliannya.
"Andai saja benar anak muda ini bisa jadi menantuku, aku yakin ditangannya Prima Go akan semakin sukses dan menjadi perusahan raksasa di negeri ini" gumamnya dalam hati.
__ADS_1