
Sehari setelah pemakaman ayahnya, Andra masih merasakan kesedihan dan kehilangan yang mendalam. Beberapa kali masih ada rekan kerja Joddy ataupun kerabat jauh yang baru mengetahui berita meninggalnya Joddy mengunjungi rumahnya untuk mengucapkan bela sungkawa.
Tante Tiara bersama suaminya Om Danu juga masih berada di kediaman Hadiwiguna, mereka memilih menginap disana beberapa hari untuk menemani Andra dan menghiburnya agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya. "Andra tante minta maaf karena tante nggak bisa berlama lama disini, nanti malam tante dan om akan balik ke Denpasar dengan penerbangan terakhir." Ucap Tiara kepada keponakannya itu.
"Tante tahu setelah ini tanggung jawabmu akan semakin besar. Kamu satu satunya penerus keluarga Hadiwiguna. Tapi tante yakin kalau keponakan tante ini pasti bisa menjaga nama besar keluarga kita dengan baik terlebih lagi kau juga harus mengurus HW Logistic... kamu harus tetap semangat ya Ndra... Walau tante jauh, tante akan tetap mendoakan yang terbaik buatmu." Tiara memegang pundak Andra menyemangatinya.
"Kapan kapan luangkan waktu na'e kamu pulang ke Denpasar." Danu menimpali dan berbicara dengan logat Balinya yang sangat kental.
"Iya Om, tante.. makasih ya...Andra juga kangen Bali sudah lama sekali Andra gak kesana." Andra mencoba tersenyum menyembunyikan duka yang masih dirasakannya.
"Ohya Om, tante, gemana kabarnya Mbok Luh, Dek Gus ama Koming?" Sejenak Andra teringat kalau di Bali selain Tante Tiara dan Om Danu dia masih punya tiga orang saudara sepupu dan hal itu cukup membuatnya merasa tidak sendirian setelah ayahnya tiada.
"Mereka baik Ndra.., Mbok Luh lagi hamil anak kedua bulan depan perkiraan kelahirannya..." Tiara menceritakan putri pertamanya yang sudah menikah dan sedang hamil cucu keduanya.
"Wah....Tante Tiara sama Om Danu sudah jadi kakek dan nenek ya, dan aku sudah punya keponakan rupanya?!" Kembali Andra mencoba tersenyum. Andra teringat masa kecilnya dulu mereka tinggal di Denpasar bahkan Andra menamatkan SMP-nya disana.
******
__ADS_1
Tak ingin berlama lama larut dalam kesedihan, hari berikutnya Andra sudah kembali bersiap ke kantornya.
"Aku sudah meninggalkan pekerjaanku selama beberapa hari, pasti banyak hal yang harus kuselesaikan sekarang" pikir Andra ketika dia sudah berada di tengah jalan ibu kota yang sudah sangat padat oleh kendaraan.
"Andra.. kau sudah masuk kantor?" Terdengar Firman menyapa Andra sesaat ketika ia tiba di kantornya.
"Iya Om, aku gak mau terlalu larut dalam kesedihan. Ayah disana pasti juga tidak suka kalau aku hanya diam di rumah saja dan mengabaikan kantor." Andra tersenyum tipis.
"Kau benar Andra..., ohya, apa kau tahu kalau sebenarnya ayahmu mungkin masih ada disini bersama kita saat ini?" Firman menatap Andra penuh arti.
"Maksud Om?" Andra tampak bingung dengan perkataan Firman.
"Iya Om" Andra mengingat pesan terakhir ayahnya sebelum ia meninggal.
"Andra akan ikuti keinginan ayah Om, Andra setuju menikah dengan Amel" Andra menghela nafas panjang, kini dia sudah tidak dalam posisi boleh memilih lagi mengingat itu adalah wasiat terakhir ayahnya.
"Andra pernikahanmu dan Amel harus dilaksanakan segera dan kamu tak usah khawatir, Om yang akan mengatur semuanya." Firman kembali menegaskan.
__ADS_1
"Iya Om..., tapi Andra ada satu permintaan Om, tolong acara pernikahan kami dilaksanakan secara sederhana saja, kita masih dalam suasana berduka." Ucap Andra sambil kembali menghela nafas panjang.
Firman hanya mengangguk menyetujui permintaan Andra itu.
********
Sementara itu, Amel dan Mayra juga sudah kembali dari liburannya. Amel langsung menemui papanya karena dia tahu kalau papanya pasti masih bersedih karena baru saja kehilangan sahabatnya. Amel tiba di rumahnya saat hari sudah menjelang malam. Firman sudah menunggunya di rumah ketika Amel tiba.
"Bagaimana liburanmu sayang?" Firman memeluk putrinya.
"Sebenernya menyenangkan pa... tapi... begitu mendengar kabar duka itu aku jadi gak menikmati liburanku lagi pa, kasihan Andra pasti dia sangat sedih." Amel menunjukkan kepeduliannya.
"Iya dia sangat sedih.. tapi hari ini dia sudah kembali ke kantor" Firman menarik nafasnya pelan.
"Amel... papa mau bilang sama kamu kalau papa sudah memilih hari baik untuk pernikahanmu sama Andra. Kalian akan menikah bulan depan."
"Apa??..... bulan depan? Papa jangan bercanda deh pa" Amel menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan papanya.
__ADS_1
"Papa serius sayang... sebelum meninggal Om Joddy berpesan pada papa agar menikahkan kalian segera sebelum 100 hari beliau meninggal."
Amel terdiam tak menjawab perkataan papanya. Siap ataupun tidak, setuju ataupun tidak, kali ini dia harus menuruti keputusan papanya itu. Air mata mulai menetes diantara kedua matanya namum diusapnya segera, dia melangkah ke kamarnya meninggalkan papanya yang juga masih duduk dan terdiam disana.