
BREAKING NEWS:
("Telah ditangkap 2 orang wanita berinisial H dan I tersangka pengedar narkoba di Moonlight Night Club. Modusnya adalah tersangka mengincar para korbannya yaitu pengunjung wanita yang sedang sendiri lalu memberikan dosis kecil pada minumannya secara bertahap sehingga korban menjadi kecanduan".)
Mayra menatap layar ponselnya dan mengerutkan dahinya.
"Apa May..., Moonlight Night Club?!! narkoba!!?"
Amel yang duduk di kursi roda di sebelah Mayra merasa sangat terkejut saat sahabatnya itu membaca sebuah berita di situs berita online, lalu dengan cepat Amel merampas ponsel dari tangan Mayra dan ikut membaca berita itu.
"H dan I... iya itu Hesti dan Indah... mereka teman yang bersama gue di night club di malam kecelakaan itu May!!"
"Berarti mereka juga memberikan dosis itu di minuman gue? Oh Tuhan..... pantas saja gue cuma minum satu gelas wine tapi kepala gue rasanya langsung tidak karuan waktu itu!" Raut wajah Amel langsung berubah panik setelah mengingat kejadian di malam itu sebelum kecelakaan yang menimpanya.
"Mel... kita sudah tahu semuanya, saat kecelakaan itu lo nyetir sambil mabuk dan hasil tes urine lo, positif ada kandungan zat adiktif nya. Awalnya kita semua berfikir lo mulai coba coba memakai barang haram itu Mel..., tapi setelah baca berita ini gue jadi tahu kalau lo itu cuma korban, ... syukurnya sekarang mereka sudah tertangkap". Mayra memegang pundak Amel yang mulai menangis menyadari kesalahannya.
"Andra dan bokap lo sudah sepakat menutup kasus itu agar lo nggak sampai dimasukkan ke tempat rehabilitasi Mel..., lagian kalau sampai ada pemberitaan media seperti ini dan menyeret nama besar perusahaan bokap dan suami lo itu akan sangat fatal akibatnya."
Amel semakin tidak dapat membendung tangisnya. "Betapa bodohnya gue May.... gue terlalu egois, Andra sudah berkali kali mengingatkan gue untuk merubah kebiasaan buruk itu dan melarang gue nyetir sendiri, tapi gue ... hiks....gue memang payah May!"
"Sudahlah Mel, semua sudah terjadi. Yang terpenting sekarang lo jangan lagi ngelakuin kesalahan yang sama". Mayra memeluk Amel yang menangis terisak.
"Ohya Mel, gimana hubungan lo sama Andra? Jujur gue iri sama lo Mel.... Andra itu bener bener perhatian sama lo dia merawat lo dengan penuh kasih sayang. Andai gue jadi elo, gue pasti jadi wanita yang paling berbahagia di dunia ini."
Mayra mencoba mengalihkan pembicaraan agar Amel menghentikan tangisannya.
"Iya May, gue juga baru sadar kalau Andra itu sebenarnya sangat baik. Meski kadang sikapnya dingin tapi hatinya selembut salju". sambil mengusap air matanya Amel tersenyum mengingat semua perhatian Andra kepadanya.
"Cie... cie.. so sweet banget..... yang lagi jatuh cinta!!. Mayra menggodanya.
__ADS_1
Wajah Amel seketika memerah mendengar kata kata Mayra.
"Jatuh cinta?? Entahlah May.... gue nggak tahu apa ini cinta, gue takut memahami perasaan gue sendiri. Gue takut kalau perhatian Andra seperti itu sama gue hanya sebatas karena dia kasihan sama gue". Amel menggeleng seraya menarik nafas dalam.
********
"Mana penawaran yang harus gue tandatangani lagi Gi? Pokoknya sore ini harus sudah beres semua, gue mau pulang lebih awal!"
Andra tampak sangat sibuk dengan berkas berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.
"Tumben banget lo main tanda tangan aja?! Biasanya lo sangat, sangat, sangat teliti ngecek semua penawaran sebelum lo kasih approval!" Yogi menyerahkan sebuah map lagi kepada Andra.
"Gue percaya sama lo Gi..." Andra langsung meraih map dari tangan Yogi dan langsung menandatangani berkas itu tanpa membacanya lagi.
"Ehm.....sepertinya udah pengen buru buru pulang aja lo Bro? Pasti Amel di rumah sudah menunggu lo ya?" Yogi tersenyum menggoda Andra yang memang semenjak tiba di kantor sikapnya terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Andra lebih sering tersenyum sendiri dan kadang kurang fokus dengan pekerjaannya.
"Yang gue lihat lo nggak cuma khawatir sih Ndra... di matamu itu ada yang berbeda... lo lagi jatuh cinta kan?!"
Andra terkekeh mendengar kalimat yang diucapkan Yogi lalu tersenyum ragu. "Entah Gi...sepertinya memang iya gue mulai suka sama Amel, tapi saat ini gue hanya pengen ada bersamanya dan merawatnya sampai dia sembuh!"
"Memangnya kenapa? Amel itu istri lo! Bukan hal yang salah kalau lo jatuh cinta sama dia?"
"Ha...ha...lo benar Gi". Andra tersenyum sambil terus berusaha meyakinkan apa yang tengah dirasakannya terhadap Amel.
Semenjak itu Andra memang tidak ingin berlama lama di kantor dan selalu pulang tepat waktu. Andra merasa sangat senang saat tiba di rumah dan melihat senyum Amel. Walaupun Amel dengan sikap manjanya akan selalu merepotkannya, namun Andra menemukan kebahagiaannya dalam setiap hal yang dia lakukan untuknya. Andra dengan sabar membantu Amel belajar berjalan dengan tongkatnya sehingga Amel mulai bisa lepas dari kursi roda. Rutin menjalani physiotherapy juga membuat kesembuhan Amel lebih cepat. Dalam waktu kurang dari 3 bulan, Amel sudah mulai bisa melakukan banyak hal walau di kakinya masih terpasang gips dan dia masih berjalan dengan bantuan tongkat.
Amel yang biasanya suka keluyuran bersama teman temannya, berubah menjadi seorang gadis rumahan dan tak bisa kemana mana semenjak kecelakaan itu. Namun kehadiran Andra yang selalu menjaganya membuatnya betah walau hanya di rumah saja. Amel juga selalu menyempatkan menemani Andra sarapan pagi di meja makan sebelum ia berangkat ke kantor.
"Makanannya dihabiskan dong... jangan dibengongin aja, kamu nggak suka ya?!" Andra memandangi Amel yang hanya mengaduk bubur ayam di mangkuknya tapi tidak dimakannya.
__ADS_1
"Heh..Mel... kenapa sih bengong aja, diajak ngomong malah diem!" Andra menatap Amel yang masih diam tanpa ekspresi.
"Sudah 3 bulan Ndra... dan aku merasa sudah sembuh, aku sudah bisa jalan sendiri walau masih pake tongkat!" Amel tampak murung.
"Ya bagus dong... sebentar lagi kau sudah tidak perlu bantuanku lagi, aku tidak perlu menggendongmu lagi dan kau sudah bisa melakukan sendiri apa yang kau ingin kerjakan...!
"Kalau aku sudah bisa melakukan apa apa sendiri, berarti kau tidak akan perhatian lagi sama aku Ndra...??" Amel menjauhkan mangkuk bubur dari hadapannya seolah selera makannya sudah tidak ada lagi.
"Kok ngomongnya gitu Mel? apa ada yang salah ya dari perkataanku tadi? "Andra mulai bingung dan tak bisa menebak perubahan sikap Amel hari itu.
"Aku mending nggak usah sembuh aja, aku nggak mau kehilangan perhatianmu Ndra..!" Mata amel mulai berkaca menahan rasa yang tak sanggup dipendamnya lagi.
Andra perlahan meraih tangan Amel dan menatap mata Amel dalam. "Kamu itu istriku Mel.. sampai kapanpun aku akan tetap perhatian padamu. Itu sudah tanggung jawabku!"
"Cuma karena tanggung jawab ya?" Amel menundukkan wajahnya.
"Ya lalu apa lagi?" Andra bangun dari tempat duduknya dan melirik jam tangannya ingin segera berangkat ke kantor.
"Dasar tidak peka sama sekali!!" Amel mengumpat kesal dalam hatinya dan tidak melanjutkan lagi kata katanya karena tak ingin berdebat dengan Andra.
"Andra tunggu...!" Dengan tertatih Amel mendekati Andra yang sudah melangkah meninggalkan ruang makan.
"Dasimu belum rapi Ndra... , sini aku rapikan dulu!" Amel langsung membenahi kancing kemeja dan dasi yang dikenakan Andra.
"Aku nggak suka pakai dasi, tapi karena hari ini ada meeting sama VIP jadi aku harus pakai ini" Andra mendongakkan kepalanya dan membiarkan tangan Amel merapikan penampilannya saat itu.
"Ohya Mel... besok itu tepat 1 tahun hari berpulangnya Ayah.. aku ingin nyekar ke makam Ayah, kamu mau ikut?"
"Iya aku mau". Amel hanya mengangguk sambil melambaikan tangannya saat Andra sudah masuk ke mobilnya dan mulai keluar meninggalkan rumahnya.
__ADS_1