
Deg...!
Jantung Andra berdebar saat menatap wajah manis wanita di hadapannya. Vilda terus saja menebar senyum di bibirnya. Cara bicara dan tingkahnya terlihat sedikit canggung, namun Vilda tetap menunjukkan sikap profesional meski merasa pernah berteman baik dengan pria yang akan mewawancarainya sekaligus akan menjadi calon atasannya itu.
Andra berusaha menahan dirinya dan tak mau ikut terbawa dalam perasaannya. Dia juga berusaha bersikap profesional dan mulai melemparkan beberapa pertanyaan wawancaranya kepada Vilda. Pertanyaan pertanyaan itu pun dijawab secara lugas dan profesional oleh Vilda.
Andra hanya menganggukkan kepalanya, ia tahu dari semasa kuliah Vilda memang temannya yang cerdas dan memiliki pemikiran tentang bisnis yang baik, tidak ada keraguan baginya untuk menerima Vilda bekerja di perusahaannya.
Setelah beberapa menit saling tanya jawab, suasana canggung diantara mereka pun sudah mulai berkurang, hingga akhirnya obrolan mereka sedikit demi sedikit mulai mengarah ke masalah pribadi antara mereka.
"Lo sudah nikah Vil?" Andra sudah menutup wawancaranya dan mencoba ngobrol akrab sebagai teman.
"Menurut lo gimana Ndra?" Vilda juga sudah tidak canggung lagi terhadap Andra, ia lalu balik bertanya dengan senyum yang tetap menghiasi bibirnya. Vilda menunjukkan jari jarinya ke hadapan Andra, jari manisnya masih nampak kosong belum ada cincin pernikahan terpasang disana.
Andra hanya tersenyum tipis. "Hmm... jangan hanya memikirkan karir Vil, usiamu sudah sangat cukup, kenapa belum menikah?" tanyanya lagi.
"Pernikahan itu ribet Ndra! Gue lebih bahagia hidup sendiri seperti ini, nggak terikat! Gue bisa bebas ngelakuin apa aja dan kemana aja yang gue suka!" Jawab Vilda jujur.
Andra hanya menanggapinya dengan senyuman, ia sangat mengenal Vilda yang memang dari dulu menyukai kebebasan, dan tidak suka mengikat hubungan dengan siapapun. Namun entah mengapa Andra seperti melihat ada kebohongan yang tersembunyi dibalik ucapan Vilda saat itu.
Vilda mengarahkan pandangannya pada sebuah foto yang ada di atas meja Andra lalu mengambilnya.
"Ini istri lo ya? Dia cantik sekali!" Vilda menatap foto Andra dan Amel dengan penuh kekaguman.
__ADS_1
"Iya Vil, itu istriku Amelia putri Pak Firmanto pemilik gedung Prima Go ini." Jawab Andra juga sambil tersenyum.
"Amelia beruntung banget bisa dapetin cinta lo Ndra!.." ucap Vilda dengan senyuman khas di bibirnya.
"Gue tahu dari dulu lo nggak pernah jatuh cinta, semua cewek yang dekat denganmu hanyalah teman bersenang senang saja buatmu, tapi kali ini gue lihat lo benar benar tengah jatuh cinta sama istri lo itu Ndra." Lanjutnya lagi. Namun kini ada rona cemburu terlihat dari wajah Vilda.
"Iya Vil aku sangat mencintai Amel. Pernikahan kami memang diawali karena perjodohan tapi sekarang aku benar benar sudah jatuh cinta pada Amel" Andra menanggapi dengan wajahnya yang nampak berseri penuh cinta.
Vilda menarik nafas dalam, sejenak ia ingat kedekatannya dulu dengan Andra.
"Seandainya dulu aku tidak pergi ke Surabaya dan meninggalkan Andra mungkin aku yang ada di posisi Amel saat ini" batinnya menggumam.
"Tapi lo punya teman dekat atau pacar kan Vil?" Tiba tiba pertanyaan Andra membuatnya kaget dan Vilda langsung membulatkan matanya.
Sejenak Vilda terdiam.
"Laki laki itu semuanya munafik. Mereka selalu menuntut kesempurnaan dari wanitanya padahal mereka sendiri yang membuat wanita menjadi tidak sempurna! Itulah alasan gue masih lebih memilih hidup sendiri Ndra, hidup dengan laki laki hanya akan membuat gue merasa jadi wanita yang lemah!" ada aura berbeda yang terdengar dari ucapan Vilda.
"Maksud lo gimana Vil? Menuntut kesempurnaan? Emangnya masih ada laki laki seperti itu di jaman modern seperti sekarang ini?" Meski mengandung peribahasa, Andra langsung bisa memahami arah perkataan Vilda.
"Itu pengalaman pahit gue sendiri Ndra, sebenarnya dulu gue pernah deket sama cowok dan bahkan kami sudah merencanakan pernikahan. Tapi....., setelah dia tahu kalau gue sudah nggak suci lagi dia langsung ninggalin gue." Vilda bercerita jujur namun ada raut penyesalan nampak di wajahnya.
Andra menarik nafas panjang, ia juga merasakan ada penyesalan setelah mendengar cerita Vilda. Andra teringat kalau seandainya saja dulu selepas kuliah mereka tidak berpisah mungkin waktu itu ia ingin memantapkan hatinya untuk Vilda.
__ADS_1
Andra langsung terdiam tak dapat berucap lagi, ia kembali teringat saat malam pertemuan terakhirnya dengan Vilda sebelum Vilda pindah ke Surabaya untuk bekerja disana. Hubungan mereka memang hanya sebatas teman, tapi malam itu mereka sudah melakukan hubungan terlarang, Andra lah yang sudah mengambil kesucian Vilda dan mereka melakukan itu atas dasar suka sama suka, tanpa adanya paksaan.
Bahkan Yogi tidak pernah mengetahui hal itu karena itu adalah malam terakhir mereka bertemu di sebuah acara perpisahan geng kampus mereka.
Vilda menundukkan wajahnya dan matanya mulai berkaca kaca. Meskipun selalu menampakkan wajah ceria dan bersikap mandiri, kerapuhan kini tersirat di wajah manis Vilda dan dengan jelas Andra bisa menyadarinya.
"Maafkan gue Ndra, gue nggak bermaksud menceritakan hal pribadi gue ini sama lo, habisnya lo memancing gue untuk mengingat semua itu!" Vilda berkata tegas sambil mengangkat wajahnya berusaha menahan agar air matanya agar tidak sampai menetes dan kembali tersenyum pada Andra.
"Gue yang seharusnya minta maaf Vil, gue insyaf, gara gara gue lo kehilangan calon suami lo sehingga lo masih sendiri sampai saat ini!" Andra tak dapat menyembunyikan rasa bersalahnya dan menatap Vilda dengan penuh penyesalan. Kenakalannya di masa kuliah yang begitu bebas telah menghancurkan masa depan Vilda. Entah, mungkin wanita lain selain Vilda juga ada yang mengalami hal yang sama.
"Tapi gue tidak pernah menyesali apa yang sudah pernah terjadi diantara kita Ndra, gue hanya menyesalkan pria pria yang munafik seperti itu, mereka menuntut kesucian dari seorang wanita padahal mereka sendiri belum tentu sesuci itu!" Vilda hanya tersenyum kecut dan Andra hanya terdiam menatap Vilda.
Beberapa saat keduanya masih terdiam tanpa suara.
Yogi masuk dan juga ikut menyadari suasana kaku di dalam ruangan itu.
"Bagaimana interview nya Bro, sudah pasti kita dan juga Vilda akan jadi satu team kan disini?' Ucap Yogi cuek, dia memang tidak pernah mengetahui kalau antara Andra dan Vilda pernah terjadi sesuatu, Yogi hanya tahu mereka adalah teman dan tidak mungkin sampai melakukan hal sejauh itu.
"Gi sekarang lo ajak Vilda ke Pak Adi di bagian personalia, suruh dia segera siapkan LOI (Letter Of Intent) untuk Vilda dan minggu depan Vilda sudah bisa mulai bergabung dengan kita disini." Perintah Andra kepada Yogi.
Vilda tersenyum sumringah "Makasih banyak ya Ndra sudah menerima gue bekerja di perusahaan ini!" Vilda mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Andra dan Andra ikut berdiri dari tempat duduknya menerima uluran tangan Vilda.
Vilda lalu mengikuti langkah Yogi keluar dari ruangan Andra menuju kantor personalia.
__ADS_1