Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Lingerie


__ADS_3

Malam pun berganti pagi yang sangat cerah. Andra membuka matanya dan merasakan hangatnya tangan Amel yang masih memeluknya.


Amel juga terbangun di saat bersamaan.


"Pagi sayang...." Andra mengecup kening Amel yang masih memejamkan matanya karena silau oleh sinar matahari yang mulai masuk melalui celah jendela kamarnya.


Andra bangun dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi.


Amel juga ikut beranjak dari tempat tidurnya dan hendak memakai pakaiannya karena semenjak semalam tubuhnya tidak tertutup satu helai benang pun. Sejenak Amel memandangi dirinya dari bayangan cermin dan melihat banyak tanda cinta yang ditinggalkan Andra di leher dan di dadanya.


Saat itu Amel juga baru menyadari kalau dia sudah berjalan beberapa langkah dari tempat tidur menuju meja rias tanpa menggunakan tongkat.


Pintu kamar mandi terbuka, Andra keluar dengan handuk yang sudah melingkari pinggangnya. Andra sangat terkejut melihat Amel bisa berdiri tanpa tongkatnya.


"Sayang.. kamu sudah bisa jalan tanpa tongkat?" Andra terlihat begitu senang melihat perubahan Amel yang sangat cepat.


"Sayang ini semua karenamu...keajaiban cintamu yang memberiku kekuatan ini sayang...!" Amel juga tersenyum senang lalu memeluk Andra sangat erat.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Amel membantu Andra merapikan jas dan dasinya.


"Sayang... sebenarnya aku ingin ambil cuti satu hari lagi... aku masih kangen sayang..!" Andra memeluk Amel seakan tak ingin meninggalkan istrinya itu untuk pergi bekerja.


"Tapi hari ini akan ada tender untuk sebuah hotel di Mandalika Lombok" Andra mencium pipi Amel dengan lembut.


"Sabar sayang.... setelah pulang nanti kita bisa lanjutkan lagi kan?" Amel tersenyum manja membujuk Andra agar melepaskan pelukannya.


"Ayo kita sarapan dulu sayang.. kalau ditunda lagi nanti kamu terlambat sampai kantor, ini sudah lewat dari jam 8" Amel menunjuk jam dinding.


"Baru jam 8, sebentar lagi masih cukup waktu ku kok sayang....!" Andra mencium bibir Amel penuh kehangatan.


"Sudah sayang... nanti kamu terlambat" Amel berusaha melepaskan dekapan Andra.


Setelah menyelesaikan sarapan, Andra pun berangkat ke kantor dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Dia sangat bahagia kini rumah tangganya terasa begitu hangat karena sudah ada cinta yang mengisinya.


*****


Nur bergegas membuka pintu saat mendengar suara bel rumah itu berbunyi.


"Eh...Nona Mayra...mari masuk Non! Non Amel ada di dalam"


Diantarkan oleh Nur, Mayra langsung menuju kamar Amel.

__ADS_1


"Kirain lo udah lupa sama sahabatmu ini May? Sudah berapa tahun lo nggak kesini?" Sarkas Amel saat melihat Mayra masuk ke kamarnya.


"Lebay lo Mel, baru beberapa hari juga!" Mayra hanya tersenyum tipis.


"May, gue lagi seneng banget.... Lo liat gue sekarang udah bisa jalan tanpa tongkat lagi.... yah walau baru beberapa langkah doang sih!" Amel berusaha berjalan mendekati Mayra yang masih berdiri tak jauh dari pintu kamarnya, lalu Mayra memapah Amel menuju sofa dan mereka sama sama duduk disana.


"Gue juga seneng lo udah sembuh Mel...jadi nanti gue nggak perlu sering sering kesini lagi tapi lo yang akan ke studio gue setiap hari buat ikut kelas dance seperti dulu" Keduanya sama sama tersenyum senang.


Tak seperti biasanya, Mayra yang suka pecicilan hari itu tidak terlalu banyak bicara. Hanya Amel yang nyerocos bercerita dan Mayra hanya mendengarkan namun seperti tidak tertarik dengan apa yang diceritakan Amel.


"Lo kenapa sih dari tadi diem aja May... lo lagi ada masalah ya?," Amel menyadari sikap diam Mayra.


"Nggak apa apa Mel... gue cuma lelah habis kelas tadi" Mayra mencoba menyembunyikan namun Amel bisa merasakan kalau sahabatnya itu sedang punya masalah.


"May... kita sudah jadi sahabat semenjak kecil, gue kenal banget siapa elo May... lo lagi ada masalah kan? Ayo lo cerita ke gue...paling tidak kan beban lo bisa berkurang, siapa tahu gue bisa bantu elo?" Amel terus mendesak Mayra agar menceritakan masalahnya.


Mayra menghela nafas panjang lalu mulai menceritakan masalahnya.


"Sudah sebulan studio gue tutup Mel...., pemilik gedung tempat studio gue sudah nggak mau perpanjang kontraknya lagi, katanya akan dikontrakkan ke orang lain dengan bayaran yang lebih tinggi. Sekarang gue ngajar nari freelance di studio temen gue. Tapi gue kasihan sama anak anak yang biasa latihan di studio gue Mel...gue nggak tahu harus bagaimana mengatur jadwal mereka karena kalau digabung terus di studio lain mereka pasti tidak akan suka sebab waktunya terbatas".  Mayra terlihat sedih.


"Lo nggak berusaha cari tempat lain May?" Amel bertanya lagi sambil menatap wajah sahabatnya yang murung itu.


"Sudah Mel... tapi kan mencari tempat yang cocok nggak gampang, apalagi dana gue pas-pasan banget! Gue bingung Mel... susah nyari tempat yang bagus seperti studio gue sebelumnya".


"Hah beneran? Lo serius Mel?" Mayra tersenyum sumringah


"Ya serius lah masa enggak" Amel ikut tersenyum. "Makasih banyak Mel, lo emang sahabat terbaik gue!" Mayra merasa senang dan memeluk Amel erat.


"Permisi Non, ada paket buat Non Amel!" Nur masuk sambil membawa sebuah bungkusan.


"Taruh di meja sini Bi!" Amel menunjuk ke meja tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Lo belanja online lagi Mel?" Mayra mengambil paket itu. Amel hanya tersenyum dan tak menjawab.


"Paket ekspres!"


"Apa ini Mel?" Mayra berusaha membuka pembungkus paket itu.


"Eh jangan dibuka May!" Amel melarang namun Mayra sudah terlanjur membukanya dan matanya terbelalak melihat isi paket itu.


"Lingerie??!!"

__ADS_1


"Hah.....sejak kapan lo pakai beginian Mel? Ini tipis semua... ntar lo masuk angin pakai ini!" Mayra tertawa melihat benda yang dipegangnya adalah beberapa potong pakaian dalam wanita yang sangat tipis.


Amel tersipu "Kan gue sudah bilang jangan dibuka, gue jadi malu May..."


"Hahahaha.... lo mau godain suami lo ya pakai baju ini? atau jangan jangan lo sama Andra???...." Mayra tersenyum menggoda Amel namun penuh rasa penasaran.


Amel makin tersipu lalu memalingkan wajahnya.


"Dan itu leher lo merah merah begitu kenapa? Ehm...sepertinya ada pergulatan panas nih tadi malam?" Mayra menggeleng sambil tersenyum lebar.


"Baru dua minggu gue nggak kesini ternyata sudah banyak peningkatan rupanya hahaha...?" Mayra makin keras tertawa menggodanya.


"Ih dasar lo itu ya May.....!" Amel terkekeh dan mencubit pinggang Mayra sambil mendengus kesal.


 "Aduh.. sakit Mel!" Mayra meringis lalu keduanya tertawa lepas.


*****


Hari sudah sore Andra buru buru mematikan laptopnya dan bersiap meninggalkan kantor.


"Ini lay out ruko yang kapan hari kita survey Ndra..." Yogi masuk dengan beberapa map di tangannya yang akan diserahkannya ke Andra.


"Taruh di meja Gi..! Besok gue cek, gue mau pulang sekarang, Amel pasti sudah menunggu!" Andra tersenyum lalu meraih tas laptopnya dan beranjak keluar dari ruangannya.


"Ndra... ini urgent! Besok sudah akan diambil sama yang mau sewa!" Yogi menyusul langkah cepat Andra sampai di pintu ruangan itu.


"Di email aja Gi... nanti gue cek dari rumah!" Andra makin mempercepat langkahnya meninggalkan Yogi yang masih berdiri di depan pintu.


"Uh...kenapa lagi orang itu....belakangan ini dia nggak pernah konsen kerjanya!" Yogi berdiri mematung dan heran melihat tingkah laku Andra yang menurutnya sedikit aneh semenjak kedekatannya dengan Amel.


"Andra kenapa Yogi?" Sebuah suara terdengar bertanya kepadanya.


Yogi yang masih terheran heran tak menoleh dan hanya menjawab dengan nada slengean "Hahaha...Biasa orang lagi jatuh cinta memang begitu tuh kelakuannya"


Firman yang berdiri di belakangnya lalu menepuk punggung Yogi.


Sontak Yogi menoleh kebelakang, dia kaget lalu bersungut.


"Pak Firman.. ma..maaf...maaf pak, saya tidak tahu bapak ada disini. Yogi terkekeh membungkukkan badannya karena malu sudah salah berbicara kepada atasannya itu.


"Saya permisi dulu Pak.. saya mau email ini ke Pak Andra!" Buru buru Yogi meninggalkan Firman menuju ruangannya untuk menutupi rasa malunya.

__ADS_1


Firman terdiam sesaat di tempat itu, senyum lebar terlihat di bibirnya.


"Ah akhirnya Andra dan Amel memang sudah saling jatuh cinta! senang rasanya mengetahui ini" Firman bergumam dan merasa sangat senang mendengar bahwa putrinya dan menantunya sudah saling mencintai.


__ADS_2