
Hari itu, Vilda sudah siap dengan kopernya karena akan melakukan business trip ke Lombok, sesuai perintah Andra dia harus meninjau serta inspeksi hotel itu terlebih dahulu sebelum ia mulai bisa menentukan langkah penjualannya.
Pagi pagi sekali Vilda sudah berada di bandara karena ia mengambil penerbangan paling pertama menuju Praya. Vilda duduk di kursi ruang tunggu sambil menunggu panggilan boarding.
"Kerjaan lo enak ya Vil, bisa pergi pergi dan jalan jalan!?"
"Jangan lupa beliin oleh oleh ya!"
"Cobain juga makanan khas disana ya Vil!" dan apalah apalah itu yang lainnya.
Ia tersenyum sendiri mengingat kesan dan pesan teman temannya sebelum ia berangkat. Bukan hanya saat ini, di tempat ia bekerja sebelum sebelumnya juga sama, setiap ia akan melakukan business trips selalu ada saja titipan dari teman temannya, entah itu serius atau cuma basa basi, tapi seperti itulah dunia kerjanya sebagai seorang Hotel Sales Manager yang mengharuskannya sering pergi keluar kota bahkan ke luar negeri untuk sales trips.
Vilda tiba di Lombok tepat waktu, ia langsung menuju hotel tempatnya akan bekerja.
Sebuah luxury Hotel di kawasan Kuta Lombok tak jauh dari Sirkuit Mandalika. Begitu tiba disana Vilda langsung disibukan dengan beberapa meeting sehingga hari itu berlalu terasa begitu cepat. Front Office Manager di hotel itu juga sudah mengantarkannya berjalan jalan untuk inspeksi hotel itu mengenalkan semua jenis kamar dan pelayanan yang ditawarkan di hotel itu sehingga Vilda paham akan product yang akan dijualnya.
Ia juga menginap di salah satu kamar di hotel itu. Lelah setelah perjalanan panjang dari Jakarta membuatnya tertidur lelap malam itu.
"Ahh... Lombok! Pagi ini seger banget...! sangat berbeda dengan Jakarta!" Vilda meregangkan semua otot ototnya saat pagi hari terbangun dari tidurnya.
Vilda langsung mandi dan berganti pakaian karena sudah harus meeting dengan Sales and Marketing Team pagi itu. Ia menuju restaurant untuk sarapan pagi lalu ikut morning briefing dengan semua department head di hotel itu. Semua orang disana menyambutnya ramah, hal itu tak terlepas karena Vilda yang terlebih dahulu menyapa mereka dengan ramah.
Selesai morning briefing, Vilda menemui seorang receptionist di hotel itu, dengan senyum ramah dia menyapa lebih dahulu.
"Selamat pagi!" sapanya kepada semua staff Front Office yang ditemuinya dan semua orang disana pun membalasnya sangat ramah.
Vilda berdiri di depan counter receptionist dan mulai bertanya.
__ADS_1
"Mas boleh lihat guest in house list nya? Hunian berapa persen ya hari ini?" Vilda sudah beberapa tahun bekerja di perhotelan dari semenjak ia lulus kuliah, dia sudah sangat hafal semua morning report yang ada di hotel.
"Maaf Bu Vilda, report itu bersifat confidential, saya sangat senang bisa membantu apabila ada info lebih spesifik yang Ibu butuhkan!" receptionist itu terdengar sangat profesional dengan ucapannya dan Vilda hanya mengangguk, memang seperti itu seharusnya bisa menjaga rahasia perusahaan dengan baik.
"Ah iya, saya cuma mau melihat list tamu tamu VIP yang tinggal di hotel ini, sebagai Sales Manager saya ingin courtesy ke mereka!" Kilah Vilda juga dengan sangat profesional.
Receptionist itu lalu menunjukkan daftar nama nama tamu VIP yang menginap di hotel itu kepada Vilda dan Vilda membacanya dengan teliti.
"Kamar 101, Mr Incognito? Long stay guest?" Vilda mengerutkan dahinya membaca list itu. (Incognito = tamu yang menginap di hotel dan identitasnya di rahasiakan)
"Siapa Mr Incognito ini Mas?" Tanya Vilda kepada receptionist itu.
"Rahasia Bu!" Jawab receptionist itu sambil terkekeh kecil karena Vilda selalu menunjukkan senyum ramah kepadanya.
"Denger denger sih pemilik perusahan kontraktor ternama di Jakarta Bu, dan beliau sudah hampir sebulan tinggal disini" lanjut receptionist itu lagi, melihat senyum ramah Vilda, receptionist itu tidak ragu bercerita kepadanya.
"Banyak ceweknya Bu!" Receptionist itu kembali terkekeh bercerita kepada Vilda dan Vilda hanya menganggukan kepalanya menanggapi, ia sangat paham dengan situasi seperti itu, di hotel semacam itu merupakan hal yang sudah lumrah.
Seorang wanita cantik terlihat mendekati meja receptionist. "Kamar 101 Mas!" Wanita itu langsung menyebutkan sebuah nomor kamar.
"Mbak sudah ditunggu, silahkan duduk dulu!" Sahut sang receptionist.
Wanita itu lalu duduk menunggu di sofa yang ada di lobby hotel itu.
"Itu salah satu ceweknya Bu" Receptionist itu berbisik kepada Vilda dan Vilda pun hanya merespon dengan anggukan kepala.
Tak lama kemudian seorang pria muncul dari koridor dan menghampiri wanita yang baru saja duduk di lobby.
__ADS_1
Vilda lamgsung membulatkan matanya, ia sangat terkejut melihat pria yang baru saja keluar dari arah kamarnya itu. Vilda sungguh tidak percaya dengan sosok pria yang kini sudah duduk bersama wanita tadi dan wanita itu langsung bergelayut manja di pundak pria itu.
"Pramana!" hanya itu yang terucap lirih dari mulutnya.
Wajah Vilda langsung terlihat panik dan gugup saat melihat seorang pria yang sangat dikenalnya itu. Vilda mendadak ingin secepatnya pergi dari sana agar tidak dilihat oleh pria itu.
Praakkk!
Saking gugupnya, saat berjalan Vilda tak sengaja menyenggol sebuah vas bunga yang ada di meja di sudut lobby hingga jatuh dan hancur berkeping keping. Sontak semua mata tertuju padanya termasuk juga Pramana.
Pramana menatap ke arah Vilda namun Vilda segera membalikkan wajahnya.
Wanita yang bersama Pramana tadi langsung menarik tangannya. "Mas sudah siang, ayo kita pergi sekarang!" Bujuk wanita itu, lalu merekapun keluar dari hotel itu.
"Maaf saya tidak sengaja!" Vilda mencakupkan tangannya di dadanya meminta maaf kepada seorang staff housekeeping yang membersihkan pecahan vas bunga yang baru saja disenggolnya.
****
Pramana bersama wanita itu masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang sudah menunggunya di depan lobby. Mobil itu menuju ke sebuah cafe yang berada dekat Pantai Tanjung Aan tak jauh dari hotel itu.
Setelah Rizal mengusirnya menyuruhnya pergi meninggalkan Jakarta, Pramana tinggal di Lombok dan memulai sebuah usaha Cafe and Restaurant disana.
Menjalin hubungan dengan banyak wanita wanita cantik memang sudah menjadi kebiasaannya. Di cap sebagai seorang playboy memang sangat cocok disandangnya. Wajah rupawan dengan lesung pipit di pipinya membuat senyum manisnya mampu memikat banyak wanita ingin dekat dengannya. Selain itu Pramana juga sangat loyal kepada semua wanita yang dekat dengannya, ia akan sangat mudah memberikan apa saja kepada wanita incarannya.
Di balik kecerobohan yang sering dibuatnya, Pramana adalah seorang arsitek yang handal. Dia lulusan terbaik Fakultas Teknik Arsitektur Design dan Perencanaan di salah satu universitas di Surabaya karena itulah Rizal selalu mendukungnya, Pramana banyak memberi andil di PJA dan selama ini ia tinggal di Surabaya sebagai Deputi Direktur di kantor cabang PJA di Surabaya. Dia kembali ke Jakarta karena alih alih Rizal akan menyerahkan jabatan Presiden Direktur kepadanya.
**Lalu apa hubungan Pramana dengan Vilda? Lanjut baca next episode ya!**
__ADS_1