Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Kejadian Tragis


__ADS_3

Suara sirine ambulan terus meraung menyeruak jalanan yang masih basah akibat hujan, ambulan yang membawa Arin itupun akhirnya tiba di rumah sakit.


Andra ikut mendorong emergency stretcher menuju ruang IGD tapi Andra tidak di ijinkan ikut masuk oleh paramedis di sana, ia hanya menunggu di depan ruang IGD dengan perasaan was was. Andra melirik jam tangannya ternyata sudah jam 10 malam, ia juga baru teringat ponselnya yang sudah off karena ia lupa membawa pengisi daya.


"Ponselku mati, pantas saja tidak ada yang menghubungi"  pikirnya.


Andra lalu mendatangi meja perawat dan hendak meminjam pengisi daya untuk mengisi daya baterai ponselnya yang sudah kosong.


Beberapa menit di charge, ponselnya langsung menyala dengan sendirinya.


Ting....!


Ting....!


Ting....!


Suara notifikasi pesan singkat terus saja terdengar, banyak pesan yang masuk ke ponselnya, dan pesan terbanyak dikirim oleh Amel.


"Ah... Amel, aku belum menghubunginya dari tadi, pasti dia sangat mengkhawatirkanku!"


Andra langsung menekan nomor istrinya itu.


*****


Tik...tik...tik....!

__ADS_1


Amel memperhatikan jarum jam dinding besar di ruang tamu yang terus berputar. Sudah pukul 10 malam tapi Andra belum juga pulang. Pikiran Amel mulai tidak tenang, sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi ponsel suaminya namun ponselnya tidak aktif. Pesan yang ia kirimkan juga hanya bertanda centang satu yang berarti Andra tidak menerima pesan itu.


Drettt...!


Ponselnya bergetar dan Amel langsung mengangkatnya. "Kamu kemana aja sayang jam segini masih belum pulang, dan dari tadi aku hubungi nggak bisa!" tanpa mengucapkan hallo Amel langsung saja nyerocos berbicara dengan nada kesal bercampur cemas.


Amel terlihat membulatkan matanya dan kekhawatiran itupun makin nampak jelas di raut wajahnya.


"Apa.... Rumah sakit?" Amel semakin terlihat tegang.


"Iya ok, aku akan menyusulmu kesana!" Amel lalu menutup teleponnya dan mencari supirnya untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Tiba di rumah sakit Amel langsung menemui Andra yang sudah menunggu di depan ruang IGD. Ia sangat terkejut saat melihat kemeja yang dikenakan oleh suaminya penuh noda darah. Matanya langsung menyapu semua bagian di tubuh Andra dan tak menemukan ada luka sedikitpun.


"Sayang kamu kenapa? Kok bajumu berlumuran darah seperti ini?" wajah Amel terlihat begitu tegang.


"Hah... Arini? bagaimana bisa?" Amel kini nampak kebingungan.


Andra lalu merangkul pinggang istrinya itu dan membawanya duduk di kursi ruang tunggu kemudian Andra mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa Arin. Andra juga menceritakan hubungannya dengan Arin sampai ia berusaha menemui Arin sore itu.


Amel menarik nafas dalam "Jadi pria yang dicari cari Arin selama ini itu kamu sayang?" Amel bertanya dengan suara pelan.


"Iya sayang... karena itulah tadi aku menemuinya dan ingin meluruskan semua permasalahan ini. Tapi naasnya Arin tertabrak karena berusaha menyelamatkanku!" Andra menundukkan kepalanya setelah bercerita. Amel mengusap punggung suaminya lalu keduanya berpelukan.


"Lalu bagaimana keadaan Arin sekarang?" Amel juga terlihat makin khawatir.

__ADS_1


"Lukanya cukup parah dan dia banyak mengeluarkan darah. Kita hanya bisa berdoa semoga dokter bisa menyelamatkannya!" ujar Andra sambil memegang pundak istrinya.


"Selamat Malam Pak Andra kami dari kepolisian!" Dua orang polisi menghampiri mereka.


"Saya harap Anda bisa memberikan keterangan terkait kasus tabrak lari yang menimpa Saudari Arini, karena anda adalah saksi utama dari kejadian ini" polisi itu melanjutkan.


Andra lalu menceritakan bagaimana kejadian itu kepada polisi.


"Kejadiannya sangat cepat Pak, saya tidak bisa melihat mobil yang menabraknya, saja juga terjatuh karena Arini mendorong saya untuk menyelamatkan saya!" Andra menggelengkan kepalanya pelan.


"Ada indikasi bahwa ini bukan kecelakaan biasa Pak Andra, kemungkinan mobil itu memang dengan sengaja menabrak Saudari Arini karena jalan itu adalah jalan perumahan yang padat, sangat tidak wajar ada orang yang berkendara sekencang itu disana apalagi dalam keadaan gelap dan hujan" Polisi itu kembali menjelaskan.


"Dan bisa jadi juga sasarannya yang sebenarnya bukan Saudari Arini tapi Anda Pak Andra!" Polisi itu menegaskan lagi.


Andra terdiam dan mengerutkan dahinya. "Ah siapa yang ingin mencelakai saya? Saya tidak pernah merasa punya musuh!" Jawab Andra dengan polosnya.


"Aparat kami akan segera menyelidikinya Pak Andra, karena itu kami mohon kerjasamanya untuk datang melapor ke kantor polisi."


Polisi itu pun meninggalkan Andra dan Amel disana.


Selang beberapa menit dokter keluar dari ruang IGD.


"Bagaimana keadaan Arin Dok?" Amel buru buru menghampiri dokter yang wajahnya terlihat sangat tegang itu.


"Lukanya sangat parah, Nona Arini kehilangan begitu banyak darah, benturan keras dikepalanya membuat pendarahan tidak bisa dihentikan, maafkan kami tidak bisa menyelamatkan Nona Arini, beliau sudah meninggalkan kita semua" Ucap dokter itu dengan nada datar dan nampak sedih.

__ADS_1


"innalillahi wa inna ilaihi raji'un" Amel menutup kedua matanya dengan telapak tangannya dan menangis, ia langsung terduduk lemas di lantai.


Andra menghampiri Amel dan kembali membawanya duduk di kursi ruang tunggu. Amel memeluk Andra begitu erat dan keduanya tampak sangat sedih mendengar kematian Arini yang begitu tragis.


__ADS_2