Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Meluruskan Permasalahan


__ADS_3

Andra mengecup kening Amel sesaat sebelum Amel keluar dari mobil ketika mereka sudah tiba di depan kantor AMP pagi itu. Andra masih diam di dalam mobilnya memandangi Amel yang terus melangkah menuju pintu kantornya, ia hanya ingin memastikan istrinya itu sudah benar benar masuk ke ruang kantornya. Amel melambaikan tangannya sambil mendorong pintu saat akan masuk, Andra pun membalas dengan melambaikan tangannya lalu menutup kaca dan mengubah posisi persneling mobilnya untuk kembali melaju menuju kantornya.


Belum sempat menginjak gas, Andra melihat Arin yang juga baru tiba di depan kantor itu dengan ojek online. Andra segera mengembalikan posisi persneling mobilnya ke posisi parkir, menarik rem tangan dan turun dari mobilnya untuk menghampiri Arin.


Arin mengembalikan helm kepada sopir ojek dan betapa kagetnya ia ketika membalikkan badannya, ia melihat Andra sudah berdiri di hadapannya.


"Mas Jovan?!" Arin tak dapat berkata apapun selain menyebut nama itu sambil menatap Andra yang tersenyum kepadanya.


"Apa kabar Rin? aku nggak nyangka kamu akhirnya kerja disini bersama istriku!" Ucap Andra sambil masih tersenyum ramah kepadanya.


Arin hanya tersenyum gundah, ia sama sekali tidak ingin menanggapi Andra karena itu akan membuat rasa kecewanya semakin dalam.


"Maaf Mas saya sudah terlambat ke kantor!" Arin memalingkan wajahnya dan melangkah menghindari Andra tapi Andra dengan cepat menarik tangannya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku Rin!" Andra kembali mengarahkan tatapannya ke Arin, dengan jelas ia bisa melihat ada kekecewaan yang terpancar dari sorot mata Arin.


"Kabarku baik Mas.....! Aku permisi!" Arin menjawab singkat dan tetap berusaha menghindari Andra lalu melangkah menuju kantornya.


Andra menghela nafas dalam dan hanya diam memandangi Arin yang kini juga sudah hilang dari penglihatannya karena ia sudah masuk ke kantor AMP.


Andra lalu masuk ke mobilnya dan bergegas pergi ke kantornya.


Sore harinya saat Andra menjemput Amel di kantornya kejadian itu pun terulang lagi. Arin selalu berusaha menghindari Andra dengan berbagai cara yang membuat Andra merasa semakin bingung menghadapi sikap Arin.


Bukan hanya hari itu, hari hari berikutnya juga masih sama, setiap kali Andra mengantar atau menjemput Amel ke kantor, yang ia lihat hanya wajah kecewa dan sikap cuek Arin terhadapnya. Hal ini juga yang membuat Amel tidak pernah menyadari bahwa pria yang dicari cari Arin di Jakarta itu adalah suaminya sendiri.


Bagi Andra itu mungkin bukan masalah besar tapi sikap Arin yang seperti itu justru membuat rasa bersalahnya terhadap Arin terus ada mengganggunya.


Suatu hari Andra berniat menemui Arin sendiri, dari awal ia sudah mengatakan pada Amel kalau hari itu ia tidak akan menjemput Amel saat pulang kantor dengan alasan ada meeting di luar kantor dengan clientnya. Andra sudah sangat ingin segera meluruskan permasalahannya dengan Arin.


Cuaca ketika itu sedang mendung, awan tebal melingkupi langit ibukota. Andra mengawasi kantor AMP dari kejauhan dan melihat kalau Amel sudah pulang bersama supirnya. Ia juga melihat Arin keluar dari kantor itu dan tengah menunggu ojek online yang dipesannya di depan kantor AMP.


Andra langsung melajukan mobilnya mendekati Arin. Andra membuka kaca mobilnya dan menatap ke arah Arin sambil tersenyum.


"Rin, ayo aku antar kamu pulang!" serunya sambil menghentikan mobilnya. Arin tersentak kaget melihat Andra di hadapannya. "Harusnya dia pulang bersama Bu Amel, kenapa malah menawarkan mengantarkanku pulang?"  Kepala Arin kini dipenuhi berbagai tanya dan kebingungannya.


"Aku sudah pesan ojol mas, ini sudah jalan ojolnya" tolaknya sopan.

__ADS_1


Andra turun dari mobilnya dan mendekati Arin. "Batalkan saja ojolnya, aku akan antar kamu pulang!" ucap Andra sambil membukakan pintu penumpang di sebelah kemudi.


"Masuklah sebentar lagi hujan turun kalau naik ojol kamu akan kebasahan sampai di rumah!" Tegas Andra.


Butir butir air hujan mulai berjatuhan dari langit dan sepertinya hujan deras memang akan segera turun. Arin tak punya alasan lagi menolak tawaran Andra, ia pun masuk ke dalam mobil Andra.


"Kamu tinggal dimana Rin?" tanya Andra setelah mobil itu melaju disertai hujan yang turun semakin deras.


"Aku tinggal di kontrakan tak jauh dari sini Mas." Arin menunjuk ruas jalan yang harus mereka lewati untuk sampai di kontrakannya.


"Bukankah seharusnya kamu pulang sama Bu Amel Mas, kenapa kamu membiarkan Bu Amel pulang sama supir dan kamu justru memaksa mengantarku pulang?" Arin menanyakan juga hal yang membuatnya bingung.


"Aku selalu berusaha ingin berbicara denganmu Rin, tapi kau selalu menghindar dariku, kenapa?" Andra justru balik bertanya pada Arin.


"Ndak ada apa apa Mas, aku hanya merasa ndak enak sama Bu Amel, Aku ndak mau Bu Amel tahu kalau....??!!" Arin tidak melanjutkan kalimatnya dan terlihat gugup.


Andra mengusap wajahnya sendiri dan menghela nafas dalam.


"Arin... sewaktu di Jogja kamu itu sahabat baikku, maafkan dulu aku kurang peka, aku tidak bisa memahami apa yang kamu rasakan terhadapku, tapi cinta memang tidak bisa dipaksakan, maafkan aku Rin, aku sudah jatuh cinta pada Amel. Walau pernikahan kami karena perjodohan tapi aku sekarang sudah menyadari kalau Amel itu cinta sejatiku dan dia adalah jodoh yang Tuhan berikan untukku." Andra berucap dengan nada datar.


Sakit! sungguh sakit! Mencintai orang yang bahkan tidak pernah memikirkannya merupakan hal yang paling menyakitkan baginya.


"Sudahlah Mas ndak apa apa, aku sekarang hanya ingin melanjutkan hidupku aku ndak tahu apa aku harus bertahan di kota ini atau aku harus pulang ke kotaku dan menerima perjodohan oleh orang tuaku" Ucap Arin dengan suara serak karena menahan isak tangisnya.


"Aku juga sedang berusaha mencari pekerjaan lain, aku ndak akan bisa terus terusan merahasiakan semua ini dari Bu Amel, suatu saat dia bisa saja tahu dan entah apa tanggapannya terhadapku" lanjutnya lagi dengan air mata yang sudah tak tertahankan menetes di pipinya.


"Tidak masalah walau kau tetap bekerja di tempat Amel Rin, Amel itu orangnya pengertian, nanti aku bisa jelaskan semuanya ke dia!" Andra ingin meyakinkan Arin. "Tapi kalau kamu tetap ingin pindah kerja, aku bisa merekomendasikanmu bekerja di salah satu perusahan temanku!" sambung Andra lagi.


"Iya Mas nanti akan aku pikirkan lagi" Jawab Arin pelan sambil mengusap air mata di pipinya.


Mobil Andra kini memasuki sebuah kawasan perumahan padat penduduk dan rumah rumah disana begitu berdekatan satu sama lain. Suasana sudah gelap dan hujan masih turun namun hanya gerimis kecil.


"Mas Jovan aku turun disini saja, kontrakanku melewati gang di seberang itu, mobil ndak bisa masuk!" Ucap Arin seraya membuka seatbelt.


"Maaf aku ndak mengajakmu mampir, kontrakanku kecil dan kumuh Mas, beda banget sama rumah besarmu!" Ucap Arin lagi.


Andra lalu mencari tempat parkir di sisi jalan itu. "Aku yang minta mengantarkanmu Rin, jadi aku akan antar kamu sampai benar benar sudah sampai di rumah!" Andra turun dari mobilnya dan membuka pintu untuk Arin tanpa mempedulikan hujan gerimis yang membasahi tubuhnya.

__ADS_1


Arin pun  turun dari mobil Andra. "Ndak usah repot repot mengantarku Mas, ini masih hujan nanti kamu sakit!" Arin berlari kecil menyeberangi jalanan itu mendahului Andra.


"Tunggu Rin, aku tetap harus mengantarmu!" Seru Andra sambil menekan tombol pengunci mobilnya. Andra lalu menyusul langkah cepat Arin menyeberangi jalan itu.


Tiba tiba nampak sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi melewati jalan itu dan Andra tidak menyadarinya karena fokus mengejar Arin.


Arin menoleh ke arah Andra dan melihat mobil itu melaju begitu kencang ke arah Andra.


"Mas Jovan Awas............!!!!!!"


Arin berteriak dan berlari secepat kilat mendekati Andra lalu sekuat tenaga mendorong tubuh Andra sehingga ia jatuh tersungkur di pinggir jalan itu.


Braakkk!!


Mobil itu justru menabrak Arin hingga tubuhnya terpental sejauh beberapa meter dan terbentur ke sebuah dinding di tepi jalan itu. Kejadiannya begitu cepat, mobil yang menabrak Arin langsung melarikan diri dan tak ada saksi mata yang mengenalinya karena suasana ketika itu sudah sangat gelap disertai rintik hujan.


Andra bangun dengan terhuyung karena merasakan sakit di kepalanya yang membentur trotoar saat terjatuh.


"Arin.......!" Andra berteriak dan berlari menghampiri Arin yang terpental jauh di sisi jalan. Banyak orang sudah berkerumun menyaksikan kejadian itu namun tidak ada yang berani menolong Arin yang bersimbah darah tersungkur di tepi jalan. Andra mengangkat tubuh Arin yang sudah tidak sadarkan diri.


"Arin.... kau terluka parah." Andra meletakkan telunjuknya di bawah hidung Arin dan merasakan Arin masih bernafas.


"Tolong panggil ambulan! Cepat... ini darurat!" Teriak Andra kepada orang orang yang ada disana. Andra terus menatap wajah Arin yang sudah tak bereaksi dan banyak darah yang terus keluar dari hidung dan mulutnya. Darah itu juga menempel memenuhi kemeja yang dikenakan Andra.


Tak lama kemudian ambulan tiba di tempat itu dan langsung membawa Arin ke rumah sakit.


****


Jauh dari tempat kejadian itu nampak mobil yang menabrak Arin berhenti di tepi jalan yang sepi.


"Ahhh.... sial! Kenapa perempuan itu yang tertabrak!" Nampak seorang pria di dalam mobil itu. Ia mengenakan jaket hitam, topi dan penutup wajah. Pria itu berdecak kesal lalu memukul stir mobilnya dengan keras.


"Andra.... kau berhasil selamat!"


"Arhhhhh.... Brengsek.... Sialan!!" Pria itu begitu marah pada dirinya sendiri!


Tak berlama lama disana dia lalu kembali melajukan mobilnya lebih cepat menghilangkan jejak agar tak ada yang mengenalinya.

__ADS_1


__ADS_2