
Berita penganiayaan Andra terhadap Pramana makin luas tersebar di dunia maya.
Sore itu Firman sedang meninjau proyek pembangunan sebuah gedung.
Firman terkesiap membaca sebuah pesan singkat yang diterimanya di ponselnya yang menyatakan bahwa Prima Go sudah didiskualifikasi dari tender dengan kementerian sebelumnya.
"Ada apa ini Ben? Kenapa kita didiskualifikasi secara sepihak seperti ini?" Firman bertanya kepada Benny yang saat itu juga ada bersamanya.
"Mungkin ini penyebabnya Pak Firman " Benny membuka sosial media di ponselnya dan menunjukkan rekaman video yang tengah viral itu kepada Firman.
"Berita macam apa ini?, Aku tidak percaya Andra bisa berbuat seperti ini, dan siapa yang dianiaya?" Firman melebarkan matanya, dia tak dapat mempercayai video yang dilihatnya di ponsel Benny.
Dretttt.....
Ponsel Firman bergetar dan berdering lirih, Amel meneleponnya.
"Papa....tolong ke kantor polisi sekarang bersama pengacara papa! Andra ditahan polisi karena tuduhan penganiayaan." terdengar suara Amel seperti sedang menangis.
"Ada apa ini sayang? Coba ceritakan semua ke Papa?" Firman bertanya.
"Andra nggak salah Pa..., Pramana menjebaknya dan berita di internet itu hanya hoax!" Suara tangis Amel terdengar makin jelas.
"Sekarang kamu ada dimana sayang?" Firman bertanya lagi dan mulai merasa khawatir.
"Amel di kantor polisi Pa.., Amel nggak mau Andra ditahan, tolong papa cepat kesini!" Amel masih terus terisak.
"Ok, kamu jangan menangis sayang... papa akan segera kesana!" Firman menutup teleponnya.
Firman bergegas memanggil supirnya dan mereka langsung pergi meninggalkan proyek itu menuju ke kantor polisi.
"Dugaan saya benar Pak Firman, PJA sudah memainkan strategi liciknya untuk menjatuhkan kita!" Kata Benny sesaat setelah mereka berada di dalam mobil yang melaju menuju kantor polisi.
"Siapa Pramana itu Ben?" Firman bertanya dengan wajah penasaran.
"Pramana itu anaknya Rizal Pak, dia satu satunya calon pengganti Rizal sebagai Presdir di PJA" Benny menjelaskan.
"Anak? Benarkah Ben? Yang aku tahu, istri pertama Rizal itu tidak bisa punya anak!, sebab itulah dulu Rizal menceraikannya!" Firman tidak percaya.
"Apa dia anaknya???....." Berjuta kenangan masa lalu kini menghujani pikiran Firman.
"Bukan Pak!" Benny langsung memotong kalimat Firman.
"Pramana itu usianya lebih tua dari Nona Amelia, Pramana bukan anak kandung Rizal. Rizal menikah lagi untuk yang ketiga kalinya dengan seorang janda beranak satu dan Rizal hanyalah ayah sambungnya Pramana". Benny melanjutkan sanggahannya.
__ADS_1
Firman menghela nafas panjang, tatapannya penuh kegetiran, orang orang yang terkubur di masa lalunya kembali bangkit dalam ingatannya.
Mobil Firman tiba di kantor polisi, mereka berhambur turun ingin segera masuk namun di depan pintu utama kantor polisi itu seorang pria menghalangi jalan mereka.
Pria itu berdiri tepat di hadapan Firman sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya. Dia menatap Firman dengan sorot matanya yang begitu sinis dan senyum kemenangan tersirat di bibirnya.
"Firmanto....! Aku pikir seorang pecundang sepertimu tidak akan pernah berani datang kesini!" Ejekan itu yang pertama kali terlontar dari mulutnya.
Firman hanya diam tak menanggapinya, dia juga ikut menatap pria itu, namun tatapan Firman sangat jelas menunjukkan kebenciannya terhadap pria yang tengah berdiri angkuh di hadapannya itu.
Rizal Nugroho, pria yang pernah menjadi atasannya namun juga sekaligus adalah orang yang pernah menjatuhkannya ke titik paling rendah dalam kehidupannya.
Firman menarik nafasnya sangat dalam mencoba menahan semua deru kebencian dalam hatinya, kedua tangannya mengepal, ia ingin sekali melayangkan tinjunya ke wajah pria yang sangat memuakkan baginya itu, namun ia tetap berusaha menahan diri dan memilih hanya diam tak menanggapi kata katanya.
"Ha..ha..ha... Firmanto....! dulu dan sekarang kau itu tetap seorang pecundang! kau mengambil keputusan yang salah berani melawanku Firman..., kau sudah kalah!!. Lihat saja, menantu kesayanganmu itu akan meringkuk di dalam penjara atas perbuatannya dan putrimu yang cantik itu pasti akan sangat tenggelam dalam kesedihan dan air matanya! Lalu kau juga akan kehilangan reputasi baik perusahaan mu! Hahaha...!" Rizal makin tergelak mengejeknya.
"Apa yang anda inginkan sebenarnya Pak Rizal?, apakah anda sedang menantang saya?" Firman yang sudah tidak tahan mendengar ejekan Rizal akhirnya berbicara dengan nada yang sangat tegas.
"Dulu saya memang orang yang lemah dan bisa dengan mudah anda injak injak, tapi saat ini anda berhadapan dengan seorang Firmanto yang berbeda! Saya sama sekali tidak takut dengan anda! Saya tahu ini semua akal busuk anda yang ingin menjatuhkan saya..., Tapi ingat Pak Rizal....!! setapak pun saya tidak akan mundur, saya terima tantangan Anda!" Bibir Firman bergetar hebat saat mengucapkan kata katanya, kemarahan sudah tak bisa dibendungnya.
"Oohh.....ternyata besar juga nyalimu! Ok kita lihat saja apa yang bisa kau lakukan untuk menyelamatkan menantumu itu dari jerat hukum!" Rizal tersenyum sinis.
"Pak Firman, kita tidak punya waktu meladeni orang ini, kita harus segera menemui Pak Andra dan Nona Amelia, mereka lebih membutuhkan kita daripada menanggapi manusia licik ini!" Benny ikut menatap Rizal juga dengan mata kebencian lalu mendekati Firman dan mengajaknya untuk segera masuk.
'Papa, tolong Andra Pa....! Dia nggak salah, Pram menjebaknya!" Amel langsung memeluk Firman ketika mereka sudah bertemu sambil menangis tersedu. Firman mengusap kepala putrinya itu dan bertanya "Apa yang sebenarnya terjadi sayang,? Mengapa Andra sampai menganiaya Pramana seperti itu?"
"Pramana mencoba menyakitiku pa..., Andra memukulnya karena membelaku!" Amel terus menangis dan pundaknya berguncang makin terisak.
Wiryadi pengacaranya yang sudah ada disana dan sedari tadi duduk di sebelah Amel lalu ikut menjelaskan.
"Pak Firman, Pak Andra dalam posisi yang sangat sulit saat ini, semua bukti menunjukan bahwa jelas Pak Andra sudah melakukan penganiayaan terhadap Pramana. Pak Rizal mengajukan laporan tindak penganiayaan terhadap Pramana itu dengan membawa hasil visum dari rumah sakit dan video rekaman yang tengah viral itu. Nona Amelia juga sudah memberikan keterangan sebagai saksi tapi kita tidak punya bukti apa apa untuk membenarkan keterangan Nona Amelia!" Wiryadi hanya menggeleng. "Saya masih akan berusaha mencari saksi lain Pak, tapi permasalahanya adalah pada saat kejadian tidak ada siapa siapa selain Nona Amelia di tempat kejadian perkara.
"Andra dimana sekarang?" Firman bertanya kepada Wiryadi dengan wajahnya yang seketika lesu setelah mendengar penjelasan pengacaranya itu.
"Pak Andra saat ini sudah dimasukkan ke ruang tahanan sambil menunggu proses penyidikan lebih lanjut dari polisi." Jawab Wiryadi.
"Aku ingin menemuinya!" Firman langsung melangkah menuju ruang tahanan diikuti oleh Amel, Benny dan juga pengacaranya itu.
Andra keluar dari ruang tahanan dengan pengawalan polisi, Amel langsung memeluknya dan kembali menangis.
"Sayang jangan khawatir, aku tidak apa apa, tenanglah.... kita pasti bisa segera keluar dari permasalahan ini!" Andra mengusap air mata di pipi Amel sambil mengecup keningnya untuk menguatkan istrinya itu.
"Andra kau juga tenanglah.....! Papa akan terus mencari bukti bukti untuk bisa mengeluarkanmu dari sini!" Firman memegang pundak Andra.
__ADS_1
"Pak Andra, selain Nona Amelia, coba anda ingat ingat lagi siapa yang ada disana saat kejadian? Kita harus mengumpulkan lebih banyak bukti untuk meringankan tuduhan terhadap anda!" Wiryadi mengulang bertanya kepada Andra, dan Andra hanya menghela nafasnya lalu kembali terdiam.
"Mayra dan Yogi, mereka datang saat Andra sedang menghajar Pramana, apa keterangan mereka bisa membantu Pak Wirya?" Amel mulai mengingat lagi akhir kejadian waktu itu. "Pramana juga beberapa kali menelepon dan mengirim pesan singkat pada saya, tapi sayangnya saya sudah menghapus semua pesan dan panggilan itu." Amel masih terisak menahan air matanya.
"Saya akan memberi keterangan Pak!" Terdengar Mayra berseru dan langsung ikut masuk ke ruangan itu bersama Yogi. Mayra membawa rangkaian bunga mawar yang pernah dikirim Pramana untuk Amel yang sebelumnya sudah dibuangnya, serta syal milik Amel yang tertinggal di ruang kantornya.
"Bunga ini merupakan bukti kalau Pramana memang punya itikad tidak baik, dia terus menggoda Amel dengan mengirimkan bunga untuk Amel meski dia tahu Amel sudah punya suami, Pramana itu hanyalah mantan kekasih Amel. Dan ini syal yang sempat dilepaskan secara paksa oleh Pram dari leher Amel, Pramana sudah melakukan pelecehan terhadap Amel." Mayra lalu menyerahkan barang bukti itu kepada Wiryadi.
"Selain itu video yang viral di sosial media juga sepertinya di rekayasa Pak! itu hanya potongan sebagian kecil dari kejadian itu, dan beritanya pun tidak seperti kenyataannya! Pak Andra menghajar Pramana karena membela Nona Amelia bukan karena dia saingan bisnisnya!" Yogi ikut menimpali.
"Ok ini akan cukup membantu!" Wiryadi tersenyum tipis lalu membawa Mayra dan Yogi ke tim penyidik untuk menjelaskan kesaksiannya.
"Bukti ini bisa membantu meringankan tuntutan terhadap Saudara Andra, tapi belum bisa melepaskannya dari proses hukum karena Saudara Pramana selaku korban dan Pak Rizal selaku pelapor belum mencabut tuntutannya, sementara ini kami masih akan terus melakukan penyelidikan." kata polisi penyidik itu lalu ia memasukkan keterangan Mayra dan Yogi ke dalam berkas berita acara pemeriksaan.
"Pak tolong periksa juga jejak digitalnya Pramana, dia pernah mengirim banyak pesan singkat dan juga panggilan untuk Nona Amelia sebelum video itu tersebar, sebaiknya anda juga menyelidiki siapa yang pertama kali menyebarkan video itu." tambah Wiryadi lagi kepada polisi.
"Anda tidak perlu mengingatkan kami lagi akan hal itu Pak Wirya, aparat kami akan melaksanakan tugasnya dengan sebaik baiknya!" Polisi itu menutup kesaksian mereka.
"Ndra.. lo nggak perlu khawatir, gue akan terus mengumpulkan bukti kecurangan Pram. Lihat saja, kita akan tuntut balik mereka dengan tuduhan pelecehan terhadap istrimu dan juga penyebaran berita bohong! " Yogi memegang pundak Andra menyemangatinya.
"Makasih Gi.... gue percayakan semuanya sama elo, dan selama gue disini tolong jaga Amel, Pramana bisa saja melakukan hal yang di luar dugaan kita terhadapnya!" Andra memegang erat tangan Yogi. "Pasti Ndra..., gue sama Mayra akan jaga Amel!" Yogi memeluk sahabatnya itu menyemangatinya.
********
Sampai keesokan harinya proses penyelidikan dan penyidikan terus berlanjut, pada akhirnya polisi menemukan bukti jejak digital Pramana yang telah dengan sengaja menyebarkan dan memviralkan berita penganiayaan terhadapnya menggunakan akun palsu. Selain itu Yogi juga berhasil mendapatkan rekaman CCTV di luar ruko itu yang menunjukan bahwa Pramana masuk ke ruangan kantor Amel beberapa saat sebelum Andra memukulinya.
Amel lalu melaporkan balik Pramana atas tindakan pelecehan terhadapnya, pencemaran nama baik serta penyebaran berita bohong.
Andra bebas dari tuntutan dan Pramana akhirnya ditangkap dan ditahan polisi.
Andra juga mendesak Pramana untuk membersihkan namanya dengan menyatakan permohonan maaf di dihadapan pers.
"Andra kau boleh menikmati kemenanganmu sekarang! Tapi aku akan balas semua ini!" Pekik Pramana terhadap Andra ketika polisi menggiringnya ke ruang tahanan.
Andra hanya tersenyum dan tak menanggapinya.
Rizal pun sangat marah mendapati kecerobohan Pramana. Namun dia tetap senang setidaknya Firman juga tidak memenangkan tender dengan pemerintahan itu.
Rizal tetap berusaha mencari cara untuk bisa membebaskan Pramana dari tahanan polisi.
From author: "Sampai disini aku sudah cukup tersengal sengal nulisnya guys....
maklum ini benar benar pertama kalinya aku nulis seperti ini.
__ADS_1
Mohon bantu vote nya supaya aku masih bisa semangat karena cerita ini belum selesai sampai disini saja👌"