Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti di depan lobby khusus Prima Go Construction. Amel turun dari mobil itu dan melangkah cepat. Beberapa orang security dan receptionist menyapanya ramah namun Amel sama sekali tidak memperdulikan mereka. Dia langsung menuju lift yang akan membawanya naik ke kantor papanya.


Disaat yang sama Andra juga tiba disana.


Di depan pintu lift Amel tampak kesal karena angka yang nampak di lift itu menunjukan lift masih belum bergerak lantai 25, satu lift tidak berfungsi karena masih dalam perbaikan.


"Security... security...apa apaan ini kenapa lift nya lama sekali" Amel berteriak kesal menunjuk ke arah security dan receptionist.


"Maaf Non, lift satunya sedang dalam perbaikan, mohon sabar ya" security itu berusaha menjelaskan.


"Masa kantor sebesar ini lift nya bisa mati selama ini... dasar pekerja pemalas" umpatnya lagi dengan muka sangat kesal sambil terus menerus menekan tombol lift dengan tidak sabaran.


Andra hanya diam memperhatikan tingkah gadis itu.


"Sabar Mbak.... Mbak bisa lihat kan tulisan itu??" Andra mendekati Amel sambil menunjuk sebuah papan notifikasi yang menyebutkan bahwa lift itu masih dalam perbaikan.


"Heh....kau pikir aku gak bisa baca? Lagian kau siapa hah?" Amel membentak Andra dengan suara ketus.


"Apa kau tahu lift ini hanya khusus untuk karyawan dan tamu tamu Prima Go. Kau orang asing sebaiknya naik lewat lift utama tempatmu bukan disini" Dasar security.....apa aja kerjaannya? Orang asing diijinkan juga masuk kesini" Amel kembali mengumpat kesal.


Andra hanya tersenyum melihat tingkah gadis yang sangat emosional itu.


"Apa kau senyum senyum hah? Kau mengejekku ya? Kau belum tahu siapa yang dihadapanmu ini? Asal kau tahu saja... aku ini putri pemilik gedung ini!!" Amel terus saja berbicara dengan nada semakin kesal dan menudingkan telunjuknya ke Andra.


Andra mengerutkan dahinya. "Oh.. ini rupanya putrinya Om Firman, sangat angkuh, sombong dan emosional, sangat berbeda dengan papanya" gumam Andra dalam hati.


Lift pun melesat turun dan kini sudah terbuka dihadapan mereka. Beberapa orang pria mengenakan helm proyek keluar dari lift itu dan mereka langsung memberi salam


"Selamat siang Nona Amelia, siang Pak Andra" hampir bersamaan.


Amel tetap saja tak membalas sapaan orang orang itu namun malah mengangkat wajahnya tanpa menoleh sedikitpun, berbeda dengan Andra yang langsung membalas sapaan mereka dengan ramah


"siang...semua...."


Amel langsung masuk ke lift saat pria pria tadi sudah keluar. Andra pun ikut masuk ke dalam lift dan menekan tombol penutup pintu. Saat ini mereka hanya berdua di dalam lift itu, sekilas mereka saling memandang dari bayangan di dinding lift dengan posisi berdiri saling membelakangi. Beberapa detik lift masih belum bergerak, Andra membalikkan badannya lalu menghampiri Amel.

__ADS_1


"Heh...jangan berani macam macam kamu ya!" Amel berteriak ketika Andra menyentuh pundaknya.


Andra tak menjawab lalu mendorong pelan pundak Amel. Tanpa Amel sadari ternyata posisi berdirinya menutupi tombol lift dan dia belum menekan tombol untuk naik.


Andra mengeluarkan sebuah kartu untuk akses lift itu bisa naik ke lantai 25 dari saku jasnya lalu menempelkannya sehingga lift itupun perlahan naik.


Amel sangat heran kenapa pria dihadapannya memiliki kartu akses berwarna emas dan berlogo perusahan papanya, setahunya hanya papanya dan Benny yang memiliki kartu seperti itu, kartu itu memiliki akses tidak terbatas yang bisa membawanya ke semua lantai di gedung itu.


"Siapa laki laki ini, kenapa dia bisa punya kartu itu? Karyawan baru papa kah? Baru kali ini aku melihatnya tapi sepertinya aku pernah ketemu orang yang sangat mirip dengannya" berbagai pertanyaan muncul di benak Amelia.


Tak lama lift itupun berhenti dan pintunya terbuka, mereka sudah sampai di lantai 25. Amel langsung melangkah keluar mendahului Andra. Beberapa langkah dia berjalan Amel menoleh ke belakang, Andra sudah tak terlihat lagi. "Entah kemana orang itu? Siapa dia?" Hatinya masih dipenuhi pertanyaan. Amel melanjutkan langkahnya menuju ruangan papanya, beberapa karyawan yang melihatnya langsung menyapa namun seperti biasa Amel tidak pernah menunjukkan wajah ramah terhadap karyawan disana dan tak pernah membalas sapaan mereka.


"Papa....surprise......" Amel masuk ke ruangan papanya tanpa mengetuk pintu.


"Hei...gadis kecil papa sudah pulang... kau tidak mengabari papa sayang..." Firman berdiri dan langsung memeluk putri kesayangannya itu. "Harusnya kamu kabari papa.. kan papa bisa jemput kamu" Firman masih memeluk Amel


"Ehmmm... aku kabari juga papa belum tentu bisa menjemputku kan, papa itu terlalu sibuk sama pekerjaan papa"


"Selamat ya sayang akhirnya kamu lulus dan mulai sekarang kamu akan selalu sama Papa disini" Firman tersenyum bahagia menyadari kini putrinya sudah tidak akan meninggalkannya lagi pergi ke Australia untuk belajar disana.


"Iya dong Pa.... Amel akan sama papa terus" Amel membalasnya.


"Baiklah kita makan siang di restoran jepang kesukaanmu di ground floor ya!"


"Nah gitu dong..." Amel tersenyum senang.


"Tapi papa mau ajak seseorang makan sama kita boleh kan sayang?" Firman mengedipkan matanya ke putrinya itu.


"Seseorang? Siapa pa?" Amel penasaran.


"Nanti papa kenalin ke kamu" lalu Firman meraih gagang telpon dan menekan sebuah nomor.


"Nadya... CEO mu sudah datang?" Firman menelpon sekretaris HW Logistic.


"Sudah Pak Firman" Nadya menjawab dari seberang.

__ADS_1


"Tolong sambungkan ke dia!" Lanjutnya lagi


"Hallo..." Andra mengangkat telponnya.


"Om mau mengajakmu makan siang di Resto Jepang di bawah, ada hal yang Om mau bahas sama kamu, kamu turun sekarang ya Om tunggu di TKP"


"Siap 86 Om" Andra membalas ajakan Firman. "Tapi tunggu sepuluh menit lagi ya Om ada beberapa email lagi yang masih harus Andra balas, nanti kita ketemu di bawah" lanjut Andra lagi.


"Ok..." Firman menutup telponnya.


"CEO? Siapa dia pa?" Amel makin penasaran.


"Sudah kita turun aja dulu nanti juga kalian akan papa kenalin" Firman meraih tangan Amel dan mengajaknya segera turun.


Lantai dasar gedung Prima Go adalah pusat kuliner yang sangat ramai bila jam makan siang tiba. Berbagai jenis makanan dijajakan bahkan Franchise Restaurant asing pun berjejer disana. Untuk golongan karyawan biasanya mereka memilih makan di area food court pedagang kaki lima yang juga ada disana dimana berbagai pilihan menu menu yang lezat dengan mudah bisa ditemui.


Andra masuk ke restaurant Jepang sesuai yang dimaksud oleh Firman sebelumnya. Dia langsung menghampiri Firman dan Amelia yang sudah lebih dulu disana.


"Ini dia sudah datang" Firman menoleh ke arah Andra yang kini sudah ada didekat mereka.


"Kau....??!!" Amel kaget dan membulatkan matanya saat melihat Andra.


"Loh kalian sudah pernah ketemu rupanya" Firman tersenyum melihat Amel.


"Tadi kami ketemu di lift pa" Amel menjelaskan.


"Andra ini Amelia putri Om, dia baru pulang dari Sydney....".


Amel..., Andra ini CEO baru di HW Logistic, sekarang mereka ngantor di lantai 25 bersama Prima Go. Andra ini putra Om Joddy sahabat papa itu, kamu masih ingat kan? Firman memperkenalkan mereka satu sama lain.


Andra mengulurkan tangannya dan disambut oleh Amel. "Thanks ya karena kamu sudah menolong ayahku waktu itu." Andra mengawali percakapan.


"Never mind..!" Amel menjawab singkat sambil tersenyum tipis. Setelah itu mereka sama sama lebih banyak diam dan wajah keduanya nampak datar saja seperti tidak ada ketertarikan sama sekali.


"Ayo pesan makanan kalian" Firman berusaha mencairkan suasana sambil melambaikan tangan memanggil pelayan restoran dan hendak memesan makanannya.

__ADS_1


Makan siang berakhir tanpa kesan yang berarti. Andra sangat tidak tertarik melihat keangkuhan sikap Amel dan Amel pun sangat canggung dengan sikap Andra yang lebih banyak diam.


Berbeda dengan Firman, di benaknya begitu ingin agar Andra dan putrinya bisa dekat, ada keinginannya menjodohkan mereka berdua.


__ADS_2