Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Selamat Jalan Ayah


__ADS_3

Hari itu nampak sangat berbeda, Andra mondar mandir di depan ruang ICU rumah sakit dan terlihat sedih bercampur panik. Kesehatan ayahnya memburuk lagi. Sebentar sebentar dia duduk kemudian berdiri lagi, ponsel ditangannya pun terus di keluarkan dan dimasukkan lagi ke saku celananya, kecemasan nampak jelas di wajahnya.


Seorang dokter keluar dari ruang ICU dan Andra bergegas menghampirinya


"Bagaimana keadaan ayah saya dok?" Tanya Andra ke dokter itu.


"Pak Andra mari ikut saya ke ruangan saya!" Dokter tadi melangkah diikuti oleh Andra.


"Pak Andra, maafkan saya... kondisi kesehatan Pak Joddy sudah sangat buruk" dokter menjelaskan dengan wajah yang juga nampak khawatir.


"Sebenarnya ayah saya sakit apa dok?" Andra sangat ingin mengetahui keadaan ayahnya.


"Sebenarnya kondisi Pak Joddy memang cukup serius Pak Andra, komplikasi ginjal dan diabetesnya semakin parah. Saat ini sekedar cuci darah saja tidak cukup membantu." Dokter itu menarik nafas panjang.


"Ginjal dok?"


"Cuci darah? Bagaimana bisa?" Andra seolah tak percaya dengan perkataan dokter itu. Yang dia tahu selama ini ayahnya memang menderita penyakit gula tapi dia tak pernah tahu kalau ayahnya juga punya penyakit ginjal.


"Pak Joddy pernah operasi angkat ginjal sekitar 2 tahun yang lalu, selama ini beliau hanya hidup dengan satu ginjal, ditambah lagi riwayat diabetes yang beliau derita." Dokter itu menjelaskan lagi sambil menyerahkan sebuah map kepada Andra.


"Ini rekam medis Pak Joddy, sebenarnya Pak Joddy tidak ingin orang lain mengetahui masalah penyakitnya dan minta saya merahasiakan ini terutama kepada anda Pak Andra. Beliau tidak ingin anda mengkhawatirkannya. Tiap kali jadwal cuci darah, beliau selalu kesini sendiri karena tidak mau anda mengetahuinya. Tapi...., saat ini kondisi Pak Joddy sangat serius Pak, bagaimanapun juga anda putranya, anda harus mengetahui ini".


Andra terdiam dan makin sedih mengetahui kondisi ayahnya.


"Ayah sudah separah ini penyakitmu tapi ayah tak menceritakannya kepadaku"  kesedihan Andra makin tak terbendung. "Semenjak 2 tahun lalu? Itu artinya waktu aku masih di Jogja. Ah.. aku sungguh anak yang tak berbakti.. aku disana mempertahankan prinsip dan sikap keras kepalaku sedangkan disini ayah berjuang melawan penyakitnya" Andra terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Dokter tolong lakukan yang terbaik untuk ayah saya dok... bila perlu saya akan donorkan ginjal saya untuk ayah" Andra menaruh harapan kepada dokter itu.


"Saya akan tetap mengusahakan yang terbaik untuk Pak Joddy Pak Andra." Dokter itu lalu mengambil kembali map rekam medis Joddy dari tangan Andra.


Selama Joddy di rawat di ruang ICU Andra tak pernah meninggalkan rumah sakit dan selalu menjaga ayahnya. Sudah 2 hari dia tidak ke kantor, Ponselnya terus saja berdering urusan pekerjaan, ada yang di responnya ada juga yang tidak.


("Mbak Nadya, tolong urusan kantor di handle dulu, sampai 2 hari kedepan tolong semua jadwal meeting dengan client di pending ke minggu depan" ) Sent


Andra mengirim sebuah pesan singkat kepada sekretarisnya.


"Nak... jangan abaikan urusan kantor demi Ayah, Ayah gak apa apa." Terdengar suara lemah Joddy sesaat memperhatikan putranya.


"Ayah...kali ini Andra akan menjaga ayah sampai ayah benar benar sembuh Yah, tak ada hal yang lebih penting dari itu" Andra memegang tangan ayahnya.


"Andra benar Joe... kamu jangan berpikir macam macam dulu, urusan kantor aku akan bantu" Tiba tiba Firman sudah berdiri di belakang Andra.

__ADS_1


"Firman...makasih banyak atas semuanya, aku banyak menyusahkanmu selama ini" Joddy berbicara dengan suara serak. "Kalau nanti aku sudah tiada, tolong kau jaga Andra, anggap dia seperti putramu sendiri."


"Ayah jangan berkata seperti itu" Andra semakin erat memegang tangan ayahnya. "Ayah akan segera sembuh yah..." mata Andra berkaca kaca.


"Firman... apa kau sudah memilih hari baik untuk pernikahan Andra dan Amel?" Dengan tatapan mata sayu Joddy kembali melirik ke arah Firman. "Mereka harus segera menikah, Firman tolong kau atur semuanya sesegera mungkin." Sejenak Joddy memejamkan mata.


"Tidak ayah... tidak.... jangan berkata seperti itu lagi tolong!!." Andra terisak namun ditahannya.


"Andra jangan menolak lagi, menikahlah segera dengan Amelia, ini permintaan ayah kepadamu Nak." Lalu tangan Joddy berusaha meraih tangan Firman.


"Firman... apapun bisa terjadi dalam hidup ini, cepat atau lambat semua akan kembali kepada Nya, kalau nanti aku tak bisa melihat mereka menikah secara langsung, aku mohon sebelum aku benar benar pergi kau sudah menikahkan mereka, kau mengerti maksudku Firman?" ucap Joddy lagi sambil menatap Firman dengan tatapan kosong namun penuh arti.


"Joe... kita akan sama sama melihat mereka menikah.. kau akan segera sembuh Joe" Firman mengerti maksud perkataan sahabatnya itu, tapi dia berusaha mengalihkannya.


"Andra... ayah akan sangat senang kalau kamu sudah menjadikan Om Joddy ayahmu juga, tolong kamu jangan menolak lagi.. menikahlah segera dengan Amel!"


Suara Joddy semakin melemah, matanya tertutup. "Ayah.....!!" Andra berteriak sambil memeluk tubuh lemah ayahnya.


"Om akan panggil dokter" Firman juga panik melihat kondisi sahabatnya seperti itu.


Dokter masuk ke ruangan itu dan memeriksa denyut nadi Joddy. "Pak Andra, Pak Firman, tolong tunggu di luar dulu, kami akan memberikan tindakan untuk Pak Joddy.


Andra dan Firman keluar dari ruangan itu.


Tak lama dokter itu keluar dari ruang ICU dan bergegas menghampiri Andra dan Firman.


"Maafkan saya pak.... Pak Joddy...???"


"Ayah saya kenapa dok???" Andra menatap penuh cemas.


"Pak Andra yang tabah ya Pak....., Pak Joddy .... sudah meninggalkan kita semua" Dokter itu tak bisa lagi berkata lain selain jujur tentang kondisi pasiennya.


Mendengar kata dokter itu tubuh Andra langsung lemas, ia pun terduduk ke lantai tangannya mengepal dan menghantam lantai itu keras.


"Ini tidak mungkin.....Ayah.. kau juga meninggalkanku secepat ini" Andra berteriak dan terisak batin Andra seolah tak percaya dengan yang baru saja dokter itu katakan.


"Andra.... kuatkan hatimu... Om bersamamu disini.." Firman memeluk Andra berusaha menguatkan.


*****


Berita berpulangnya Joddy pun langsung tersebar luas diantara sanak saudara dan rekan rekannya.

__ADS_1


Siang itu kediaman Hadiwiguna sudah ramai dikunjungi para pelayat dan puluhan karangan bunga terpasang di halamam rumah itu. Isak tangis memenuhi seisi rumah. Semasa hidup memang Joddy adalah sosok orang yang baik dimata semua kerabat dan rekan rekannya, semua orang juga merasa sangat berduka dan merasa kehilangan.


Upacara pemakaman Joddy sudah selesai. Suasana di pemakaman itupun sudah sepi karena para pelayat sudah meninggalkan area pemakaman. Andra masih berada di samping makam Ayahnya sambil memegangi nisan ayahnya dan menangis tesedu.


"Ayah....kenapa ayah... kenapa? Ayah tega meninggalkanku sendiri". Kata kata itu tak henti hentinya keluar dari mulutnya.


Seorang wanita, juga nampak masih ada disana, air matanya mengalir deras dan tubuhnya berguncang menahan tangis kesedihannya.


"Mas Joddy... maafkan aku mas, aku nggak bisa menjagamu dan juga Andra... kau sudah meninggalkan kami semua menyusul putrimu Jelita dan istrimu Mbak Vania. semoga kau tenang disana dan bisa berkumpul bersama mereka Mas.." ucap wanita itu semakin terisak.


"Tante... Ayah sudah meninggalkan kita semua.. Andra nggak punya siapa siapa lagi disini" ucap Andra kepada wanita itu dengan suara berat menahan tangisnya.


Wanita itu adalah Tiara adik kandung Joddy dan satu satunya keluarga dekat Andra yang masih ada. Selama ini Tiara tinggal menetap di Denpasar, dia menikah dengan pria asli Bali dan pindah keyakinan mengikuti keyakinan suaminya. Dia langsung terbang ke Jakarta saat mendengar kabar berpulangnya kakaknya itu.


"Andra... maafkan tante. Tante nggak pernah bisa pulang ke Jakarta untuk bersama kalian selama ini" ucap tiara sambil memeluk keponakannya itu.


"Nggak apa apa tante... semua sudah terjadi." Jawab Andra sambil menahan tangisannya.


******


Sementara itu di sebuah hotel di Thailand.


Amel dan Mayra baru saja pulang dari jalan jalan dan berbelanja. Tangan mereka penuh dengan tas belanjaan dan mereka tersenyum gembira karena sudah melewati hari itu penuh kesan. Mereka langsung masuk kamar dan mulai membuka tas tas belanjanya.


Ponsel Amel berdering dan ia segera mengambil ponsel itu dari dalam tasnya.


"Papa.... Amel sudah belanja banyak oleh oleh hari ini... tunggu 2 hari lagi Amel akan pulang" tanpa salam tanpa ucapan hallo Amel langsung nyerocos berbicara karena tahu papanya yang menelpon.


"Amel... segeralah pulang, ada berita duka disini" terdengar jawaban papanya dari seberang.


"Berita duka? Berita duka apa pa?" Rona wajah Amel tiba tiba berubah mendengar kata kata papanya. Mayra yang ada disampingnya pun terkejut lalu duduk mendekati Amel.


"Om Joddy meninggal dunia dan sudah dimakamkan tadi sore" Firman bercerita.


"Apa?? Om Joddy pa??" Amel seolah tak percaya. Mayra pun bingung dan penasaran ingin tahu yang Amel dan papanya bicarakan.


"Tolong sampaikan bela sungkawaku sama Andra pa.. Amel turut berduka" Amel menutup telponnya.


"Ada apa Mel?" Mayra menatap sahabatnya yang tiba tiba terlihat sedih dengan penuh tanda tanya.


"Om Joddy meninggal May" suara Amel lirih.

__ADS_1


"Innalilahi Winnailaihi Roji'un" Mayra pun ikut merasakan kedukaan seperti Amelia.


__ADS_2