
Andra meninggalkan kantor polisi setelah memberi keterangan terkait kecelakaan yang menimpa Arin dan merenggut nyawanya itu. Yogi ada bersamanya dan menyusul langkah cepat Andra menuju parkir untuk kembali ke kantor.
"Biar gue yang nyetir!" Yogi mengambil alih remote mobil dari tangan Andra lalu duduk di kursi kemudi, Andra pun ikut duduk di kursi penumpang di sebelah Yogi.
Yogi mengerutkan keningnya melihat Andra yang lebih banyak diam setelah kematian Arini.
"Lo sedih banget kehilangan Arini Bro!" ledek Yogi berusaha menghilangkan aura ketegangan di wajah Andra.
Andra hanya menatap Yogi dengan tatapan tanpa ekspresi lalu menghela nafasnya panjang.
"Dimana mana yang namanya kematian itu menyisakan kesedihan Bro, apalagi meninggalnya dengan cara tragis seperti itu, kasihan Arin, gue nggak nyangka dia pergi secepat itu!" Ucap Andra sambil menatap kosong ke luar jendela mobil yang melaju pelan.
"Yang lebih menyedihkan dia tertabrak karena berusaha menyelamatkan gue! Gue merasa harus bertanggung jawab atas semua ini!" lanjutnya lagi.
"Gue juga kasihan sama Arini Bro, hanya saja gue masih nggak habis pikir kenapa Arin begitu nekat meninggalkan kota kelahirannya untuk menyusul lo kesini?!" Yogi menekan keningnya dengan jarinya.
"Jangan jangan lo juga sudah mengambil permata gadis itu sebelumnya ya? Sama seperti gadis gadis lain yang dulu suka lo ajak one night stand itu!!" Yogi terkekeh menggoda Andra.
"Bacot lo Gi...!" Andra memukul pundak Yogi dan menyeringai. "Lo jangan suudzon sama gue! Gue akui dulu gue pernah jadi bajingan, dulu gue suka one night stand sama cewek tapi bukan dengan sembarang cewek. Arin itu gadis yang sangat polos dan lugu, dia juga wanita yang soleha, mana mungkin gue berani menyentuhnya!" Kilah Andra dengan suara tegas.
__ADS_1
"Sekarang gue udah insyaf Gi, gue nggak akan pernah ngelakuin itu lagi!" ujarnya lagi.
Yogi masih saja terkekeh mendengar pengakuan jujur Andra.
"Tapi gue masih penasaran Gi, kenapa polisi begitu yakin kalau kasus ini bukan murni kecelakaan tapi memang faktor kesengajaan, lalu kalau gue sasarannya kira kira siapa yang ingin mencelakakan gue dengan cara seperti itu?" Andra melanjutkan kata katanya sambil mengusap kepalanya sendiri.
"Pramana!" Yogi menggeram lirih.
"Nggak mungkin Gi, dia kan masih di penjara, dan tak ada bukti yang mengarah padanya!" Andra menggeleng.
"Gue juga nggak yakin sih, tapi entah mengapa gue curiga sama dia! Ah sudahlah, kita tunggu saja hasil penyelidikan dari polisi " Yogi menggeleng dan tersenyum kecut lalu menginjak pedal gas lebih dalam sehingga mobil itu melaju lebih cepat.
"Mom, aku tuh kesel banget sama Andra, bisa bisanya dia berbohong dan menyembunyikan rahasia sebesar itu dariku!" Ucap Amel kepada Julia Mueller.
Hari itu Amel sengaja menemui Julia Mueller di apartemennya, semenjak pertemuan mereka, Amel dan Julia memang semakin akrab, Amel sering datang kesana dan curhat banyak hal kepada Julia, ia merasa menemukan sosok seorang ibu dalam diri Julia. Termasuk hari itu, ia menceritakan semua tentang Arini kepada Julia. Ia kesal karena Andra telah berbohong kepadanya.
"Nggak boleh seperti itu cantik, mungkin Andra tidak bermaksud menyembunyikannya, dia hanya menunggu saat yang tepat untuk bercerita sama kamu" kilah Julia yang tengah duduk di sofa lalu mengusap lembut kepala Amel yang berbaring manja di pangkuannya.
"Tetap saja dia berbohong! Dia bilang pergi meeting tapi nyatanya dia menemui Arin! Aku nggak bisa terima Mom!" Ketus Amel lagi.
__ADS_1
"Amel,,, jangan berprasangka buruk dulu sama suami kamu, Mommy rasa dia seperti itu karena dia ingin menjaga perasaan kamu dan Arin, apalagi kan kalian bekerja di kantor yang sama, dia mungkin nggak mau urusan pribadi jadi terbawa dalam urusan pekerjaan." Julia memberi nasihat.
"Menurut Mommy Andra itu justru adalah orang yang sangat bertanggung jawab, walaupun dia nggak cinta sama Arin tapi dia tetap ingin menyelesaikan semuanya secara baik baik, agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara kalian" tambahnya. "Sebaiknya kalian bicarakan semuanya empat mata, Jangan marah marah seperti ini, nanti cepat keriput loh!" Celoteh Julia sambil terkekeh menggoda Amel yang masih cemberut.
Amel hanya diam dan tak menjawab lagi. Sikap perhatian dan juga konyol Julia yang seperti itulah yang membuatnya merasa nyaman bersama wanita itu.
"Oh ya Mommy kapan balik ke Jerman lagi?" Tanya Amel mengalihkan pembicaraan.
"Nanti kalau urusan Mommy sudah beres baru Mommy akan pulang ke Jerman" Jawab Julia sambil tersenyum.
"Kalau boleh aku tahu ada urusan apa sebenarnya Mommy disini Mom? sepertinya urusan yang sangat serius?!, Amel mengangkat kepalanya dari panggkuan Julia dan duduk bersandar di sofa.
Julia menarik nafas pelan. "Mommy masih ada urusan sama mantan suami Mommy" jawabnya singkat.
"Bukannya Mommy sudah lama berpisah dari mantan suami Mommy itu, memangnya masih ada urusan yang belum selesai ya? Amel melebarkan matanya mendengar ucapan Julia dan makin penasaran.
"Dia itu laki laki yang licik, munafik, egois dan juga kejam. Mommy hanya ingin memberinya pelajaran kecil." Julia berkata tegas dan dengan sorot mata yang tiba tiba berubah.
Amel kembali diam tak berani bertanya lagi, ia bisa melihat ada sorot kebencian di mata Julia. Ia curiga kalau Julia sedang merencanakan sesuatu terhadap mantan suaminya.
__ADS_1
Balas dendam! Iya mungkin itu yang sedang direncanakannya. Tapi Amel tidak terlalu peduli toh ia tidak pernah merasa mengenal mantan suami Julia.