
Ponsel Amel bergetar dan suaranya terdengar cukup keras. Andra membenamkan kepala di bantalnya yang masih terasa hangat sehingga membuatnya enggan beranjak dari tempat tidur walau sinar matahari sudah menerobos masuk melalui celah jendela. Akan tetapi suara getaran ponsel itu terus menerus mengusik telinganya.
"Sayang... ponselmu bunyi terus... sayang...!" Andra meraba kasur di sebelahnya namun Amel sudah tidak ada disana. Perlahan Andra mengangkat kepala dan memicingkan matanya lalu samar samar dia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, Amel sedang mandi.
"Uahhhmm...!"
"Siapa yang menelpon terus sepagi ini?" Andra menguap dengan wajah malasnya lalu tangannya meraih ponsel Amel yang masih terus bergetar di meja nakas.
Matanya seketika melebar saat melihat layar ponsel Amel "Playboy Cap Kadal??.... Siapa dia...? Sejenak Andra berpikir.
"Aaahh...nggak penting!" Andra tidak terlalu peduli, lalu kembali menenggelamkan kepalanya di bantal dan menutup kedua telinganya dengan bantal yang lain.
Amel keluar dari kamar mandi sudah memakai piyama dan handuk yang menggulung rambut basahnya.
"Sayang bangun... sudah siang!" Amel menarik selimut yang menutupi tubuh Andra lalu mengusap punggung Andra yang tengah tidur dengan posisi tengkurap dan bertelanjang dada.
"Sebentar lagi sayang, masih ngantuk." Andra menjawab dengan suara malas dari mulutnya yang tersembunyi di antara bantal.
"Cepat bangun sayang...! Kan kamu janji mau ngantar aku ke kantor pagi ini?" Amel menarik pundak Andra agar segera bangun.
"Ini kan hari Sabtu sayang... nanti agak siang aja berangkatnya nggak apa apa kan?" Akhirnya Andra membalikkan badannya menengadah namun masih tetap di tempat tidur dan malah menutup wajahnya dengan bantal.
Amel yang gemas dengan kemalasan Andra lalu mencubit dadanya.
"Aduh..... sakit sayang!" Andra meringis dan menarik tangan Amel hingga Amel jatuh ke pelukannya.
"Yang di bawah sudah bangun sayang, minta jatah sekali lagi boleh ya!" Andra berbisik genit menggoda Amel lalu mencium bibirnya dengan mesra, tangannya juga mulai nakal menjelajah masuk ke dalam piyama yang dipakai Amel.
"Sudah sayang....tadi malam sudah dua kali apa belum cukup...??" Amel melepaskan pelukan Andra dan beranjak dari ranjang itu.
Andra hanya tersenyum dan perlahan bangun dari tempat tidurnya.
"Ponselmu tadi berdering terus dan entah siapa yang meneleponmu sepagi ini?!" Andra lalu melangkah menuju kamar mandi.
Amel meraih ponselnya dari meja nakas dan melihat ada lima panggilan tak terjawab.
"Mengapa orang gila itu meneleponku sepagi ini?" Amel sangat kesal lalu buru buru menghapus nomor Pramana dari riwayat panggilan di ponselnya.
Setelah mengeringkan rambutnya, Amel berganti pakaian, ia mengenakan blus berwarna putih dan melilitkan sebuah syal bermotif bunga di lehernya.
"Sayang kamu cantik sekali dengan syal ini?" Andra memandang wajah Amel dari bayangan cermin dihadapannya sambil memeluknya.
"Ayo berangkat sayang... makin cepat selesai kerjaanku kita juga bisa pulang lebih cepat kan?" Pinta Amel sambil mengecup pipi Andra.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu ke kantor dulu sayang, setelah itu aku akan ke gudang sebentar mengecek pengiriman barang hari ini, tapi sebelum makan siang aku pasti sudah menjemputmu lagi." Andra menggandeng tangan istrinya dan sama sama melangkah keluar dari kamarnya.
Tiba di kantor Amel kembali melihat ada seikat bunga mawar di mejanya.
"Itu ada bunga lagi dari si kadal!" Mayra menyeringai.
"Ah entah apa maksud orang gila itu May?... tadi pagi dia juga nelpon gue berkali kali!" Amel berubah kesal.
"Lo harus hati hati Mel, gue curiga Pram punya maksud tidak baik!, dia sudah tahu kalau lo udah punya suami tapi dia masih melakukan ini" Mayra juga menunjukkan wajah tidak sukanya.
"Lalu gue mesti gimana May.. Kalau Andra tahu soal ini gue nggak tahu apa yang akan terjadi?!" Amel terlihat khawatir.
"Nanti lah kita pikirkan lagi Mel... sekarang kita kerja dulu, eventnya tinggal dua hari lagi tapi persiapan kita belum selesai. Lo mau di complaint sama client kita?" Mayra mengalihkan lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Amel juga tidak mau lama lama berdiam diri dan dia langsung sibuk dengan semua persiapan eventnya yang akan datang.
Meski baru memulai usahanya, permintaan rancangan event sudah lumayan banyak yang mereka terima dan memaksa mereka tetap ke kantor walaupun itu akhir pekan. Keduanya sangat sibuk hingga tidak sempat banyak berbincang seperti biasanya.
"Untuk kali ini kerjaan gue sudah beres Mel...! Yogi sudah di depan menjemput gue, lo nggak masalah kan gue tinggal duluan?" Mayra mematikan komputernya dan mengambil tasnya.
"Nggak apa apa May, pulang saja duluan gue juga masih nunggu Andra!" Sahut Amel yang masih sibuk di depan komputernya.
Mayra lalu meninggalkan Amel sendiri di ruangan itu.
"Hai Mel...masih sibuk?" seseorang menyapanya.
"Mau apa kau kesini?!" Amel berseru dan langsung berdiri dari tempat duduknya, dia sangat terkejut melihat Pramana yang tersenyum kepadanya.
"Aku kangen sama kamu Mel.., makanya aku kesini untuk menemuimu!" Pramana makin melebarkan senyuman di bibirnya dan menatap mata Amel tanpa berkedip.
"Cih...!! Jangan berani berpikir untuk macam macam denganku Pram, kau tahu aku sangat membencimu, sebaiknya kau pergi dan jangan pernah kembali di kehidupanku lagi!" Amel memalingkan wajahnya.
"Satu lagi, jangan pernah kau mengirim bunga bunga itu lagi untukku, bagiku itu hanya sampah dan tidak ada artinya sama sekali!" Kemarahan Amel makin memuncak.
"Kamu masih sama seperti dulu Mel, suka marah marah padaku! Tapi kamu semakin cantik saat marah seperti ini, wajahmu itu sangat menggemaskan dan aku tidak pernah bisa melupakan semua tentangmu!" Pramana terus menatap mata Amel dengan tatapan penuh makna lalu melangkah mendesak Amel yang tersudut di pojok meja kerjanya.
"Menjauh dariku Pram aku sangat jijik melihat wajahmu itu!, selangkah lagi kau mendekatiku aku akan berteriak!" Amel mengancam lalu mendorong tubuh Pram agar menjauhinya. Namun Pram tak bergeming dan terus mendesaknya.
"Kau tak perlu berteriak Mel, aku tidak akan melakukan apa apa terhadapmu. Aku hanya ingin menatap wajahmu seperti dulu, wajah yang penuh cinta dan gairah. Wajah gadis nakalku yang dulu! Hahaha...!" Pram tertawa lalu mengurung Amel dengan kedua tangannya di dinding ruangan itu.
"Pergi Pram... lepaskan aku dan cepat keluar dari sini!" Amel berteriak ketakutan saat Pram makin mendekatkan wajahnya lalu tangannya menarik syal di leher Amel hingga terlepas.
Amel berusaha mendorong tubuh Pram lebih kuat dan ia berhasil keluar dari kedua tangan Pram yang mengurungnya, namun Pram dengan cepat menarik kembali tangan Amel.
__ADS_1
"Hentikan semua ini....!, Kau jangan coba coba berbuat tidak senonoh terhadap istriku!"
Saat yang bersamaan Andra masuk ke ruangan itu lalu menarik kerah kemeja Pram dan menyeretnya ke luar ruangan itu. Dengan penuh kemarahan Andra melayangkan sebuah pukulan keras di dagu Pram hingga Pram tersungkur.
Pram meringis kesakitan dan merasakan darah segar menetes di ujung bibirnya. Tapi perlahan dia bangun dan berdiri menatap Andra yang masih terlihat sangat marah.
"Pramana.... ?!!" Andra menatap wajah pria yang dia ingat pernah ditemuinya di tempat tender waktu itu.
"Apa yang kamu lakukan disini dan apa hubunganmu dengan Amel?!!" Andra kembali menarik kerah kemeja Pram dengan tangan kirinya, tatapannya tajam dan tangan kanannya mengepal tak dapat lagi menahan semua emosinya.
"Ha ha ha.....! Andra......Andra.... aku sungguh kasihan padamu!" Pram melepaskan tangan Andra dari kerah bajunya lalu tertawa sangat keras.
"Kau belum tahu siapa Amel... ! Aku akan ceritakan padamu siapa istrimu itu...! Dia hanya seorang wanita penggoda, wanita nakal yang sudah dengan sukarela menyerahkan kesuciannya padaku..., dan sekarang kau....?!!. Kau hanya menikmati bekasku saja Andra... ha..ha..ha..!" Tawa keras dari mulut Pram membuat Andra semakin gusar. Kata kata Pram menyulut bara amarahnya semakin berkobar. Andra menghajar Pram habis habisan namun Pram tidak melakukan perlawanan sama sekali.
"Andra Hentikan!...., cukup Bro! Dia tidak melawan lo jangan memukulnya lagi!" Yogi muncul dari tempat parkir dan langsung memegang pundak Andra, menghentikannya agar tidak memukuli Pram lagi.
"Pramana..., kalau kau ingin selamat, pergilah dan jangan pernah kembali kesini lagi. Tapi kalau kau masih mengusik kami lagi, maka kami akan benar benar menghabisimu!" Yogi mengangkat pundak Pram yang tersungkur di lantai dan menyuruhnya pergi.
Andra menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Kemarahan masih memenuhi jiwanya namun ia teringat Amel dan langsung berlari masuk ke dalam ruangan kantor itu.
Amel masih terlihat ketakutan dan terduduk di lantai sambil menangis terisak. Mayra berusaha menenangkannya dan menyodorkan segelas air untuk Amel.
Andra langsung menghampiri Amel yang masih terus menangis.
"Sayang.. kau tidak apa apa kan?" Andra memeluk Amel lalu memapahnya berdiri dan duduk di kursi panjang di depan meja kerjanya. Andra mengangkat wajah Amel yang tertunduk dengan dua jarinya lalu mengusap air mata di pipi Amel.
"Sayang kau jangan dengarkan kata kata Pram...dia hanya masa laluku, dia itu jahat... aku sangat membencinya!" Amel kembali menangis di pelukan Andra.
"Iya sayang aku tidak peduli dengan kata katanya itu, aku hanya tidak suka caranya memperlakukanmu!, kau jangan menangis lagi sayang... aku pastikan Pramana tidak akan pernah berani menyentuhmu lagi!" Andra memeluk Amel sangat erat.
Sementara itu....
Pramana berjalan tertatih dan langsung masuk ke mobilnya dia merintih merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat pukulan Andra.
Seorang pria mengenakan hoodie dan masker penutup wajah ikut menyusulnya masuk ke mobilnya.
"Bagaimana, apa semuanya beres?" Pram bertanya pada pria yang baru saja masuk ke mobilnya itu.
"Beres Boss!" Pria itu lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman video sewaktu Andra memukulinya tadi.
"Kerja yang bagus!, sekarang kirim video itu kepadaku dan ini bayaranmu..!" Pram menyerahkan beberapa lembar uang kertas kepada pria itu. Setelah mengirim rekaman video itu ke ponsel Pram, pria itu langsung keluar dari mobil Pram dan pergi menghilangkan jejak.
"Sebentar lagi ini akan jadi berita viral..ha..ha..ha....!" Pram tertawa keras.
__ADS_1
"Seorang pengusaha muda melakukan penganiayaan terhadap saingan bisnisnya!" Ha...ha...ha... tawanya makin menggelegar.
Pramana mulai menyebarkan video itu di semua jejaring sosial dan group group chat dengan menggunakan akun palsu, hanya dalam hitungan jam berita itupun tersebar luas termasuk di kalangan rekan bisnisnya.