
Amel dan Mayra berdecak kagum mendengar suara nyaring yang begitu merdu mengalun di telinga mereka. Amel menopang kedua pipinya dengan dua tangan di atas meja, matanya tak pernah lepas memandangi gerakan bibir seorang gadis di hadapannya yang sedang bertembang lagu Jawa.
"Perfect! Sumpah Arin kamu keren banget nyanyiin tembang Jawa seperti itu! Kamu diterima kerja disini Rin!" Seru Mayra sambil menjentikkan dua jarinya dan tersenyum lebar.
Suara keras Mayra itu membuat Amel terhentak kaget dan ia langsung membulatkan matanya "Ehh... yang nentuin Arini diterima atau tidak kerja disini itu gue! Bukan elo!" pekiknya kepada Mayra sambil menggeprak meja di hadapan Mayra.
'Yaelah... lo itu kenapa sih Mel, gitu doang marah. Kan emang bener Arini tuh keren banget nembangnya! sudah pasti dia kita terima gabung ama team kita disini kan?" Mayra membela diri. "Mau dimana lagi nyari sinden yang lebih ok dari Arin, apalagi buat acara yang udah last minute begini!?" gerutunya lagi sambil memajukan bibirnya.
"Tetep aja yang nentuin Arin diterima atau enggak kerja disini itu gue! Gue General Manager, sedangkan elo cuma Entertainment Manager!" Seringai Amel sinis.
"Iya iya... lo nggak perlu ngingetin itu lagi Mel..., gue tahu posisi gue disini kok!" Mayra makin cemberut mendengar kalimat Amel yang mempertegas posisinya di AMP.
"Canda doang ah! Gak pake ngambek...! Lagian gue belum selesai wawancara sama Arini lo udah main terima terima aja, nggak sabaran banget sih!"
Amel terkekeh dan menjulurkan lidahnya ke Mayra, lalu kembali menatap gadis yang tadi mengalunkan tembang Jawa di hadapannya.
Gadis yang sebelumnya sudah memperkenalkan dirinya bernama Arini itu hanya tersenyum kecil melihat tingkah konyol dua wanita yang sedang mewawancarainya.
"Selain bisa kesenian tradisional Jawa, apalagi skill kamu Arin? sekarang kamu ceritakan pengalaman kerja kamu?" Amel melanjutkan wawancaranya.
"Saya lulusan fakultas seni di Yogyakarta Bu Amel, saya bisa Bahasa Inggris, komputer dan saya bisa mengerjakan tugas administrasi lainnya. Sebelum ke Jakarta saya juga seorang guru, saya mengajar kesenian di sebuah sekolah dasar sebagai guru honorer!" Jawab Arin dengan logat Jawanya yang khas namun sangat lugas karena keinginannya bisa diterima bekerja di AMP sangat tinggi. Senyum manis dan ramah juga terus terulas di bibirnya.
Amel hanya menganggukan kepalanya pelan. "Gadis ini ok juga, kalau dilihat sih dia sangat supel dan murah senyum, cocok jadi team ku" Pikir Amel, sambil terus memperhatikan Arin.
"Oh ya Arin, sudah berapa lama kamu di Jakarta? katanya kamu ke Jakarta karena lari dari perjodohan oleh orang tuamu ya? Apa benar seperti itu?" Amel kembali melayangkan pertanyaan pada Arini.
Arin sesaat terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan Amel, dia hanya menundukkan wajahnya.
"Mmmm... maaf Arin, mungkin pertanyaan saya terlalu pribadi, tapi ini juga penting saya ketahui karena masalah pribadi kamu juga akan berpengaruh terhadap kinerja kamu disini kedepannya. Saya nggak mau karena urusan pribadi performance kamu jadi tidak bagus, itu sangat tidak profesional!" Tegas Amel lagi.
"Iya itu benar Bu Amel, saya baru sebulan ini di Jakarta, saya ndak punya siapa siapa disini makanya saya ingin sekali mencari pekerjaan untuk melanjutkan hidup saya sendiri disini. Saya kabur dari keluarga saya di Jogja memang benar karena alasan perjodohan, saya ndak mau dijodohkan, saya ndak cinta sama calon suami pilihan orang tua saya Bu!" Arin tanpa ragu bercerita, sekilas matanya nampak berkaca kaca saat berbicara namun ia tetap tersenyum.
__ADS_1
Amel menyadari ada penderitaan yang terlihat di mata gadis manis yang mengenakan hijab di kepalanya itu.
"Ehm... jangan terlalu berpandangan buruk terhadap sebuah perjodohan Rin, tidak selamanya perjodohan berakibat buruk. Banyak perjodohan yang berakhir bahagia selama pasangan itu bisa saling menerima satu sama lain. Kamu percaya kan kalau cinta sangat mungkin tumbuh walau dalam perjodohan?" Amel berusaha menyemangati Arini.
Mayra yang mendengar nasihat Amel kepada Arin itu langsung melebarkan matanya, ada tawa yang terganjal di tenggorokannya.
"Uhhhuk..... lo lagi interview apa curhat sih Mel? Kok ngomongin diri sendiri?" Mayra langsung tergelak menggoda Amel sambil mengusap dadanya yang terasa sesak menahan tawa dan buru buru ia meneguk air putih dari tumbler-nya.
"Berisik lo May! Nggak usah ikut ikut deh! Kerja aja yang bener!" ketus Amel sambil membulatkan matanya menatap Mayra yang masih tertawa geli kepadanya.
"Maaf Bu Amel, apa Ibu juga menikah karena perjodohan?" Arin mulai berani bertanya sambil terus mengulas senyum manisnya, akan tetapi Amel tidak terlalu menganggap serius pertanyaan itu.
"Iya... aku juga menikah karena dijodohkan oleh papaku, tapi akhirnya setelah menikah aku dan suamiku saling mencintai, bahkan aku sangat mencintai Andra suamiku!" Amel menanggapinya dengan santai.
"Saya salut sama Bu Amel, Ibu bisa menerima perjodohan dengan lapang dada, sedangkan saya ndak mungkin bisa seperti Bu Amel, saya mencintai pria lain!" Arin melanjutkan bercerita namun rona kesedihan kini nampak di raut wajahnya..
"Maafkan saya jadi curhat bercerita seperti ini sama Bu Amel, di Jakarta ini saya ndak punya siapa siapa, saya ndak punya teman, sementara Ibu juga punya kisah perjodohan seperti saya!" Lanjutnya lagi dengan nada sedikit basa basi dan senyum tipis tetap menghiasi bibirnya.
"Tapi kisah kita berbeda Rin, aku dan Andra dulu dijodohkan saat kami masih sama sama jomblo, jadi tidak ada orang ketiga yang menghalangi hubungan kami" Amel kembali menanggapi cerita Arin.
Arin menghela nafasnya dalam dalam. "Pria itu bukan kekasih saya Bu!" senyum Arin kini tersembunyi dibalik wajah gugupnya yang tersipu dan lagi lagi ia menundukkan kepalanya.
"Sepertinya cinta saya bertepuk sebelah tangan, memang terdengar sangat konyol karena saya tetap nekat mencarinya ke Jakarta Bu..., dulu kami sama sama jadi guru di sekolah yang sama, tapi dua tahun yang lalu tiba tiba saja dia pulang ke kota ini, kota kelahirannya, tanpa memberi kabar atau meninggalkan pesan apapun untuk saya, disitu saya semakin menyadari kalau dia tidak pernah punya perasaan apapun terhadap saya." Arin masih melanjutkan bercerita.
Amel hanya terdiam saat Arin bercerita, naluri kewanitaannya seketika tersentuh mendengar cerita Arin, ia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan Arin.
"Lalu kemana kamu akan mencarinya Rin?" tanya Amel penasaran.
"Saya ndak tahu Bu!" Jawab Arin singkat lalu kembali tersenyum. "Saya akan ikuti saja kemana kaki saya melangkah Bu, saya hanya percaya keajaiban Tuhan, saya yakin suatu saat saya akan bertemu dengannya disini!" ucapnya lagi.
Amel hanya diam tidak tahu harus bagaimana menanggapi cerita Arin. Wanita itu terlihat sedih tapi tetap tersenyum.
__ADS_1
"Kita butuh dia buat event besok Mel, lu terima aja dia magang dulu tiga bulan, kalau ok baru kita kontrak" Bisik Mayra ke Amel.
Amel pun hanya mengangguk menyetujui saran Mayra.
"Ok Rin, mulai besok kamu bisa mulai bergabung jadi team kami disini. Tiga bulan pertama kamu harus melewati masa review dulu, kalau kerja kamu bagus aku akan langsung kontrak kamu. Kamu juga nggak usah khawatir, selama masa review kamu tetap akan mendapatkan hak gaji dan bonus." Amel menyerahkan selembar surat perjanjian kerja kepada Arin. Tanpa membacanya Arin langsung menandatanganinya karena yang ada di pikirannya saat ini hanyalah mendapatkan pekerjaan untuk melanjutkan hidupnya di Jakarta. Setelah menandatangani kesepakatan kerja Arini lalu meninggalkan kantor AMP dengan senyum yang masih selalu menghiasi bibirnya.
"Arini itu bener bener konyol ya Mel, dia pikir Jakarta ini cuma seluas pasar malam kali ya, masa cari orang nggak jelas begitu" Gerutu Mayra saat Arin sudah meninggalkan kantornya.
"Namanya juga cinta May..., Cinta bisa mengubah dunia!" Sahut Amel asal, menirukan sebuah ungkapan yang pernah di dengarnya.
Mayra dan Amel lalu tertawa bersamaan.
"10 menit lagi gue cabut ya May.., gue mau jemput Andra di bandara." Amel merapikan beberapa kertas di meja kerjanya karena akan segera meninggalkan kantornya.
"Iya sana lo pergi aja duluan, gue juga masih nunggu Yogi!" Sahut Mayra yang masih sibuk dengan komputernya.
"Event kita selanjutnya tinggal lagi 2 hari May, lo harus mulai latih anak anak lo tarian Jawa, jangan sampai malu maluin di depan client loh!" Tambah Amel lagi.
"Santuy aja Mel, kan udah ada Arin yang bisa tarian tradisional" Mayra tersenyum sumringah.
"Iya tapi tetep aja besok pagi pagi sekali lo udah mesti mulai latihan!, waktu kita cuma sedikit buat persiapan kali ini" Amel berdiri dari tempat duduknya.
"Palingan juga elo yang bakalan telat ke kantor besok, Andra baru pulang dari luar kota pastinya entar malem kalian lembur!" Celoteh Mayra lagi menggoda sahabatnya.
"Justru nikmatnya punya suami tuh disitu May, makanya lo minta Yogi buru buru nikahin lo, jadi perawan terus itu nggak enak tahu!" Amel tak mau kalah ikut menimpali.
Mayra hanya nyengir. "Maunya sih gitu Mel, tapi adik adiknya Yogi masih kuliah kami masih harus menunggu mereka lulus dulu!"
"Yeah... kalau emang udah mantep mau nikah, di icip icip dikit dulu boleh lah May! Anggap aja malam pertama mencuri start lebih awal!" Amel terkekeh ikut menggoda Mayra.
"Sembarangan lo Mel! Gue nggak kayak elo! gue tuh jaga prinsip nggak akan ngelakuin itu sebelum hubungan kami dihalalkan!" ketus Mayra.
__ADS_1
"Udah sana buruan pergi..! Jam segini macet, nanti lo telat sampai bandara!" Mayra mengusir Amel dari hadapannya sambil tertawa kecil.
Amel juga ikut tertawa lalu segera meraih tasnya dan meninggalkan Mayra sendiri di kantornya.