
Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, Andra masih terus dihujani rasa bersalah.
"Mengapa aku begitu bodoh membiarkan semua ini terjadi?" Andra sungguh menyesali semua yang sudah terjadi dengannya dan Vilda waktu itu.
"Amel.. maafkan aku sayang! aku salah! semua ini terjadi di luar kendaliku!" Andra memukuli kepalanya sendiri, penyesalan itu terus menghantuinya.
"Tapi hari ini aku akan memperbaiki semuanya!" gumamnya dengan raut wajah yang terlihat masih sangat frustasi dengan semua yang tengah dialaminya saat itu.
"Ndra, lo manggil gue, ada apa?" Vilda masuk ke ruangan Andra dengan wajah berseri, dia merasa mendapat kesempatan untuk menggoda Andra lagi saat itu.
Melalui Nadya, Andra memang memanggilnya untuk menemuinya di ruangannya. Saat itu Andra ingin berbicara empat mata dengan Vilda.
"Gue mau bicara serius sama lo. Penting!" ucap Andra dengan nada tegas.
Vilda berusaha bersikap normal, ia lalu duduk di kursi di hadapan Andra.
"Hal penting apa yang mau lo sampaikan ke gue Ndra?" tanya Vilda sambil mengembangkan senyum menggoda di bibirnya.
Setelah kejadian itu Vilda menyadari kalau Andra memang selalu berusaha menghindarinya, jangankan mengajaknya bicara, meliriknya pun sepertinya Andra enggan. Namun ia sedikit kaget karena justru hari itu Andra tiba tiba memanggilnya dan hendak berbicara berdua dengannya.
"Vilda.. gue mau kasih lo promosi jabatan." Andra menyerahkan sebuah map kepada Vilda, "gue sudah buatkan kontrak kerja yang baru buat lo." Andra memaparkan tujuannya memanggil Vilda saat itu.
"Promosi? yang bener Ndra?" Vilda tersenyum sumringah.
"Silahkan lo baca aja dulu kontrak kerjamu!" perintah Andra singkat.
Vilda membuka map itu dan mulai membaca setiap pasal di surat kontrak itu. Vilda membulatkan matanya, bukannya senang mendapatkan promosi namun Vilda menjadi sangat kesal setelah membacanya.
"Lo tega banget sama gue Ndra!, setelah semua yang terjadi diantara kita sekarang lo tega ingin mencampakkan gue seenaknya!" Vilda menghempaskan map itu di atas meja Andra dengan sangat kasar.
__ADS_1
Andra hanya diam tanpa reaksi, dia sudah tahu bahwa Vilda pasti akan kecewa padanya setelah membaca kontrak itu.
"Gue sudah kasih tawaran yang paling menarik buat lo Vil, jabatanmu naik menjadi Director of Sales and Marketing dan gajimu juga sudah aku naikkan dua kali lipat dari yang sekarang, promosi ini juga akan sangat bagus untuk perkembangan karir lo kedepannya." papar Andra kemudian.
"Iya, tapi lo mengusir gue secara halus dengan kontrak ini Ndra! bener bener tega lo sama gue Ndra!" kembali Vilda menekankan kekecewaannya.
"Vilda mengertilah!" Andra menatap mata Vilda, "dengan incharge di Lombok, kau akan lebih fokus bekerja disana dan gue juga tidak akan terus terusan dikungkung rasa bersalah ini. Dan jangan khawatir, selama disana gue akan kasih semua fasilitas yang sama. Tempat tinggal dan mobil yang bisa lo pakai sehari hari." terangnya.
"Gue nggak butuh semua itu Ndra!" Vilda menggebrak meja di hadapan Andra dengan sangat kesal lalu beranjak dari tempat duduknya. Tanpa berkata sepatah katapun ia keluar dari ruangan Andra.
Andra hanya mampu menghela nafas datar melihat sikap Vilda yang seperti itu.
"Entah drama apa lagi yang Vilda akan mainkan?" gerutu Andra sambil mengusap wajahnya, beberapa hari setelah kejadian itu Andra memang menaruh kecurigaan atas sikap Vilda kepadanya, yang seolah tanpa penyesalan sedikitpun akan kejadian waktu itu.
Beberapa menit kemudian, Vilda kembali masuk ke ruangan Andra.
Praakk....!
"Ini surat resign gue Ndra dan mulai hari ini gue berhenti bekerja disini!" ketus Vilda sambil menampakkan wajah penuh kekecewaan.
Andra hanya menatap datar ke arah Vilda.
"Ini kunci apartemen gue!" Vilda meletakkan kartu akses apartemennya di meja. "Gue tahu setelah gue resign, gue sudah tidak punya hak untuk tinggal di apartemen ini lagi." Vilda lalu membalikkan badannya dan hendak keluar lagi dari ruangan itu.
"Tunggu Vil!" Andra berdiri dari duduknya dan menahan pundak Vilda mencegahnya melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu.
"Maafkan gue Vil, lo jangan salah sangka sama gue, gue ngelakuin ini semua untuk kebaikan kita berdua! gue nggak mau terus terusan merasa bersalah sama lo, dan lo nggak mesti mengajukan resign seperti ini!"
"Keputusan gue sudah bulat, Ndra! gue sadar kalau gue sudah banyak melakukan kesalahan, gue nggak pantas bekerja di perusahaan lo lagi!" Vilda memperlihatkan wajah sedih.
__ADS_1
"Lalu lo mau nyari kerja dimana Vil? Bukannya di Jakarta ini kau tinggal sendiri? dan kau akan tinggal dimana?" meski tidak melarangnya resign, Andra tetap peduli kepada Vilda, bagaimanapun juga Vilda adalah sahabatnya, Andra merasa punya tanggung jawab untuk menjaganya.
"Gue mau jadi gelandangan kek, jadi pelacur kek! Bukan urusan lo Ndra, lo itu sangat egois! Setelah semua yang terjadi antara kita sekarang lo mau membuang gue gitu aja! Ingat Ndra gue juga punya harga diri, lo nggak bisa menginjak nginjak gue seenaknya seperti ini!" Vilda semakin marah.
"Ok Vil, kalau elo tetap bersikeras ingin resign, silahkan saja gue nggak akan melarangmu! Tapi apartemen itu....! itu adalah hak lo, aku menyewanya selama setahun untukmu."
Andra kembali menyerahkan kunci apartemen itu pada Vilda.
"Ok, sementar gue belum dapat tempat tinggal yang lain, gue akan tetap tinggal di apartemen ini, lo nggak usah khawatir Ndra, gue akan kembalikan ini secepatnya kepada lo!" ketus Vilda. Sesungguhnya ia sangat ingin Andra mencegahnya mengajukan resign tetapi ternyata kenyataannya berbeda, Andra begitu santai menerima pengajuan resignnya.
Vilda lalu keluar dari ruangan Andra dan masuk ke ruangannya.
Vilda membereskan semua barang barang pribadinya dari meja kerjanya dan menampungnya dalam sebuah tas besar.
"Lo mau kemana Vil, kok jam segini sudah beres beres, udah mau pulang ya?" Yogi yang merasakan ada yang berbeda dari sikap Vilda hari itu langsung menghampirinya.
"Gue mau pulang Gi!" jawab Vilda singkat namun di wajahnya menyimpan kekesalan.
"Hei.. ada apa ini? apa ada masalah?" Yogi semakin penasaran.
"Ini hari terakhir gue disini Gi, gue udah ngajuin resign!" tanpa menoleh ke arah Yogi, Vilda langsung beranjak pergi dari ruangannya.
Yogi hanya menggelengkan kepalanya lalu melangkah ke ruangan Andra.
"Ada apa sama Vilda Ndra? kenapa dia tiba tiba resign?" Yogi sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya, dia menatap ke arah Andra dengan senyum penuh tanda tanya.
"Panjang ceritanya, Gi!" jawab Andra.
"Walau panjang tapi masih tetap bisa diceritakan kan?" seringai Yogi.
__ADS_1
Andra menghela nafas panjang, selama ini Yogi adalah sahabat terdekatnya dan ia selalu berbagi segala hal dengan Yogi.
Andra tak ragu menceritakan semua hal mengenai hubungannya dengan Vilda dan Yogi hanya mendengarkan cerita Andra tanpa berkomentar apapun.