
"Sudah hampir tengah malam, Amel belum pulang juga. Kemana gadis itu? Ponselnya tidak aktif, aku telepon Mayra, ia juga tidak bersamanya."
Andra mondar mandir di ruang tengah, merasakan kemarahan dan kecemasan yang teramat sebab sudah hampir jam 12 malam Amel belum juga pulang. Entah sudah berapa pesan dia kirim ke nomor Amel namun tak ada jawaban.
"Apa Amel pulang ke rumah papa?... ehmm.... sepertinya tidak mungkin, kalau iya pasti papa sudah mengabari".
Pikiran Andra semakin tidak tenang. Tidak biasanya dia merasa begitu gelisah. Ini bukan pertama kalinya Amel pulang lewat tengah malam, tumben kali ini perasaanya sangat berbeda, ada firasat yang sangat tidak nyaman menghujani pikirannya sederas hujan yang memang turun malam itu disertai petir dan angin yang bertiup kencang.
Beberapa kali Andra menengok keluar melalui jendela di balik kilatan petir namun belum terlihat juga mobil Amel memasuki halaman.
Dretttt....drettttt.... ponselnya bergetar, panggilan suara dari nomor tak dikenal. Perasaan was was itu makin kuat mengguncangnya.
"Kecelakaan.....???"
Andra menjatuhkan ponselnya ke sofa tempatnya duduk.
Sebuah suara dari seberang memberi kabar kalau Amel mengalami kecelakaan.
Firasatnya benar, sesuatu telah terjadi. Seketika kemarahannya sirna, tatapannya nanar, tangannya gemetar tidak karuan antara bingung, cemas, sedih bercampur aduk.
Andra bergegas keluar dan menyalakan mobilnya tanpa menghiraukan air hujan membasahi tubuhnya.
Mobilnya melaju cepat diantara derasnya hujan. Di jalan utama tak jauh dari komplek perumahannya, Andra menghentikan mobilnya. Nampak beberapa orang masih berkerumun melihat sebuah mobil yang ringsek menabrak pembatas jalan dan kini sudah diberi garis polisi.
Iya...itu mobil Amel.
Andra menyeruak diantara kerumunan orang dan melihat kondisi mobil yang rusak parah, ada tetesan darah disana namun sudah memudar bercampur air hujan. Nafas Andra seolah terhenti, batinnya seakan hancur sehancur mobil itu, membayangkan kondisi Amel akibat kecelakaan itu.
"Korban sudah di larikan ke rumah sakit terdekat, sepertinya dia menyetir dalam keadaan mabuk" seseorang di sebelah Andra terdengar bercakap dengan rekannya.
Andra berlalu cepat menuju rumah sakit dan langsung ke ruang ICU.
"Istri anda kondisinya cukup serius, tulang kaki kirinya patah dan ada benturan keras di kepala. Tapi kami masih akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut apa ada luka dalam yang lain. Sementara kami masih menunggu Nona Amelia sadar baru kami akan melakukan ct scan" seorang pria berjas putih menjelaskan kondisi Amel kepada Andra.
"Apa saya bisa menemuinya Dok?" Andra sudah tak mampu menyembunyikan kecemasannya.
"Silahkan Pak Andra". Dokter membuka pintu ruang ICU dan mengikuti langkah Andra menemui Amel.
Seketika hati Andra begitu kelu melihat Amel yang terbaring disana, bercak darah masih ada di keningnya yang sudah dibalut kain kasa putih. Kakinya dibalut spalk dan perban.
__ADS_1
"Nona Amelia mengemudi di bawah pengaruh alkohol, itu yang membuatnya belum sadar. Setelah sadar nanti baru kami akan melakukan tindakan selanjutnya." Dokter itu lalu meninggalkan Andra bersama Amel yang masih belum sadarkan diri dari pingsannya.
Andra duduk di sebelah Amel dan memegang erat tangan Amel.
"Mel.... kenapa jadi seperti ini?, berapa kali aku sudah mengingatkanmu?" Ada sebingkai kaca melintas di bola matanya.
"Aku nggak mau terjadi apa apa sama kamu Mel.... aku sudah kehilangan semua orang orang yang aku sayangi,... jangan sampai....?! ahhhh....tidak Mel...jangan!!" Andra berusaha mengusir semua perasaan khawatir yang ada di benaknya.
"Andra...." Suara Amel lirih, jari jarinya bergerak pelan, matanya yang terpejam mulai sedikit terbuka.
"Mel.... kau sudah sadar?" Seulas senyum terlihat di bibir Andra.
"Aku dimana?"
"Kau ada di rumah sakit Mel...., kau mengalami kecelakaan" Andra makin erat memegang tangan Amel.
"Kepalaku sakit sekali....!" Amel merintih merasakan sakit yang teramat hebat di kepalanya.
"Tunggu aku akan panggil dokter"
"Silahkan tunggu di luar Pak Andra, kami akan menanganinya" Dokter masuk ruang ICU bersama beberapa orang paramedis lainnya.
"Andra... Bagaimana Amel?!" Suara berat penuh kekhawatiran mengejutkannya. Firman berdiri di belakangnya dengan wajah yang tak kalah cemas dengannya.
Andra duduk di kursi ruang tunggu sambil mengusap kepalanya sendiri.
"Ini salah papa menyetujui permintaan Amel memberikannya mobil" Firman menepuk punggung Andra dan ikut duduk disebelahnya. Dia sudah salah mengambil keputusan, sudah terlambat untuk sebuah penyesalan.
"Pak Andra tolong tandatangani surat pernyataan ini, kami harus segera mengoperasi kaki Nona Amelia." Seorang suster menghampiri dan menyodorkan selembar kertas. Andra tidak berfikir panjang dan langsung menandatanganinya.
"Selamat malam Pak Andra, Pak Firman, kami dari kepolisian".
Andra dan Firman menoleh bersamaan saat dua orang pria berpakaian polisi menghampirinya.
"Kami ingin menyerahkan barang barang milik Nona Amelia yang kami temukan di dalam mobil saat kecelakaan. Tas, ponsel dan beberapa barang pribadi lainya semua lengkap. Mohon di cek terlebih dahulu...!"
"Terimakasih Pak" Andra meraih semua barang barang itu dan menandatangani check list yang disodorkan polisi itu.
"Nona Amelia mengemudi dalam pengaruh alkohol, dan dari hasil tes urine nya positif ada kandungan zat adiktif. Kami mohon kerjasama Pak Andra dan Pak Firman sebagai pihak penanggung jawab korban bisa memenuhi panggilan kami datang ke kantor untuk memberi keterangan".
__ADS_1
Bak disambar petir di tengah hujan malam itu, Andra membelalakkan matanya mendengar penjelasan polisi.
"Zat adiktif? Obat terlarang.... Amel mengkonsumsi barang haram itu??" Rasa kaget dan tidak percaya menyambar hatinya.
"Putri saya sedang menjalani operasi saat ini Pak, besok pagi kami pasti akan melapor. Percayalah kami tidak akan mangkir dari tanggung jawab." Firman menanggapi dengan lebih tenang.
Polisi itu pun beranjak pergi.
"Andra bagaimanapun caranya kita harus tutup kasus ini."
"Perawatan dan kesembuhan Amel lebih penting dari segalanya, kalau terbukti Amel mengonsumsi obat terlarang itu dia pasti akan dimasukkan ke pusat rehabilitasi. Dalam keadaan seperti ini, hal itu tidak memungkinkan, selain itu kita harus mencegah media menjadikan ini konsumsi publik akan berpengaruh ke reputasi perusahan...!"
Andra hanya mengangguk dan ia bisa memahami maksud Firman.
"Aku bukan suami yang baik untuk Amel pa, aku tak bisa menjaganya, ini di luar kendaliku... dan aku sungguh tak pantas untuk dimaafkan." Andra tertunduk lesu seolah tak berani menatap wajah Firman karena rasa bersalahnya.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri Ndra.... papa kenal betul sifat Amel, dia keras kepala dan sangat emosional. Pergaulannya yang terbiasa bebas seperti saat dia di Australia sana, mungkin membuatnya salah memilih teman sehingga menjerumuskannya ke jalan yang salah"
"Papa lah yang pantas disalahkan karena terlalu memanjakannya dari kecil....! Jadikan semua ini sebagai sebuah pelajaran, yang terpenting sekarang kita yang harus sama sama memperbaikinya."
Sikap bijaksana Firman membuat Andra merasa teduh dan sesaat ia bisa melupakan rasa bersalahnya.
Firman lalu terlihat menelepon seseorang.
"Papa sudah bereskan semua Ndra, besok datanglah ke kantor polisi bersama pengacara papa."
"Alhamdulillah... operasinya berjalan lancar, kami juga sudah melakukan ct scan tidak ada luka dalam yang lebih serius selain patah tulang kakinya, tidak usah terlalu khawatir Nona Amelia pasti segera siuman" Dokter tersenyum dan sedikit memberikan rasa lega di hati Andra dan Firman.
"Kami akan melakukan persiapan untuk memindahkan Nona Amelia ke ruang perawatan." Dokter kembali masuk ke ruang operasi.
Setelah di ruang perawatan, Amel menangis sejadi jadinya di dalam pelukan Firman. Rasa sakitnya akibat kecelakaan itu tidak seberapa dibandingkan rasa bersalahnya, dia juga mengutuk kondisi kakinya. Amel sangat khawatir apabila dia tidak bisa berjalan lagi.
"Sayang tenanglah.... kau tak usah khawatir, ada papa dan suamimu disini!" Firman mengusap rambut Amel dan menyeka air mata di pipi Amel.
"Maafkan Amel Pa.... Amel selalu menyusahkan papa..."
"Kau yang sabar Mel, dokter bilang kau akan segera sembuh dan bisa berjalan normal lagi setelah pemulihan beberapa bulan". Andra yang merasa kasihan mendengar penyesalan Amel lalu mendekatinya dan ikut berdiri di sebelah ranjangnya.
Amel meraih tangan Andra dan menatapnya dengan matanya yang masih basah.
__ADS_1
"Andra maafkan aku.... aku tidak pernah mendengarkanmu. Sekarang aku....aku....!?"
"Ssstttt.......!" Jangan berkata apa apa lagi, yang terpenting sekarang kau harus segera sembuh, Ok!" Andra meletakkan telunjuknya di bibir Amel seraya memegang bahu Amel yang masih berguncang menahan isak tangisnya.