
4 bulan sudah berlalu semejak pernikahan Andra dan Amel namun mereka belum juga bisa saling menerima dan masih kekeh dengan sikap keras kepalanya masing masing.
Amel yang terbiasa dengan kemewahan dan suka berpoya poya menghamburkan uang papanya merasa sangat tidak nyaman dengan kehidupan barunya bersama Andra yang justru berbanding terbalik dengannya, Andra tetaplah seorang pria yang lebih suka hidup dengan kesederhanaannya meskipun kekayaannya makin melimpah karena 2 perusahan yang ditanganinya berkembang sangat baik.
Perbedaan yang cukup kontras dalam urusan keuangan sering memicu pertengkaran kecil diantara mereka. Jatah uang bulanan yang diberikan Andra kepada Amel selalu menjadi alasan perselisihan mereka, karena Amel tidak pernah merasa cukup dengan jatahnya itu yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang dulu biasa diberikan papanya. Sedangkan untuk meminta uang lagi kepada papanya sudah sangat mustahil baginya, papanya kini sudah tidak mau memberinya apa apa lagi setelah ia menikah.
Andra pun jarang memperhatikan Amel karena sibuk dengan pekerjaanya. Andra sering pulang larut malam dan juga sering pergi ke luar kota untuk perjalanan bisnisnya.
Hal itu juga membuat Amel sangat tidak betah tinggal di rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman temannya.
Hari sudah mulai gelap ketika Andra pulang dari kantor.
"Bi Nur.....Amel sudah pulang?" pertanyaan ini yang selalu ditanyakannya kepada pelayannya ketika ia pulang seperti halnya hari itu.
"Belum Den... Den Andra mau Bibi siapkan makan malam?" Nur menghampiri Andra ke tempat duduknya dan membawakan segelas air putih.
"Nanti saja Bi...aku belum lapar" Andra meneguk air yang tadi dibawakan Nur.
Baru saja dia akan ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, Amel datang dengan wajahnya yang ditekuk dan tatapan matanya yang menunjukkan kalau dia sedang sangat kesal.
"Kemana saja kau jam segini baru pulang?" Andra menatap istrinya itu dengan tatapan tidak senang.
"Apa pedulimu menanyakan aku kemana?" Dengan muka kesalnya Amel membalas tatapan Andra sambil terus melangkah menuju tangga dan hendak ke kamarnya.
"Tunggu dulu.... aku ingin bicara denganmu!" Andra menarik lengan Amel dan Amel pun menghentikan langkahnya.
"Aku tidak suka melihatmu setiap hari hanya keluyuran di luar sana dan pulang malam seperti ini....., kau adalah seorang istri di rumah ini, sebaiknya kamu belajar melakukan tanggung jawabmu!" Andra masih memegang lengan Amel.
"Istri?.... Tanggung jawab?..... heh.... Andra.... memangnya apa arti seorang istri menurutmu? Dan tanggung jawab apa yang kamu maksud? Lalu kau sendiri, apa pernah kau melakukan tanggung jawabmu sebagai seorang suami?" Amel yang sedang kesal melepaskan tangan Andra dengan kasar dan mempercepat langkahnya meninggalkan Andra.
"Amel kita belum selesai bicara!" Andra berteriak memanggil dan menyusul Amel yang sudah mulai naik ke anak tangga yang menuju kamarnya. Namun Amel tidak peduli dan terus melangkah. Amel masuk ke kamarnya, tapi ketika hendak menutup pintu Andra sudah ada di hadapannya.
"Buat apa kau mengikutiku kesini?" Amel makin kesal melihat Andra mengikutinya ke kamarnya.
"Sudah kubilang kita belum selesai bicara!..... Aku tidak suka kamu pulang malam tiap hari seperti ini, apa kata Papa kalau dia tahu kelakuan putrinya seperti ini?!"
"Suka sukaku mau kemana... bukan urusanmu!" Amel menjawab sambil memalingkan wajahnya.
"Kau bilang apa tadi Andra....? Tanggung jawab katamu?" Amel membalikkan badannya dan kini menatap mata Andra dengan gaya angkuhnya.
"Kau sendiri tidak pernah melakukan tugasmu sebagai seorang suami tapi kau menuntut aku melakukan tanggung jawabku sebagai seorang istri. begitukah?? Bagiku kau hanya laki laki pelit....kau tidak pernah cukup memenuhi kebutuhanku sebagai istrimu, suami macam apa kau ini?!" Amel terus berbicara dan tanpa disadarinya kata kata yang diucapkannya sangat menyinggung perasaan Andra.
Kata kata Amel itu juga membuat Andra semakin geram.
"Jaga bicaramu Amel.....Aku kepala keluarga di rumah ini aku berhak mengaturmu!" Kini api kemarahan terlihat jelas dimata Andra.
Andra mendekati Amel dan memegang kedua pundaknya dengan kasar lalu mendorongnya hingga Amel tersungkur ke tempat tidur.
"Mau apa kau.... jangan coba coba menyentuhku!" Amel berteriak melihat Andra menaikkan tangannya dan hampir menamparnya.
"Kau itu sudah sangat keterlaluan Amel....cukup kau menghinaku!, Tanggung jawab apa yang aku belum lakukan sebagai suamimu?. Aku sudah penuhi semua kebutuhanmu, tapi kau tidak pernah menghargaiku sama sekali!" Andra semakin marah.
__ADS_1
Dalam kemarahan Andra melepaskan ikat pinggang yang dipakainya dan menatap Amel dengan sorot mata tajam.
Ketakutan Mulai muncul di dihati Amel "Oh Tuhan... kata kataku sudah membuatnya marah...dia pasti akan mencambuk ku dengan ikat pinggangnya itu?" Pikirnya.
"Apakah Andra senekat itu? Apa dia akan melakukan KDRT terhadapku?" Amel semakin ketakutan.
Andra masih memegang erat ikat pinggangnya dan semakin mendekatkan tubuhnya ke Amel yang masih duduk di tepi tempat tidur.
"Aku sangat menghormati Pak Firman, tapi putrinya ini sangat tidak bisa menghormati orang lain. Malam ini aku akan memberimu pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan sepanjang hidupmu, Amelia Paramita Firmanto!" Tubuh Amel bergetar mendengar Andra menyebut namanya, hal itu belum pernah terjadi sebelumnya dan Andra terlihat sangat marah lalu mencengkram lengan Amel dengan kuat dan menaikkan tangan kanannya yang masih memegang ikat pinggangnya itu.
Amel menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Namun yang terjadi tidaklah seperti yang dipikirkan Amel, Andra tidak mencambuknya dan tidak juga memukulnya tapi Andra melemparkan ikat pinggang di tangannya ke lantai dan kedua tangan Andra kini mencengkram kedua tangan Amel dengan sangat kuat.
"Lepaskan aku Andra...!"Amel berteriak.
Andra semakin mendesak tubuh Amel yang memang sudah ada di tempat tidur lalu menindihnya.
"Kau mau apa Andra...?!... lepaskan aku.... teriak Amel lagi.
Andra mendekatkan wajahnya ke wajah Amel.
"Sebaiknya kau diam....!" Andra berbisik di telinga Amel lalu membenamkan kepalanya di leher Amel. Bibir Andra menyentuh leher Amel dengan kasar dan menggigitnya lembut berkali kali sehingga meninggalkan tanda merah disitu. Amel meronta dan melawan namun tenaganya tidak sebanding dengan cengkraman tangan kekar Andra.
Amel mencoba berteriak lagi namun Andra menyumpal mulut Amel dengan bibirnya sambil ******* bibir tipis Amel juga dengan sangat kasar.
"Hentikan Andra.....Kau????!!" kini teriakan Amel terdengar sangat lirih karena Andra sudah menguasainya. Andra terus menciumi bibir, pipi dan leher Amel dengan kasar layaknya seekor singa lapar yang ingin menerkam mangsanya. Sekilas Amel melihat raut kemarahan di wajah Andra berubah menjadi kilatan gairah.
Amel masih mencoba melawan namun ia seolah tak mampu menggerakkan tubuhnya lagi ketika Andra merengkuhnya semakin kuat dan membuat Amel semakin hilang kendali.
"aaaahhhhh.......Apa yang kau lakukan Andra...?" Amel mendesah dan berbisik sambil memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan Andra yang semakin berani menjamahnya.
"Kau ingin aku melakukan tugas yang belum aku lakukan sebagai suamimu kan?, sekarang kau nikmati saja!" Andra kembali berbisik di telinga Amel sambil mencumbu leher Amel lagi dan meninggalkan makin banyak tanda cinta disitu. Andra mulai melepaskan satu persatu kancing baju yang dikenakan Amel dan tangannya mulai menjelajahi semua bagian sensitif yang ada di balik pakaian Amel yang sudah ditanggalkannya.
Amel pasrah dan siap melakukan kewajibannya sebagai istri Andra malam itu.
Namun tiba tiba... "Andra kendalikan dirimu...!!." sesaat batin Andra melarangnya melanjutkan permainannya itu. Amel tidak sama dengan gadis gadis yang pernah menyerahkan keperawanannya dengan suka rela kepadanya. Amel adalah istrinya dan dia tidak ingin melakukan itu hanya karena nafsu, dia ingin ada perasaan cinta yang menyatukan mereka dalam ritual malam pertama yang sakral dan belum pernah mereka lakukan meski mereka sudah menikah hampir 5 bulan lamanya.
Andra menjauhkan tubuhnya dari Amel dan beranjak turun dari ranjang itu. Andra membenahi pakaiannya lalu melangkah ke luar kamar itu tanpa sepatah katapun terucap dari mulutnya.
Amel terdiam dan merasa sangat heran dengan kelakuan Andra.
"Andra.....apa yang kau lakukan??, kau sengaja meninggalkanku dalam keadaan seperti ini, kau bahkan tidak menuntaskan kewajibanmu".
Amel menghembuskan nafasnya sangat panjang menahan semua rasa yang tidak terlampiaskan. Disentuhnya bagian sensitif tubuhnya yang masih basah akibat ulah Andra. Amel menarik selimutnya dan membenamkan tubuhnya ke dalam selimut lalu memejamkan matanya mencoba tidur untuk memadamkan api gairah yang masih menyala dalam dirinya.
Andra masuk ke kamarnya dan langsung ke kamar mandi mengguyur badannya di derasnya kucuran air shower. Dia juga sangat tersiksa karena harus menghentikan gairahnya bersama Amel, namun sudah prinsipnya tidak akan menyentuh Amel lagi sebelum ada perasaan cinta diantara mereka.
Pagi menjelang, Andra terbangun dari tidurnya dan bersiap akan berangkat ke kantor. Setelah mandi Andra mengambil setelan jas dan kemejanya dari lemari dan mulai berganti pakaian. Andra memandangi cermin di hadapannya. "Sepertinya ada yang kurang?" Andra teringat ikat pinggangnya masih tertinggal di kamar Amel.
Andra lalu keluar kamarnya dan melangkah naik ke lantai 2.
__ADS_1
"Amel.... Amel... buka pintunya Mel..!" Andra mengetuk pintu beberapa kali namun tak terdengar jawaban dari dalam. Hanya terdengar gemericik air dari kamar mandi. "Amel mungkin lagi mandi" pikirnya kemudian.
Andra memutar gagang pintu dan ternyata pintu itu tidak terkunci, Andra langsung masuk dan mencari ikat pinggang yang dia hempaskan disitu tadi malam. Saat bersamaan Amel keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya yang tidak tertutup apapun.
"Aaaaaaa..........!" Andra dan Amel berteriak bersamaan. Andra langsung menutup matanya dengan kedua tangannya berpura pura tidak melihat pemandangan indah di depan matanya, namun Andra tetap mengintip dari celah jari jarinya. Amel berlari cepat ke kamar mandi dan mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya.
"Bisa nggak sih ketuk pintu dulu sebelum masuk kamar orang!!" Amel membentak Andra dengan sangat kesal.
"Tadi aku sudah ketuk pintu Mel, tapi tak ada jawaban, dan pintunya tidak terkunci jadi aku masuk saja".
"Mau apa lagi kamu kesini hah?! Belum puas kau menyiksaku semalam?" Amel berkata ketus sambil terus memegangi handuk yang menutupi tubuhnya agar tidak terlepas.
Andra hanya tersenyum dan tidak menyahuti pertanyaan Amel lalu mengambil ikat pinggangnya yang tergeletak di lantai dan keluar dari kamar itu menuju ruang makan untuk sarapan.
"Semalam Den Andra gak makan malam? Bibi tunggu Den Andra gak ada ke meja makan!?" sapa Nur sambil menyiapkan beberapa potongan buah untuk tuannya itu.
"Aku nggak lapar semalam karena sorenya sempet ngemil di kantor Bi" Andra memberi alasan.
Amel turun dari kamarnya dan ikut ke meja makan menghampiri Andra.
"Non Amel mau minum jus?" Nur menawarkan jus jeruk saat Amel sudah duduk di kursi di sebelah Andra.
"Tolong buatkan kopi saja Bi, kepalaku pusing sekali, semalam tidak bisa tidur nyenyak"
"Memangnya kenapa Non nggak bisa tidur? Padahal udaranya cukup sejuk tadi malam" Nur melihat wajah nyonya mudanya itu yang terlihat pucat karena kurang tidur.
"Aku mimpi buruk Bi..., mimpi diterkam singa ompong!" Amel bercerita sambil melirik Andra yang hanya diam dan asyik menikmati sarapannya lalu terkekeh mendengar cerita konyol Amel.
Nur hanya tertawa kecil.
"Ini kopinya Non.." Nur menyodorkan kopi.
"Lah itu kenapa lehernya pada merah merah gitu Non...?" Nur membulatkan matanya melihat leher dan dada Amel yang penuh tanda merah.
"Bu...bu..bukan apa apa Bi, mungkin digigit nyamuk." Amel jadi salah tingkah menyadari leher dan dadanya yang penuh tanda merah akibat ulah Andra tadi malam.
Andra makin terkekeh lalu bangun dari tempat duduknya karena dia sudah selesai sarapan.
Andra mendekatkan wajahnya ke Amel dan berbisik, "Sebaiknya mulai hari ini kamu siap siap Mel.... singa ompong itu sedang mengasah taringnya dan akan semakin garang menerkammu nanti. Nyamuk nyamuk juga akan makin ganas menggigitmu!" Andra tersenyum sinis, lalu bergegas beranjak pergi.
"Dasar manusia aneh!!" Umpat Amel sambil memandangi Andra yang sudah hilang di balik pintu dan mulai menyeruput kopinya yang masih panas.
"Ting...." notifikasi pesan singkat terdengar dari ponselnya.
("Mel, jangan lupa kelas dance hari ini jam 10, don't be late!") pesan itu dikirim sahabatnya Mayra.
"Leherku merah merah gini mana bisa aku ikut dance, baju senamku semuanya terbuka di bagian atas, yang ada semua orang akan menertawakanku nanti" Amel menggeleng menyadari kelakuan Andra sudah sangat keterlaluan terhadapnya.
("Gue nggak enak badan May, hari ini gue nggak ikut") Sent
Amel membalas pesan Mayra.
__ADS_1