Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Ke Pulau Dewata


__ADS_3

Hari berangkat ke Bali pun tiba, Amel sudah mempersiapkan kopernya namun kali itu berbeda dengan biasanya karena dia juga mepersiapkan koper untuk suaminya. Setelah berpamitan kepada Firman keduanya langsung menuju bandara.


Selama perjalanan Andra tidak pernah melepaskan tangannya menggandeng tangan istrinya itu. Bagi Amel acara travellingnya kali ini sungguh sangat istimewa karena dia pergi bersama orang yang dicintainya.


Andra dan Amel tiba di Bandara Ngurah Rai saat matahari sudah cukup terik di atas kepala.


Keluar dari terminal Andra langsung menghampiri seorang pria yang memegang kertas bertuliskan namanya.


"Selamat siang Pak Andra, saya Gede supirnya Pak Danu" Pria itu memperkenalkan dirinya sambil mengambil koper dari tangan mereka dan menuju ke mobilnya di area parkir.


Mobil itu langsung meluncur keluar area bandara melewati Tol Bali Mandra dengan pemandangan lautnya yang sangat indah.


Keluar dari tol, Andra menunjuk sebuah ruko di pinggir jalan by pass. "Sayang dulu kantor cabang kami di ruko itu, tapi semenjak Bunda tiada kantor itu tutup karena tidak ada yang mengurus!" Andra menceritakan kehidupannya yang pernah tinggal beberapa tahun di Denpasar.


Hanya sekitar 30 menit di perjalanan, mobil itupun sampai di sebuah rumah. Gapura rumah itu tampak sangat megah karena sudah dihiasi rangkaian janur yang sangat unik dan terlihat indah dipadukan dengan hiasan warna kuning bunga marigold.


Andra dan Amel turun lalu masuk ke halaman rumah yang sangat luas dan sudah dipasangi tenda juga berhiaskan janur dan kain putih yang sangat serasi dengan beberapa rangkaian bunga terpasang disana. Beberapa orang juga terlihat duduk berkumpul mengenakan pakaian adat dan sedang mempersiapkan sarana upacara untuk acara pernikahan Dek Gus.


"Om Swastiastu...Eh... ponakan Om sudah datang!" Danu yang melihat mereka langsung menghampiri.


"Om Swastiastu"    Om Danu!" Andra mencium tangan Danu diikuti Amel juga melakukan hal yang sama.


"Mah...sini Mah, ini Andra sudah datang!" Danu memanggil Tiara yang sedang sibuk di dapur.


Dengan tergopoh Tiara mendekati mereka. "Akhirnya kamu sampai juga Ndra.., gimana perjalanan kalian?" Tiara langsung mengulurkan tangannya lalu Andra dan Amel  mencium tangan tantenya itu bergantian.


"Baik tante, oh ya calon pengantinnya mana tante?" Pandangan Andra menyapu semua area rumah itu.


"Dek Gus ada di dalam yuk masuk aja" Tiara mengajak mereka masuk.


"Mah aku nggak ikut masuk, masih banyak yang harus dipersiapkan disini, kalian ngobrol aja dulu" Danu tidak ikut masuk karena masih sibuk dengan pekerjaanya.


"Ok Pah, tolong suruh Si Gede bawa kopernya Andra langsung ke villa ya!"


"Wah kebetulan nih Kak Andra sudah datang" Koming langsung menyambut Andra dan Amel saat mereka tiba di ruang tamu dan langsung mencium tangan keduanya.


"Oming sudah siapin ini buat Kak Andra sama Mbak Amel" Gadis remaja yang baru lulus SMA itu menyerahkan sebuah tas kertas kepada Andra.


"Apa ini Ming?" Andra membuka tas itu.


"Itu pakaian adat buat Kak Andra sama Mbak Amel, dipakai besok pas acara ya!.


"Kayaknya sih sudah pas ukurannya, kemarin Oming stalking IG nya Kak Andra, kalo dilihat dari foto sih baju ini udah pas ukurannya di badan kalian, tapi sebaiknya di coba aja dulu..!"


"Wow.. ini warnanya bagus banget!" Amel tersenyum melihat sebuah kebaya dengan sepasang pakaian adat lengkap berwarna silver senada.


"Tapi cara pakainya gimana?" Amel nampak kebingungan.


"Tenang aja besok Koming yang akan mendandani kalian, dari dulu memang Koming itu suka make up artist khususnya buat rias pengantin Bali" Tiara ikut bergabung dalam pembicaraan mereka.


"Mbak Amel ini ternyata cantik banget jauh lebih cantik dari foto di IG dan pasti besok bakalan tambah cantik lagi pakai baju ini". Koming memuji Amel yang masih memegang kebaya di tangannya.


"Ah.. jangan berlebihan Ming!" Amel hanya tersenyum.


"Wih....Andra kau sudah datang!" Dek Gus muncul dari kamarnya dan langsung memeluk Andra.


"Selamat ya... besok kamu sudah akan menikah" Andra menjabat tangan sepupunya itu.


"Hahaha iya... ini gara gara mamah, nyuruh nikah cepet cepet!" Dek gus tertawa kecil sambil melirik ke Tiara.


"Ya dong sudah memang waktunya ngapain di tunda kan?" Tiara tak ingin kalah menjawab putranya yang menggodanya. Semuanya lalu tertawa.


Dek Gus memang tidak pernah memanggil kakak pada Andra walau usianya dua tahun lebih muda dari Andra, karena sedari kecil mereka sudah sangat dekat dan terbiasa bermain bersama.


"Waktunya makan siang, ayo kalian makan dulu, tante masak ayam betutu kesukaamu Ndra!" Tiara mengajak mereka ke ruang makan dan makan bersama, Danu juga ikut makan siang bersama mereka.


Setelah makan siang, Tiara mengantar Andra dan Amel ke sebuah villa yang terletak hanya beberapa langkah di belakang rumah itu.


"Sekarang kalian istirahat dulu, tante masih banyak pekerjaan. Kalau mau jalan jalan nanti Gede bisa antar kalian kemana aja. Tapi besok acaranya pagi pagi banget, jadi kalian harus bangun pagi ya...!" Tiara menyerahkan kunci villa itu kepada Andra dan meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Villa ini bagus ya Sayang?" Sejenak Amel berkeliling di area villa dengan satu kamar tidur itu. Sebuah kolam renang berukuran kecil ada disana dan di pinggir kolam terdapat sebuah bale bengong dengan penataan taman yang cukup asri. Area dapur juga ada walau tidak terlalu luas, villa itu sangat cocok ditempati untuk orang orang asing yang menetap cukup lama di Bali.


Mereka lalu masuk ke kamar tidur villa itu dan Andra langsung menghempaskan tubuhnya di kasur.


"Sayang sini!!" Andra memanggil Amel yang masih asyik melihat lihat seisi kamar itu lalu mendekati Andra di tempat tidur.


Andra langsung menarik tangan Amel sehingga Amel ikut jatuh di atas kasur menindihnya.


"Welcome to Bali sayang... !" Andra berbisik sambil mencium Amel.


Setiap sentuhan tangan mereka membawa mereka terbuai dalam gairah. Baru hari pertama mereka sampai di Bali, mereka sudah melewati hari itu dengan penuh kemesraan.


Keesokan harinya.


Matahari masih terlelap ketika Koming sudah membangunkan Andra dan Amel.


"Kak Andra...Mbak Amel... buruan bangun Kak... waktunya berhias!" Koming mengetuk pintu kamar villa itu.


Amel yang memang sudah bangun membuka pintu. "Mbak sudah selesai mandi Ming... mau dirias sekarang?"


"Kak Andra mana Mbak, belum bangun ya?" Koming mendongakkan kepalanya melihat ke dalam kamar.


"Sudah, dia lagi mandi!" Amel membuka pintu lebih lebar.


Koming langsung masuk dengan membawa tas make up nya. Amel duduk di kursi meja rias dan Koming mulai mendandaninya. Semua riasan yang Koming pasangkan di rambut Amel sangat serasi dengan bentuk wajah tirus Amel. Kain songket dan kebaya yang digunakannya pun selaras dengan riasan rambutnya yang membuatnya makin terlihat cantik dan anggun.


Andra pun tidak kalah mempesona, warna baju safari, kain dan udeng yang dikenakannya juga senada dengan pakaian yang dikenakan Amel.


"Hmmmm..... perfect! Mbak Amel cantik dan Kak Andra juga ganteng banget.....kalian pasti nanti jadi pusat perhatian!" Koming terlihat puas dengan hasil riasannya lalu mengambil ponselnya dan mengambil gambar pasangan itu.


Amel pun tak mau kalah, dia juga mengambil ponselnya dan berfoto selfie dengan Andra.


Selain pasangan pengantin, Tiara dan Danu juga berhias sama dengan Amel dan Andra, Koming yang mendandani dirinya sendiri pun juga terlihat sangat cantik.


Amel sangat antusias menyaksikan setiap rangkaian prosesi upacara pernikahan Dek Gus, sebuah acara yang sakral dan unik sarat akan budaya Bali yang sangat mengesankan. Amel hampir tidak pernah diam dia berkeliling mengambil gambar setiap prosesi di pernikahan itu.


Jam 5 pagi Andra terbangun dari tidurnya dan melihat Amel yang masih pulas tertidur.


Andra mengendap beranjak dari ranjangnya agar Amel tidak ikut terbangun. Ia menuju rumah tantenya  dan melihat Tiara sudah bangun dan sedang sibuk di dapur.


"Tante...Andra boleh pinjam motor tidak?" Andra langsung menemui Tiara.


"Mau kemana sepagi ini Ndra? Tiara kaget melihat keponakannya itu sudah bangun sepagi itu.


"Aku mau ajak Amel ke pantai lihat matahari terbit Tante!"


"Ya sudah.... tapi kamu hati hati ya Ndra...ini kunci motornya, pakai motor matic yang warna hitam dan helm juga sudah ada disana." Tiara menyerahkan kunci motor pada Andra.


Setelah mendapat kunci motor dari Tiara, Andra langsung kembali ke villanya menemui Amel.


"Sayang... bangun...kita ke pantai lihat sunrise yuk!" Andra berbisik di telinga Amel yang membuat Amel perlahan membuka matanya.


"Mau sayang...aku ikut!" Amel bergegas bangun dari tempat tidur dan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.


Setelah berganti pakaian mereka langsung menuju pantai menggunakan motor. Pantai memang tidak terlalu jauh, hanya ditempuh 10 menit saja dari rumah Tiara.


Suasana masih sedikit gelap ketika mereka tiba di pantai. Semilir angin pantai terasa dingin, mereka berjalan menyusuri pasir pantai berwarna putih yang basah oleh sapuan ombak. Andra dan Amel lalu mencari tempat duduk di pasir yang masih kering.


Matahari beranjak naik, langit menguning di upuk timur terlihat begitu indah menambah suasana romantis diantara mereka, meskipun mereka hanya duduk disana sampai sinar matahari mulai menerpa wajah keduanya.


Pengunjung pantai yang lain juga sudah mulai berdatangan hanya untuk bermain pasir ataupun mandi di pantai.


Di kejauhan mereka melihat ada ibu ibu yang menjinjing sebuah kotak di atas kepalanya.


Andra melambaikan tangannya dan seorang diantaranya mendekat ke arah mereka.


"Jualan apa ibu itu sayang?" Amel heran kenapa Andra memanggil pedagang lumpia itu.


"Sayang kau harus coba ini!" Andra memesan seporsi lumpia yang disajikan pada kertas kecil dengan sebatang lidi sebagai alat makannya.

__ADS_1


"Berapa Bu?' Andra bertanya kepada penjual lumpia sambil mengarahkan tangan ke sakunya hendak mengambil uang.


"Lima ribu saja Mas" jawabnya.


Andra lalu menyerahkan selembar uang kertas pecahan sepuluh ribu dan memberikannya ke pedagang itu.


"Kembaliannya ambil saja Bu!"


"Suksma Mas!" Ibu itu tersenyum senang.


"Suksma mewali!" Andra terkekeh


"Apa artinya sayang?" Amel tertawa kecil mendengar perbincangan Andra dengan ibu pedagang lumpia.


"Artinya terimakasih sayang!" Andra lalu menyuapi Amel sepotong lumpia yang baru dibelinya itu.


Amel membulatkan matanya ketika lumpia masuk ke mulutnya.


"Kenapa sayang, nggak enak ya?" Andra terkejut melihat ekspresi Amel.


"Haahh... pedas sayang, ini ada cabainya!" Amel membuka mulutnya karena merasakan pedas di lidahnya.


Andra hanya tertawa melihat Amel lalu mengambilkan botol air mineral yang memang mereka bawa sebelumnya dari villa.


Matahari sudah cukup tinggi dan sinarnya sudah memenuhi seluruh area pantai.


"Sayang kita cari sarapan disini saja ya!?" Andra mengajak Amel beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju sebuah warung makan tak jauh dari pantai itu.


Para pembeli sudah terlihat antre disana. Warung nasi campur itu memang terkenal enak disana. Andra lalu memesan dua porsi nasi campur dan makan di tempat itu.


Usai sarapan Andra memacu motornya mengarah ke rumah tantenya, namun tiba tiba Andra menghentikan motornya di depan sebuah studio tatto.


"Sayang aku pasang tatto satu saja boleh ya?" Andra menoleh ke Amel yang duduk dibelakangnya masih di atas motor.


"Memangnya mau tatto seperti apa sayang?" Amel balik bertanya.


"Aku ingin menulis namamu di tanganku" Jawab Andra dengan sangat meyakinkan.


Amel hanya tersenyum mengangguk dan mereka masuk ke studio itu bersama.


Mereka berdua akhirnya memutuskan sama sama memasang tatto. Andra menulis nama Amelia di pergelangan bagian dalam tangan kanannya dan Amel menulis nama Andra juga di tangan yang sama.


Walau merasakan perih saat tinta tatto menempel di kulitnya, Amel tetap tersenyum senang. Hal hal sederhana yang dilakukannya bersama Andra membuatnya merasa sungguh bahagia.


Amel nampak murung saat tiba di villa setelah seharian itu mereka jalan jalan dan berbelanja oleh oleh.


"Sayang kamu kenapa kok cemberut begitu, capek ya?" Andra yang menyadari itu lalu memeluknya dan mencium pipi Amel.


"Sayang sekali besok kita sudah harus kembali ke Jakarta, padahal besok itu hari ulang tahun pernikahan kita. Harusnya kita masih bisa merayakannya disini." Amel menghela nafasnya pelan. Andra hanya tersenyum tanpa arti.


Hari berganti, Amel sudah mengemas barang barangnya dan juga kopernya. Mereka lalu berpamitan pada Tiara dan Danu serta semua orang di rumah itu.


Mereka melambaikan tangan saat sudah masuk ke mobil yang melaju keluar dari rumah Tiara.


"Bli Gede, kita bukan ke bandara ya... kita ke Ubud dulu, kami extend satu malam di Ubud besok baru kami akan ke bandara" Perintah Andra ke supirnya dan membuat Amel sangat terkejut.


"Apa sayang, kita nggak jadi balik hari ini??" Amel membulatkan matanya.


"Iya sayang!" Andra menjawab sambil tersenyum.


"Lalu tiket kita?" Amel masih tak percaya.


"Aku sudah urus semuanya sayang.....besok kita baru akan kembali ke Jakarta!"


Amel tersenyum senang lalu memeluk Andra sangat erat.


Di Ubud Andra sudah mempersiapkan kejutan manis untuk Amel. Dia menyewa sebuah private villa dan memesan paket honeymoon disana. Kamar mereka dihias rose petal berbentuk hati dan juga lilin aromatherapy, Romantic dinner dengan banyak lilin dan bunga di pinggir kolam renang yang menghadap ke lembah Sungai Ayung yang hijau, serta floating breakfast di kolam renang pada keesokan harinya.


Seolah tak ada kata lain yang ingin terucap di bibir Amel selain bahagia. Kejutan kejutan romantis dari Andra membuatnya merasa seperti seorang ratu di hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.

__ADS_1


__ADS_2