Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Satu Rahasia Kini Sudah Terbongkar


__ADS_3

"Stop! berhenti Nyonya! Anda tidak boleh masuk!" Seorang security menahan langkah Julia Mueller saat ia memasuki gedung kantor PJA Contractor.


Julia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah security yang menghalanginya jalannya, ia mengibaskan rambutnya dan melepaskan kaca mata hitam yang dikenakannya lalu menatap tajam ke arah security yang menghadangnya.


"Oh maaf Nyonya Julia, silahkan masuk!" security itu seketika membungkukkan badannya setelah mengenali wanita yang tadi sempat dihadangnya dan tak diizinkannya masuk.


"Bagus kau masih mengenaliku!" Ucap Julia acuh lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan Presiden Direktur kantor kontraktor kenamaan itu.


Beberapa orang karyawan yang ditemui Julia sepanjang jalan masuk ke kantor itu hanya menatapnya bingung, tidak ada lagi yang berani menghalangi jalannya, raut misterius dan sorot mata tajam dari pancaran wajah Julia terlihat begitu mengerikan sehingga mereka enggan menyapanya.


"Pak Rizal sedang ada rapat penting Bu, Anda tidak membuat janji sebelumnya jadi mohon menunggu disini sebentar.sampai rapatnya selesai!" Seorang sekretaris dengan sopan menyuruhnya menunggu setelah ia mendapatkan perintah dari atasannya.


"Berapa lama?" Tanya Julia singkat.


"Sekitar 15 menit lagi Bu" Jawab sekretaris itu. Julia hanya mengangguk lalu duduk di sofa ruang tunggu.


20 menit menunggu, Julia belum juga dikabari oleh sekretaris itu. Ia mulai terlihat gelisah lalu melangkah mendekati mejanya.


"Belum selesai?" Tanya Julia lagi sambil melempar tatapan sinis. Sekretaris itu langsung nampak gugup dan melirik jam tangannya.


"Mungkin se... sebentar lagi Bu, mo...mohon bersabar!" jawab sekretaris itu terbata karena kikuk dan takut melihat sorot mata Julia yang terlihat sangat aneh dan mengerikam seolah ingin menerkamnya.

__ADS_1


Julia tak kembali ke sofa ruang tunggu namun ia tetap berdiri di depan meja kerja sekretaris itu sambil mengilangkan kedua tangannya di dadanya.


Sudah 30 menit lamanya ia menunggu, wajahnya mulai terlihat kesal, kesabarannya sepertinya sudah hilang. Tanpa memperdulikan sekretaris itu ia melangkah masuk menuju ruangan Presdir.


"Jangan masuk dulu Bu, Pak Rizal belum menyelesaikan rapatnya!" Sekretaris itu berusaha menghalanginya namun Julia tidak mengindahkannya. Lagi lagi Julia menatapnya sambil tersenyum sinis.


Julia lalu mengeluarkan sebuah kartu dari dalam tasnya dan menunjukkannya pada sekretaris itu. Kartu itu adalah kartu tanda pengenal untuk para tamu VIP di perusahaan itu.


Sekretaris itu langsung terdiam, ia tahu yang bisa memiliki kartu seperti itu hanya orang orang yang punya kedudukan atau peranan penting di PJA dan sekretaris itu tidak berani lagi menghalangi langkah Julia untuk masuk setelah Julia memperlihatkan kartu itu padanya.


Tepat di depan pintu masuk ruangan Presdir PJA Julia tiba tiba menghentikan langkahnya. Suara teriakan keras seorang pria terdengar begitu menusuk telinganya. Suara berat seorang pria yang tengah marah dan sudah sangat dikenalnya.


****


Rizal menepuk kasar pundak seorang pria yang mengenakan hoodie dan celana jeans dan sedang berdiri berdiri di hadapannya.


"Kau itu betul betul sangat ceroboh! Aku tidak menyangka kau bertindak gegabah seperti ini!" Rizal nampak sangat marah.


"Harusnya kau berfikir dulu masak masak sebelum bertindak, sekarang lihat apa yang kau dapatkan hah?! Kau sudah salah sasaran! Kau sudah menghilangkan nyawa seseorang yang tak berdosa dan polisi pasti akan terus mengejarmu!" Rizal menudingkan telunjuknya ke wajah pria itu. Namun pria itu hanya diam tak berani berkata apapun.


"Aku baru saja berhasil mengeluarkan mu dari penjara, tapi...., kalau sampai karena hal ini kau masuk penjara lagi, jangan harap aku akan mengeluarkanmu lagi Pram!" Rizal berteriak keras karena kemarahannya yang teramat terhadap putra sambungnya itu.

__ADS_1


"Seharusnya aku sudah berhasil mengenyahkan Andra Pa, tapi sial... wanita itu menyelamatkannya!" Pramana akhirnya berani berbicara berusaha membela diri.


"Ahhhhh..... kau itu memang sangat bodoh Pram, sangat ceroboh!" Rizal membalikkan badannya membelakangi Pram tak mau menatapnya.


"Sebaiknya sekarang kau pergilah Pram.....! Pergi jauh tinggalkan kota ini! Jangan sampai polisi menangkapmu lagi" Suara Rizal mulai terdengar datar.


"Kalau kau sampai tertangkap, bukan hanya kau yang akan masuk penjara, tapi perusahaan ini juga akan kehilangan nama baik! Cukup...! kau jangan coreng namaku lagi dengan kebodohanmu itu!" Ucap Rizal penuh amarah.


Pramana menarik nafas panjang, kemarahan itu juga terlihat di matanya.


"Baik Pa aku akan pergi...! Tapi aku pergi bukan untuk bersembunyi seperti seekor tikus got! Aku bukan pengecut seperti Andra" Pram berdecak penuh amarah.


"Ingat janjiku Pa, aku akan kembali! Aku akan melanjutkan permusuhan ku dengan Andra." Tegas Pram dengan suaranya yang bergetar menahan kebenciannya terhadap Andra karena telah menjebloskannya ke dalam penjara.


"Sebaiknya kau cepat pergi Pram..... Aku tak mau ada yang melihatmu disini!" Bentak Rizal lagi.


Pramana lalu segera memasang topi hoodienya untuk menutupi wajah dan kepalanya dan melangkah keluar dari ruangan itu.


Saat tiba di pintu langkahnya terhenti setelah melihat seorang wanita yang kini berdiri di hadapannya. Julia menatap Pram dengan tatapan misteriusnya sambil memasang senyum sinis di bibirnya.


Pramana tak ingin membalas tatapan Julia karena ia merasa tidak mengenal wanita itu dan segera memalingkan wajahnya sambil terus melangkah meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Julia masih terus memperhatikan Pramana yang sudah jauh melangkah meninggalkannya. Seorang wanita terlihat menyusul langkah cepat Pramana namun Julia juga tidak mengenali siapa wanita itu.


__ADS_2