
Hari pernikahan Andra dan Amel pun tiba. Upacara akan dilaksanakan di kediaman Firmanto. Sesuai permintaan Andra acara pernikahan digelar sangat sederhana. Hanya kerabat dekat dan beberapa relasi yang diundang. Hiasan dari rangkaian bunga dan janur juga sudah terpasang di rumah itu, walaupun sederhana tapi semuanya tetap terlihat sangat indah.
Sebuah mobil berhiaskan bunga dan pita memasuki kediaman Firmanto. Andra turun dari mobil itu dengan menggunakan kemeja biru muda dan jas pernikahan berwarna krem. Meski sederhana namun ketampanannya tetap terpancar saat mengenakan pakaian pengantinnya itu.
Sementara itu di kamar Amelia, make up artist sudah selesai meriasnya. Kebaya putih yang dipakainya nampak serasi dengan sanggul rambutnya yang dihias bunga melati. Polesan make up natural membuat wajah Amel nampak bersinar dan terlihat sangat manis. Amel duduk di kursi di depan sebuah cermin berukuran besar memandangi dirinya. Mayra berdiri disebelahnya dan tak henti hentinya memuji kecantikan sahabatnya itu.
"Mel... sumpah lo cantik banget pake pakai pakaian pengantin seperti ini" ucapnya sambil merapikan bunga di rambut Amel.
Amel hanya terdiam, matanya mulai berkaca kaca, raut kesedihan kini tampak di wajah cantiknya itu.
"Bukan pernikahan seperti ini yang gue inginkan May...., dari kecil gue bermimpi menjadi seorang Cinderella di hari pernikahan gue. Gaun yang indah, altar yang megah, pernikahan yang mewah, semuanya tinggal mimpi May..!" Kini air mata mulai menetes membasahi pipinya.
"Mel... elo jangan sedih seperti ini.... senyum dong..!! came on ini hari bahagiamu.. dan siapa bilang lo bukan seorang cinderella?! Mel... lu sangat beruntung bisa menikah dengan seorang pangeran... bahkan pangeran yang sangat tampan. Semua wanita pasti iri padamu Mel.. termasuk gue..!" Mayra berusaha menghibur sahabatnya itu.
Ketukan pintu terdengar ketika itu. Firman masuk dan mendekati Amel dan Mayra.
"Sayang...kamu sudah siap? Andra sudah datang, ayo cepetan turun, upacaranya akan segera dimulai!" Firman meraih tangan putrinya namun Amel masih diam tak mau bangun dari tempat duduknya.
"Ayo sayang... semua orang sudah menunggumu!" Firman mengangkat dagu Amel yang tertunduk murung dengan dua jarinya.
"Pa... kenapa harus secepat ini? Aku belum siap aku masih ingin sama papa disini" ucap Amel dengan tatapan sedih.
"Jangan bilang begitu sayang.... kau tetap putri kesayangan papa" Firman tetap membujuk.
Dengan wajah yang masih murung Amel pun turun ke tempat acara pernikahan akan di gelar. Penghulu dan beberapa saksi sudah bersiap menanti Amel. Amel duduk bersanding di sebelah Andra yang sudah lebih dulu duduk disana. Sekilas Amel menatap wajah Andra, wajah itupun terlihat datar, tak nampak raut kebahagiaan seperti pasangan yang akan menikah pada umumnya.
Acara pernikahan berjalan lancar.
"Andra... papa serahkan tanggung jawab menjaga putri papa kepadamu sekarang. Tolong jaga dia seperti papa menjaganya selama ini." Firman memeluk Andra memberikan semua restunya.
"Baik pa.. Aku janji akan menjalankan semuanya dengan penuh tanggung jawab, Aku akan terus berusaha membahagiakan Amel." Andra pun sudah harus membiasakan dirinya memanggil papa kepada Firman mulai saat itu.
Isak tangis Amel pecah ketika dia sudah harus menjnggalkan rumah itu.
Andra menggandeng tangan Amel lalu membantunya naik ke mobil yang akan membawanya ke kediaman Hadiwiguna. Selama perjalanan mereka berdua tak banyak bicara, mereka lebih banyak diam dan sangat canggung meskipun mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri.
Tiba di kediaman Hadiwiguna, Andra langsung membawa Amel ke kamarnya. Kamar itu pun tidak dihias layaknya kamar pengantin, hanya ada beberapa vas bunga yang dipasang di meja. Kamar Andra memang tidak seluas kamar Amel di rumah papanya, namum penataan ruangan itu cukup nyaman sehingga Amel tak mengeluhkan apapun tentang itu.
__ADS_1
Amel duduk di kursi di depan cermin meja rias sambil melepaskan hiasan di rambutnya lalu Andra pun mulai mendekatinya ingin mengajaknya bicara dan mencairkan suasana yang begitu terasa canggung diantara mereka.
"Mel...maafkan aku... aku tahu ini semua tidak seperti yang kamu inginkan... dan aku juga ada di posisi yang sama sepertimu saat ini." Andra menyentuh pundak Amel sambil menatap wajah wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu melalui bayangannya di cermin.
Amel bangun dari duduknya, menampik tangan Andra lalu menatapnya dengan pandangan penuh kekecewaan. "Iya....ini semua salahmu...!! Kau yang membuat aku terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah aku inginkan ini!!" Amel berbicara keras sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah Andra. Air mata mulai bercucuran dari kedua bola matanya tanda luapan emosinya yang tak dapat ia bendung lagi. Andra hanya diam tak menanggapi amarah Amel. Di hembuskannya nafasnya pelan lalu melangkah menjauh dari Amel.
"Lalu.... aku mesti gemana sekarang Mel? Bagaimanapun juga kau sudah menjadi istriku sekarang." Andra tetap berusaha berbicara tenang.
"Keluar dari sini....! Aku tidak mau melihatmu..., menjauhlah dariku! Aku benci sama kamu Andra!!" Nada suara Amel makin meninggi.
"Baiklah aku akan keluar... aku kasih kesempatan agar kau bisa menenangkan diri dulu, setelah ini kita akan bicara lagi!" Andra lalu melangkah keluar dari kamar itu. Dengan langkah pelan lalu Andra masuk ke kamar ayahnya. Andra meraih foto almarhum ayahnya dan mengusapnya pelan.
"Ayah.... sekarang Andra sudah menikahi Amel sesuai permintaan Ayah. Andra yakin Ayah pasti menginginkan yang terbaik untuk Andra, sekarang tolong tuntun Andra menjalani semua ini supaya Andra tidak salah jalan Yah..." tiba tiba Andra merasakan rindu yang teramat sangat kepada ayahnya. Dipeluknya erat foto ayahnya.
Andra tetap berada di kamar itu hingga tanpa sadar diapun tertidur di ranjang ayahnya.
Keesokan harinya Andra terbangun dan langsung bersiap berangkat ke kantor. Dia keluar dari kamar ayahnya lalu menuju meja makan untuk sarapan.
"Bi Nur, Amel belum bangun ya?" Andra bertanya ke Nur yang saat itu masih di dapur.
"Daritadi Bibi belum ada lihat Non Amel keluar dari kamar Den, sepertinya memang masih tidur." Nur menyadari kalau tuan mudanya itu semalam tidak tidur sekamar dengan istrinya.
"Gak apa apa Bi.. lagian dari semenjak ayah mulai sakit aku jarang ke kantor.. banyak yang harus dikerjakan" Andra meneguk segelas jus yang baru saja disuguhkan oleh Nur.
"Aku berangkat dulu Bi... nanti kalau Amel bangun tolong layani dia dan kenalin semua tentang rumah ini. Ini hari pertama dia disini, banyak hal yang Bibi mesti tunjukin ke dia!" Andra meraih tas laptopnya lalu berangkat ke kantor.
Amel baru saja membuka matanya, sinar matahari sudah masuk ke kamar itu melalui celah celah jendela kamar Andra yang memang mengarah ke arah matahari pagi muncul. Amel memicingkan matanya yang masih terasa berat.
"Aku ketiduran rupanya.. semalam aku tak dapat tidur sama sekali" pikirnya. Perlahan dia bangun dari tempat tidur dan menuju ke jendela kamar itu. Dibukanya tirai yang dari tadi malam tertutup rapat. Jendela kamar itu menuju ke area balkon dan dari sana terlihat halaman rumah Hadiwiguna yang sangat luas dan asri. Kicauan burung burung dan warna hijau dedaunan yang tertata apik di taman depan rumah itu membuat suasana pagi itu sangat menenangkan baginya.
Ketukan pintu membuyarkan sejenak lamunannya.
"Non Amel... sudah bangun?" Sebuah suara muncul dari balik pintu begitu Amel membukanya.
"Non saya Nur.. panggil saja Bibi Nur, saya pelayan disini. Kalo Non butuh apa apa Non panggil saya ya."
"Aku mau mandi dulu Bi..., ohya Andra mana Bi?" Meskipun tidak terlalu perduli Amel tetap menanyakan keberadaan pria yang sudah jadi suaminya itu.
__ADS_1
"Den Andra sudah berangkat ke kantor Non... katanya banyak hal penting yang harus dikerjakan di kantor." Nur menjawab jujur.
"Oh.... iya udah Bi, aku mau mandi sekarang, sebentar lagi aku turun." Jawabnya seraya menutup pintu kamar itu kembali.
Amel keluar dari kamarnya. Pandangannya menyapu setiap sudut di rumah itu. Rumah yang juga cukup besar dengan disain klasik minimalis yang sangat elegan meski bukan sebuah rumah baru tapi terlihat masih sangat bersih dan terawat dengan baik. Sejenak Amel berkeliling di area rumah itu, rumah yang masih sangat asing baginya.
"Non Amel mau Bibi siapkan sarapan?" Nur menyapanya saat ia masuk ke ruang makan.
"Iya Bi... tolong buatkan teh lemon panas ya" Amel duduk dan Nur pun bergegas membuatkan teh untuknya.
"Kok sepi ya Bi? Pelayan yang lain mana ya? Cuma Bi Nur aja yang kulihat dari kemarin?" Amel bertanya lagi.
"Bibi cuma sendiri disini Non, sama Kang Usman supirnya almarhum Tuan Joddy.
"Rumah sebesar ini pelayan cuma satu Bi??" Amel heran.
"Iya Non Bibi sudah biasa. Dulu ada beberapa orang yang kerja disini, tapi udah pada keluar dan ada juga yang ditarik jadi OB di kantor Tuan" Nur menyuguhkan beberapa potong roti kepada nyonya barunya itu.
******
Di lantai 25 Gedung Prima Go, Andra yang sudah tiba di kantornya langsung sibuk dengan beberapa pekerjaan yang sempat ia tinggalkan.
"Andra... kau sudah masuk kerja?" Firman langsung masuk ke ruangan Andra saat mengetahui menantunya masuk kerja di hari pertama setelah menikah.
"Iya pa...banyak hal yang harus aku kerjakan" Andra menjawab pelan sambil tetap sibuk di layar laptopnya.
"Amel bagaimana?" Firman mendekati Andra dan duduk di kursi depan meja kerjanya.
"Baik pa" Andra menjawab singkat.
Melihat sikap Andra, Firman bisa memahami kalau antara Andra dan putrinya belum terjalin kedekatan meski sudah menikah.
"Ehmm... baiklah kalau begitu cepat selesaikan pekerjaanmu ya.. lalu cepatlah pulang, kau harus ingat sekarang ada seorang istri yang sudah menunggumu di rumah." Lanjutnya lagi sambil melangkah meninggalkan ruang kantor Andra.
Beberapa hari berlalu hubungan Andra dan Amel tetap dingin dan tak banyak komunikasi terjalin diantara mereka. Andra lebih memilih menghabiskan waktu di kantor mengurus dua perusahan yang jadi tanggung jawabnya selama ini. Sementara Amel hanya memikirkan kesenangannya sendiri bersama teman temannya.
Tiap malam Andra tidur di kamar almarhum ayahnya di lantai 1 sedangkan Amel tidur di kamarnya di lantai 2.
__ADS_1
Firman pun menyadari ketidak harmonisan hubungan pernikahan Andra dan Amel. Sebagai satu satunya orang tua untuk mereka, adalah tanggung jawabnya memperbaiki hubungan itu dan dia mulai memikirkan berbagai cara agar pernikahan Andra dan Amel bisa menjadi sebuah hubungan yang indah.