
Sabtu pagi di kediaman Firmanto, Amel sudah rapi dengan pakaian olahraganya.
"Mau kemana sepagi ini sayang?" Firman heran tidak biasanya Amel bangun sepagi itu bahkan sudah bersiap akan pergi.
Amel memang sangat dimanja oleh Firman sedari kecil. Mamanya Amel meninggalkan mereka saat Amel baru berusia 6 bulan, Firman memutuskan tidak menikah lagi dan merawat Amel sendirian. Saat itu Firmanto bukanlah apa apa, dia hanya pria miskin namun memiliki tekad besar untuk menjadi orang sukses. Kegetiran di masa lalunya itulah yang membuat dia bekerja keras, jatuh bangun mengembangkan perusahan sendiri, meskipun menjadi single parent dalam keadaan seperti itu bukanlah hal yang mudah baginya. Justru saat kesuksesan diraihnya, hidup bergelimang harta membuat sikapnya sedikit berlebihan dalam mendidik putrinya itu. Apapun yang Amel inginkan selalu dipenuhi oleh Firman. Selain itu secara tidak langsung Firman juga menanamkan kebencian di hati anaknya itu kepada mantan istrinya yang tega meninggalkan mereka saat mereka susah. Hal inilah yang membuat terkadang Amel bersikap angkuh dan sombong, terlalu dimanja oleh papanya juga membuat Amel tumbuh jadi anak yang sangat emosional.
"Amel mau join kelas dance di Sanggar senamnya Mayra pa" Amel mejelaskan kemana dia akan pergi kepada papanya.
(Mayra adalah sahabat Amel sedari kecil, semenjak sekolah Mayra memang suka menari dan setelah lulus kuliah Mayra membuka sebuah sanggar senam dan tari yang dikelolanya sendiri)
"Pulanglah sebelum sore ya sayang... papa pengen kita makan malam bareng di rumah" pinta Firman
"Yes sure papa, aku gak lama kok siang juga sudah balik" Amel mencium punggung tangan papanya seraya berpamitan.
"Sama supir kan?" Firman bertanya lagi.
"Bukan papa.... sama pilot, kan Amel terbang naik pesawat hahahaha..." Amel terkekeh menggoda papanya yang over protected terhadapnya.
Sementara itu di kediaman Hadiwiguna, Andra juga tengah berolahraga di halaman rumahnya. Setelah lari pagi Andra melakukan beberapa kali push up dan mulai latihan angkat beban, beberapa buah dumbel berbagai ukuran berat ada di hadapannya dan satu persatu diangkatnya dengan gerakan gerakan berbeda untuk membentuk otot lengannya.
Andra memiliki postur tubuh tinggi dan sangat atletis, terbiasa latihan beban membuat otot otot tubuhnya terbentuk sempurna. Lengan yang kekar dan perut sixpack sungguh menyempurnakan kegagahannya.
Andra meneguk sebotol air putih sambil mengusapkan handuk ke tubuhnya yang basah oleh keringat tanda dia sudah selesai berolahraga.
"Andra... kemari nak!" Terdengar suara ayahnya memanggilnya.
"Sore ini jangan kemana mana ya, Om Firman mengundang kita makan malam di rumahnya" Joddy melanjukan lagi sesaat ketika Andra sudah di dekatnya.
"Makan malam? Memangnya ada apa Yah kok tumben Om Firman mengundang kita?"
"Ayah dan Om Firman merencanakan membangun perusahan baru, itulah yang akan kita bahas bersama nanti malam, tapi ini cuma makan malam santai kok Nak gak perlu terlalu formal" Joddy menjelaskan tujuan acara malam itu.
"Ke rumah Om Firman? Ehm...pasti aku akan ketemu gadis sombong itu lagi" Andra hanya menerka dalam hatinya.
Menjelang sore nampak koki dan pelayan di kediaman Firmanto sudah sibuk mempersiapkan makan malam.
"Wah... sepertinya akan ada makan malam istimewa hari ini, ada acara special apa ini pa? Papa ngundang siapa makan malam disini, persiapannya banyak banget" Amel menghampiri papanya.
"Papa ngundang Om Joddy dan Andra makan malam disini, sekalian ada suatu hal yang ingin papa bahas sama Om Joddy. Makanya tadi papa suruh kamu pulang cepet biar bisa ikut makan malam sama sama" ujar Firman.
"Ah....Andra si pria dingin itu kesini? Ih..males banget" pikir Amelia.
Waktu sudah menunjukan pukul 6 sore, Amel masih bermalas malasan di kamarnya. "Amel...kamu sudah siap sayang ini sudah jam 6?" Firman memanggil dan mengetuk pintu kamar Amel.
"Iya pa...sebentar aku ganti baju dulu" Amel bangun dari tempat tidurnya dan mulai berganti pakaian.
Mini dress warna biru muda dengan motif bunga yang dipilihnya sangat pas dengan ukuran tubuh mungilnya. Make up flawless di wajahnya menambah keanggunannya. Kulit putih mulus dan polesan lipstik glossy di bibir tipisnya membuat Amel terlihat cantik natural.
Amel keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Tak lama berselang mobil SUV Andra sudah memasuki halaman rumah itu.
__ADS_1
Ting...tong... bell rumah berbunyi, seorang pelayan membukakan pintu lalu mempersilahkan Joddy dan Andra masuk.
"Silahkan masuk tuan... di dalam Tuan Firman sudah menunggu" sambut pelayan itu dengan ramah.
"Kalian sudah datang rupanya" Firman pun menyambut mereka sambil memeluk Joddy dan Andra bergantian.
"Selamat datang Om... Om Joddy apa kabar?" Amel mencium tangan Joddy.
"Kabar baik Amel..." Joddy menatap Amel sambil tersenyum.
"Amel kau cantik sekali... beruntung sekali Firman memiliki putri secantik bidadari" pujian Joddy membuat Amel tersipu malu. "Ah.. Om Joddy bisa aja" tungkasnya
"Kau juga sangat beruntung memiliki putra setampan ini" tak mau kalah Firman ikut memuji Andra sambil menepuk pundaknya. Andra terkekeh membalas senyum Firman.
"Ayo kita langsung saja ke meja makan" Firman menunjukan jalan menuju ruang makan.
Kediaman Firmanto sangat besar dan mewah bak istana, furniture furniture mewah dan hiasan hiasan bernilai tinggi ada di setiap sudut ruangan.
Di meja makan, berbagai jenis makanan lezat sudah tersaji. Para pelayan menarik kursi dan mempersilahkan mereka duduk, menuangkan air putih di gelas lalu memasangkan table napkin di pangkuan mereka layaknya pelayanan restaurant fine dinning, kemudian menyuguhkan makanan pembuka.
"Aku senang sekali kalian bisa datang kesini" Firman mulai membuka pembicaraan.
"Kami juga senang diundang kesini" Joddy menimpali.
Keduanya lalu asik bercakap cakap dan bercerita apa saja layaknya dua sahabat lama, namun Andra dan Amel hanya diam.
"Amel memang sangat cantik, matanya indah dan bibirnya itu...ah .. sangat seksi" batin Andra memuji "cantik... namun sangat sombong"
Rupanya tak berbeda dengan Amel, dia bahkan lebih berani menatap mata Andra saat tak sengaja pandangan mereka bertemu. "Pria ini sebenarnya cakep juga... tapi sikapnya sangat dingin, gak asyik sama sekali" gumamnya dalam hati.
"Jadi Andra... tujuan Om ngundang kalian kesini sekalian mau bahas rencana Om membuka perusahan baru. Om dan ayah kamu sudah lama berencana mengembangkan sebuah Agen property. Om mau kau yang menjalankannya Ndra"
Ucap Firman sambil menyeruput kuah sup dari sendoknya.
"Uhuk...uhuk..." Andra tersedak karena kaget saat Firman menyebut namanya. Lamunannya terhenti seketika itu.
Dengan cepat diraihnya gelas di depannya dan meneguknya sampai habis.
"Memangnya Andra bisa apa Om?" Andra baru bisa menjawab pertanyaan Firman ketika rasa tersedaknya sudah hilang.
"Om salut sama kamu Andra, baru 6 bulan kamu menangani perusahan ayahmu, tapi kamu sudah bisa mengambil lagi 10% dari saham yang dulu Om beli dari ayahmu itu. Mungkin setahun lagi sahammu 100% sudah akan kembali. Om gak mau rugi dong...! Haha...." Jadi om mau menginvestasikan bagian Om untuk kamu jadikan perusahan baru, anak perusahan Prima Go." Firman langsung to the poin menceritakan rencananya.
"Andra... Om Firman ini pebisnis handal, kamu harus banyak belajar dari dia!" Joddy juga mendukungnya.
"Andra hanya tahu sedikit tentang property Om, kejadian demo kemarin membuat Andra mulai mempelajarinya walau cuma melalui internet." Andra berbicara merendah.
"Om tahu kamu bisa belajar dengan cepat Ndra... kamu itu pemikir yang hebat" puji Firman.
"Dulu... blok B di lantai 25 Prima Go itu sengaja Om kosongkan, rencananya Om memang akan bangun perusahan baru tapi Om belum punya ide mau buat apa. Meskipun kalian sekarang berkantor disana, tapi masih banyak ruangan yang kosong. Kamu bisa manfaatkan itu untuk perusahan baru ini Ndra" sambil mulai menikmati makanan utama, Firman terus mengutarakan tujuannya.
__ADS_1
"Maaf Om, Andra rasa kalau cuma perusahan agen property, kita tidak memerlukan ruangan besar untuk kantor Om" Andra menyanggah ucapan Firman dengan santun.
"Ehmm.... lalu?" Firman ragu.
"Sekarang kan semua hal bisa dikerjakan melalui ponsel Om, usaha seperti itu bisa dijalankan secara online melalui aplikasi khusus" Andra kembali menunjukkan kepintarannya. Yang ada di pikiran Andra memang lebih banyak tentang tekhnologi, karena ia adalah lulusan S1 cumlaude di salah satu universitas IT terkemuka di Jakarta.
"Tidak perlu mempekerjakan banyak orang Om, internet bisa jadi marketing paling jago untuk mencari dan menjual property. Promosi juga akan jauh lebih mudah. Mungkin yang kita butuhkan hanya beberapa orang pekerja lapangan untuk meninjau langsung property yang akan kita perjual belikan. Nah, aplikasinya juga bisa kita link kan dengan aplikasi jasa maintenace yang sudah kita jalankan di Prima Go, jadi selain membeli property, pelanggan kita juga sekaligus bisa merawat propertynya melaui kita" dengan lugas Andra menjelaskan gagasannya.
Untuk kesekian kalinya Firman sangat takjub dengan pemikiran Andra.
"Wahh...Luar biasa..., betul betul ide yang luar biasa.... Andra... Om beruntung sekali bisa bekerjasama denganmu."
"Lalu apa idemu untuk memberi nama perusahan ini?" Joddy ikut bertanya.
"Ehm... karena ini berawal dari ide Om Firman dan Ayah, jadi aku ingin menamainya FH Property. Itu inisial nama Firmanto dan Hadiwiguna tapi yang akan kita angakt ke publik FH itu adalah singkatan dari FEELING HOMEY. Misinya agar setiap pelanggan kita akan merasakan kesan nyaman bila membeli property dari kita"
"Wow.... Joe... aku speechless dengan kepintaran putramu .... ini sungguh lebih dari sekedar luar biasa tapi super luar biasa!" Tak henti hentinya Firman memuji Andra dihadapan Joddy.
Sesekali Firman melirik ke arah Amelia saat memuji Andra. Dia sangat berharap kekagumannya itu juga bisa dirasakan putrinya.
Namun Amel hanya diam dan asik menikmati makanannya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan bisnis papanya dengan Andra.
"Sok pintar! kemampuan segitu aja udah ngerasa hebat" hatinya mengumpat kesal.
Makan malam selesai mereka lalu duduk santai di area kolam renang. Tempat itu amat tenang, hembusan angin malam dan suara gemericik air dari saluran kolam membuat suasana makin terasa nyaman.
"Joe... disini udaranya agak dingin, sebaiknya kita bicara berdua di dalam dan biarkan putramu bersama Amel disini" Firman memberi kode ke Joddy agar memberi kesempatan anak mereka berdua saja. Joddy pun mengikutinya.
Setelah Firman dan Joddy masuk, kini tinggallah Andra dan Amel berdua di tempat itu. Namun keduanya pun tak saling bicara mereka hanya sibuk menatap layar ponselnya masing masing.
Lama hening, lalu Andra mulai berusaha mencairkan suasana.
"Bagaimana kuliahmu di Aussi Mel?" membuka percakapan.
"That's good" jawab Amel singkat sambil terus memandang layar ponselnya karena dia tahu pertanyaan Andra hanya basa basi.
"Cuma itu?" Andra bertanya lagi.
Amel mengangkat kepalanya lalu berbicara pelan "ya tentunya kuliah di luar negeri itu lebih bergengsi daripada disini, apalagi cuma kuliah di kota kecil sepertimu. Cih... gak level!" Ucap Amel dengan nada yang sangat menyombongkan dirinya dan mengejek Andra.
Mendengar itu Andra langsung terdiam dan tak ingin bertanya lagi "benar benar wanita sombong" batin Andra mengumpat.
Suasana kembali hening. Andra enggan bertanya lagi melihat tinggkah sombong Amelia.
Acara makan malam itu pun selesai. Andra bersama Ayahnya pun pamit pulang.
Andra membukakan pintu penumpang depan mobilnya, Joddy masuk lalu memasangkan seat belt. Andra duduk di kursi kemudi karena mereka memang sudah tidak pernah memakai supir lagi kala bepergian.
Andra membuka kaca depan mobilnya seraya melambaikan tangan ke arah Firman. Firman pun membalas lambaian itu sambil tersenyum.
__ADS_1