Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Menyimpan Rahasia


__ADS_3

Hari beranjak siang namun langit tampak berawan sehingga suhu udara terasa sejuk.


Julia Mueller menyeret langkahnya lebih cepat masuk ke kantor pengacaranya dengan sebuah map yang ia pegang dalam dekapannya.


"Siang Bu Julia, silahkan masuk, Pak Erwin sudah dari tadi menunggu anda!" Sapa seorang sekretaris di depan ruangan pengacara itu dan mengantarkannya masuk.


Julia Mueller lalu menuju kursi yang ditunjukkan oleh sekretaris itu dan dihadapannya Erwin sang pengacara berdiri sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat siang Bu Julia, bagaimana kabar anda? senang bisa bertemu dengan anda lagi" sapanya lalu menengadahkan tangannya mempersilahkan Julia duduk.


"Siang Pak Erwin, kabar saya baik!" Jawab Julia Mueller singkat sambil menjabat tangan Erwin dan duduk di hadapannya.


"Maafkan saya terlambat!"


"Piuhh.... it was crazy traffic on the road!" lanjutnya lagi dengan wajahnya yang nampak lelah setelah melewati kemacetan jalanan ibu kota.


"Beginilah Jakarta Bu Julia masih selalu sama, macet dimana mana!, dan...., sudah berapa lama anda tidak pernah pulang ke tanah air?" seperti itu pertanyaan basa basi Erwin menanggapi keluhan Julia.


"Sudah lebih dari lima belas tahun saya tidak pernah pulang ke Indonesia Pak Erwin" Julia juga menanggapi Erwin dengan jawaban basa basinya.


Julia menyerahkan map yang sedari tadi ada di tangannya kepada Erwin lalu keduanya terlibat pembicaraan yang cukup serius.


Beberapa menit kemudian Erwin menarik nafas panjang dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Kalau boleh saya tahu..., kenapa baru sekarang anda tertarik menuntut harta anda setelah sekian tahun lamanya Bu Julia?" tanyanya kepada Julia yang masih menampakkan wajah seriusnya.


"Saya ingin bisa membantu para penderita kanker di seluruh dunia Pak Erwin, banyak penderita kanker di luar sana yang tidak beruntung bisa mendapatkan pengobatan yang baik!" jawab Julia tulus.


"Pengalaman saya pernah mengidap kanker dan diabaikan oleh keluarga saya membuat saya ingin sekali membantu mereka!" Julia melanjutkan kalimatnyanya lagi dan wajahnya kini tampak sendu. Pengalaman buruk itu sungguh pahit dan selalu ada dalam ingatannya.


"Semua aset ini atas nama anda Bu Julia, dan anda mempunyai hak sepenuhnya untuk mengambilnya!" Ucap Erwin lagi. "Tapi selama ini mantan suami anda masih menikmati manfaat dari aset itu, termasuk rumah yang ditinggali mantan suami anda sekarang sebenarnya itu adalah hak anda juga. Tapi sebelum anda mengambil semuanya, ada baiknya anda bertemu dengannya terlebih dahulu untuk membicarakan semua ini." Erwin memberi saran.


"Tentu Pak Erwin, saya memang berencana menemuinya tapi setelah saya kumpulkan semua aset aset yang menjadi hak saya!" tegas Julia dengan kata kata penuh makna.


Setelah mendapatkan semua informasi yang dibutuhkannya, Julia Mueller lalu meninggalkan kantor pengacaranya itu. Mobil taksi online yang ditumpanginya melaju pelan melewati ruas jalanan Kota Jakarta yang masih padat kendaraan. Julia mengarahkan pandangannya ke luar melalui jendela mobil, dia memandang takjub Gedung Prima Go Construction yang nampak berdiri sangat megah di sisi jalan yang dilewatinya. Entah apa yang ada dalam pikirannya, pandangan matanya hanya tertuju ke gedung itu seolah tak ingin berkedip sekalipun. Seulas senyum penuh makna nampak jelas di bibirnya sampai akhirnya gedung itu sudah tidak nampak lagi dari pandangannya, karena meski lamban taksi yang ditumpanginya itu terus melaju.


"Berhenti sebentar disini Pak!" Serunya kepada supir taksi sambil menepuk kursi kemudi di depannya. Taksi itu kini berhenti tepat di depan gedung kantor Pilar Jaya Anugerah. Julia Mueller membuka kaca mobil dan pandangannya menyapu seluruh area kantor itu.


"Rizal Nugroho..... kau orang yang pertama kali akan aku temui setelah ini!" Gumamnya sambil terus memandangi pintu masuk kantor PJA. Senyum misterius itu kembali terulas di bibirnya.


"Ibu mau turun disini?" Ia mendengar pertanyaan dari supir taksi yang serentak membuyarkan semua lamunannya.

__ADS_1


"Oh tidak pak! Ayo kita jalan lagi!" Perintahnya. Taksi itu pun kembali melaju menuju tujuannya.


*****


Di kantor AMP, Amel dan Mayra terlihat sibuk dengan komputernya masing masing. Mayra sibuk dengan list entertainment nya sedangkan Amel sibuk membuat rundown acara yang akan ditanganinya selanjutnya.


Amel mengerutkan keningnya karena saking fokusnya dengan hal yang sedang dikerjakannya, banyak permintaan dari clientnya untuk merubah rundown itu.


"Eh Mel lo serius amat..... muka ampe ditekuk begitu! Baru sehari ditinggal keluar kota sama Andra, udah kayak benang kusut aja muka lo itu Mel!" celetuk Mayra dengan nada menggoda melihat wajah tegang sahabatnya itu.


"Ih bukan itu kali May! Ini gue lagi sebel...!. Punya client kok permintaanya aneh aneh!, masa minta konsep acaranya diganti bertema tradisional Jawa. Minta tarian Jawa sama ada tembang Jawa pula, kita mau cari sinden dimana coba last minute begini?" Sungut Amel kesal.


Mayra sejenak terdiam lalu menggaruk kepalanya meski tidak ada rasa gatal.


"Kalau tarian Jawa sih gue bisa pelajari dari youtube Mel, terus gue kombinasikan dengan tari modern pasti ok punya!, tapi kalau nembang..., jadi sinden...?? Gue nyerah!" Tegas Mayra sambil menghembuskan nafas kasarnya.


"Siapa juga yang nyuruh elo nyinden? yang ada event kita bisa seketika hancur kalau lo yang nyanyi!" ketus Amel dengan wajah cemberut.


Mayra hanya nyengir dan terkekeh.


"Jangan sedih Mel... ini gue ada kenalan yang bisa nyinden kok..., gue ketemu dia kapan hari gitu pas acara tujuh bulanan temen gue. Dia orang asli Jogja dan baru merantau ke Jakarta." Mayra tersenyum lebar lalu menjentikkan jarinya ketika mengingat seseorang yang ia kenal dan bisa nyinden tembang Jawa.


"Dia juga lagi nyari kerjaan di Jakarta Mel, katanya sih dia ke Jakarta karena lari dari perjodohan oleh orang tuanya." Mayra bercerita lagi.


"Lo coba interview dia Mel, kalau cocok kita bisa ajak dia kerja juga disini bantu kita kan?" Mayra kini tersenyum menatap wajah amel yang mulai sumringah karena menemukan solusi untuk masalah pekerjaannya.


"Ok pastinya May!, kalau gitu lo hubungi dia, terus besok suruh datang kesini gue pengen ketemu!" perintah Amel bersemangat


"Sipppp.....!" Mayra menaikkan kedua jempolnya.


Terdengar ketukan pintu  dan Mayra bergegas bangun dari tempat duduknya untuk membukanya.


"Hi Mayra...how are you?" Julia Mueller berdiri di depan pintu lalu langsung memeluk Mayra dan cipika cipiki.


"Mrs Mueller....mari silahkan masuk!" Mayra mengajaknya masuk.


"Hi Amel.... apa kabar cantik?" Sapa Julia kepada Amel saat sudah di dalam ruangan itu. Amel juga langsung berdiri memeluk Julia sambil cipika cipiki.


"Mommy kesini nggak kasih kabar, ada apa Mom?" Tanya Amel tersenyum ramah.


"I will give you this one!" Julia Mueller lalu menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat pada Amel.

__ADS_1


"Apa ini Mom?" Amel membuka amplop itu dan menemukan sebuah surat tanda ucapan terima kasih dari yayasan penyelenggara acara amal untuk penderita kanker kemarin.


Selain itu ada juga surat lampiran rekomendasi dari yayasan itu untuk AMP.


"Oooohhh... Thank you so much Mom...! I really appreciate it!" Amel sangat senang lalu kembali memeluk Julia.


"Ini karena kerja kalian sangat bagus, Mommy sangat bangga pada kalian!" Julia bertepuk tangan lalu memegang pundak Amel dan Mayra.


Mereka lalu ngobrol yang membuat suasana akrab di antara mereka makin terasa.


"Sudah turun hujan, Mommy mau pulang dulu ya Amel dan Mayra... sebentar lagi gelap, kalian juga pasti mau pulang kan?" Julia Mueller berdiri dari tempat duduknya dan merapatkan tas di tangannya.


"Mommy tinggal dimana? Aku antar pulang ya, aku ada supir kok! kayaknya akan turun hujan deras, kasihan Mommy harus nunggu taksi lagi." tawaran itu begitu tulus keluar dari ucapan Amel.


"Mommy tinggal di apartemen tak jauh dari sini kok, jangan khawatir Mommy bisa pulang sendiri! Lagian ini kan sudah sore, pasti suamimu nungguin kan?" kilah Julia.


"Suamiku lagi perjalanan bisnis ke luar kota Mom, aku juga kesepian mau pulang ke rumah masih jam segini. Jadi jangan nolak aku antar pulang ya please!" Pinta Amel lagi sambil sedikit merengek. Julia akhirnya mengangguk menerima tawaran Amel.


Hujan turun sangat deras saat mobil Amel menerobos jalanan diantarkan oleh Pak Usman supirnya, mereka menuju ke sebuah apartemen yang di sewa Julia selama tinggal di Jakarta.


"Duduk dulu cantik..., kamu mau minum apa?" Julia menawari minuman pada Amel saat mereka sudah di dalam apartemen Julia.


"Apa aja boleh!" Amel menerima tawaran Julia dengan senyumnya dan hanya menjawab singkat.


"Mommy tinggal sendiri ya disini? Suami Mommy mana?" Tanya Amel pada Julia sambil pandangannya menyapu seisi ruangan apartemen itu.


"Suami Mommy di Jerman sayang. Dia disana super sibuk jadi nggak bisa ikut kesini." Julia hanya tersenyum lalu menyodorkan sekaleng soft drink pada Amel.


"Oh ya kamu sama suami kamu gimana? Sudah berapa lama kalian menikah?" Julia duduk di sofa di hadapan Amel dan mereka mulai berbincang lagi.


"Aku dan Andra sudah menikah lebih dari setahun, tapi baru beberapa bulan ini pernikahan kami jadi hubungan yang indah, dulu kami menikah dengan terpaksa karena papaku dan ayahnya Andra menjodohkan kami, awalnya kami nggak saling cinta, tapi akhirnya kami saling jatuh cinta juga dan aku sangat bahagia memiliki Andra, dia pria yang baik dan penuh perhatian." Mata Amel tampak berbinar saat menceritakan hubungan manisnya dengan Andra.


Julia juga tersenyum ikut merasakan kebahagiaan Amel.


"Hujannya sudah berhenti, Amel pamit pulang ya Mom!" Amel beranjak dari sofa tempatnya duduk sambil mencium tangan Julia.


"Ok take care ya cantik!" ucap Julia sambil mengantar Amel sampai di depan pintu apartemennya.


Keduanya saling melambaikan tangan saat Amel melangkah meninggalkan apartemen itu. Julia terus memandangi Amel sampai benar benar hilang dari penglihatannya.


Kini hanya tinggal Julia sendiri di apartemennya, ada air mata yang tak disadarinya menetes membasahi pipinya, ada rahasia tersirat dari tatapannya.

__ADS_1


__ADS_2