
Yogi merapikan tas laptopnya dari meja di sebuah coworking space area. Ia baru saja menyelesaikan meetingnya dengan clientnya disana untuk kelanjutan transaksi sebuah bangunan hotel di Mandalika Lombok yang sudah Andra dan pemilik hotel itu sepakati sebelumnya.
Yogi beranjak dari tempat duduknya hendak meninggalkan tempat itu, namun tiba tiba seorang wanita berjalan ke arahnya dan tidak sengaja menabraknya. Wanita itu nampak tidak fokus dengan langkahnya karena sedang sibuk menerima panggilan di ponselnya.
"Maaf Mas Maaf!" wanita itu membungkukkan badannya sambil menyimpan kembali ponselnya di saku blazer yang dikenakannya.
Yogi melebarkan matanya dan menatap wanita itu lebih dekat.
"Vilda.....!" Yogi mengenali wanita itu lalu tersenyum lebar kepadanya. Wanita yang bernama Vilda itu juga ikut menatap ke arah Yogi namun nampak ragu apakah ia pernah mengenal pria di hadapannya itu sebelumnya.
"Yogi...! Yogi Hermawan, Aku tidak salah orang kan?" ucapnya sambil meletakkan telunjuknya di keningnya mencoba mengingat ingat.
"Hei.... apa ada yang berubah dari penampilanku Vil, kenapa kau menatapku bingung seperti itu?" Yogi bertanya disertai suara kekehan kecil keluar dari mulutnya sambil memperhatikan pakaiannya menerka nerka apa ada yang salah dari penampilannya hari itu. Sejenak ia ikut merasa bingung karena merasa tidak ada yang terlihat aneh dari dirinya.
"Kau Yogi teman kuliahku dulu kan?" Vilda masih ragu, bola matanya bergerak dari atas ke bawah menatap Yogi dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Iya Vilda....! masa sih lo lupa sama gue?!" Yogi kembali bertanya.
"Ya ampun Yogi .... sumpah gue pangling! Gue nggak mengenali lo. Penampilan lo beda banget sama waktu kuliah dulu...!" Vilda menepuk nepuk pundak Yogi dan tetap memandangnya dengan tatapan ragu namun penuh kekaguman.
"Penampilan lo formal bener Gi, pakai jas dan dasi pula! Udah jadi sultan lo sekarang ya?" Vilda berjalan melingkari Yogi sambil terus terkagum kagum dengan cara berpakaian Yogi yang terlihat sangat formal.
"Sultan apaan?, gue cuma karyawan biasa kok!" Kilah Yogi.
Vilda sudah mulai bisa memasang senyum akrab di bibirnya karena keraguannya sudah hilang. Mereka lalu duduk dan ngobrol disana.
"Lo ngantor disini ya Vil? Kerja dimana lo sekarang? Bukannya dulu lo kerja di Surabaya ya selepas kuliah?" Yogi memulai obrolannya.
"Iya Gi, sampai saat ini gue masih kerja di hotel bintang lima di Surabaya kok, tapi gue sekarang sebagai JSO dan sehari harinya gue ngantor disini!" Vilda lalu mengeluarkan kartu namanya dan menyerahkannya kepada Yogi.
"Vilda Veronica, Senior Sales Manager - Jakarta Sales Office" Yogi membaca nama dan jabatan yang tertera di kartu nama itu dan ada logo sebuah hotel bintang lima international brand disana.
"Wah hebat Vil, lo udah jadi manager rupanya!" Yogi juga mengulas senyum pujian untuk Vilda.
"Biasa aja Gi, lagian kontrak kerja gue disana juga sisa beberapa bulan doang dan gue harus cari kerjaan baru di Jakarta!" Vilda hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Lo sendiri kerja dimana Gi? Penampilan lo keren banget udah macam sultan minyak aja, pasti lo kerja di perusahaan bonafit ya?" Vilda terkekeh namun masih menatap kagum kepada Yogi.
"Gue bukan sultan, sultan yang sebenarnya itu Andra!" Yogi menggelengkan kepalanya. "Lo masih ingat Andra kan?" Yogi kemudian bertanya lagi.
"Andra? Jovandra Mahesa maksud lo Gi?" Vilda kembali mencoba menerka nerka.
"Iya Jovandra Mahesa Hadiwiguna" Yogi memperjelas lagi.
"Lo nggak nyangka kan kalau sebenarnya Andra itu seorang sultan?" Yogi masih tersenyum "Dia pewaris tunggal keluarga Hadiwiguna pemilik perusahaan ekspedisi HW Logistic sekaligus juga menantu dari pemilik Prima Go Constructions, dan gue kerja di perusahaan Andra sebagai asistennya sekarang!" lanjutnya.
"Ah masa sih Gi?" Vilda terlihat masih tidak percaya. "Setahu gue Andra itu cowok yang sangat sederhana sama kayak kita, mana mungkin dia seorang sultan?!" Vilda menggeleng ragu.
"Awalnya gue juga sama kayak elo Vil, gue juga nggak nyangka Andra itu sebenarnya anak orang kaya, dia memang selalu berpenampilan sederhana sewaktu kuliah dulu bahkan sampai sekarang juga masih sama." Yogi bercerita.
"Hemm... tadi lo bilang mau cari kerja lagi kan?" Yogi kembali bertanya kepada Vilda dengan wajah tampak antusias. "Bagaimana kalau lo kerja di perusahaan Andra saja, dia juga pemilik agen properti dan kami baru saja mendapatkan sebuah hotel di Mandalika Lombok yang rencananya akan dikelola sendiri. Gue rasa lo bisa jadi JSO untuk hotel itu nantinya."
Vilda makin melebarkan senyumannya tawaran Yogi terdengar begitu menggiurkan baginya.
"Emangnya gue cukup qualified untuk bisa bekerja disana Gi? Itu perusahaan besar, pastinya proses rekrutmen karyawannya juga akan sangat ketat." Vilda kembali terlihat ragu.
Vilda menarik nafasnya datar ekspresi wajahnya terlihat berubah namun kembali tersenyum sumringah. "Ok Gi, gue mau!"
"Lo sibuk nggak sekarang? Kalau lo mau gue ajak lo ketemu Andra hari ini!" Yogi mendesaknya.
"Gue mau jalan sales call sih, tapi kebetulan tempat meeting gue searah kok sama kantor lo Gi, gue bisa mampir kesana duluan!" Jawab Vilda makin antusias.
"Yuk cuss ikut di mobil sama gue!" Ajak Yogi sambil melangkah menuju lift.
Keduanya lalu menuju tempat parkir di basement gedung coworking space itu.
Sampai di tempat parkir Vilda kembali tercengang saat Yogi menekan remote mobil.
"Wow ini SUV lo Gi?! Ini sih bener bener mobil sultan namanya!" Vilda tak bisa menyembunyikan kekagumannya, sebuah sport utility vehicle keluaran terbaru buatan Jerman yang ada di hadapannya membuatnya semakin terkesima .
"Ini mobil Andra, mobil gue lagi service berkala, jadi tadi Andra kasih mobilnya buat gue bawa kesini, dia kan nggak pernah pakai supir walaupun untuk urusan kantor!" Jawab Yogi sambil membuka pintu mobil. Vilda semakin percaya kalau Andra ternyata memang seorang yang kaya raya namun masih tetap bersikap sederhana.
__ADS_1
Mereka pun berangkat menuju gedung Prima Go.
Tiba di lantai 25 Gedung Prima Go, Yogi langsung membawa Vilda ke ruangan Andra.
"Lo tunggu sebentar disini Vil, gue masuk duluan!" Yogi mempersilahkan Vilda duduk menunggu di kursi ruang tunggu.
"Gimana meetingnya Bro, semua sudah beres kan?" Andra langsung bertanya saat melihat Yogi masuk ke ruangannya namun matanya masih fokus di layar laptopnya.
"Beres lah.... kontraknya sudah jelas. Hotel itu sudah dialihkan atas nama FH Property, sekarang tinggal kita pikirkan untuk lanjut mengelolanya saja." Jawab Yogi sambil menyerahkan sebuah map kepada Andra.
"Yang pertama kita harus lakukan adalah mencari marketing yang tepat untuk hotel itu Gi!" Ucap Andra sambil menerima map dari tangan Yogi.
"Tenang aja Bro, gue udah ada kandidat yang kuat untuk jadi head marketing di hotel itu" Jawab Yogi penuh percaya diri.
"Siapa Gi?" Andra penasaran.
"Orangnya sudah ada disini Bro, wait ya gue panggilkan!" Yogi melangkah keluar dan memanggil Vilda untuk masuk.
Vilda pun masuk ke ruangan Andra.
"Selamat siang Pak Andra!" Sapanya dengan senyum ramah terbias di bibirnya layaknya seseorang yang akan di interview.
Andra langsung menoleh ke arah Vilda dan membulatkan matanya.
"Vilda...!" Andra berdiri dari duduknya lalu mempersilahkan Vilda duduk di kursi di hadapannya.
"Kalian berdua ngobrol dulu, gue mau balas email sebentar, ada permintaan urgent!" Yogi meninggalkan Andra dan Vilda berdua di ruangan itu.
Andra kembali duduk di kursi kerjanya dan menatap Vilda penuh arti.
"Apa kabar Vil?" Andra bertanya singkat dengan suara datar.
"Kabar baik Pak Andra, senang bertemu Anda disini!" Ucap Vilda sambil terus tersenyum tanpa beban.
Berbeda dengan Andra, ia nampak salah tingkah melihat wanita yang kini duduk dan terus tersenyum di hadapannya. Sesaat iya ingat siapa wanita yang kini di depan matanya itu. Selain Vilda adalah temannya semasa kuliah, Vilda juga pernah menorehkan sebuah kisah dalam hidup Andra.
__ADS_1