
Vilda berdiri di depan lobby Prima Go dan tampak gelisah, hari sudah mulai gelap ketika itu.
"Vilda kamu belum pulang?" Kebetulan Andra juga baru turun dari kantornya dan langsung menghampiri Vilda.
"Iya nih Ndra, gue masih coba pesan taksi online, tapi nggak ngerti kenapa sepertinya aplikasi gue error, dari tadi pemesanan gagal terus" Jawab Vilda sambil terus mencoba mengulang pemesanan taksi itu melalui ponselnya.
"Ya udah gue antar lo pulang Vil!" Andra menawarkan.
Vilda sejenak berfikir, ajakan Andra terdengar tulus dan sejujurnya Vilda sangat ingin menerimanya.
"Eh... tapi entar lo terlambat sampai rumah kalau mesti nganter gue pulang dulu, Amel bisa marah loh!" Vilda berusaha mencari alasan, meski sangat ingin, tapi Vilda tetap menolak.
"Amel juga pulangnya malam, dia masih ada event di JCC". Jawab Andra.
Sesaat kemudian mobil Andra berhenti di hadapan mereka, valet service baru saja mengambil mobil itu dari parkir basement Gedung Prima Go.
"Ayo masuk!" Ajak Andra sambil membukakan pintu penumpang di depan untuk Vilda. Tanpa ragu lagi Vilda masuk ke mobil itu.
"Mau diantar sampai mana?" Andra bertanya setelah mereka di dalam mobil dan mobil itu sudah mulai melaju pelan karena jalanan yang masih macet.
"Di apartemen dekat mall yang disana" Tangan Vilda menunjuk ke sebuah mall yang memang tidak terlalu jauh dari Gedung Prima Go.
"Harusnya sih 15 menit saja sampai, tapi karena jalannya harus putar arah dulu dan rada macet gini mungkin setengah jam baru sampai Ndra!" lanjutnya.
Andra hanya mengangguk dan mengarahkan mobilnya mengikuti petunjuk Vilda.
Selama perjalanan Vilda tak henti hentinya mengeluarkan ocehan dari mulutnya menceritakan berbagai hal, dan Andra hanya menjadi pendengar yang baik.
Jalanan yang macet menjadi tidak terasa oleh celotehan panjang Vilda dan mereka kini sudah sampai di lobby sebuah apartemen.
"Lo beneran tinggal disini sendiri Vil?" Andra menghentikan mobilnya dan nampak ragu.
"Iya bener Ndra, emangnya kenapa? kok tampangnya kayak nggak percaya gitu?" Tanya Vilda yang melihat ada sesuatu yang berbeda dari cara Andra memperhatikan situasi di area apartemen itu.
"Ini kan dekat kawasan X?!" ucap Andra lirih.
Apartemen itu memang terletak bersebelahan dengan sebuah mall dan di dekatnya ada sebuah night club yang cukup terkenal di kalangan para pemburu kenikmatan duniawi. Bahkan Andra juga sering mendengar di apartemen itu kerap terjadi tindak kejahatan terutama kejahatan se*ual serta beberapa kasus prostitusi terjadi di area itu.
"Iya Ndra, gue juga sering denger orang bilang gitu, tapi so far gue masih aman aman aja kok tinggal disini." Vilda berkilah.
__ADS_1
"Makasih ya Ndra sudah antar gue pulang!" Vilda berniat turun dari mobil Andra seraya melepaskan seat beltnya.
"Lo nggak nawarin gue mampir gitu Vil?" tanya Andra. Sesungguhnya dia khawatir membiarkan Vilda masuk seorang diri karena hari itu sudah malam.
"Emangnya lo mau mampir dulu? Jujur sih gue yang nggak enak nawarinnya!" kilahnya lagi.
Andra hanya mengangguk lalu memarkirkan mobilnya di basement apartemen itu dan mereka keluar menuju lift.
Di depan lift Andra langsung melebarkan matanya, pemandangan tak biasa terlihat di hadapan matanya. Dua orang tampak tengah berciuman panas penuh nafsu dengan posisi bersandar di dinding, tangan mereka begitu liar saling menjamah, pakaian yang dikenakannya pun sudah setengah terbuka dan aroma alkohol tersebar di antara mereka. Sudah pasti pasangan itu sedang mabuk dan entah mereka pasangan sah atau hanya one night stand, yang pasti semua itu bukan hal yang wajar di netra Andra.
"Orang gila! Mau begituan disini, masuk kamar dulu kek?!" gerutunya lirih dan dengan ekspresi wajah muaknya.
Andra menghalangi langkah Vilda dan menutup mata Vilda dengan telapak tangannya. "Nggak usah dilihat!" serunya.
Vilda melepaskan tangan Andra lalu terkekeh. "Ih.. udah biasa kali gue lihat begituan disini!" ucap Vilda.
"Hah??.... kayak begitu lo bilang biasa?" Andra menggelengkan kepala keheranan dan Vilda langsung tertawa cekikikan melihat ekspresi Andra saat itu.
Pintu lift terbuka pasangan itu masih terlihat asyik melanjutkan kegiatannya dan tak ikut masuk ke dalam lift. Lalu Andra menarik tangan Vilda agar segera masuk ke dalam lift.
Di dalam lift pun aroma alkohol masih tercium, dua pasang mata pria yang sedang memasang wajah mesum menatap ****** ke arah Vilda.
"Hai manis...! temani kita juga dong!" Dua orang pria itu mendekati Vilda dan makin menunjukkan wajah mesumnya. Mendengar hal itu Andra segera mengubah posisi berdirinya membelakangi Vilda, lalu menarik pinggang Vilda agar bersembunyi di balik tubuhnya menjauhkannya dari tatapan jahanam pria pria itu.
"Hei jangan serakah Bos! Sesekali berbagi lah...! Bagi kami satu ronde saja, setelah itu akan kami kembalikan lagi hahahaha......!" Dua pria itu menatap sinis ke arah Andra lalu tergelak mengejeknya.
Andra menatap jijik mata pria pria itu sambil mengepalkan kedua tinjunya, ia ingin sekali mengarahkan bogemnya ke wajah mesum dua pria itu.
"Nggak usah diladeni Ndra! mereka itu sedang mabuk!" Vilda berbisik kepadanya namun Vilda nampak biasa saja tidak ada ketakutan yang terlihat dari ekspresinya.
Pintu lift terbuka, mereka sudah sampai di lantai yang menuju apartemen Vilda. Andra masih tetap melindungi Vilda dari tatapan pria pria tadi dan keluar perlahan dari dalam lift menuju lorong. Pria pria itu tidak beranjak dan masih tinggal di dalam lift karena tujuan mereka ke lantai yang berbeda.
Andra menarik nafas panjang. "Huufh....! tempat ini benar benar seperti kebun binatang!" umpatnya.
Kembali Vilda terkekeh melihat wajah emosi Andra lalu melangkah menuju apartemennya. Andra mengikutinya sambil terus menoleh kanan dan kiri waspada akan hal lain yang bisa saja terjadi.
"Ayo masuk Ndra, katanya mau mampir!" Vilda sudah membuka pintu apartemennya dan Andra pun masuk. Di ruang tamu Andra menyandarkan tubuhnya di sofa dan mengusap rambutnya.
"Mau minum apa Ndra?" Tanya Vilda sambil membuka pintu kulkas.
__ADS_1
"Air putih saja Vil!" Jawab Andra singkat.
"Berani banget seorang gadis seperti elo tinggal disini sendiri Vil? Sumpah gue heran!" Ujar Andra setelahnya, sambil kembali menarik nafas panjangnya.
"Pemandangan kayak tadi itu sudah biasa disini Ndra, gue sudah terbiasa melihatnya!" Vilda ikut duduk di sofa sambil menyodorkan segelas air es kepada Andra.
"Udah tahu gitu lo kenapa masih tinggal disini?" Andra masih tidak bisa terima Vilda mengatakan hal itu sebagai hal yang biasa saja.
"Yah mau gimana lagi Ndra, cuma ini satu satunya tempat tinggal yang bisa gue tempati saat ini." Vilda mulai bercerita.
"Apartemen ini disewakan buat gue oleh perusahaan tempat gue kerja sebelumnya, dan karena kontrak kerja gue harusnya masih berlaku sampai bulan depan, jadi gue masih punya hak tinggal disini! Yah... meski cuma lagi sebulan doang..., bulan depan juga gue harus cari tempat tinggal baru!"
"Lalu lo mau pindah kemana Vil?"
"Gue juga belum tahu Ndra, bisa jadi sih tetep disini soalnya cuma disini yang biaya sewanya nggak terlalu mahal!"
"Hah.. tetap tinggal disini?" Andra terkejut mendengar ucapan Vilda.
"Tapi apa lo nggak takut pria pria hidung belang itu ganggu lo lagi?" Andra menatap Vilda dengan kecemasan.
"Gue bisa jaga diri kok! Buktinya sudah hampir enam bulan gue tinggal disini nggak terjadi apa apa tuh?" Jawab Vilda enteng.
"Nggak nggak. nggak..! gue nggak setuju lo tinggal disini lagi Vil, lo harus segera pindah, tempat ini nggak aman buat seorang gadis tinggal sendiri seperti elo!" Andra menggelengkan kepalanya.
"Lalu gue mesti pindah kemana Ndra?" Vilda bingung.
"Nanti gue sama Yogi akan carikan apartemen lain yang lebih aman buat lo!" tegas Andra.
Vilda merasa senang, "beneran Ndra? kok lo perhatian banget sih sama gue?" tanya Vilda dengan senyum sumringah di bibirnya.
"Jangan ge-er.....! Itu karena elo sekarang udah jadi karyawan gue, sebagai atasan, gue harus bertanggung jawab sama keselamatan staff gue dong!" Kilah Andra.
Vilda hanya menanggapi dengan tersenyum.
Andra menyeka keringat yang menetes di dahinya.
Vilda mengibas ngibaskan tangannya ke wajahnya. "Duh maaf lo kepanasan ya Ndra?, AC disini mati cuma yang di kamar aja yang nyala, gue belum sempat panggil tukang AC!" Vilda mencoba menjelaskan. Karena merasa gerah Vilda lalu melepaskan blazernya dan meletakkannya di sandaran sofa.
Andra membulatkan matanya, dia sama sekali tidak menyangka Vilda tanpa malu melepaskan blazer itu dihadapannya sehingga mata Andra kini tertuju pada belahan dada Vilda yang terlihat jelas.
__ADS_1