Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Jebakan


__ADS_3

"Ndra, gue nebeng pulang ya please!" rengek Vilda memelas.


Hari itu Vilda sangat ingin Andra mengantarnya pulang. Dengan berbagai alasan ia membujuk Andra agar mengijinkannya ikut pulang bersamanya.


"Ya sudah ayo siap siap! Gue juga mau pulang lebih awal!" Sahut Andra menyanggupi lalu ia mematikan laptopnya dan bersiap siap pulang.


Vilda juga bergegas ke ruangannya lalu menyusul Andra untuk bisa pulang bersama.


Keduanya meluncur di mobil yang sama menuju ke apartemen Vilda. Andra menghentikan mobilnya di depan lobby apartemen.


"Sudah sampai Vil, gue langsung cabut ya!" Andra menekan tombol unlock di pintu mobilnya berharap Vilda segera turun dari mobilnya.


"Lo nggak mampir dulu Ndra?" Vilda masih belum keluar dari mobil Andra. "Padahal tadi pagi gue masakin puding kesukaan lo, maunya sih tadi tak bawain ke kantor, tapi tadi kelupaan karena buru buru." Ujarnya sambil menampakkan wajah kecewanya. "Ehm... mampir bentar aja lah yuk, nggak sampai sepuluh menit kok!" Vilda membujuk.


Andra menghela nafas pelan. "Memangnya lo buat puding khusus buat gue ya Vil?" Andra merasa bersalah yang apabila tidak memenuhi tawaran Vilda.


"Iya buat elo lah Ndra, memangnya buat siapa lagi?" Vilda makin menunjukkan wajah kecewanya.


"Baiklah gue mampir, tapi sebentar aja ya... soalnya gue udah janji sama Amel mau ke dokter hari ini!" meskipun terpaksa, Andra akhirnya bersedia mengikuti permintaan Vilda.


Andra lalu memarkirkan mobilnya dan mengikuti langkah Vilda masuk ke apartemennya.


Tiba di apartemennya Vilda langsung menyiapkan segelas minuman untuk Andra.


"Minum dulu Ndra, sebentar gue siapin pudingnya!" Vilda menyodorkan segelas jus untuk Andra yang duduk menunggunya di sofa ruang tamu.


"Tapi gue mau ganti baju dulu sebentar boleh ya?!" tanpa menunggu persetujuan Andra Vilda langsung masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Andra hanya menggeleng acuh melihat tingkah Vilda yang memang sudah selalu seperti itu adanya.


Vilda sengaja mengenakan sepasang bajunya yang paling seksi dan tersenyum memandangi bayangannya dari pantulan cermin. "Andra.... hari ini kau harus jadi milikku!" gumamnya. Senyuman Vilda kini menyimpan kelicikan. Ia keluar dari kamarnya dengan langkah yang dibuat secentil mungkin lalu mendekati Andra.


"Vilda... kenapa lo pakai baju seperti itu?" Andra membulatkan matanya saat melihat Vilda berpakaian begitu seksi seolah ingin menggodanya.

__ADS_1


"Gerah Ndra! Gue juga nggak keluar keluar lagi kok, jadi nggak apa apa lah gue pakai baju gini!" Vilda mencari alasan. Andra hanya memalingkan wajahnya mengalihkan pandangannya dari Vilda yang terlihat begitu seksi dengan mini dress yang dipakainya dan tampak mengekspos bagian dadanya.


"Loh kenapa jusnya belum diminum?" Vilda nampak kecewa saat melihat gelas jus yang dia siapkan untuk Andra masih belum disentuh oleh Andra sama sekali.


"Iya sekarang gue minum!" Andra lalu meraih gelas itu lalu mulai meminum jusnya.


"Habisin dong!" Vilda tersenyum dengan nada suaranya terdengar memaksa sambil menatap Andra yang sedang minum jusnya secara perlahan. Jus itupun diminum Andra sampai habis hanya dalam beberapa kali tegukan saja.


Kembali Vilda tersenyum senang lalu ia mengambil alih gelas jus yang sudah kosong dari tangan Andra. "Tunggu sebentar ya, gue siapin pudingnya!" Vilda lalu melangkah ke dapur.


Di depan wastafel Vilda memandangi gelas jus di tangannya. "Sebentar lagi obatnya akan bereaksi, dan Andra.... kau akan jatuh dalam dekapanku, kita akan bersenang senang sebentar mengenang kisah lama kita Andra ha..ha..ha!" Vilda tergelak sendiri dan senyum licik itu makin mengembang di bibirnya.


Praangg.....!


Vilda dengan sengaja menjatuhkan gelas jus itu ke lantai sehingga hancur berkeping keping. Vilda lalu berjongkok berpura pura hendak membersihkan pecahan gelas dan ia juga dengan sengaja menggores sedikit punggung kakinya dengan pecahan gelas itu sehingga setetes darah segar keluar dari punggung kakinya lalu ia meringis keras untuk menarik perhatian Andra. "Aduh sakit....!" rintihnya.


Mendengar suara gelas pecah disertai rintihan Vilda, Andra merasa sangat terkejut lalu ia bergegas menghampiri Vilda ke dapur. "Lo kenapa Vil?" Andra terlihat panik begitu melihat ada setetes darah di kaki Vilda.


Andra mendekati Vilda dan mengangkat kedua lengan Vilda membantunya berdiri. "Lo nggak apa apa kan Vil?" Andra bertanya dengan wajah terlihat mencemaskan keadaan Vilda.


"Sakit banget Ndra, gue nggak bisa jalan!" Vilda masih berpura pura kesakitan sehingga Andra memapahnya dan membantunya berjalan, darah masih terlihat menetes dari luka goresan di kaki Vilda.


"Antar gue ke kamar Ndra, kotak P3K nya ada di kamar, gue mau kasih salep antiseptik di lukanya!" Pintanya dengan nada memelas sehingga Andra pun menuruti untuk memapahnya menuju kamarnya.


Andra mendudukkan Vilda di tepi ranjang saat sudah di kamar Vilda.


"Kotak P3K nya ada di bawah rak TV Ndra, tolong ambilkan ya!" Perintahnya kepada Andra.


Tanpa kecurigaan sedikitpun Andra langsung mencari kotak P3K di tempat yang ditunjuk oleh Vilda dan dia dengan sangat mudah menemukannya.


"Ini obatnya Vil!" Andra mengeluarkan salep antiseptik dari kotak itu.

__ADS_1


"Tolong oleskan di kaki gue Ndra, lukanya perih sekali!"


Andra segera berjongkok di depan Vilda sambil memegang kaki Vilda yang terluka lalu perlahan mengoleskan salep itu.


"Ahh... perih sekali!" Vilda kembali meringis namun kedua tangannya perlahan mengangkat roknya, sengaja menunjukkan pahanya yang seksi dan putih mulus di hadapan Andra.


"Turunkan rok lo Vil! jangan diangkat seperti itu gue nggak suka!" Andra memalingkan wajahnya dan Vilda hanya tersenyum genit menanggapinya.


Vilda menarik tangan Andra dengan sangat kuat sehingga Andra terjatuh ke atas tempat tidur dan menindih tubuh Vilda. Vilda lalu mengalungkan kedua tangannya di bahu Andra. "Kita bersenang senang sebentar aja nggak apa apa kok Ndra, Amel nggak akan tahu!" Vilda tersenyum menggoda Andra dengan tatapan sangat menggairahkan.


"Jangan menggoda gue Vil, gue harus pulang sekarang!" Andra berusaha melepaskan tangan Vilda namun Vilda justru makin erat melingkarkan kedua tangannya di leher Andra. "Sebentar saja Ndra... gue pengen merasakan lagi yang pernah kita lakukan dulu!" Vilda menarik bahu Andra sehingga wajah mereka kini begitu dekat.


"Lepas Vil! kita nggak boleh melakukan ini, gue udah punya istri dan gue nggak mau mengkhianati Amel!" Andra terus berusaha melepaskan pelukan Vilda namun Vilda malah semakin tersenyum genit menggodanya.


Andra berhasil melepaskan pelukan Vilda namun tiba tiba saja Andra merasakan pandangannya berkunang kunang dan kepalanya terasa pusing. "Ahh... kenapa kepalaku tiba tiba pusing?" Andra menyentuh kepalanya dan pandangannya tiba tiba terasa kabur. Tubuhnya pun tiba tiba menghangat, darahnya mengalir sangat cepat, jantungnya pun bagai di pompa, berdetak sangat kencang.


"Amel....!" Dalam keadaan setengah sadar Andra menyebut nama istrinya lalu ia terhuyung dan ambruk ke atas tempat tidur di sebelah Vilda.


Vilda kembali tersenyum licik lalu menyentuh tubuh Andra yang sudah terkulai di atas tempat tidur. "Sekarang mari kita senang senang sebentar!" Vilda berbisik di telinga Andra lalu mencium bibir Andra dengan penuh gairah. Vilda juga melepaskan kemeja Andra sehingga Andra kini bertelanjang dada.


"Amel....!" mulut Andra meracau, ia sama sekali tidak sadar kalau Vilda sudah memberinya obat perangsang dalam jusnya. Vilda mendengus kesal. "Dalam keadaan setengah sadar pun lo masih menyebut nama Amel Ndra!" Vilda menghembuskan nafasnya kasar lalu tangannya mulai liar meraba semua bagian tubuh Andra.


"Sejujurnya gue kagum sama lo Ndra, lo itu sangat gagah! Dada bidang dan bahu yang kokoh... betul betul idola semua wanita!" Dengan punggung jari jarinya Vilda menyentuh dada Andra dan mengusapnya dengan lembut. Vilda lalu kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Andra dan memberi kecupan di semua bagian yang ada di wajah Andra.


"Amel...sayang.. I love you..!" Kembali hanya kalimat itu yang terucap dari mulut Andra yang terus meracau. Pandangannya masih tidak terlalu jelas, namun sekilas bayangan Amel yang melintas di hadapan matanya lalu ia memeluk Vilda membawanya dalam dekapannya. Andra sama sekali tidak menyadari kalau wanita yang bersamanya adalah Vilda, dia membayangkan saat itu ia sedang bersama Amel dan pengaruh obat yang diberikan Vilda kepadanya membuatnya hanya setengah sadar akan dirinya.


Vilda mulai melepaskan satu persatu pakaiannya sehingga ia kini bertelanjang bulat dan tangannya mengusap lembut sesuatu yang nampak mengeras di balik celana Andra. Vilda perlahan melepaskan ikat pinggang dan resleting celana Andra.


Vilda tersenyum liar. "Lo milik gue saat ini Ndra!, dan Amel... dia akan menangis darah setelah mengetahui semua yang terjadi antara kita sekarang ini!"  Vilda merasa sangat puas karena berhasil menjalankan rencananya menjebak Andra saat itu, ia lalu meraih ponselnya dan mengambil beberapa gambar kegiatan intimnya bersama Andra dengan senyum licik yang terus terulas di bibirnya.


Andra sama sekali tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi dengan dirinya, pengaruh obat yang diberikan Vilda kini membuatnya tertidur.

__ADS_1


__ADS_2