Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Kehidupan Baru di Jakarta


__ADS_3

Hari menjelang siang, Andra sudah bersiap membawa ayahnya pulang dari rumah sakit. Setelah menyelesaikan administrasi  menebus obat dan mendapat persetujuan dokter, Joddy pun bersiap kembali pulang. Di antar oleh supirnya mereka menuju ke kediaman Hadiwiguna.


Mobil itu berjalan lambat di tengah kemacetan jalan ibu kota. Sepanjang perjalanan Andra terus memandangi keadaan disekitarnya, sudah 3 tahun dia tidak pernah pulang, kemacetan itu menyadarkannya bahwa ia kini sudah harus siap kembali menantang kerasnya hidup disini, berbeda jauh dengan Jogja yang selalu penuh ketenangan dan senyum ramah semua orang yang ditemuinya.


Mobil mereka tiba di rumah. Nur pelayan di rumah itu menyambut kedatangan mereka dengan perasaan senang. "Wah... Den Andra sudah kembali" ucap Nur sambil mengambil tas dan semua barang barang yang diturunkan supir dari mobil.


Andra memapah ayahnya masuk ke dalam rumah dan mengajaknya langsung ke kamarnya.


"Ayah istirahat ya Yah... Andra mau ke kamar dan mandi sebentar" semenjak tiba di Jakarta memang Andra belum pulang ke rumahnya, dia memilih menginap di rumah sakit menemani ayahnya.


Andra membantu ayahnya berbaring di posisi paling nyaman dan menarik selimut menutupi tubuh ayahnya kemudian beranjak meninggalkannya.


"Bi Nur... kok sepi ya Bi, yang lain pada kemana?" Andra menyapa pelayannya yang tengah merapikan ruangan. Biasanya ada beberapa orang pelayan lain di rumah itu, namun hari itu Andra hanya melihat Bibi Nur disana.


"Sudah dua tahun ini Bibi sendiri disini Den, pelayan yang lain sudah pada keluar, lagian Bibi cuma melayani Tuan Joddy sendiri disini, jadi sudah biasa, nggak perlu bantuan pelayan lain Den" Nur seolah sedang menyembunyikan sesuatu dari tuan mudanya itu.


"Den Andra sudah makan?, mau Bibi siapkan makanan kesukaan Den Andra?" Nur mengalihkan pembicaraan.


Nur memang sudah puluhan tahun bekerja untuk keluarga Hadiwiguna dari semenjak Andra masih bayi sehingga dia sudah sangat mampu memahami setiap hal yang terjadi di keluarga itu. Namun saat itu Andra tidak terlalu peka dengan sikap pengasuh semenjak kecilnya itu.


"Aku mau mandi dulu Bi... nanti makan sama ayah aja sekalian, ohya.. tolong masak bubur kentang untuk ayah ya Bi, garamnya sedikit saja, sementara ini Ayah masih harus jaga makanan dulu agar tekanan darahnya tidak naik lagi" sembari melangkah ke kamarnya di lantai dua rumah besar itu.


Andra masuk ke kamarnya, matanya menyapu seluruh ruangan, "masih tetap sama seperti dulu sebelum ku tinggal, tak ada yang berubah" pikirnya. Kamar itupun tetap dijaga selalu bersih meski sudah lama tak ditempati.


Andra masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya lalu berganti pakaian. Setelah itu Andra turun ke ruang makan dan dilihatnya beberapa jenis makanan sudah tersaji di meja makan.


"Buburnya sudah matang Bi?" Dia melihat Nur yang masih sibuk menyiapkan bubur.

__ADS_1


"Sebentar lagi Den" Nur menjawab dari dapur.


Andra melangkah menuju kamar ayahnya untuk mengajaknya makan malam bersama. Andra masuk ke kamar ayahnya dan dilihatnya Ayahnya itu tengah duduk bersandar di headboard ranjangnya sambil menonton TV.


"Ayah kita makan dulu yuk supaya ayah bisa minum obat, lagian kan sudah lama kita nggak makan bareng lagi Yah"


Joddy menurunkan kedua kakinya dari ranjangnya dan Andra pun membantunya bangun dari tempat tidur itu.


"Ayah bisa jalan sendiri Nak, ayah sudah sehat kok... ayo cepat kita makan, Ayah juga sudah lapar" Joddy melangkah pelan mendahului Andra dan tak mau dipapah lagi.


Mereka menyelesaikan makan malamnya dengan cepat tanpa banyak berbicara.


Andra melahap setiap makanan yang ada di meja, sudah lama dia merindukan masakan rumah apalagi masakan Bi Nur yang selalu terasa lezat menyamai masakan almarhum bundanya.


"Ayah sudah kenyang, Andra kamu ikut ayah ke kamar!" Joddy menyudahi makannya.


"Baik ayah" Andra juga menyelesaikan makannya lalu menegak segelas air putih dihadapannya. Dia menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu melangkah menuju kamarnya.


"Andra tolong ambil laptop ayah " Joddy menunjuk ke sebuah tas laptop yang diletakannya di meja nakas"


"Ayah.... sebaiknya istirahat, jangan mikirin kerjaan dulu, Andra tidak akan mengijinkan ayah menggunakan laptop itu" Andra dengan tegas menolak permintaan ayahnya.


"Sudah beberapa hari ayah tidak ke kantor, pasti banyak hal yang harus dibereskan" Joddy mendesak.


"Selain itu ada hal penting yang mau ayah sampaikan ke kamu Andra"


"Sudahlah ayah... saat ini tak ada yang lebih penting selain kesehatan ayah" Andra masih kekeh menolak permintaan ayahnya.

__ADS_1


"Andra ayolah... sebentar saja, lagipula semenjak dari rumah sakit juga ayah hanya beristirahat saja, ayah bosan. Dan kalau hal penting ini tidak ayah segera sampaikan ke kamu, pikiran ayah belum akan merasa tenang"


Dengan berat hati akhirnya Andra mengambil juga laptop ayahnya, selain itu ada rasa penasaran di benaknya kenapa ayahnya begitu ingin menunjukkan isi dari laptop itu kepadanya.


Joddy mulai membuka laptop dan membuka emailnya. Dibukanya email laporan keuangan yang dikirim oleh Nadya sekretarisnya.


"Andra... coba kau perhatikan baik baik laporan ini" Joddy mengarahkan layar laptopnya ke Andra yang duduk disebelahnya.


Andra pun memperhatikan dengan detail laporan keuangan selama kurun waktu 6 bulan berjalan di perusahan ayahnya yang dibuat dalam format MS Excel itu.


Andra mengerutkan dahinya saat membaca isi laporan itu, semua kolom LOST ditulis berwarna merah dan tertera angka minus dengan nominal yang cukup tinggi, sedangkan kolom PROFIT terlihat kosong.


Andra langsung menyimpulkan bahwa perusahan Ayahnya itu memang dalam kondisi kesulitan keuangan yang cukup parah.


"Kondisi ini sudah terjadi sejak 4 tahun terakhir Nak, perusahan terus merugi" Joddy menghela nafas pelan dan mulai menceritakan kondisi perusahannya.


"Para pesaing sudah makin banyak saat ini, selain itu ayah banyak kehilangan kepercayaan client semenjak kasus penyelundupan barang terlarang di peti kemas HW Logistic"


"Barang terlarang?? Maksud ayah..??" Andra sangat terkejut mendengar cerita ayahnya.


"Iya... ada oknum tak bertanggung jawab yang sengaja menyelundupkan barang ilegal di container peti kemas kita, dan itu dilakukan oleh musuh dalam selimut yaitu staff kepercayaan ayah sendiri. Pelakunya memang sudah tertangkap, tapi urusan dengan pengadilan jadi sangat ribet. Ayah kesulitan membuktikan kesalahan orang itu, sepertinya ada permainan dibawah tangan oleh perusahan pesaing dengan petugas sehingga sulit sekali menuntaskan kasus ini. Ditambah lagi ayah harus menutup pemberitaan media agar beritanya tidak jadi konsumsi publik yang bisa merusak reputasi perusahan kita. Ayah sudah menghabiskan banyak uang untuk kasus ini tapi belum selesai juga sampai sekarang. Ayah sudah berusaha memperkecil pengeluaran dengan berbagai cara, menjual beberapa aset perusahan dan mengurangi pengeluaran pribadi, bahkan beberapa pelayan di rumah ini pun sudah tak bekerja lagi karena ayah tak mau membayar terlalu banyak orang."


"Ayah memutuskan menjual 50% saham HW Logistic untuk menutupi hutang. Syukurnya masih ada orang baik di dunia ini... Firmanto membeli saham HW Logistic dan mengembalikannya kepada ayah tapi menjadikan itu sebagai pinjaman dengan berbagai kemudahan karena dia hanya ingin membantu ayah dan tak mausaham itu jatuh ke tangan orang yang salah"


"Om Firman pemilik Prima Go Contruction?" Andra sedikit heran dengan cerita ayahnya, mana mungkin perusahan kontraktor tertarik dengan saham perusahan yang tak ada kaitannya dengan dunia property sama sekali. Hanya niat membantupun dengan mengeluarkan dana yang begitu besar sedikit agak tidak masuk di akal menurutnya, pasti ada hal lain yang ayah belum ceritakan tentang Om Firman.


"Iya Nak, dia Om Firman yang kemarin ketemu di rumah sakit, dia memang sahabat lama ayah dan ayah juga sangat berhutang budi kepadanya. Ayah sengaja menceritakan ini padamu, agar kamu lebih siap menghadapi kejamnya dunia bisnis dan kau juga bisa belajar mencari solusi untuk semua ini"

__ADS_1


Andra terdiam, dia baru menyadari bahwa selama ditinggalkannya ayahnya begitu berat memikul sendiri keterpurukan perusahan yang merupakan satu satunya usaha warisan Kakeknya itu.


Hati Andra makin diselimuti rasa bersalah terhadap ayahnya dan dalam hati dia bertekad akan mengembalikan kejayaan HW Logistic seperti sebelumnya.


__ADS_2