
Beberapa hari menjalani perawatan setelah kecelakaan itu membuat Amel menyadari kalau Andra yang dia anggap begitu dingin terhadapnya selama ini, ternyata begitu penuh perhatian dan merawatnya dengan penuh tanggung jawab. Andra lebih banyak menghabiskan waktunya menemani Amel di rumah sakit dan meninggalkan urusan kantornya kepada asistennya Yogi. Beberapa kali terlihat Andra sibuk dengan ponsel dan laptopnya, namun dia tidak pernah meninggalkan rumah sakit. Amel yang manja masih akan selalu membuatnya kerepotan.
"Syukurlah kau sudah bisa pulang hari ini Mel...".
Andra mendorong Amel yang duduk di kursi roda. Firman juga ikut menjemput kepulangannya dari rumah sakit.
"Papa tunggu pa....!" Amel meraih tangan Firman saat ia akan masuk ke mobil.
"Selama Amel pemulihan, Amel tinggal di rumah papa ya! Please pa.!!!.." Dengan sikap kekanakannya Amel merengek.
"Di rumah papa banyak pelayan yang bisa jaga Amel, sedangkan di rumah Andra hanya ada Bibi Nur saja. Andra juga sibuk sama kerjaannya pa...! Amel pasti akan bosan disana."
"Itu bukan rumah Andra saja sayang... itu rumahmu juga. Papa yakin Andra akan merawatmu dengan sangat baik disana, melebihi sepuluh orang pelayan sekalipun!" Firman tersenyum sambil mengusap kepala putrinya itu.
"Tapi pa....?!" Amel masih berusaha membujuk.
"Stop manja begitu Mel..., kita harus segera pulang!" Dengan nada tegas Andra menghentikan rengekan Amel. Andra langsung menggendong Amel dan membawanya naik ke mobilnya.
Tiba di kediaman Hadiwiguna Andra membawa Amel ke kamarnya.
"Mulai hari ini kamu tinggal di kamar ini Mel..., dari sini akses mu akan lebih mudah kemana mana tanpa harus naik tangga lagi." Andra kembali menggendong Amel dan membaringkannya di ranjang.
Amel terkesima, kamar yang sebelumnya merupakan kamar almarhum mertuanya itu ternyata sangat luas dan mewah. Karena letaknya di lantai 1, kamar itu memiliki area teras yang langsung menuju ke taman di halaman rumah. Meski sudah 7 bulan menikah dengan Andra dan tinggal di rumah itu, belum sekalipun Amel masuk ke kamar itu.
Matanya menyapu seluruh sudut ruangan dan pandangannya tertuju pada sebuah foto keluarga berukuran besar dengan ukiran kayu khas Bali sebagai bingkainya, terpasang di dinding ruangan.
"Andra...itu foto keluargamu ya?" Amel menunjuk ke foto itu.
"Iya Mel.... itu foto kami sewaktu keluarga ini masih lengkap. Almarhum adikku Jelita, Bunda Vania dan Ayah Joddy, mereka sudah bersama disana sekarang." Andra menarik nafas pelan.
"Nah ini aku, waktu itu aku masih kelas 12 SMA. Hah.... masih culun ya?!" Andra tersenyum terkekeh sambil menunjuk fotonya yang terlihat sedikit berbeda dengan penampilannya sekarang.
"Kau beruntung Andra... walaupun mereka sudah tidak bersamamu lagi, setidaknya kau pernah merasakan hidup bersama mereka dan merasakan seperti apa memiliki keluarga yang lengkap."
Mata Amel berkaca, raut kesedihan nampak tersimpul di wajahnya.
"Sedari kecil aku cuma punya papa yang sekaligus jadi mama buatku, papa sangat menyayangiku, tapi mamaku itu orang yang sangat jahat. Dia tega meninggalkan kami dan pergi bersama pria lain saat aku masih bayi. Aku hanya tahu namanya tapi aku tak pernah tahu seperti apa wajah mamaku. Papa sudah membuang semua kenangan tentang mama dari hidup kami". Air mata mulai menetes membasahi pipinya.
"Jangan sedih seperti itu Mel.... Kau harusnya bangga mempunyai seorang papa seperti Papa Firman, beliau orang yang sangat tangguh dan bertanggung jawab, aku sanggat kagum dan hormat kepadanya". Andra ikut duduk di tepi ranjang lalu mengusap pipi Amel yang basah karena air matanya. Sesaat mereka terdiam namun saling melempar tatapan, ada getaran yang tak bisa mereka ungkapkan melingkupi hati mereka.
Terdengar ketukan pintu dan Nur masuk membawa sebuah nampan. 'Maaf Den Andra, Non Amel, pintunya terbuka jadi Bibi masuk saja. Bibi masakin sup kacang merah buat Non Amel".
"Dimakan dulu Non, mumpung masih panas." Nur meletakkan nampan di meja di depan sofa lalu melangkah keluar meninggalkan dua orang yang membisu di hadapannya.
__ADS_1
"Kamu makan dulu ya Mel.... bentar lagi waktunya minum obat!" Andra mengambil mangkuk sup dan menyuapi sup itu untuk Amel.
'Masih panas Andra.... pelan pelan dong... nanti mulutku bisa melepuh tahu!" Amel menjauhkan bibirnya dari sendok yang masih dipegang Andra sambil cemberut kesal karena Andra menyuapinya kuah sup yang masih panas.
"Ups... maaf Mel aku belum meniupnya". Andra terkekeh lalu meniup sup itu sebelum kembali menyuapi Amel.
Setelah Amel menghabiskan makananya, Andra memberikan beberapa tablet obat kepadanya sesuai petunjuk dokter. "Obat ini menyebabkan kantuk, setelah ini kamu harus istirahat ya Mel....jangan bandel loh! Aku mau mandi dulu..."
"Iya... cerewet...!" Amel mendenguskan nafas kesal namun sebuah senyum tersirat di bibir manisnya.
Andra beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Amel menuju kamar mandi.
Usai mandi dan berganti pakaian Andra mendapati Amel yang sudah tertidur pulas efek obat yang diminumnya. Andra lalu mendekati Amel yang sudah tertidur dan mengusap kening Amel dengan sangat lembut. Dipandanginya wajah cantik di hadapannya itu.
"Gadis sombongku ini sangat cantik, seandainya saja dari dulu kau bisa bersikap lembut kepadaku, mungkin sudah lama aku jatuh cinta padamu Amel...., tapi entah mengapa aku selalu ingin menatapmu seperti ini?? Ah....aku menemukan kedamaian di matamu Amel". Batin Andra sungguh tak bisa menolak rasa yang bergemuruh di dalam hatinya.
Andra meraih gitarnya yang tergantung di sudut ruangan. Saking sibuknya dia bekerja selama ini, membuatnya tak sempat menyentuh gitar itu. Malam itu ia merasa rindu ingin sekali memetik dawai gitarnya untuk sesaat.
Andra berjalan keluar melewati sliding door dan duduk di kursi teras. Jari jari tangannya begitu lincah bermain di atas dawai dawai gitar dan mulai bernyanyi dengan suara merdunya.
Amel memicingkan matanya dan mendengar alunan gitar Andra yang begitu indah di telinganya. Suara merdu Andra yang sedang bernyanyi seirama dengan petikan gitarnya. Hati Amel bergetar tak karuan, lirik lagu yang dinyanyikan Andra seakan mengungkapkan semua isi hati mereka.
Bersusah payah Amel bangun dari tempat tidurnya bertumpu dengan satu kaki kanannya dan menuju ke kursi roda yang ada tak jauh dari ranjangnya. Perlahan Amel memutar roda kursi dan mendekati Andra yang masih asyik bernyanyi dan Andra tak menyadari kalau Amel sudah ada di dekatnya.
"Amel...kau?! Ahhh....maafkan aku mengganggu tidurmu". Andra terkejut karena Amel sudah di dekatnya lalu meletakkan gitarnya di atas meja.
"Heiii... kenapa ditaruh, aku mau mendengarkan satu lagu lagi!" Amel mengedipkan matanya.
"Sedikitpun kau tidak menggangguku Ndra, aku juga sudah terlalu banyak tidur semenjak dari rumah sakit... justru aku seneng banget denger kamu nyanyi seperti tadi. Ayo dong...satu lagu lagi ya!"
Andra ikut tersenyum lalu kembali meraih gitarnya. "Kamu mau aku nyanyi apa Mel?"
"Aku suka lagu lagu yang romantis, terserah kamu mau nyanyi lagu apa!" Amel nampak bersemangat.
"Ok, Ed Sheeran ya, PERFECT. Kamu suka lagu itu?"
Amel hanya mengangguk sambil tersenyum. Andra kembali memainkan gitarnya dan bernyanyi seperti pinta Amel.
Setiap lirik lagu yang dinyanyikan Andra seakan sangat mewakili perasaanya pada Amel saat itu sehingga ia begitu menjiwai lagunya saat bernyanyi. Amel juga terlihat sangat terlena dengan alunan lagu itu membuatnya semakin hanyut dalam perasaannya.
"Ini sudah larut malam Mel... tidurlah!" Andra mendorong kursi roda Amel menuju tempat tidur.
Andra lalu kembali menggendong Amel dan membaringkannya di atas ranjang. Setiap kali Andra menggendongnya, Amel merasakan jiwanya bergejolak, jantungnya berdetak kencang. Hatinya bagaikan luruh bersama perlakuan lembut Andra.
__ADS_1
Cinta....ya.... rasa itu sudah mengisi hati mereka namun keduanya masih sama sama memendamnya karena egonya yang masih tinggi. Andra berfikir bahwa Amel masihlah seorang gadis yang amat angkuh sehingga dia lebih baik tidak mengutarakan perasaannya, sedangkan Amel tetap merasa Andra adalah pria dingin yang tak mungkin jatuh cinta kepadanya.
"Kau mau kemana Ndra?" Amel menahan tangan Andra ketika ingin meninggalkannya di tempat tidur.
"Aku juga mau tidur, besok aku harus ke kantor, beberapa hari ini aku nggak pernah ke kantor, kasihan Yogi pasti kewalahan ngurus kerjaanku."
"Lalu kau mau tidur dimana?"
"Ini rumahku, aku bisa tidur dimana saja!"
Kamu tega ninggalin aku disini sendiri? Kalau aku butuh apa apa gimana?" Amel masih membujuk manja.
"Andra... aku mau kamu nemenin aku disini malam ini. Trauma kecelakaan itu masih menggangguku, aku takut tidur sendiri" Amel menunjukkan wajahnya yang makin memelas.
"Ehm....baiklah aku akan tidur di sofa." Andra mengambil bantal dan merebahkan tubuhnya di sofa. Sofa itu cukup besar sehingga Andra bisa tidur dengan nyaman disana.
Malam itu begitu cepat berlalu dan berganti pagi yang cerah.
Aroma teh melati membangunkan Amel dari tidurnya. Ketika ia membuka mata, Andra sudah duduk di sofa sambil menikmati secangkir teh dan terlihat sudah berpakaian rapi dan hendak berangkat bekerja.
"Pagi Mel.....kamu sudah bangun....?, Aku sudah siapkan sarapanmu disini".
Sapaan hangat Andra membuat Amel ingin segera turun dari ranjangnya.
"Tetaplah di tempat tidur jangan banyak bergerak dulu, aku akan menyuapimu."
Andra melangkah mendekati Amel dengan membawa semangkuk sereal di tangannya.
"Aku bisa makan sendiri Ndra... kau tak perlu repot repot menyuapiku, lagian kamu kan harus segera berangkat ke kantor?!!" Amel menyandarkan tubuhnya di headboard ranjangnya.
"Aku harus pastikan dulu kamu makan dan minum obat, setelah itu baru aku akan tenang meninggalkanmu".
Andra duduk di tepi ranjang dan mulai menyuapi Amel. Perlakuan manis Andra terhadapnya membuatnya tak bisa menolak saat Andra menyuapinya dan memberikannya obat.
"Aku akan usahakan pulang secepat mungkin Mel... nanti akan ku atur jadwalku sama Yogi. Sementara ini perjalanan keluar kota aku akan serahkan ke dia saja, jadi aku bisa fokus merawatmu sampai kamu benar benar sembuh dan bisa jalan lagi tanpa kursi roda".
Amel tersenyum, dia semakin menyadari perhatian Andra begitu besar terhadapnya.
"Kamu nggak usah mengkhawatirkan itu Ndra...., kalau lagi nggak ada kelas, Mayra akan kesini setiap hari menemaniku selama kau bekerja, jadi aku nggak akan bosan sendiri di rumah".
__ADS_1