
Andra mengerjapkan matanya, walau kepalanya masih terasa sedikit berat namun dia bisa melihat dengan jelas sekelilingnya, dinding ruangan kamar Vilda yang masih diingatnya dan pancaran lampu temaram. Ia menyadari kalau ia ketiduran di kamar Vilda dan merasakan kehangatan tangan seseorang yang tengah memeluknya.
Andra segera mengangkat punggungnya dari ranjang itu dan melepaskan pelukan Vilda dengan kasar. Andra kembali membulatkan matanya saat melihat Vilda yang terbaring di sebelahnya tanpa mengenakan satu pakaian pun. Bahkan ia makin terkejut saat ia berdiri dan mendapatkan dirinya pun sedang tanpa busana sama sekali. Vilda hanya tersenyum melihat wajah Andra yang seketika terlihat panik menyadari sesuatu yang tidak seharusnya terjadi di antara mereka.
"Apa yang sudah terjadi Vilda?" Andra menyentuh keningnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa?" Vilda ikut membulatkan matanya menatap ke arah Andra. "Lo tanya apa setelah semua yang terjadi Ndra?" Vilda kembali mendekati Andra dan menyentuh dadanya lalu mengalungkan kedua tangannya di bahu Andra.
"Menjauhlah Vil! Aku sungguh tidak percaya kita sudah melakukan semua ini!" Andra mendorong tubuh Vilda lalu mengambil semua pakaiannya yang berserakan di lantai dan tanpa berkata apapun Andra langsung berlari ke kamar mandi untuk kembali memakai semua pakaiannya.
Vilda kembali merebahkan tubuhnya yang masih telanjang bulat di atas tempat tidur lalu terbahak dengan senyum penuh kemenangan.
"Ha ha...Andra... lo sudah ada dalam genggaman gue sekarang!" gumamnya.
Andra keluar dari kamar mandi dan sudah memakai kembali semua pakaiannya. Ia hanya sekilas melirik ke arah Vilda yang masih belum memakai pakaiannya dan tengah berbaring di atas ranjang dengan senyum misterius yang tidak bisa diartikan oleh Andra entah apa maksudnya.
"Maafkan gue khilaf Vil, gue benar benar nggak menyadari apa yang sudah gue lakukan tadi denganmu!" Andra menggelengkan kepalanya menyesali semua yang sudah terjadi.
"Gue harus pergi sekarang!" Andra sudah sangat ingin keluar dari kamar Vilda, rasa bersalah membuatnya sangat frustasi.
"Buat apa minta maaf Ndra? Ini khilaf yang sangat indah kan?" Vilda kembali mendekati Andra dan memeluk pinggang Andra dari belakang seakan melarangnya pergi.
"Lepaskan Vil, gue mau pulang!" Pekik Andra sambil berusaha melepaskan pelukan Vilda.
__ADS_1
"Lo tega banget Ndra! Setelah semua yang begitu indah kita nikmati berdua, sekarang lo mau pergi gitu aja?" Vilda bersandiwara sedang merasa sangat kecewa karena penolakan Andra.Vilda menarik tangan Andra agar membalikkan badannya menatap ke arahnya.
"Sekali lagi maafin gue Vil, gue benar benar nggak sadar dengan apa yang sudah kita lakukan barusan!" Andra memalingkan wajahnya tak mau menatap ke arah Vilda.
"Ini sebuah kesalahan Vil, nggak seharusnya kita melakukan ini! Gue berdosa karena sudah mengkhianati Amel" Andra menundukkan kepalanya ada rasa penyesalan yang kini makin menghujaninya.
"Buat apa menyesali semuanya Ndra? Ini juga bukan pertama kalinya kita melakukan ini? Kita dulu sudah pernah melakukannya bukan?" Vilda mengulas sebuah senyum datar tanpa rasa penyesalan sama sekali. Andra tak menjawab, ia hanya bisa menghela nafasnya pelan.
Andra meraih ponselnya yang tergeletak di meja kemudian melangkah cepat keluar dari apartemen Vilda.
Vilda tidak melarang ia membiarkan saja Andra pergi meninggalkanya sendiri di apartemennya, ia hanya makin melebarkan senyum liciknya.
"Andra... kau sudah masuk dalam perangkapku. Sebentar lagi kau akan bertekuk lutut di kakiku Ndra...! Dan Amel.... kau siap siap saja, aku akan segera mengambil semuanya darimu!
Di tempat parkir Andra masih belum menjalankan mobilnya, hatinya menjadi sangat galau saat mengingat semua yang telah terjadi antara dia dan Vilda. Berkali kali ia memukul stir mobilnya dengan sangat kasar, ia sangat menyesali semua yang tanpa sadar telah dilakukannya hari itu.
"Ahh....sial! Kenapa semua ini bisa sampai terjadi? Apa yang sudah aku lakukan?" Andra juga memukul mukul kepalanya sendiri.
Apa Vilda sengaja menjebakku? Dia bahkan tidak terlihat menyesali semuanya!, lalu buat apa dia melakukan semua ini?" Andra mengusap rambutnya sambil menghembuskan nafasnya dengan cepat, ia menjadi sangat bingung dengan situasi yang tengah dihadapinya saat ini.
Andra meraih ponsel dari sakunya "Ponselku mati, dan sudah jam segini pasti Amel akan sangat marah padaku!" Andra melirik jam tangannya dan saat itu sudah pukul 8 malam. Ia semakin dihujami rasa bersalah karena sebelumnya dia sudah berjanji akan mengajak Amel ke dokter, namun kesalahan yang telah ia lakukan bersama Vilda sudah membuatnya terlambat pulang.
"Sebaiknya aku biarkan saya ponselku dalam keadaan off, dengan begitu aku bisa cari alasan kenapa aku pulang terlambat pada Amel!" tiba tiba saja muncul pikiran itu di kepalanya, dia tahu bahwa saat tiba di rumah nanti pasti Amel akan sangat marah dan kecewa padanya karena sudah ingkar janji.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Andra tetap tidak bisa tenang, rasa bersalah terus saja menghantui pikiran dan jiwanya.
"Sayang maafkan aku terlambat pulang!" Andra langsung mengecup kening Amel saat ia sampai di rumah. Ia sangat yakin kalau Amel pasti akan membentaknya setelah itu.
Namun saat itu yang terjadi sungguh tidak seperti biasanya, Amel justru tersenyum menatap ke arah Andra.
"Aku yang minta maaf sayang, aku lupa mengabarimu kalau janji ke dokter di batalkan hari ini!" Amel mengambil alih tas laptop Andra lalu meletakkannya di meja.
"Batal?" Andra hanya bertanya singkat
"Iya sayang, kita tidak bisa menemui dokter Herlina sore ini karena dia mendadak ada operasi, jadi di reschedule ke besok!" Amel menerangkan semuanya tanpa ada rasa kemarahan terhadap suaminya meskipun Andra terlambat pulang hari itu.
"Tadi aku sudah kirim pesan untuk ngabarin kamu, tapi ponselmu tidak aktif! Aku tahu kok hari ini kau sangat sibuk, dan seperti biasa kamu pasti lupa mengisi daya ponselmu kan? Sudah kebiasaanmu meninggalkan kabel charger di rumah" Cerca Amel sambil menunjukkan charger ponsel Andra yang masih menempel di colokan listrik di atas meja.
"Iya maaf aku lupa sayang!" Andra hanya tersenyum tipis, ia merasa lega karena hari ini Amel tidak marah padanya dan sejenak dia bisa melupakan rasa bersalahnya.
"Kamu sudah makan sayang?" tanya Amel lagi. Andra hanya menggeleng.
"Ya sudah ayo kita makan, aku juga belum makan aku sengaja menunggumu!" Amel lalu menggandeng tangan Andra mengajakknya ke meja makan.
Tanpa ada kecurigaan sedikitpun Amel melayani Andra makan seperti biasa dan Amel juga tidak menampakkan kekesalan sedikitpun walau ia terlambat pulang hari itu.
Sikap Amel yang tidak biasa seperti itu justru membuat Andra semakin merasa bersalah. Ia benar benar merasa berdosa karena sudah mengkhianati istrinya itu bersama Vilda walau semuanya terjadi di luar kesadarannya.
__ADS_1