
Suasana sudah sangat gelap ketika Andra dan Yogi tiba bersamaan di sebuah gedung aula tempat event AMP malam itu.Tempat itu pun sudah mulai sepi hanya beberapa orang crew yang masih terlihat lalu lalang membersihkan area event dan membereskan sound system.
Amel, Mayra dan Arin juga keluar bersamaan dari pintu gedung aula tersebut.
"Bu Amel dan Mbak Mayra saya duluan ya, ojol yang saya pesan sudah di depan!" Seru Arin sambil berlari kecil mencari sopir ojol yang sudah memberitahunya kalau dia sudah di lokasi penjemputan.
"Ok kamu hati hati ya Rin!" Mayra ikut berseru menanggapinya.
Arin sesekali menoleh kanan kiri mencari ojol yang belum ditemuinya. ia terus menatap layar ponselnya dan mencoba menghubungi sopir ojol itu lagi. Ia melangkah lebih cepat menuju area parkir. Karena terlalu fokus dengan yang dicarinya ia tidak sengaja menabrak seseorang yang tengah berjalan berpapasan dengannya.
"Oh maaf Mbak saya tidak sengaja saya sedang buru buru mau jemput istri saya!" Arin menabrak Andra yang juga tengah berjalan cepat akan menghampiri Amel di pintu masuk gedung aula.
"Saya yang minta maaf Mas, saya kurang hati hati!" Arin membungkukkan badannya sambil mencakupkan kedua tangan di dadanya.
Untuk sesaat keduanya saling bertatapan.
"Arini?" Meskipun samar di bawah sinar lampu yang temaram Andra dapat melihat wajah seseorang yang pernah dikenalnya.
"Mas Jovan?" pekik Arin dalam hati. Tapi Arin tidak memberi respon apapun dan seketika terdiam mematung, ia sangat terkejut karena orang yang ada di hadapannya adalah orang yang selalu ada di ingatannya, orang yang memang sangat ingin ditemuinya di Jakarta. Arin segera menundukkan wajahnya karena ia teringat foto yang dilihatnya di kediaman Hadiwiguna tadi siang.
"Itu artinya Mas Jovan adalah Andra suaminya Bu Amel?" Pikirannya memastikan. Arin langsung memalingkan wajah dan tak ingin lagi menatap wajah Andra lalu segera meninggalkan Andra yang masih berdiri terdiam disitu.
__ADS_1
"Lo kenal cewek itu Ndra?" Yogi yang ada di sebelah Andra bertanya padanya.
"Entahlah,,, dia sangat mirip seperti teman lama gue" Andra menjawab dengan pandangannya masih tertuju ke arah Arin yang sudah melangkah pergi.
"Dia itu kan team barunya Amel dan Mayra!" Yogi merangkul pundak Andra mengajaknya berjalan menuju pintu gedung aula dimana Amel dan Mayra sudah menunggu mereka.
Kedua pasangan itu lalu sama sama bergandengan tangan menuju kendaraanya masing masing. Andra membukakan pintu mobilnya untuk Amel dan seperti biasa ia selalu mengusap kepala Amel sambil mencium keningnya sebelum masuk ke mobil. Kedua pasangan itu pun berlalu meninggalkan tempat itu.
Tak jauh dari sana Arin masih berdiri memperhatikan mereka. "Mereka begitu mesra, Mas Jovan terlihat sangat bahagia bersama Bu Amel!" gumamnya. Arin menghela nafas dalam dalam, ada kekecewaan yang kini memenuhi hatinya.
"Mbak Arini ya?" Sopir ojol yang ditunggunya sudah di hadapannya, dengan cepat Arin naik ke motornya dan ikut meninggalkan tempat itu.
Dalam perjalanan pulang Andra masih merasa penasaran dengan wanita yang baru ditemuinya.
"Iya dia team ku yang kemarin aku ceritakan padamu sayang" Amel menyandarkan kepalanya di pundak Andra yang sedang mengemudikan mobil.
"Namanya Arini, dia baru merantau ke Jakarta, dia aslinya dari Jogja" Amel melanjutkan ceritanya kemudian ia juga menceritakan ulang semua hal yang dia ketahui tentang Arin kepada Andra.
Andra hanya diam dan tak dapat berkata apapun. "Akulah orang yang dicari Arin selama ini!" ada rasa bersalah yang muncul di benaknya.
Andra menghela nafasnya menyadari semua yang terjadi. Ingatan tentang kehidupannya selama di Jogja seketika muncul. Tiga tahun ia berteman dengan Arin dan selama itu ia tidak pernah mengetahui kalau Arin menyimpan rasa terhadapnya. Baginya Arin adalah teman terbaiknya selama di Jogja, teman yang selalu ada dan menyemangatinya sehingga waktu tiga tahun di sana menjadi penuh arti. Namun Andra memang bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta, ia menganggap Arin hanyalah teman biasa dan tak pernah ada rasa lain selain hanya pertemanan.
__ADS_1
****
Arin tiba di kontrakan sederhananya, ia langsung masuk ke kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya di kasur dan memeluk bantal menutupi wajahnya.
Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Rasa kecewa membuncah dalam hatinya. Satu satunya alasan yang membawanya nekat datang ke ibukota sendiri tanpa arah sudah berhasil ia temukan namun dalam kondisi yang sangat tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
Bodoh! iya sangat bodoh!
Hanya itu kata yang menghujani perasaannya saat ini. "Mas Jovan itu Andra suaminya Bu Amel. Jovan, Andra iya namanya Jovandra, kenapa aku baru menyadarinya?" Arin terus saja menangisi kebodohannya. "Aku juga tahu Mas Jovan tidak pernah punya perasaan apa apa terhadapku, dan aku masih nekat ke kota ini mencarinya, betapa bodohnya kau Arini... sangat bodoh!" Arin memukul mukul bantalnya dan berteriak dengan suara parau karena terisak, ia marah dan mengutuk dirinya sendiri. Tubuhnya berguncang seiring tangisnya yang kian tak bisa dibendungnya, rasa sedih dan kecewa itu semakin menderanya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku masih sanggup hidup disini?" Arin bertanya pada dirinya sendiri. "Satu satunya semangat untuk aku berada disini adalah Mas Jovan, tapi aku sadar kalau dia sudah menjadi milik orang lain dan aku tidak berani bermimpi lagi bisa memilikinya" Arin terus berfikir.
"Apa sebaiknya aku pulang saja ke Jogja dan menerima perjodohan itu?" Hatinya masih terus menimbang nimbang apa yang harus ia lakukan. "Pasrah" hanya itu satu satunya solusi yang bisa ditemukannya, untuk saat ini dia memutuskan tetap menjalani kehidupannya di Jakarta sambil terus memikirkan lagi apa yang akan dilakukannya kemudian.
Perlahan Arin bangun dari tempat tidurnya namun kakinya terasa lemas, kepalanya mendadak pusing yang menyebabkan ia terjatuh lagi ke atas kasurnya. Arin memilih tidak beranjak lagi dari tempat tidurnya, ia meraih botol air mineral sisa yang sudah diminumnya tadi malam dari meja dekat tempat tidurnya lalu meneguknya sampai habis. Isak tangisnya masih terdengar namun ia berusaha memejamkan matanya untuk tidur dan sejenak melupakan semua permasalahan yang dihadapinya.
Keesokan harinya Arin terbangun dari tidurnya dan mendapatkan sinar matahari sudah masuk ke kamarnya. Terlalu larut dalam kesedihan tadi malam, membuatnya lupa menutup tirai jendela hingga pagi tiba. Arin bangun dan melirik jam tangannya yang masih menempel di pergelangan tangannya dari semalam.
"Aku sudah melewatkan waktu sholat subuh" Sesalnya. Lalu Arin bangun dari tempat tidurnya untuk mengambil air wudhu dan tetap melaksanakan sholat subuh meskipun waktunya sudah lewat.
Pukul 8.30 Arin bersiap kembali bekerja, dia ingin melupakan semua permasalahannya. "Aku akan mencari pekerjaan lain. Aku tidak akan bisa terus terusan bekerja di kantor Bu Amel, kalau aku masih disana aku tidak akan bisa melanjutkan hidupku, bayang bayang Mas Jovan pasti akan terus menghalangiku" Arin berguman.
__ADS_1
"Untuk sementara ini mau tidak mau aku tetap harus bekerja disana sampai aku mendapat pekerjaan lain, aku butuh biaya untuk tetap bertahan disini" Hatinya memantapkan lagi.
Arin meraih ponselnya dan mulai memesan ojek online untuk mengantarkannya ke kantor.